Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 111


__ADS_3

"Baik momms and dadds, pertemuan senamnya cukup dulu untuk hari ini, dan akan dilanjutkan minggu depan dengan tema yang berbeda tentunya. And untuk para deddy, thank you sudah menemani mommy sehingga dapat menambah semangatnya mommy. Sekali lagi terimakasih..."


kalimat mbak Laras sebagai instruktur senam mengakhiri pertemuan senam sehat ibu hamil dengan wajah ceria dan masih terlihat semangat walaupun sudah dua jam membersamai mereka.


Beberapa pasangan senam pun membubarkan barisan dan beranjak dari tempat mereka.


"Sudah selesai?"


Sigit melihat istrinya mengangguk menjawab pertanyaannya.


"Ya iyalah bang sudah selesai." jawab Winda.


"Cepat sekali?" Sigit heran, ia mengedikkan pundaknya melihat sebagian pasangan lain sedang membantu istrinya berdiri karena kehamilannya sudah lebih besar dari Winda, sehingga mereka agak kesulitan untuk berdiri.


"Ya Allah kasihan sekali ya menjadi wanita hamil itu?" gumamnya lirih hanya terdengar ditelinganya sendiri.


"Ayo bang pulang."


Winda selesai membetulkan bajunya, dia sudah berdiri disamping Sigit.


"Hm?" Sigit terbengong saat mata Winda menatapnya. Ia tidak mendengar ajakan istrinya barusan.


"Ayo pulang." ajak Winda lagi.


"Iya, yuk." ucap Sigit dengan mengangguk, lalu mengambil alih tas yang dibawa Winda.


"Setelah ini kita mau kemana lagi? langsung pulang atau ketempat lain?" tanya Winda saat mereka berjalan menyusuri lorong gedung menuju tempat parkir.


"Maunya kemana?" tidak menjawab istrinya, Sigit balik bertanya pada Winda.


Winda memelankan langkahnya seraya memikirkan sesuatu.


"Emmm.... kemana ya?" sambil melirik suaminya.


"Asyik jalan-jalan mumpung diperbolehkan nih. Ajimumpung... sekalian sampai malam pokoknya jalan-jalan sesukaku hihihi." batin Winda.


Sigit mengikuti langkah istrinya yang semakin pelan dengan tangan mereka saling bergandengan, menunggu istrinya mendapatkan ide dimana tempat yang di inginkannya.


"Bagaimana kalau kita ke Monas aja bang, kan seru nanti malam lihat air mancur menari, bolehkan?"


Winda berbinar ketika menemukan tempat yang dia inginkan.


Sigit terdiam sesaat terlihat sedang berpikir, lalu menjawab pertanyaannya Winda.


"Yakin kesana saja nih? tidak tempat yang lain? kan banyak juga tempat yang lain?"


Sigit menawarkan tempat yang lain untuk istrinya. Winda menghentikan langkahnya menatap wajah suaminya sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Winda hanya ingin kesana." jawabnya tegas.


Sigit mengedikkan pundaknya dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Ok no problem, the important thing is that you are happy." ucap Sigit.


Winda tersenyum mendengar jawaban suaminya, ia mengalungkan kedua tangannya di pinggang Sigit.


"Terimakasih Abang sayang."


Tangan kiri Sigit merangkul pundak Winda, ia tersenyum, hatinya sangat senang melihat istrinya bahagia.


"Senyum bahagia mu membuat Abang senang melihat wajahmu istriku, terus tersenyumlah untuk Abang. Cukup dengan senyuman itu kamu menenangkan hati gundah Abang, dengan senyuman itu pula kamu mampu membuat Abang merasa selalu rindu ingin pulang kerumah jika sedang jauh darimu. Tidak akan bosan aku memandang senyuman teduh itu, yang terukir indah dibibirmu."


Mereka berjalan hingga sampai diparkiran dan segera masuk didalam mobil.


Sigit mengemudikan mobilnya dengan hati riang, wajahnya ceria dengan sesekali melihat wajah istrinya yang duduk disampingnya. sebagaimana yang ia harapkan, hari ini berjalan sesuai keinginannya untuk membahagiakan istrinya.

__ADS_1


Tanpa disadarinya sikapnya justru mengundang pertanyaan Winda yang merasa suaminya hari ini sikapnya berbeda dengan kemarin.


"Kenapa sih Abang hari ini baik sekali padaku? bukannya aku kemarin dihukum ya?" batin Winda heran.


Beberapa kali Winda menangkap basah wajah Sigit sedang melihatnya dengan tersenyum sambil mengemudi.


"Lihat jalan didepan kalau lagi mengendarai mobil bang, jangan melihat kesamping terus." kalimat Winda akhirnya menegur suaminya.


"Hm."


"Nanti bisa-bisa salah jalan."


"Hm."


"Gak jadi ke Monas lagi kalau sampai salah jalan."


"Hm."


Winda mengerutkan keningnya mendengar jawaban suaminya barusan.


Sigit tidak menyadari sikapnya.


"Atau jangan-jangan... Abang memang sengaja ya mau bohongin Winda?"


"Hm."


Terkejut.


Winda seketika tercekat mendengarnya. Kedua bola matanya melebar.


"Apa?! Abang beneran ya mempermainkan perasaan Winda lagi." ucap Winda kesal.


"Hm." lagi-lagi Sigit menjawabnya dengan mudah benar-benar tidak menyadari kesalahannya.


"Abang iiihhh...."


Ia mencubit lengan suaminya yang sedang memegang kemudi.


"Aw... aw... aw... awww." teriak Sigit, meringis merasakan panasnya cubitan Winda.


"Sakit tahu sayang."


Sigit menoleh, ia melihat wajah Winda yang berubah cemberut sedang kesal.


"Malah cemberut? tangan Abang yang panas situ yang marah-marah. Ada apa sih?" tanya Sigit masih belum menyadari kesalahannya.


Winda memalingkan wajahnya ke kiri jalan, melihat gedung dan kendaraan lain yang berjalan merayap.


"Tau ah."


"Laper? bentar lagi turun di restoran depan sana kok, setelah lampu merah kan ada restoran?" jawab Sigit terlihat bodoh Dimata Winda.


Winda masih mendengus kesal dengan jawaban singkat Sigit.


Sigit melajukan mobilnya kembali setelah lampu merah berganti lampu hijau, lalu membelokkan mobilnya diarea restoran yang dia sebutkan tadi.


"Sudah sampai, ayo turun." kata Sigit setelah mematikan dan memarkirkan mobilnya berjajar dengan mobil pengunjung yang lain.


Winda membuka pintu mobil bersamaan dengan Sigit, lalu menutupnya kembali dengan agak keras, hatinya masih menyimpan kesal pada suaminya.


Sigit memasukkan kunci mobilnya didalam saku celananya dan berjalan beriringan dengan Winda memasuki restoran. Mereka memilih tempat duduk yang berada di dekat pintu keluar.


"Mau pesan apa?" Sigit menyodorkan buku menu pada Winda saat pelayan menghampiri meja mereka.


"Terserah Abang, Winda ngikut aja."

__ADS_1


Sigit melihat wajah Winda sekilas lalu memesan dua porsi makanan dan minuman untuk mereka.


Sambil menunggu pesanan datang, Sigit memeriksa hpnya yang berbunyi dari tadi, terdengar suara chat masuk. Ia segera membaca notifikasi masuk itu.


Terlihat beberapa chat dari Revan mengingatkan semua pesanan yang dia inginkan sesuai janji Sigit malam itu, akan membelikan oleh-oleh untuknya.


Tidak berselang lama pelayan restoran itupun datang membawa pesanan mereka.


"Silahkan pak, buk." ucap pelayan itu pada mereka setelah selesai meletakkan pesanan Sigit.


"Iya terimakasih ya mbak." jawab Winda pada wanita didepannya.


Mereka segera mengeksekusi makanannya setelah pelayan itu pergi dari meja mereka.


Tidak ada percakapan diantara mereka selama menikmati menu yang dipesan Sigit. Winda terlihat lahap menikmatinya membuat Sigit semakin tersenyum bahagia melihatnya.


"Setelah ini kita ke taman anggrek dulu ya baru ke Monas." ucap Sigit setelah melakukan pembayaran di kasir.


"Hm? tidak salah dengar aku kan? bukannya tadi aku tanya kalau dia bohong mengajakku ke Monas, lalu dia cuma menjawabnya hm doang? terus sekarang? tau ah pusing."


Winda heran mendengar kalimat Sigit barusan. Ia hanya mengangguk dan diam.


❄️❄️❄️


"Disini, ketika Abang masih kecil dulu sering membayangkan bisa bersama seperti ini dengan seorang putri cantik yang Abang impikan."


"Seorang putri cantik bagaikan bidadari yang selalu memenuhi alam mimpiku saat itu, menghabiskan malam berdua disebuah tempat yang ditemani sinar bintang dan reruntuhan bunga yang berguguran bagaikan salju yang turun dari langit."


"Putri cantik itu begitu lucu dan menggemaskan tertidur di dada kecil Abang sebagai tempat ia bersandar dalam ketakutannya yang disertai rasa lelah setelah lama ia menangis sendirian, seolah takdir membisikkan hatiku untuk terus berjalan dalam tersesatku ditengah hutan untuk menemukan bidadariku yang menungguku disana."


Winda bersandar dipundak suaminya, mendengarkan cerita mimpi masa kecil suaminya yang membuatnya terbuai dengan kalimatnya, tidak terasa dibawah pepohonan yang berhiaskan tanaman anggrek ditubuhnya dengan belaian lembut semilirnya angin disiang menjelang sore itu, perlahan kelopak matanya terpejam terasa berat untuk terus terjaga dan mendengarkan cerita mimpi suaminya yang begitu terasa indah yang seakan ia berada didalam mimpi itu.


"Winda mau jadi bidadari itu bang...." lirih Winda dalam gumamannya yang terdengar jelas ditelinga Sigit saat tertidur dipundaknya.


Sigit tersenyum mendengar igauan istrinya.


"Abang sangat senang jika itu dirimu saat itu sayang." ucap Sigit lirih setelah memperhatikan wajah cantik istrinya walaupun dalam keadaan tertidur.


Sigit membetulkan letak duduknya Winda, ia mengganti posisi istrinya dengan menidurkan diatas selembar tikar yang terbentang diatas rerumputan.


Diatas kedua kakinya ia meletakkan kepala istrinya sambil membelainya dengan lembut.


Sehingga terselip senyum dikedua bibir Sigit melihat istrinya.


"Iya mas faham. Terimakasih."


Lagi-lagi Sigit kembali mendengar istrinya mengigau dalam tidurnya. Ia pun tersenyum dan menertawakan istrinya itu.


"Hahaha Winda Winda bisa-bisanya kamu tertidur ditempat seperti ini, mengigau lagi." Sigit tertawa kecil melihat sikap Winda.


.


.


.


.


Bersambung 🤗🤗


Adakah yang tidur seperti Winda?


Disaat sedang tidur ada orang yang berbicara, kemudian pembicaraan orang tersebut malah masuk kedalam mimpi?


itulah yang dirasakan Winda saat itu dan mengigau.

__ADS_1


Saranghe 💞💞💞


__ADS_2