Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 20


__ADS_3

Tidak terasa waktu bergulir semakin sore, pekerjaan kantor dua hari ini cukup menguras pikiran menurut Sigit sehingga sangat melelahkan, dia melihat pergerakan jarum dipergelangan tangannya sudah pukul 3 sore, Sigit segera menuju lift husus papinya sebagai pemiliknya, dia bergegas menuju parkiran mobilnya, dia ingin sekali secepatnya sampai di rumah.


Sigit menoleh kearah kursi disampingnya. Entah kenapa semenjak ada Winda, dia merasakan ada sesuatu yang mulai mengusik hatinya, seoalah kursi itu sudah menemukan pemiliknya.


Sigit tersenyum melihat kursi yang masih kosong itu, dia membayangkan selalu bersama istrinya ketika dalam mobil.


"Ada apa lu Git? apa jangan-jangan lu sudah mulai suka sama istri lu? "


kata hati Sigit.


"Ckk, baru saja lu dilayani Winda Git. dan itu cuma secangkir kopi dan disiapan baju tadi pagi? udah mulai luluh hati lu? yang bener saja Git, semudah dan secepat itukah lu mulai menyukai Winda? hhhhh... bener-bener gak nyangka gue Git Git."gumamnya sendiri didalam mobilnya masih dengan binar-binar senyum dipipinya.


"Ya sudahlah, apa salahnya jika gue mulai hari ini akan bersikap yang lebih baik padanya, tunggu gue Winda Zilvana Idris, gue jemput lu ke kantor cabang, sekalian makan malam. Surprise untukmu Win."


Sigit tersenyum berkata sendiri masih melamunkan wajah istrinya yang senang saat melihat kedatangannya dikantor menjemput istrinya nanti.


❄❄❄


"Win. saya mau ngomong sebentar sama kamu." kata Faisal menghampiri Winda, ketika Winda sudah keluar dari ruangan kerjanya.


Sudah cukup lama Faisal menunggu Winda diruang tunggu, beberapa panggilan handphonenya juga tidak dijawab oleh Winda, entah karena masih sibuk atau memang tidak menghiraukannya.


Faisal berusaha mencari waktu yang tepat untuk menemui dan berbicara secara langsung dengan Winda, namun dia belum juga mendapatkan kesempatan itu sejak dulu, menurut Faisal saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan hatinya kepada Winda setelah sekian lama menunggunya,


iya, Faisal merasa takut jika harus kehilangan Winda, mengingat sudah beberapa kali dirinya melihat Winda bersama laki-laki lain.


"Ngomong aja sekarang mas, ini sudah jam 4 sore lo, sebentar lagi taxi online aku juga dateng."


Winda menghentikan derap langkah kakinya.


"Ke kantin yuk atau kita kekafe aja, biar pulangnya nanti saya yang antar."


Kata Faisal menangkap manik hitam Winda, ada ketidak nyamanan yang Faisal rasakan dalam tatapan Winda.


"Tidak mas. Ini sudah sore, dikantin juga sudah sepi, kalau mau ke kafe nanti bisa kemaleman pulangnya." kata Winda melanjutkan langkah kakinya menuju parkiran.


"Win."


Suara Faisal memanggilnya lagi, langkah kakinya disejajarkan dengan langkah Winda, tangannya berusaha memegang lengan Winda, namun Winda segera menghindar dari tangan Faisal.


Winda merasa tidak pantas seorang wanita yang sudah bersuami berbicara dengan laki-laki lain ditempat yang sudah sepi hanya berduaan.


"Win, tunggu sebentar Win."


Winda menghentikan langkah kakinya, dia membalikkan tubuhnya menghadap Faisal.


"Ada apa mas? "


"Ada yang harus saya bicarakan sama kamu Win." Faisal menjeda kalimatnya, tangannya mengeluarkan setangkai mawar merah dari balik punggungnya.


"Saya ingin menepati perkataan yang pernah saya ucapkan kepadamu dulu." Mata Faisal menatap wajah Winda, tangannya mengulurkan bunga mawar didepan Winda dengan kaki kiri sudah ditekuk dijalan, kepalanya menengadah tepat didepan Winda, seperti sang pangeran melamar pujaan hatinya.


"Izinkan saya melamarmu malam ini Win. dan kita langsung kerumah orang tuamu."


Winda menautkan alisnya, benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru dilihat dan didengarnya.


Winda salah tingkah melihat perlakuan Faisal, dia mengedarkan pandangannya disekitar parkiran.


"Mas Faisal ngapain? tidak enak kalau dilihat orang disini mas, disangkanya ada apa-apa diantara kita."

__ADS_1


Winda benar-benar tidak pernah menyangka Faisal senekat ini.


"Biar semua orang tau Win, kalau kamu benar-benar seorang wanita yamg luar biasa, seorang wanita yang mampu membuatku sabar menunggu selama ini." kata Faisal, Winda hanya menggigit bibir bawahnya, tangan kanan memegangi kepalanya yang mendadak pusing.


"Wah romantis sekali mbak. terima atuh mbak Winda bunganya." kata pak Eko, Satpam yang menjaga pos keamanan tiba-tiba datang dari arah kantor.


"Ini salah faham pak. Tidak seperti yang pak Eko pikirkan." kata Winda cemas setelah menyadari ada orang yang melihatnya.


Winda merasa harus meluruskan persoalan yang terjadi, dia tidak mau ada kesalah fahaman. Apalagi kalau sampai berita ini menyebar dikantornya besok, bisa-bisa heboh keadaannya.


"Mas Faisal, sepertinya Winda memang harus menjelaskan lagi persoalan itu sekarang sama mas,"


Winda menatap Faisal.


"Baiklah kalau begitu mas berdiri dulu, kita bicarakan masalah ini di kursi tunggu pos satpam saja, biar tidak cuman kita berdua, ada pak Eko juga yang mendengarnya, ayo mas kesana." kata Winda menunjuk kursi yang dimaksud, mereka berjalan menuju pos satpam yang terdapat kursi panjang disampingnya.


Faisal pun berjalan dibelakang Winda lalu duduk disamping Winda, matanya masih memperhatikan Winda.


"Ada apa Win? sepertinya ada sesuatu yang sangat penting, sampai-sampai kamu seserius ini? " tanya Faisal tidak sabar mendengar penjelasan dari Winda.


Pak Eko sudah duduk diatas kursi plastik yang baru dia ambil dari dalam pos penjagaan, dia duduk didepan Faisal dan Winda.


Winda membuang nafasnya pelan-pelan, lalu memulai membuka suaranya.


"Begini mas Faisal, mas masih ingat perkataan Winda sejak awal Winda masuk kuliah dulu apa? " kata Winda mengingatkan Faisal tentang ucapannya ketika pertama kali dirinya kuliah terhadap Faisal dan yang lain.


Faisal mengerutkan keningnya dan terdiam, matanya mencari jawaban dari mata lawan bicaranya.


"Ada Winda menjawab kata sepakat untuk menyetujui perkataan mas Faisal dari awal? tidak kan? bukankah dari awal Winda sudah pernah memberitahukan kepada mas dan temen-temen seangkatan mas, dan juga kakak angkatan yang lain, untuk menjaga keutuhan persahabatan dan jangan sampai menaruh hati sama Winda? kenapa sampai Winda mengucapkan kata-kata itu dulu? karena Winda tidak mau persahabatan kita semua hancur mas, dari awal Winda juga bilang bahwa kalian semua sudah Winda anggap sebagai kakakku, tidak lebih mas! karena Winda punya prinsip. Bahwa Winda tidak ingin menikah dengan teman sesama alumni mas! kenapa? karena Winda tidak menginginkan itu, menurut Winda, Winda tidak mau hanya memiliki satu pemikiran, akan tetapi Winda ingin menyatukan keanekaragaman dalam pola berpikir, dengan begitu satu pasangan akan saling melengkapi dari kekurangan pasangan masing-masing. dan itu sudah menjadi keputusan Winda mas." jelas Winda panjang lebar, mengingatkan peringatannya 4 tahun yang lalu kepada Faisal.


"Ya, saya masih ingat kata-katamu dulu, Tapi Win itu kan dulu, bukankah kamu sekarang sudah bisa berubah pikiran kan? " kata Faisal masih membujuk Winda.


Winda tersenyum menatap wajah kakak kelasnya dulu, membuat Faisal semakin penasaran.


"Apa itu karena kamu sudah deket dengan laki-laki yang bersamamu ahir-ahir ini? " kata Faisal menyelidik.


Winda terdiam sejenak dengan tersenyum dipipinya, justru senyumnya itu yang membuat Faisal jatuh hati sejak dari zaman sekolah dulu.


Pak Eko masih mendengarkan percakapan mereka, dia mulai faham arah pembicaraan dua insan didepannya.


"Ya mas! namanya Sigit. Dia adalah suami Winda! "


Jawab Winda dengan nada tegas tidak seperti sebelumnya.


Mendengar jawaban wanita didepannya, pak Eko membulatkan kedua matanya, terkejut.


Sedangkan Faisal tersenyum kecut menyimpan kecewa.


"Tidak mungkin itu Win! karena saya tau kamu tidak mudah menerima seseorang jika kamu betul-betul belum mengenalnya." Sanggah Faisal tidak percaya.


Winda terdiam sesaat menundukkan kepalanya, kemudian menunjukkan jari manisnya yang tersemat cincin pernikahannya dengan Sigit.


"Mas Faisal lihat ini? "


Faisal menyipitkan matanya dan terkejut.


"Ini cincin pernikahan kami mas, dan disaksikan orang tua kami."


"Kami menikah memang bukan atas keinginan kami, dan juga tidak atas kesalahan kami, akan tetapi ini semua memang sudah dikehendaki Allah."

__ADS_1


"Kami memang sudah tau tapi belum saling mengenal, karena Sigit adalah temanku satu jurusan dan bahkan satu kelas dari semester satu."


"Waktu itu, sekitar pukul 9 malam Winda baru selesai ngelembur pulang dari kantor jalan kaki sendirian dalam keadaan hujan, tepatnya hari jum'at malam kemarin, ada dua orang yang menggodaku, dan Winda sempat beradu kekuatan sehingga Winda kewalahan, karena jalanan sepi Winda bingung mencari bantuan."


"Hingga ahirnya ada sebuah mobil berhenti tidak jauh dari tempat kejadian, Winda berlari meminta bantuan, namun sayang saat Winda berlari kaki Winda tersandung dan Winda pun tidak sadarkan diri sampai sehari semalam."


"Begitu Winda sadar, sudah ada banyak orang dan orang tua kami disekeliling Winda."


"Ternyata warga salah faham dengan Sigit yang sudah menolongku, ahirnya dia disuruh bertanggungjawab dengan menikahiku."


"Begitulah awal mulanya mas, pernikahan yang tidak pernah kami duga, kami menikah karena sudah dikehendaki Allah. Jadi Winda mohon, mas Faisal tetaplah menjadi sahabat dan kakak bagiku. karena dengan begitu, mas Faisal tidak akan pernah merasa terluka karena sakit hati dan kecewa." kata Winda mengahiri penjelasannya terhadap Faisal tanpa ada rasa bersalah dan ragu di setiap kata-kata yang terucap dari bibir Winda.


Faisal tertunduk dan terdiam beberapa saat kemudian kembali mengarahkan pandangannya kewajah Winda, ada seulas senyum dibibirnya.


"Baiklah, memang benar apa yang kamu katakan tadi Win, saya akan mencoba membuang perasaan itu, dan hanya akan menyisakan rasa persaudaraan dan persahabatan."


Winda tersenyum menganggukan kepalanya.


"Dan, tetap terimalah setangkai mawar ini sebagai hadiah dari kakakmu. semoga pernikahan kalian sakinah mawaddah warahmah sampai ke surga Allah. Aamiin." kata Faisal mengulurkan setangkai mawar ketangan Winda.


"Aamiin, terimakasih mas." ucap Winda dan menerima mawar dari Faisal.


"Pak Eko, tolong jangan disebarkan dulu cerita saya yang tadi dikantor, biar Sigit sendiri nanti yang mengumumkan pernikahan kami."


kata Winda berpesan kepada pak Eko.


"Oh iya mbk Winda beres, selamat ya mbak." kata pak Eko dengan mengacungkan jari jempol kanannya kearah Winda.


"Win, panggil suamimu dengan panggilan yang sopan. Jangan panggil namanya." kata Faisal mengingatkan, dengan disambut senyum cengengesan oleh Winda.


"He he insya Allah mas."


"Insya Allah nya yang dilakukan, jangan cuma hanya niat." kata Faisal.


"He he masih penyesuaian mas."


Tin tiin...


.


. Bersambung 🤗🤗


Jangan lupa dukunganya, like, komen, vote ya....


love you all 💞


ini foto Winda, Sigit, dan Faisal.


Sebagai pendukung ngehalunya ...


kalau tidak cocok boleh dibayangkan sesuai halu masing-masing.



Winda Zilvana Idris



Sigit Andra Winata

__ADS_1



Faisal


__ADS_2