
"Ya sudah cepat habiskan makannya." ucap Sigit pada Winda menyembunyikan rasa hawatirnya pada Winda. Ia segera menghabiskan bagiannya yang tinggal dua suap itu, lalu mencuci tangannya, ia menjauh dari Winda yang sudah menghabiskan makanannya dan mencuci tangannya pula.
Sigit menghubungi nomer Revan dengan mengeklik nama Revan bocil
🎵🎵
Tidak menunggu lama panggilannya segera dijawab seseorang dari seberang.
"Halo." Suara mbok Lastri mengangkat panggilan Sigit dengan suara serak.
"Halo mbok assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam bang hiks hiks..."
"Iya mbok ada apa? apa yang terjadi pada Revan? kenapa mbok menangis? katakan mbok."
"Bang... ibu sama bapak bang..."
"Kenapa mbok? ada apa dengan mereka?"
"Ibu sama bapak saat ini ada dirumah sakit, mereka mengalami kecelakaan tadi ketika perjalanan arah pulang kerumah, dan... hiks hiks sekarang mereka kritis, membutuhkan donor darah karena mereka mengeluarkan darah yang cukup banyak."
"Apa??"
"Abang segera kerumah sakit sekarang."
"I-iya mbok Igit segera kesana. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati bang."
"Iya mbok."
Klik.
Sigit mematikan androidnya dan mengajak Winda segera pulang. Ia berjalan terburu-buru menuju lift menuruni gedung cabang.
Mereka keluar dari lift dan segera menuju parkiran, setelah hening didalam lift, Sigit diam tidak mengeluarkan kata-kata pada Winda.
Sesekali ia melirik Winda mencari cara dan waktu yang tepat untuk menjelaskan pada Winda apa yang sudah terjadi pada mami dan papi.
"Bang ada apa? kenapa terburu-buru? apa yang sedang terjadi pada Revan?"
tanya Winda masih menyimpan penasaran dengan sikap suaminya yang banyak diam setelah menghubungi android Revan yang terakhir kalinya.
Sigit tidak mendengar pertanyaan Winda yang berada dibelakangnya, pikirannya kacau di rumah sakit membayangkan keadaan papi, mami terbujur diatas brankar rumah sakit yang belum sadar karena kecelakaan. Ia benar-benar merasakan tubuhnya lemas, namun ia tidak ingin membuat Winda hawatir melihat kondisinya kalut, hal itu bisa membuat Winda stres dan akan berpengaruh pada janinnya.
Winda Mengira terjadi sesuatu pada adik iparnya mengingat yang menelpon dari tadi adalah mbok Lastri bukanlah Revan. Ia berjalan jauh dibelakang Sigit yang sudah memasuki mobilnya.
"Apa yang terjadi pada Revan ya, sampai Abang seperti ini? padahal Abang tidak pernah terlihat sepanik ini." lirih Winda bertanya-tanya dalam benaknya sendiri, tangannya membuka gagang pintu mobil dan segera duduk disamping suaminya.
Sigit mulai mengendarai mobilnya keluar parkiran melaju dijalan raya.
__ADS_1
Winda tidak berani membuka pembicaraan selama didalam mobil, ia melihat jalan beraspal didepannya dan sesekali melirik Sigit yang terlihat panik di wajahnya. Ia mengeluarkan Al-Qur'an kecil yang selalu ia bawa didalam tasnya, kemudian membuka dan membacanya dengan tartil ayat demi ayat. Lalu membaca arti dari ayat per ayat hingga tiba pada surat Al Luqman ayat 16, 17, dan ayat 18 Winda sengaja memelankan bacaannya agar suaminya menelaah arti yang sudah dibacanya.
Ayat 16. (Luqman berkata): "Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha teliti.
Ayat 17. Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.
Ayat 18. Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
"Astaghfirullahal adziim." Sigit melafalkan istighfar berkali-kali dibibirnya tanpa suara setelah mendengar arti dari surat Al Luqman yang sudah dibaca Winda barusan, ia melirik Winda yang mencium Al Qur'annya dan memasukkannya kembali didalam tas yang berada dipangkuannya.
Sigit membelokkan mobilnya disebuah rumah sakit dan memarkirkan mobilnya diparkiran. Winda bingung tidak mengerti mengapa suaminya memarkirkan mobilnya di tempat itu.
"Bang? kenapa kita kesini? ada apa?" tanya Winda pada Sigit yang membuka seatbeltnya dan melihat balik wajahnya masih dengan diam.
"Bang? jangan bilang kalau Revan sedang kenapa-napa?" tanya Winda lagi semakin cemas menatap manik suaminya yang berusaha menyimpan sesuatu darinya.
"Bang...." suara Winda terdengar menahan tangis, kedua matanya mulai mengembun.
Sigit meraih kedua tangan Winda dan menatap matanya dalam-dalam.
"Sayang... kamu harus tetap menjaga kesehatanmu, karena Revan baik-baik saja, tetapi..." Sigit menghentikan kalimatnya saat air mata Winda sudah terjun dari peraduannya.
"Tetapi apa bang?" Winda menatap Sigit menunggu kalimat Sigit selanjutnya.
"Sayang... mami dan papi tadi pagi sudah pulang ke Indonesia." Sigit menggenggam tangan Winda.
"Terus?" tanya Winda sambil mengusap air matanya dan mengerutkan kedua alisnya.
"Abang..." Sigit meraih tubuh Winda dan memeluknya memberikan kekuatan.
"Sekarang kita harus masuk didalam dan kamu jangan menangis. Kamu harus kuat sayang. Tolong doakan papi dan mami agar cepat sembuh."
❄️❄️❄️
"Sebelah sini anak muda ruangannya, kita cek dulu." Seorang dokter mengarahkan Sigit letak ruang donor darah.
"Kebetulan golongan darah saya sama dengan mami saya dokter."jawab Sigit memberitahukan kepada sang dokter.
"Oh baiklah, kalau begitu langsung saja diruangan ibu anda saja."
Sigit mengikuti dokter laki-laki itu memasuki ruangan dan segera berbaring disisi brankar mami Lia. Ia menatap maminya dari atas brankar yang ditempatinya, lalu pandangannya tertutup kelambu hijau diantara mereka. Ia kembali mengingat kalimat terakhir dari arti ketiga ayat yang dibacakan Winda didalam mobil.
Ayat 16. (Luqman berkata): "Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha teliti.
Ayat 17. Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.
Ayat 18. Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Pandangan Sigit lurus menatap langit-langit ruangan itu, setelah sang dokter menusukkan jarum transfusi darah dilengan tangannya.
"Allah memang Maha Halus dan Maha teliti, sehingga apapun yang dilakukan seseorang pasti ada dalam hitungan-Nya, hidup didunia ini tidaklah gratis begitu saja. Ya Allah begitu pula dengan kedua orang tua kami... berikanlah kekuatan agar bisa melewati masa-masa sulit ini, mereka adalah orang-orang yang baik. Dan berikanlah kesabaran bagi kami agar kami mampu menerima setiap kejadian dengan keikhlasan hanya mengharap ridho-Mu." kata hati Sigit penuh harap pada Allah Sang Pencipta Alam semesta.
__ADS_1
❄️❄️❄️
Winda menangis diruang tunggu bersama mbok Lastri, sedih dan pilu menyusup di relung hatinya.
"Bagaimana kejadian yang sebenarnya mbok?" tanya Winda pada wanita setengah baya didepannya.
Mbok Lastri menceritakan kepada Winda kejadiannya hanya sekedar yang ia tau informasinya dari pihak kepolisian yang menghubungi rumah tinggal mereka tadi.
"Terus keadaan supir-supir itu gimana sekarang? apa mereka juga parah?" Winda menatap mbok Lastri yang mengalihkan pandangan darinya.
"Sopir taksi itu meninggal ditempat mbak." jawab mbok Lastri kembali melihat wajah wanita didepannya yang terlihat matanya sembab karena menangis. "Sedangkan supir truk itu juga baru saja meninggal setelah tiga puluh menit berada diruang UGD."
"Astaghfirullahal adziim... ya Allah..." terasa sesak dadanya menahan pilu mendengar penuturan mbok Lastri.
"Mbak Winda ingat ada nyawa yang harus mbak jaga didalam perut mbak, mbak Winda sedang hamil jadi mbak tidak boleh bersedih seperti ini." mbok Lastri mencoba menenangkan Winda yang masih tersedu-sedu.
Winda menganggukkan kepalanya sambil mengusap air matanya.
"Iya mbok, terimakasih."
Mbok Lastri memeluk Winda dan mengelus punggungnya.
"Yang sabar mbak, kita juga harus lebih banyak berdoa kepada Allah agar ibu dan bapak segera terlewati masa-masa kritisnya."
"Aamiin ya Allah..."
Winda memperhatikan sekitarnya sedang mencari seseorang yang sejak ia datang tidak menemukan sosok seseorang yang dicarinya.
"Mbok, Revan mana sedari tadi aku tidak melihatnya sama sekali?" tanya Winda terheran tidak bertemu dengan Revan sejak ia datang kerumah sakit sampai sekarang.
"Mungkin sama Ningsih keluar sebentar." jawab mbok Lastri.
❄️❄️❄️
Revan memarkirkan mobilnya dihalaman luas, ia segera memasuki rumah dengan langkah lebarnya menuju sebuah kamar.
Sunyi sepi suasana didalam rumah tidak ada penghuninya, sesunyi hatinya yang sedang hampa melihat sesuatu yang sangat mencengangkan dirinya.
Ia menatapnya tak berkedip, mencari sesuatu yang dapat ia jadikan sebagai neraca penyeimbang. Sehingga ia dapat melihat sebuah kebenaran tanpa keraguan sedikitpun.
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
Saranghe...💞💞
__ADS_1