Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 30


__ADS_3

Sigit geram membanting berkasnya diatas meja setelah kepergian Renaldi dari ruangannya.


Braakkkkk


"Kurang ajar!! berani-beraninya dia bermain api denganku." pandangan Sigit kearah pintu bagaikan elang mencabik-cabik mangsanya, seolah-olah ada Renaldi didepan pintu itu.


Sigit melirik kedua berkas didepannya lalu berjalan mendekati berkas yang sudah dibantingnya, dia mengambilnya kemudiam menumpuknya kembali diatas meja.


"Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Secepatnya papi harus mengetahui semua ini." lirih Sigit.


Sigit meraih jas maroon disandaran kursinya dan berlalu keluar dari ruangan kerjanya, dia menuruni gedung dengan lift husus dirut.


"Selamat sore pak."


"Selamat sore pak."


Ucapan para karyawan yang menyapanya di setiap langkah kakinya menuju parkiran mobil dengan menundukkan kepala sebagai rasa hormat kepadanya.


"Sore."


Jawaban singkat dengan wajah datar yang dia berikan terhadap setiap sapaan karyawannya.


Sigit mengendarai mobilnya berbaur merayap dengan kemacetan jalan raya ibu kota disore hari, sekilas terbayang senyum Winda menunggu kepulangannya dari kantor, tangannya meraih benda pipih disaku jasnya.


Tuuuut tuuuuuut tuuuuuuuut.


Sigit memencet nama my honey dilayar ponselnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


"Ada apa bang? "


"Honey, segera siap-siap temenin abang, abang jemput sekitar sepuluh menit lagi ya..."


"Kemana? "


"Udah sekarang dandan yang cantik, tunggu abang, nanti juga tau sendiri mau kemana, Assalamualaikum."


"Bang tunggu bang. jangan dimatiin dulu."


Klik.


Sigit memencet tombol merah di layar ponselnya menghentikan panggilannya, tidak mendengarkan perkataan Winda dari sebrang.


Sigit menambah kecepatan laju mobilnya setelah melewati zona macet, sudah tidak sabar ingin segera sampai dirumah, bertemu istrinya. Dia tersenyum membayangkan wajah istrinya yang menyambut kedatangannya.


Baru saja membayangkan sambutan istrinya didepan pintu, rasanya hilang sudah permasalahan dikantor yang baru terjadi siang tadi.


"Win, Win apa begini ya rasanya kalau sudah menikah... ada rasa tenang, senang ada yang menyambut kedatanganku sepulang dari kerja."


Sigit bergumam sendiri sembari tersenyum, permasalahan yang ada seketika hilang bak ditelan bumi, glek, langsung masuk keinti bumi.


"Serasa berarti hidupku Win... bener-bener tidak pernah menyangka aku, kamu bener-bener telah mewarnai hari-hariku sesingkat ini..."


Sigit tersenyum sendiri masih bergumam dengan mengemudikan mobilnya.


Tin tin


Suara klakson terdengar didepan pagar gerbang Winda, tidak berselang lama Winda sudah keluar menuju gerbang, dan segera membukanya.


Winda mendekat menghampiri Sigit yang berada di belakang kemudi.


"Mau kemana kita bang? " tanya Winda dari balik kaca mobil yang sudah terbuka setengah.


Sigit tidak berkedip melihat penampilan istrinya, anggun dan cantik.


"Sudah masuk saja."

__ADS_1


Winda menutup pintu gerbang kembali, lalu berjalan memutari mobil Sigit dari depan.


Winda duduk disamping kemudi memperhatikan suaminya yang fokus kedepan memandang jalanan.


"Jangan lupa pakai seatbeltnya." ucap Sigit tanpa melihat wajah Winda, membuat Winda terheran dibuatnya.


"Kenapa lagi si abang? tiba-tiba romantis, tiba-tiba jutek? "


pikir Winda dengan tangan memasang seatbelt saat mobil sudah mulai berjalan.


"Kenapa? " tanya Sigit ketika melihat raut wajah Winda dari kaca diatasnya.


"Gak papa bang, cuma aneh aja mukanya, kumel."


"Enak aja, emang baju." gerutu Sigit mendengar jawaban Winda disampingnya.


Mereka terdiam selama perjalanan tanpa membicarakan apapun hingga sampai parkiran mall pusat belanjaan terbesar di ibu kota, mereka turun dari mobil dan masuk didalam gedung yang selalu penuh pengunjung, diantara mereka ada yang belanja kebutuhan dapur, kosmetik, pakaian, ada juga orang tua yang hanya menunggui anak-anak mereka bermain game, dan bahkan ada yang sekedar jalan-jalan saja menikmati keramaian mall disore hari menjelang senja.


Sigit dan Winda menaiki eskalator lalu berjalan ketempat yang dituju, mereka berjalan beriringan, bahkan banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua dengan tangan kiri Sigit bergelayut dipundak kiri Winda.


"Bang, diliatin banyak orang." Winda merasa tidak nyaman dengan mata yang menatap dirinya dan suaminya.


"Terus kenapa? "


tanya Sigit acuh.


"Ya gak enak lah bang." jawab Winda kesal.


"Emang kamu disuruh makan mereka? gak kan." jawab Sigit masih acuh.


"Ya bukan begitu bang." Winda sudah sebal dengan tingkah suaminya, mereka sudah memasuki toko husus baju laki-laki.


"Pilihin baju yang cocok buat abang." ucap Sigit melepaskan tangannya dari pundak istrinya begitu mereka sudah didepan baju-baju dan kaos yang tergantung.


"Ini kartunya." Sigit duduk disofa depan kemudian mengulurkan kartu kredit ketangan Winda.


"Silahkan mbak, sebelah sini untuk model terbaru." kata pelayan toko dengan seulas senyum dibibir merah delima mulai melayani pelanggan.


Winda mengikuti pelayan didepannya dan mulai memilih beberapa baju dan kaos lalu memberikan kepada pelayan yang membantunya, Winda juga mengambil tiga celana pendek dan beberapa celana panjang, tidak lupa dua kotak celana d*l*m.


"Hmmmm, apa lagi ya? " Winda berfikir sejenak apa lagi yang diperlukan suaminya.


"Biar aja mau kekecilan atau kebesaran, salah siapa nyuruh-nyuruh seenak jidatnya." gerutu Winda berjalan menuju kasir dan segera membayarnya.


Setelah menyelesaikan transaksinya, Winda berjalan mendekati Sigit yang masih sibuk dengan mesin tipisnya.


"Hm? sudah? " Sigit mendongakkan wajahnya ke wajah Winda yang hanya mengangguk lalu memperhatikan paper bag ditangan Winda yang kerepotan membawanya.


"Ya sudah yuk." Sigit memasukkan gawainya kedalam sakunya lalu mengambil beberapa bagian paper bag dari tangan Winda, lalu berjalan keluar menuju restaurant dilantai dasar.


"Kita makan dulu ya disini, abang laper, kamu juga kan? " ucap Sigit sambil meletakkan paper bag diatas meja.


Sigit memesan dua porsi makanan dan minuman untuk mereka berdua.


Setelah beberapa saat Winda merasa jenuh dan kesal dengan sikap Sigit yang lebih sibuk dengan benda pipih ditangannya, dia memperhatikan tingkah suaminya, dia benar tidak habis pikir kenapa suaminya betah bermain gawainya sedari turun dari mobil sampai menunggu menu pesanannya datang.


"Ngapain coba ngajakin kesini kalau cuma dijadiin penonton?" pikir Winda melirikkan ekor matanya kearah Sigit.


Winda menggaruk dagunya yang tidak gatal.


"Assalamualaikum." disaat masih asik dengan pemikirannya, tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki yang sangat dikenal ditelinga Winda.


Winda menoleh kan kepalanya kepemilik suara.


"Waalaikumsalam" mata Winda terbelalak ketika mengetahui pemilik suara yang mengucapkan salam.


"Mas Faisal? " ucap Winda yang diikuti Sigit menoleh kearah Faisal.


Faisal tersenyum dan berdiri diantara Sigit dan Winda.

__ADS_1


"Boleh nih gabung duduk disini? "


pertanyaan Faisal sontak membuat Winda terkejut, tidak enak jika menolak kakak alumninya, Winda melihat suaminya yang terdiam dan kembali kekesibukan gawainya.


"Mm boleh, boleh Silahkan duduk mas." jawab Winda mempersilahkan Faisal.


Faisal duduk disamping Sigit setelah menggeser kursi kosong untuk dirinya.


"Apa kabar abangnya Winda? " tanya Faisal kepada Sigit yang sudah duduk disampingnya.


"Baik." jawab Sigit singkat dengan melirikkan ekor matanya sekilas kearah Faisal.


Faisal sedikit tersenyum kecil melihat Sigit yang menjawabnya singkat dengan melirikkan mata kearahnya dan kembali sibuk dengan mesin kecil ditangannya, Faisal menautkan jari-jari tangannya diatas meja, lalu menoleh kearah Winda.


"Apa kabar Win? "


"Alhamdulillah baik mas, mas Faisal sendiri apa kabar? "


"Alhamdulillah baik juga, sepertinya abang kamu sibuk sekali."


"Ya mas, ada pekerjaan yang harus dia selesaikan." jawab Winda asal untuk menutupi sikap suaminya yang cuek.


Faisal mengangguk mendengar jawaban Winda.


"Kebetulan sekali bertemu disini."


"Iya mas, mas sendiri ngapain disini? "


"Yah... ketemu kamu, kan lama tidak ketemu."


"Bisa aja mas Faisal, kan kemarin baru ketemu." jawab Winda tersenyum sambil melirik kearah Sigit yang sesekali mengalihkan pandangannya kearahnya dan Faisal.


Winda tau jika Sigit sedang kesal dengan kedatangan Faisal, namun dia juga ingin Sigit merasakan bagaimana rasanya diduakan dengan benda kecil pipihnya.


Winda dan Faisal membicarakan hal-hal biasa dan selingan candaan yang mengundang tawa mereka sehinga membuat Sigit semakin kesal.


Pesanan pun datang berbarengan dengan pesanan Faisal yang dipesan sebelumnya.


Mereka segera mengeksekusi makanannya dengan sesekali melanjutkan pembicaraannya yang seakan tidak ada habis ceritanya.


Sigit banyak terdiam dengan mengunyah makanannya seakan tidak pernah habis, dia meletakkan sendok diatas piring dan mengelap mulutnya dengan tissue.


"Sorry, kita cabut duluan, ada kepentingan mendadak yang harus kami selesaikan." ucap Sigit ditengah-tengah makan bersama setelah melihat layar gawainya.


Winda mendongakan kepalanya melihat suaminya yang sudah berdiri dan menenteng paper bag belanjaannya dari atas meja, setelah meletakkan beberapa lembar uang merah disamping piringnya.


"Yah... abang kan belum selesai makannya..." ucap Winda sambil mengambil tas kecilnya, lalu berdiri menggeser kursinya.


Faisal menghentikan makannya, melihat Sigit dan Winda bergantian yang sudah berdiri.


"Permisi, mungkin lain kali dan ditempat yang berbeda kami akan mengundang anda." pamit Sigit.


"Iya mas Faisal, kami mohon maaf." ucap Winda menambah perkataan suaminya yang sudah siap pergi.


"Hm, baiklah tidak apa-apa, semoga urusannya berjalan dengan lancar."


"Aamiin. Assalamualaikum." ucap Winda mengahiri pertemuanya.


"Waalaikumsalam."


jawab Faisal mengantar kepergian mereka dengan pandangan matanya sampai mereka memasuki mobilnya.


bersambung...


mohon maaf telat upnya, karena kesibukan menunggui adik yang sedang SC kemarin...


tetap dukung dengan like n komen ya...


terimakasih...💖💖

__ADS_1


__ADS_2