
Terimakasih akak2 semua atas support nya 🤗
Seorang penulis membutuhkan ide dan tenaga ekstra untuk menghasilkan karya yang baik dan bermanfaat, itu semua tidak lepas dari dukungan kalian. Ibaratnya, kalianlah nafas dari hasil tulisan ini, tanpa kalian apalah arti tulisan remahan ini.😊
Dukung penulis dengan vote, hadiah, like dan komentarnya agar tetap semangat next up nya.
Hatur nuhun...🤗
❄️❄️❄️
Tidak terasa satu bulan lebih kepergian mami dan papi di negeri orang mengurus bisnisnya yang harus membuat mereka berlama-lama disana.
Suasana rumah kadang ramai jika Sigit dan Revan bercanda hingga larut malam, entah mengapa setelah Revan sering belajar dengan kakak iparnya, hubungan Sigit dengan Revan semakin dekat. Revan yang kadang suka dengan kata ceplas-ceplosnya pada sang Abang, kini ia terlihat bijak dalam berkata. Ia lebih banyak menghabiskan waktu didalam rumah.
Malam ini setelah makan malam Revan sengaja memanggil Riyan diruang tengah agar ada teman ngobrol mengingat abangnya setiap malam selesai makan malam pasti keluar bersama kakak iparnya, Winda.
Sigit duduk bersama mereka berdua sambil menunggu Winda mengganti pakaiannya didalam kamar.
"Sudah bang, ayo pergi sekarang, Winda sudah ganti baju nih." Suara Winda terdengar ketika menuruni tangga sudah dengan pakaian rapi setelah mengganti baju tidurnya tadi, menagih janji suaminya tadi sore yang sudah menjanjikan dirinya setelah shalat isya' mengajaknya keluar mencari yang diinginkan Winda. Sigit, Revan dan Riyan yang masih mengobrol diruang tengah menoleh kepemilik suara yang kalimatnya ditujukan untuk Sigit.
Hampir setiap malam setelah kepergian orang tua mereka ke Singapura, Winda selalu ingin makan bubur kacang hijau roti tawar hangat. Sigit merasa akhir-akhir ini Winda berbeda dari hari-hari biasanya. Terkadang tanpa sebab Winda mudah emosi, manja, serba salah apa yang dilakukan Sigit.
"Sudah siap? yakin tidak ada yang ketinggalan?" kalimat Sigit meyakinkan agar tidak ada yang ketinggalan seperti malam sebelumnya.
"Hm. Beres tidak ada yang tertinggal." jawab Winda tersenyum pada suaminya yang berdiri dari duduknya.
"Abang nganter mbak dulu Van, Riyan."
"Oke sip. Jangan lupa bang, Revan dan Riyan juga mau." jawab Revan pada abangnya yang sudah berjalan menuju pintu dengan mengacungkan ibu jarinya pada adiknya.
❄️❄️❄️
Hingga suatu hari ketika pagi hari yang menghebohkan diruang makan ketika Revan membuka pintu kulkas hendak mengambil air dingin, sepasang suami istri yang sudah rapi dengan baju kantornya itu seketika mengeluarkan suara tidak seperti biasanya dimeja makan secara bersamaan.
"Hoek hoek."
"Hoek hoek."
Sigit dan Winda menutupi mulut mereka dengan sebelah tangannya, mereka saling menatap wajahnya yang saling berhadapan, terheran. Tidak mengerti tiba-tiba badannya terasa aneh mencium bau lemari pendingin didekat meja makan.
Mbok Lastri, Ningsih dan Revan terheran melihat mereka berdua pagi ini tidak seperti biasanya, tangan Revan menutup pintu kulkas kembali dan berjalan mendekati mereka lagi sambil meletakkan benda yang dibawanya dari kulkas tadi.
Sigit memperhatikan wajah Winda pias, sedangkan ia merasakan tubuhnya tidak menentu, ngambang yang disertai keringat dingin disekujur tubuhnya.
"Kalian kenapa bang? mbak Winda? masuk angin? aneh tidak seperti biasanya seperti itu bersamaan." tanya Revan heran. "Itu abang sampai keluar keringat dingin pula."
Revan terdiam sejenak memandang wajah Sigit dan Winda bergantian, lalu wajahnya berubah seperti menemukan sesuatu.
"Atau... jangan-jangan kalian kompak begini karena... ada makhluk baru nih?" Revan menerka dengan sikap kedua orang didepannya, pandangannya menyelidik.
__ADS_1
Wajah Winda terlihat bingung mendengar kalimat Revan barusan. Begitu juga dengan Sigit yang menatap wajah istrinya dalam-dalam.
"Wah... kabar gembira ini mas kalau bener." celetuk Ningsih mendekati meja meletakkan piring buah didepan mereka.
"Coba deh dipikir mas, mbak Winda akhir-akhir ini kan beda banget sikapnya, setiap malam mbak Winda selalu bawain kita bubur kacang hijau, padahal kitakan bosan mas, lha wong makan sekali dua kali aja cukup, lha ini kok sampai setiap malam coba? anehkan?" lanjut celoteh Ningsih panjang setelah mengingat perubahan Winda selama ini.
Sementara Sigit terdiam mengingat-ingat sikap istrinya memang benar apa yang dikatakan Ningsih barusan. Winda memang sering marah, tiba-tiba manja, keinginannya harus dituruti, kalau ia rasakan sekarang sifat Winda lebih egois dari sifat biasanya.
"Nih mas coba perhatikan baik-baik ya..." Ningsih kembali membuka dan menutup pintu kulkas berkali-kali seperti Revan tadi sehingga menimbulkan suara yang diinginkan Ningsih secara bersamaan.
"Hoek, hoek, hoek, hoek.."
Semua mata melihat Ningsih dan sepasang suami istri itu bergantian, terkejut.
Sigit merasa mual sekali melihatnya, badannya kembali tidak menentu dan lemas.
"Ningsih sudah hentikan. Badanku lemas sekali." suara Sigit lirih terdengar benar-benar lemas.
"Sih, hentikan." perintah mbok Lastri tidak tega melihat mereka berdua yang dikerjai Ningsih. "Bang, sebaiknya sekarang mbak Winda periksa dulu aja ke dokter, siapa tahu benar apa yang dikatakan Revan. Mbak Winda bisa hati-hati kalau benar hamil." mbok Lastri memberikan saran.
"Yeee.... bakalan rame ni rumah ada tuyul-tuyul imut." suara Ningsih girang.
"Apaan Sih?! Lu katain keponakan gue tuyul? awas lu." ucap Revan tidak terima mengejar Ningsih yang sudah lari menghindarinya.
Revan masih berlari mengelilingi Sigit dan Winda dimeja makan mengejar Ningsih sambil tersenyum.
"Ha ha ha... maaf mas maaf saking senangnya Ningsih mas, maaf... maaf mas." kalimat Ningsih memohon begitu ketangkap Revan.
"Tapi... apa benar aku hamil? biasanya juga aku seperti ini kalau mau datang tamu ah." ujar Winda dalam hatinya.
"Iya mbok harus itu, Aku harus kerumah sakit sekarang. Untuk kekantornya nanti siang saja, kalau perlu biar dihandle Firman saja." jawab Sigit pada mbok Lastri dengan wajah gembira.
Sigit beranjak dari duduknya dan menggandeng tangan Winda.
"Abang sudah tidak selera makan, ayo sebaiknya kita kerumah sakit saja."
"Abang... jangan senang dulu, Winda biasanya juga begini kalau mau datang tamu."
tukas Winda masih malas.
"Itu kan biasanya sayang, telur kamu sebelum kedatangan tamu, sekarang kan kan beda, sudah bolak-balik menyambut tamu Abang." jawab Sigit sambil tersenyum, gurat bahagia sudah menggantikan wajah pucatnya saat itu.
"Ha ha ha... " suara tawa Revan dan Ningsih terdengar dengan menepok jidat mereka.
❄️❄️❄️
"Bagaimana dok?" tanya Sigit pada laki-laki berbaju putih itu sudah tidak sabar ingin mengetahui hasil pemeriksaan dokter setelah tanya jawab antara dokter Rozi dengan Winda.
"Sebentar bang, kita periksa dengan USG dulu ya, biar akurat hasilnya. Walaupun menurut keterangan dari istri Abang yang sudah terlambat datang bulannya kemungkinan besar adalah positif hamil." jelas dokter Rozi pada Sigit seraya meletakkan penanya diatas meja. Sedangkan Sigit tersenyum saling pandang dengan Winda yang terlihat gugup dan terbengong.
__ADS_1
"Masak iya aku hamil? bukannya aku cuma telat satu, dua Minggu saja datang bulannya? biasanya juga tiga bulan baru datang bulan. hmmmm...." Winda masih tidak percaya dengan penjelasan dokter Rozi.
"Baik kalau begitu kita periksa dulu yuk, mbak Winda tiduran diatas sini." ajak dokter seraya berdiri berjalan mendekati brankar yang terdapat monitor disisinya. Winda pun berdiri mengikuti perintah sang dokter.
Dokter Rozi, seorang dokter yang dulu pernah memberikan arahan kepada Willy ketika Sigit dalam pengaruh obat dimalam pesta ulang tahun Anita beberapa tahun lalu. Dokter Rozi sangat mengenal keluarga Willy dan Sigit dengan baik.
Seorang suster meletakkan gel husus yang terasa dingin diperut Winda, gunanya untuk mencegah terjadinya gesekan antara kulit dan transduser. Gel tersebut juga berfungsi untuk memudahkan pengiriman gelombang suara ke dalam tubuh.
Dokter Rozi mulai memeriksa kandungan Winda dengan menggerakkan transduser diperutnya. Gerakan ini diperlukan agar gelombang suara yang dikirim mampu memantul kembali dan menghasilkan gambar yang baik.
Sigit berjalan mendekati dokter Rozi ikut melihat sebuah gambar yang belum jelas, hanya terlihat gambar seperti berudu.
"Nah, itu terlihat janinnya bang, istri Abang positif hamil, selamat ya..." kata dokter seraya menggerakkan alat ditangannya.
"Tu, detak jantungnya... terdengar sangat sehat." kata dokter ketika terdengar suara detak jantung yang keras dan cepat dari monitor, tangan dokter mengetikkan jarinya dikeyword diatas meja. Lalu melanjutkan kalimatnya lagi. " Itu janinnya sudah berusia 8 minggu. Berarti sudah 2 bulan ya usia kandungannya."
Suster mengelap sisa gel diperut Winda setelah selesai pemeriksaan, kemudian membantu membenahi pakaian Winda.
Sigit tersenyum bahagia ketika Winda duduk hendak beranjak dari brankar, tangannya menggenggam kedua tangan istrinya seraya berjalan mengikuti dokter menuju kursinya semula.
"Saat memasuki usia hamil 2 bulan atau 8 minggu, janin di dalam rahim kini berukuran sebesar kacang tanah dengan panjang sekitar 1,6 cm dan berat 1 gram. Di minggu ke-8 ini, janin akan mengalami berbagai perkembangan, di antaranya:
Tampilan wajah mulai terbentuk, dengan hidung dan kelopak mata yang mulai nampak.
Ekor di bagian belakang embrio mulai hilang, sehingga calon buah hati Bumil akan memasuki masa yang disebut sebagai janin.
Daun telinga mulai terbentuk, baik bagian dalam maupun luar telinga. Jenis kelamin sudah terbentuk, tapi alat kelamin masih berkembang. Tungkai mulai memanjang dan tulang rawan mulai terbentuk. Plasenta mulai berkembang dan mulai menempel pada dinding rahim." jelas dokter secara detail.
"Dimasa kehamilan trimester pertama ini janin masih sangat rentan. Jadi, pesan untuk Abang ini ya... jangan sering-sering bertamu dulu dedek Joninya dengan debay didalam sana ya..." kata dokter seraya tersenyum kecil pada Sigit.
Sigit tersenyum membalas kalimat sang dokter.
"Ya... satu minggu, dua minggu masih tahan si dok, asal jangan sampai berbulan-bulan." jawab Sigit.
"Hahaha..." dokter Rozi pun tidak bisa menahan tawanya mendengar jawaban Sigit.
Setelah hasil USG diperoleh, dokter mengevaluasi dan menjelaskan hasilnya kepada Sigit dan Winda. Dokter juga membuat laporan tentang hasil pemeriksaan USG dibuku kecil untuk catatan pemeriksaan selanjutnya.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
Wah... yang kemarin nebak Winda hamidun, selamat ya... berarti akak2 sudah berpengalaman... 😊
Ayo dukungannya tambah semangat lagi.
__ADS_1
Saranghe...💞💞