Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 60


__ADS_3

"Bang, tas Winda masih didalam."


Winda terus berjalan sambil menengok kanan kiri melihat keadaan yang sudah sepi karyawan, hari sudah sore hanya ada beberapa karyawan saja yang belum pulang.


Sigit masih terdiam tidak merespon perkataan istrinya, dia benar-benar kesal dengan kelakuan Anita, terlebih ketika mendengar perkataan Anita yang melecehkan istrinya.


Winda mengikuti langkah suaminya yang semakin cepat menuju parkiran dan segera menaiki mobilnya.


Hening, suasana didalam mobil berubah senyap tidak ada pembicaraan diantara mereka, hanya suara deru mesin yang terdengar. Pikiran Winda kacau melihat suaminya yang tiba-tiba berubah dingin setelah adu mulut dengan Anita, Winda benar-benar tidak mengerti apa penyebab dari sikap suaminya.


Winda melirik suaminya dari kaca spion diatasnya yang terlihat wajah Sigit sedang marah sama seperti di kampus saat merasa kesal menghadapi situasi yang tidak dia sukai.


Dua puluh menit sudah mereka didalam mobil, laju kendaraan sudah tidak terlalu kencang seperti tadi ketika keluar dari parkiran, itu pertanda jika hati suaminya sudah mulai terkontrol, Winda masih saja diam tidak berani membuka suara takut salah bicara yang membuat suaminya kembali tersulut emosi.


Semburat jingga memenuhi langit menjelang petang pertanda waktu shalat maghrib telah tiba. Kemerlip lampu jalan, perumahan dan gedung-gedung menjulang sudah terlihat sehingga menambah indahnya malam di ibu kota.


Winda memainkan jari-jari tangannya dipangkuan merasa ada yang kurang dengan dirinya jika tidak membawa tas.


Sigit menghentikan mobilnya diparkiran masjid, dia melirikkan matanya kearah Winda sambil membuka seatbeltnya.


"Turun dulu yuk, kita shalat maghrib disini biar tenang dijalan jika sudah shalat." ucap Sigit melihat Winda yang ikut serta membuka seatbeltnya yang masih menempel di tubuhnya lalu membuka pintu mobil.


Winda menutup pintu mobil, dia mengikuti langkah suaminya memasuki serambi masjid menuju tempat wudhu.


Tidak berapa lama setelah wudhu mereka ikut meluruskan diri dalam barisan shalat maghrib berjamaah hingga selesai.


Begitu selesai dengan kewajibannya sebagai hamba terhadap Tuhannya, Winda memohon dan mengadukan segala keluh kesahnya kepada Sang Maha Pencipta, lalu beranjak dari duduknya mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari sosok suaminya di serambi masjid.


Tidak lama kemudian setelah mengedarkan pandangannya Winda mendapati suaminya duduk dilantai serambi masjid sedang menantikan dirinya. dia pun mendekatinya lalu duduk disampingnya.


Mereka duduk beberapa saat sambil melihat anak-anak kecil yang berbaris saling berebut tempat duduk untuk mengaji agar mendapatkan giliran lebih dulu.


"Abang jadi teringat masa kecil yang paling suka mendapatkan tempat paling terakhir." Sigit membuka percakapan melihat tingkah anak-anak di serambi masjid, terlihat diwajahnya sudah agak tenang dibandingkan sebelumnya.


"Hm? paling akhir? kenapa? kok aneh kedengarannya, dimana-mana yang namanya anak ngantri itu pasti ingin yang terdepan, tapi kenapa abang jadi kebalik?"


"Ya itulah Abang, pinginnya ngaji paling terakhir, jadi abang punya banyak waktu."


"Kok bisa banyak waktu?"


"Hm, pertama, abang punya banyak waktu main he he he... Kedua, abang ngajinya cuma sebentar kan gurunya pasti udah capek ha ha ha..."


Winda menautkan kedua alisnya, heran mendengar perkataan suaminya yang terkesan nakal masa kecilnya.


"Terus?"


"Yang ketiga, abang bisa belajar dari teman-teman abang yang tidak lancar membacanya dengan begitu dia akan dipelajari guru ngaji, jadi abang bisa memperhatikan huruf yang dijelaskan oleh guru kepadanya tadi, lalu abang akan mengikuti, mempraktikkan sendiri sehingga ketika giliran abang mengaji abang sudah faham." jelas Sigit.


"Bukannya kalau mengaji duluan itu malah lebih leluasa ya bang."

__ADS_1


"Tidak semuanya, karena waktu itu temen-temen abang yang sudah mengaji duluan pasti akan dia habiskan untuk bermain sampai yang lain selesai mengajinya, karena dia merasa sudah menyelesaikan tugasnya." jawab Sigit.


Winda tidak menyangka jika dia telah salah faham terhadap masa kecil suaminya yang terkesan jail dan nakal. Tapi ternyata sedari kecil memang sudah pandai merancang strategi.


"Kenapa? terharu dengan masa kecil abang? hm? hahaha..." celetuk Sigit ketika melihat Winda terdiam.


"Gak juga, kepedean ih abang."


"Ha ha ha, ya sudah kita pulang yuk."


Sigit berdiri lalu berjalan beriringan dengan Winda menuju mobilnya.


Mereka memasuki mobil dengan membuka pintu bersamaan dan menutupnya kembali, Sigit menghidupkan mesin mobilnya sambil memasang seatbeltnya yang tentu diikuti oleh Winda disampingnya.


"Bang..."


"Hm?"


Winda memecah keheningan diantara mereka begitu berada didalam mobil lalu menolehkan kepalanya pada Sigit.


"Boleh Winda bertanya suatu hal pada abang?"


"Boleh-boleh saja."


"Abang jangan marah tapi?"


"Iya..."


"Ini mengenai Anita tadi sore."


Sigit mengerutkan keningnya, Winda menjeda kalimatnya berusaha memberanikan diri menatap sudut mata suaminya, ingin mencari jawaban dari rasa penasaran atas sikap suaminya yang begitu marah setelah mendengar perkataan Anita.


Satu lagi alasan Winda ingin menanyakan masalah Anita karena rumor sosok suaminya yang digandrungi kaum hawa.


"Hm. Kenapa?."


Respon Sigit atas perkataan istrinya yang sudah dia tebak sebelumnya, dia sudah menilai Winda yang terdiam menyimpan rasa ketakutan ketika dirinya marah dan terus diam didalam mobil tidak menjawab setiap perkataan Winda setelah rapat sore tadi.


"Hati kecil Winda mengatakan jika abang dan Anita tidak ada hubungan apa-apa tapi.... sepertinya kalian sudah lama saling kenal, dan... sepertinya Anita mempunyai rasa lebih pada abang."


Sigit dapat merasakan perasaan istrinya ketika ada wanita lain yang menatapnya tadi. Sigit mendengarkan perkataan istrinya, kembali dia teringat Anita yang merupakan temannya sekolah ketika di bangku SMA.


"Dia teman abang satu SMA dulu."


jawab Sigit.


Winda terdiam sejenak terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu setelah mendengar jawaban dari suaminya.


"Teman apa teman dekat nih? atau teman dekat banget? karena setau Winda salah satu ciri-ciri wanita menyukai lawan jenisnya, ya seperti Anita tadi, tidak rela orang yang dicintainya didekati wanita lain."

__ADS_1


Winda mengungkapkan rasa ingin tahunya pada suaminya.


Sigit melihat istrinya sudah mulai mencurigai hubungannya dengan Anita dimasa lalu, dia menyandarkan kepalanya disandaran kursi kemudi lalu mulai menceritakan masa lalunya, awalnya dia merasa ragu untuk menceritakan pada Winda, namun dia lebih hawatir jika istrinya mendengar semua tentangnya dari orang lain, apalagi saat ini mereka sedang ada proyek kerjasama dengan perusahaannya.


"Hmm, jujur saja dia dulu memang pernah ada hati pada abang, namun abang tidak meresponnya karena abang hanya menganggapnya sebagai teman doang."


Sigit kembali mengingat masa-masa dimana Anita selalu mengikutinya setiap ada kegiatan disekolah mereka. Sigit mulai menceritakan hubungannya dengan Anita yang lumayan akrab sampai mereka lulus sekolah, hingga ada sebuah insiden yang tidak akan pernah dia lupakan sampai saat ini, waktu itu Sigit beramai-ramai bersama teman-temannya datang merayakan ulang tahun Anita disebuah tempat yang penuh minuman terlarang dengan joget-joget yang diiringi dengan musik yang mendukung suasana club yang minim penerangan, hanya kelap-kelip lampu disko yang lebih aktif cahayanya membuat beberapa temannya menenggak minuman itu, Sigit sudah berusaha menghindari minuman itu dan menolaknya dengan baik-baik masih tetap saja kecolongan, dia dijebak salah satu temannya dengan memberikan obat perangsang dalam gelasnya tanpa sepengetahuannya.


Malam semakin larut suasana semakin riuh setelah mencapai puncak pesta malam itu, Sigit merasakan tubuhnya semakin tidak karuan, hawa panas menjalar di sekujur tubuhnya setelah menghabiskan minumannya.


Gelisah, resah dan membutuhkan tempat yang nyaman untuk melampiaskan rasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, Sigit semakin pusing dan berontak jiwa lelakinya, dia beranjak dari tempatnya menjauh dari kerumunan dan mencari toilet. Setelah itu dia tidak tau apa yang terjadi padanya, pagi harinya dia baru tersadar jika dirinya sudah tergeletak diatas ranjang dengan selembar selimut yang menutup tubuhnya.


Sigit memperhatikan wajah istrinya yang terkejut mendengar ceritanya, meneliti setiap inci raut wajah wanita yang kepalanya tertutup hijab terlihat penuh kabut kesedihan disudut matanya, iapun menghentikan ceritanya sejenak.


"Apa yang sudah terjadi malam itu bang... katakan saja, Winda..."


Winda memutus cerita suaminya karena sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada mereka malam itu.


"Tidak terjadi apa-apa Win..."


Sigit meraih tangan Winda yang langsung ditepis tangan Winda.


"Bohong!"


"Jujur. Abang tidak bisa berbohong sama kamu sayang, makanya abang harus menceritakan hal ini sekarang."


"Bohong! abang tidak perlu repot-repot menutupinya sekarang."


"Jujur diawal memang sebuah kepahitan sayang tapi akan indah kedepannya, itulah prinsip ku selama ini..."


Winda menangis sesenggukan, hancur hatinya tidak bisa membayangkan jika rumah tangganya akan selalu terbayang masa lalu suaminya yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.


"Malam itu memang abang tidak tahu apa-apa, sudah tidak terkendali kesadaran abang, tapi abang bersyukur ada Willy yang selalu mengawasi abang, karena Willy tahu kalau abang tidak mengenal bagaimana Anita. Maka dari itu dia menyewa kamar penginapan itu untuk abang dan membawa abang di sana dengan membuka semua pakaian abang dan menutupi tubuh Abang dengan selimut, agar abang dapat meredakan rasa panas itu tanpa melakukan hal yang hina, sehingga abang bisa selamat dari jeratan Anita."


"Cukup bang cukup! abang jangan mengarang cerita. Winda hanya butuh bukti jika kata-kata abang benar adannya."


Winda membantah penjelasan Sigit yang menurutnya hanya karangan belaka agar dia mempercayainya. Winda memalingkan wajahnya dari tatapan suaminya sambil mengusap lelehan air matanya.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


Jangan lupa like n komentnya ya akak-akak sayang...❤️❤️

__ADS_1


terimakasih...


saranghe...💞💞


__ADS_2