Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 79


__ADS_3

Jam pulang kerja ahirnya tiba setelah seharian berkutat di ruangan Sigit, Winda mengikuti aturan kerja dikantornya selama beberapa tahun kerja di perusahaan cabang WP dengan baik melakukan tugasnya bersama Dian. Baru saat ini ia merasakan kerja rasa dirumah sendiri. Bagaimana tidak? baru dua jam mengerjakan tugas Sigit menyuruhnya yang ini itu, seperti menyuruhnya membuatkan kopi, menyuruhnya istirahat didalam kamar pribadinyalah, menyuruhnya untuk mengambil berkas yang berada dirak bukulah, mengkaji ulang berkas yang baru diprint out-nyalah, padahal tanpa diperintah pun Winda sudah mengecek file sebelumnya dan berkasnya yang


memang sudah sesuai dengan semestinya.


"Bang mampir dulu yuk di bakso mang kumis."


suara Winda terdengar ketika mobil Sigit berhenti di lampu merah.Ia tahu belokan didepannya ada pertigaan yang arahnya menuju kampusnya dulu.


Winda ingin sekali merasakan masa kuliahnya ketika pulang ngampus, kadang sampai sore baru pulang ke perumahan. Iapun paling suka mampir ditempat mangkal mang kumis, karena selain tempatnya bersih dan orangnya rajin, mang kumis juga ramah orangnya.


"Kenapa disana? enakan di haji Sony sayang."


jawab Sigit mengalihkan tempat kesukaan Winda dulu. Ia tahu betul jika Winda paling suka mangkal disana.


"Ya pengen aja kesana bang, terus... ngenalin ke mang kumis kalau Sigit yang suka jail sama Winda dulu, sekarang udah jadi pangeran yang sangaaaaaat baik hati pada Winda." jawab Winda sambil meliriknya.


"Mau pamer nih?"


tanya Sigit sudah mengendarai mobilnya lagi ketika lampu hijau sudah menyala.


"Gak juga sih... cuma pengen aja makan bakso mang kumis, sudah lama gak kesana."


"Ya sudah, tapi jangan banyak-banyak nanti makannya."


"Kenapa?"


"Kalau kebanyakan pasti kamu tidak makan lagi begitu sampai dirumah. Dan setelah itu kamu pasti muntah lagi kayak kemarin-kemarin." jawab Sigit mengingatkan Winda akhir-akhir ini sering muntah.


"Iya ya... akhir-akhir ini Winda sering masuk angin kalau telat makan, kenapa ya? padahal dulu gak separah ini?" Winda terheran dengan perubahan dirinya saat ini yang berbeda dari kebiasaannya.


"Itu bisa jadi karena kamu tidak memperhatikan kesehatanmu sendiri." jawab Sigit dengan mengerem mobilnya didepan ruko mang kumis yang tutup.


Winda terlihat kecewa setelah melihat tempat langganannya tidak buka, hilang selera makan baksonya seketika.


"Yah... tutup deh..."


Sigit melihat gurat kecewa diwajah Winda, ia segera melajukan mobilnya kembali.


"Ya sudah, kita ketempat haji Sony saja ya?" tawarnya pada Winda.


"Tidak usah bang, kita langsung pulang saja kerumah."


"Loh kenapa?"


tanya Sigit terheran pada Winda yang cepat sekali hilang nafsu makan baksonya.


"Gaklah Winda mau cepat pulang ke rumah saja."


"Ya sudah."


tukas Sigit menyetujui perkataan Winda. Ia menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai rumah, kebetulan sekali gang yang dilewatinya tidak padat seperti jalan raya.


❄️❄️❄️


Setelah selesai makan malam papi bersama kedua putranya berjalan menyusuri taman dan berahir duduk dibangku dekat kolam renang. Mereka membicarakan sedikit masalah perusahaan dan banyak hal lainnya, hingga membahas rencana kuliah Revan yang sudah tidak lama lagi.

__ADS_1


Revan mengatakan pasrah dengan keinginan papinya jika ia harus kuliah dijurusan bisnis di Belanda, Jerman, Singapura, atau dibelahan negara manapun ia tidak keberatan kalaupun itu yang terbaik untuknya.


Mami dan Winda berjalan bergabung dengan mereka ditaman. Suasana bertambah menghangat dengan kehadiran mereka.


Angin malam berhembus mengiringi kebersamaan keluarga Winata. Mereka bercengkrama menikmati canda tawa beberapa saat, dengan mami membelai lembut rambut Revan yang bersandar dipundak mami. Tidak terlihat kalau mereka tidak ada hubungan darah sama sekali. Mami tidak pernah membedakan ketiga putranya, menurutnya, mereka semua adalah putra yang akan selalu ada dihatinya.


"Terima kasih ya mbak tadi sudah bantuin Revan. Kalau tidak dibantuin belum tentu Revan bisa menikmati malam bersama begini." ucap Revan seraya menghirup udara malam, kepalanya masih bersandar dipundak mami.


Winda mengangguk dan tersenyum padanya, Sigit melirikkan kedua ekor matanya pada Revan.


"Hm, rajinlah belajar dulu untuk saat ini jangan banyak keluyuran dengan teman-teman mu yang tidak penting, biar fokus nanti ngadepin persiapan kuliahnya, dasar anak mami." jawab Sigit pada adik semata wayangnya sambil mencubit ujung hidung Revan.


"Aw, sakit tau bang..." celetuk Revan spontan menghempaskan tangan abangnya diudara.


"Sudah sudah, emang bener yang dibilang Abang Van. Jangan kalah sama abang-abang mu dulu kalau sekolah. Mereka bisa mengatur waktu mana yang buat teman, keluarga dirumah dan sekolah." kalimat mami melerai kedua putranya.


"Hm, kayak Abang Igit yang membuat mami sakit ketika dibelanda?" ucap Revan meledek abangnya, yang justru membuat suasana hening seketika.


Mami melirik papi tidak mengira Revan akan mengungkit masa lalu abangnya, berbalik dengan Sigit yang tersenyum mendengar kalimat adiknya.


"Hm, itu bisa dijadikan pelajaran Van, ambillah yang baik buang yang tidak patut ditiru. Paham kamu?" jawab Sigit mencairkan suasana.


"Bener juga kata Abangmu itu Van. Sudah, papi masuk dulu, besok pagi papi sudah bersiap ke bandara. Mami sudah siapkan semuanya?" kalimat papi pada Revan dan berakhir pada mami seraya berdiri beranjak dari kursinya.


"Sudah Pi, beres." jawab mami. "Ayo Van masuk. Mami masuk dulu ya..." mami berdiri setelah menyapa Winda dan Sigit yang diikuti oleh Revan, lalu berjalan dibelakang papi memasuki rumah, meninggalkan Sigit dan Winda berdua dibangku itu.


Sigit merubah posisi duduknya dengan merebahkan tubuhnya diatas kursi panjang, kepalanya didaratkan diatas pangkuan Winda.


"Abang ngapain seperti ini?"


"Tidak masuk rumah nih?"


"Nanti dulu, biar seperti ini rileks sejenak."


Jawab Sigit menghirup nafas panjang lalu mengeluarkan perlahan diudara.


Winda memperhatikan tingkah suaminya yang menikmati malam berdua dengannya.


"Wajar kalau Revan berkata seperti itu." suara Sigit membuka percakapan dengan istrinya.


"Hm? Abang tersinggung?"


"Tidak juga, Abang cuma berpikir... ternyata Abang juga egois waktu itu. Tidak berpikir jauh bagaimana kesehatan mami." jawab Sigit tersenyum kecut mengingat dirinya dulu.


Winda membelai rambut suaminya dipangkuannya.


"Sudahlah tidak usah diingat-ingat lagi yang buruk, yang penting sekarang kita sebagai anak harus mentaati orang tua kita, membahagiakan mereka, dan merawat mereka dihari tuanya nanti."


Sigit mencerna kalimat Winda, ia duduk mengganti posisinya semula menghadap Winda menatap wajah istrinya yang terheran melihatnya tiba-tiba duduk berhadapan.


"Ada satu PR Abang yang harus segera diselesaikan."


Winda melihat keseriusan yang diucapkan suaminya yang belum ia ketahui. Sehingga membuatnya penasaran, ia mengerutkan keningnya.


"Apa itu bang?"

__ADS_1


"Kamu masih ingat ketika Abang pulang dari Bandung kemeja Abang berlumuran darah?"


"Hm? kenapa?"


"Ada seseorang yang ingin mencelakai Abang."


Winda terkejut mendengar penuturan Sigit.


"Apa? seseorang ingin mencelakai Abang?"


"Hm."


"Kenapa bang? apa... Abang pernah berbuat salah dengan seseorang?"


"Tidak tau pasti si kalau itu, tau sendirilah seperti apa Abang dulu. Tapi... ini masalah Renaldi." jawab Sigit.


Winda terkejut mendengar perkataan suaminya, ia mengingat-ingat nama yang baru disebut Sigit.


"Renaldi... kakaknya Revan?" ujar Winda setelah mengingat nama Renaldi. Sigit mengangguk sebagai jawaban Winda.


"Dialah yang menyebabkan mobil Abang kecelakaan dengan menabrak pohon dan... mobil Abang ringsek. sedangkan darah yang berada dikemeja dan dahi Abang saat itu adalah darahnya orang yang terpental dari motornya tepat dibelakang mobil Abang." kalimat Sigit terhenti sejenak, kedua kakinya dinaikkan diatas bangku dengan kedua tangan bersedekap melingkari kedua lututnya yang ditekuk, dan melanjutkan kalimatnya kembali. "Bersyukur Abang tidak kenapa-napa, hanya sedikit pincang. Abang langsung menghubungi Gunawan, lalu Abang segera memberikan pertolongan pertama pada orang itu, dan tidak lama kemudian Gunawan datang menjemput Abang. Kamipun segera mengurus korban itu di RSCM." mata Sigit menerawang jauh diatas langit tanpa sinar bulan. Ia membayangkan kejadian saat itu yang sama sekali tidak ia sangka akan terjadi petaka yang hampir merenggut nyawanya.


Flashback


Ditempat yang sepi hanya pepohonan dan beberapa kendaraan yang melintas disana. Sigit yang awalnya hanya tiga hari berada dibandung mengurus proyek yang hampir selesai akhirnya molor menjadi sepuluh hari karena ada kendala dalam penyelesaian proyeknya. Rasa rindu dan resah bergelayut dalam pikirannya tentang Winda, wanita yang ia sayangi baru saja pulang setelah satu bulan lebih mengalami koma di rumah sakit karena kecelakaan dipantai yang mengakibatkan amnesia sebagian masa lalunya.


Ditikungan jalan raya yang tidak ia sadari ada sebuah mobil yang berlawanan arah sengaja mengambil jalannya, sehingga Sigit segera menghindari mobil itu dengan membanting stirnya disisi kiri jalan yang terdapat pohon-pohon besar yang berjajar. Kebetulan ia tidak ngebut saat itu.


Mobil sport yang dikendarai Sigit pun manabrak pohon besar yang berjajar itu. Menyadari ada kepulan asap dari depan mobilnya, iapun berniat membuka pintu mobilnya, namun, begitu melihat seseorang yang ia kenal mengendarai mobil seakan dengan sengaja membuat rekayasa terjadi kecelakaan tunggal. Namun, naasnya ternyata dibelakang mobil Sigit terdapat motor yang tidak siap menghalau keadaan didepannya sehingga membuat pengendara motor itu ikut menabrak mobil Sigit dan terpental.


Sigit seakan tidak percaya melihat dengan jelas laki-laki yang tersenyum sinis didepannya yang berjalan mendekati mobilnya adalah Renaldi, iapun memejamkan matanya berpura-pura tidak sadarkan diri ingin mengetahui kelanjutan rencana laki-laki itu. Sedangkan Renaldi melihat kondisi mobil Sigit yang mengepul bagian depannya dan melihat orang didalam mobil tidak bergerak dengan mata terpejam, laki-laki itu bermaksud ingin memastikan keadaan Sigit didalam mobil, namun, suara temannya yang berada didalam mobilnya terdengar memanggil namanya, iapun menoleh kepemilik suara itu dan langsung meninggalkan Sigit.


Setelah memastikan mobil Renaldi pergi, Sigit membuka pintu mobil dan keluar dengan sedikit tertatih-tatih. Ia berjalan sambil menghubungi seseorang agar segera menjemputnya dan mengurus Renaldi.


Alangkah terkejutnya Sigit ketika mendengar rintihan seseorang yang sedang kesakitan, ia berjalan mencari suara yang tidak jauh dari tempatnya, setelah berjalan beberapa langkah ia mendapati seseorang yang tergeletak. Sigit mendekatinya dan memperhatikan orang didepannya dari pencahayaan lampu jalan yang berlumuran darah dibeberapa bagian tubuhnya, Sigit panik. Lalu membuka jas yang dikenakannya dan merobeknya beberapa bagian untuk mengikat luka itu, ia segera mencari obat-obatan yang ada didalam kotak P3K nya didalam mobil, lalu mengobatinya dan berakhir dengan mengikat kepala, lengan dan kaki. Ia mencoba memberikan pertolongan pertama pada orang yang tak dikenalnya, setelah itu ia berdiri ingin mencari bantuan, namun, ia justru menemukan bagian lampu motor yang sudah porak poranda didekatnya juga sebuah motor yang sudah ringsek seperti mobilnya bagian depan karena menghantam pohon dan bagian belakang karena terhantam motor itu. Sigit hanya terdiam memandangi mobilnya.


Tidak berapa lama setelah Sigit memberikan pertolongan pada orang itu, sebuah mobil datang menghampirinya dengan tiga orang turun dari mobilnya, ketiga orang itu adalah Gunawan dan anak buahnya.


Gunawan dan dua anak buahnya membantu mengangkat tubuh orang yang tak dikenal itu kedalam mobil dan langsung membawanya kerumah sakit RSCM.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


untuk part ini agak tegang ya... siap-siap akak...


jangan lupa votenya, vote vote vote...


saranghe...💞💞

__ADS_1


__ADS_2