Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 16


__ADS_3

Sigit mengenakan pakaian yang sudah rapi, berbeda dari biasanya, Winda memperhatikan suaminya yang terlihat lebih bijaksana, lebih matang usianya, berbeda ketika dikampus.


"Apa bener itu Sigit? kok beda ya." Winda tak berkedip memperhatikan suaminya.


Begitu pula dengan Sigit, terpaku dengan apa yang ada didepannya.


Matanya fokus memperhatikan Winda yang berpenampilan jauh dari yang dia lihat selama dikampus, gamis simple dipadu dengan jilbab abu, ujung jilbab kanan disematkan diatas bahu kirinya yang dihiasi bros yang menjuntai. Tas hitam menggelayut dibahunya, sangat cocok dengan penampilan Winda pagi ini.


Drrrrrt drrrrrtt ddrrrrrrrtt


"Ehem."


Sigit tergagap ketika ada getaran disaku celananya, dia segera mengalihkan pandangannya.


Tangannya merogoh benda pintar itu lalu memencet layarnya dan berlalu keruang tamu.


"Halo selamat pagi pak! "


....


"Oh iya ya. saya ingat."


....


"Jam berapa sidangnya dimulai? "


....


"Oh begitu ya."


....


"Gimana ya... sebenarnya saya hari ini ada rapat juga pak! jadi saya mohon maaf jika saya nanti tidak bisa kepengadilan."


....


"Iya saya tau."


....


"Iya pak. mungkin saya bisa menangani kasus yang berbeda lain waktu."


....


"Iya pak. Terimakasih."


....


"Selamat pagi."


Sigit menutup panggilannya, tangannya menggenggam hp sambil mengurut pelipisnya, menimbang keraguannya.


"Hhhhhhh kenapa bisa berbarengan begini ya... sebenarnya ini kesempatan yang tepat untuk meraih karirku di pengadilan, disisi lain perusahaan papi harus gue tangani. hhhhhhh." Sigit menghela nafas panjang.


Winda memperhatikan suaminya yang kelihatan sedang memikirkan sesuatu, bingung setelah menerima panggilan.


"Git! sarapan dulu! keburu siang nanti."


Winda menyiduk nasi untuk suaminya.


Sigit berjalan menuju meja makan.


dia memperhatikan istrinya yang sudah meletakkan nasi diatas piringnya.


"Mau pakai apa? telur apa ayam aja? " Winda sudah siap mengambil telur ceplok balado dan ayam kremes.

__ADS_1


"Ayam aja! " jawab Sigit.


Winda meletakkan ayam kremes dan tumis sayuran diatas piring suaminya. Sigit memperhatikan Winda melayaninya sarapan, lalu mengambil sarapan bagiannya. Mereka menikmati sarapan bersama.


"Nanti kekampus bareng aja!"


kata Sigit disela-sela sarapannya.


"Hm...? " Winda terkejut, alisnya terangkat dan melirik suaminya ketika mendengar perkataan suaminya.


"Gue kekampus cuma mau acc sekripsi aja, setelah itu..."


Sigit tidak melanjutkan perkataannya, dia kembali gusar dengan jadwalnya.


"Kenapa? apa ada masalah dikantor papimu? "


Winda penasaran dengan kegelisahan suaminya setelah nendapatkan panggilan dari mami Lia dan orang yang baru saja menelponnya. Sigit mengunyah suapan terahirnya hingga menelannya.


"Sebenarnya hari ini ada kasus pak Tirta yang harus gue tangani dipengadilan negri."


"Waah... pak Tirta pengacara terhebat itu kan? itu kan bagus git? terus kenapa? apa ada masalah dengan itu? "


Winda terkejut dengan perkataan suaminya, dia tidak menyangka suaminya bisa dekat dengan pengacara terkenal dinegri ini.


"Tadi pagi mami juga telpon, papi ke singapura tadi malam. ada masalah diperusahaan disana." Winda mendengarkan penjelasan suaminya.


"Terus...?"


"Gue disuruh menggantikan rapat papi di kantor, dan waktunya itu bersamaan dengan sidang dipengadilan." Sigit meminum air putih didepannya.


Winda terdiam sejenak setelah mendengarkan suaminya. dia membereskan piring kotor diatas meja lalu membawanya ke cucian piring.


"Terus keputusan kamu? "


"Yah.… mau gimana lagi?."


"Ayo berangkat sekarang! "


"Aku naik taxi online saja Git! " ucap Winda sambil membenarkan lengan tangannya setelah mencuci tangannya.


Sorot mata Sigit menatap Winda tajam. Tanganya terhenti dari membenarkan jas abu-abunya.


"Winda Zilvana Idris! jangan membantah perintah suami! diluar masih hujan! ayo segera masuk mobil! "


Winda terdiam mendengar perkataan suaminya yang menyebut namanya secara lengkap, walaupun nada suara suaminya pelan namun penuh penekanan disetiap kata-katanya. Winda melihat wajah suaminya saat ini benar-benar dalam keadaan marah.


"Apa harus gue gendong sampai didalam mobil lagi? "


Sigit masih dengan tatapan memaksa istrinya ketika Winda masih terdiam melihatnya.


Mendengar ucapan Sigit seperti ancaman untuk dirinya, Winda gelagapan.


"Iya! iya! aku masuk mobil sendiri! " dengan wajah kesal Winda segera mengalungkan tas dipundaknya dan berlari kecil kearah pintu depan melewati suaminya.


Setelah mengunci pintu rumah dan gerbang depan rumahnya mereka berangkat menuju kampus bersamaan.


Didalam mobil, mereka banyak diam tanpa ada percakapan, Winda seperti biasanya jika didalam mobil suaminya, dia selalu melihat pandangan diluar jendela.


Tak teras mereka sudah sampai didepan kampus, Winda segera membuka pintu mobil, beranjak keluar.


"Win! "


Winda berhenti dan menoleh kearah suaminya, tangannya kembali menutup pintu mobil.


"Biasakan cium tangan suami kalau mau pergi! " ucap Sigit setelah mereka saling bertatap muka.

__ADS_1


Windapun mengikuti perkataan suaminya, menyalami uluran tangan Sigit dan mencium punggung tangan suaminya, dan beranjak membuka pintu kembali.


"Dan...." belum juga pintu mobil terbuka suara Sigit menghentikan gerakannya.


"Apalagi sih Git? keburu ada yang liat nanti! " Winda membalikkan badannya dengan wajah sedikit kesal.


"Nanti, kalau pulang, lu naik taxi online saja ya! gue gak bisa jemput lu! " kata Sigit.


"Iya! " jawab Winda segera membuka pintu dan berlalu meninggalkan mobil suaminya.


❄❄❄


"Baik! biar saya sendiri yang mengurus langsung di kantor cabang! untuk rapat hari ini, selesai! "


Kata Sigit tegas mengahiri rapat yang berlangsung sampai pukul dua siang.


Sigit segera berlalu keruangan papi Winata, dan melaksanakan shalat dzuhur disana, dia berencana membereskan masalah keuangan yang rancu, dan beberapa berkas yang tidak beres didalam kontrak kerja perusahaan WP dengan perusahaan Utama, dia merasa ada yang memanipulasi data-datanya, dan itu ada hubungannya dengan kantor cabang.


Sigit segera melarikan mobil Sport hitamnya kejalanan yang lenggang.


❄❄❄


Dikantor cabang WP


Suasana dikantor cabang mulai riuh mempersiapkan berkas yang diminta pak Firman selaku atasan mereka.


"Win, tolong kamu siapkan semua data keuangan selama tiga bulan terahir ini! dan juga berkas kontrak dengan perusahaan Utama dari bulan kemarin. Sekarang! "


Perintah Dian selaku sekertaris pak Firman dan juga sebagai atasan Winda, posisi Winda sebagai sekertaris kedua dari Dian, dia dikenal sebagai gadis yang ulet, cekatan dan sangat terbuka dalam menerima tugas yang diberikan kepadanya, dia tidak mudah mengeluh dengan apapun tugas yang diberikan kepadanya.


Terkadang karena dia bekerja sambil kuliah Dian memberikan tugas-tugas kantornya melalui email saja.


"Memang ada apa mbak? "


Winda belum mengerti kondisi perusahaan cabang saat ini. dia masih memperhatikan Dian yang masih sibuk dengan laptopnya dan terlihat kebingungan.


"Denger Win! entah kenapa, tiba-tiba laporan yang ada di pusat itu berubah dari apa yang sudah kita buat dan yang kita laporkan. Termasuk kontrak kerja dengan perusahaan Utama, dan itu membuat bos perusahaan akan langsung meninjau kemari! saat ini juga! "


Winda mengerutkan keningnya terheran mendengar penjelasan Dian.


"Tapi mbak? apa masalahnya? sebelumnya kita kan sudah meneliti semuanya mbak? tidak ada yang salah? "


"Sudah! saat ini kamu siapkan saja berkas-berkasnya! 50 menit lagi bos sudah datang kesini! "


Winda segera menyiapkan apa yang diperlukan sesuai perintah Dian, dia meneliti lembar demi lembaran yang sudah ada diatas meja.


Tidak terasa 20 menit sudah berlalu, Winda segera memasukkan lembaran-lembaran itu kedalam map yang sudah tersedia.


"Gimana Win? sudah selesai? " tanya Dian setelah melihat tumpukan map yang sudah rapi diatas meja.


"Sudah mbak! " jawab Winda


"Bagus, sekarang siapkan diruang rapat! karena 30 menit lagi bos sudah datang. jadi sebelum beliau datang, ruangan rapat harus sudah rapi dan siap digunakan." jelas Dian yang diangguki Winda.


"Kalau begitu saya kesana sekarang mbak! " ucap Winda dengan beberapa tumpukan map ditangannya.


Winda bergegas meninggalkan Dian sendirian diruangannya menuju ruang rapat.


Sementara diparkiran kantor cabang Sigit sudah berjalan menuju gedung kantor cabang, namun begitu dia menginjakkan kaki di ruang recepsionis dirinya ditahan oleh petugas.


"Mohon maaf pak! karena bapak tidak bisa menunjukkan identitas pegawai disini dan juga belum membuat janji, jadi bapak tidak diizinkan masuk! "


Sigit hanya terdiam karena dia memang tidak bisa membuktikan apa-apa. Dia sama sekali tidak menyangka kalau petugas didepannya tidak mengenali siapa dirinya.


"Baiklah. Saya minta panggilkan atasan kalian sekarang! katakan kepadanya, bahwa Sigit tidak bisa masuk! "

__ADS_1


Kata Sigit dengan menahan amarah yang sudah memuncak. kedua petugas didepannya saling pandang tidak mengetahui maksud perkataannya.


Ayo dukungan untuk author mana? jangan lupa dilike


__ADS_2