
"Apa yang terjadi bang?" tanya Sigit. Winda menatap iparnya yang terlihat sangat panik, mereka terpaku melihat sosok anggota keluarganya sudah berhamburan diparkiran mobil.
"Bang?" tanya Winda semakin penasaran tidak mengerti.
Bram terlihat bingung. Ia melihat wajah Winda.
"Brian kejang-kejang." Bram memberitahu keadaan anak mereka yang masih beberapa hari itu. "Dia harus dibawa ke rumah sakit sekarang Git." lanjutnya.
Iya, bayi mereka diberi nama Brian, seorang bayi laki-laki yang sangat dirindukan kehadirannya.
"Apa??" sahut Sigit dan Winda berbarengan. Mereka terkejut.
"Tidak ada waktu lagi, kita harus segera membawanya ke rumah sakit." Bram berjalan menuju pintu keluar yang segera diikuti sepasang suami istri itu.
"Sekarang dimana anakku bang?"
"Mami dan Bu Arini menggendongnya ke mobil."
"Tadi dia baik-baik saja bang." ucap Winda, ia rasa anaknya baik-baik saja ketika ia tinggal tadi. Langkah kakinya terasa berat seketika, tubuhnya seakan tidak berdaya.
Sedetik. Sigitpun merasakan hal yang sama seperti istrinya, namun ia segera menghalau perasaan kacaunya, tangannya menopang tubuh Winda, mereka segera masuk mobil Bram.
Begitu didalam mobil, Winda terlihat sangat kacau, air matanya terus berjatuhan melihat putra dipangkuannya yang tidak bersuara, seakan sedang menahan sakit. Mami dan Bu Arini yang berada disampingnya menguatkan Winda dengan memberikan dukungan agar tetap tenang.
"Kamu harus tenang Win, jangan berpikiran yang tidak-tidak supaya Brian juga tenang." suara mami menyemangati menantunya.
Ibu dan mami sudah menceritakan tentang keadaan Brian ketika bersama cucunya didalam kamar Winda tadi, yang awalnya secara tiba-tiba saja Brian terdiam, nafasnya terlihat berat semakin lama terlihat semakin kesulitan bernafas, setelah itu menangis yang tidak bersuara. Entah apa yang sedang terjadi padanya.
Mobil sudah berhenti diparkiran rumah sakit, Bram segera turun dan berlari mencari suster memberitahukan keadaan keponakannya. Dengan pergerakan cepat, manusia berseragam rumah sakit itupun segera mengambil alih bayi dalam gendongan Winda.
Seorang dokter jaga segera memeriksanya diruang UGD, tidak lama setelah pemeriksaan sang dokter, pergerakan para perawat terlihat sibuk dengan mendorong keranjang tidur bayi khas rumah sakit membawanya menuju ruang ICU.
Tubuh Winda seakan tidak ada tulang yang menyangga tubuhnya saat melihat tangan-tangan terampil para medis itu memasang benda-benda medis separti selang kecil dan seperangkat alat medis lainnya ditubuh bayi mungilnya. Air matanya mengalir semakin deras dipipinya.
Tidak hanya Winda. Ibu dan mamipun sama-sama menangis, tidak tega melihat cucunya yang masih merah itu sudah bergelut memperjuangkan kehidupannya.
Sigit menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan.
"Dokter." seru Sigit begitu mereka berhadapan.
sang dokter memandang Sigit dan keluarga sekilas.
"Keadaannya sangat kritis." menatap lekat manik Sigit. "Mohon banyaklah berdoa." lanjutnya sambil menepuk kecil lengan Sigit dan berlalu meninggalkannya.
Mami dan Bu Arini berkali-kali mengelap rembesan air matanya, sementara Winda termenung pandangannya kosong menatap ruangan kaca transparan didepannya yang terlihat sosok putra kecilnya tak berdaya itu.
Winda beranjak dari duduknya, kakinya perlahan melangkah kecil mendekati ruangan itu, tangannya meraba dinding-dinding transparan dengan mulut menyebut lirih nama bayinya.
"Brian...."
"Brian..."
__ADS_1
"Brian.... anakku.... mama disini nak...." suara Winda terdengar parau menyayat hati semua mata yang melihatnya, kristal bening dipipi Winda menambah pilu hati Sigit.
"Winda..." Sigit mendekati istrinya yang terpukul, lalu merengkuhnya dan mendekap tubuh itu.
"Sabar sayang, kamu harus tenang."
"Git... Brian Git.... anak kita sedang sakit... hiks hiks hiks." kedua bola matanya tertutup pecahan kristal bening itu menatap manik hitam Sigit.
"Dia... dia sendirian di sana, kasihan Git.... dia kedinginan pastinya..." linglung, pikiran Winda sudah kacau melihat putranya sendirian.
"Win... tenang sayang tenang." Sigit memeluk erat tubuh Winda, iapun merasakan perasaan sama seperti Winda, kacau.
Winda ingin menerobos masuk kedalam ruangan si buah hatinya berada.
"Kamu mau kemana Win?"
" Masuk Git, melihat Brian."
"Biarkan dia istirahat dulu."
"Aku ingin menemaninya didalam."
Sigit kembali memeluk tubuh Winda, menahan keinginan istrinya saat ini. Ia membelai kepala Winda agar lebih tenang.
"Kamu yang tenang ya sayang, sabar" lirih Sigit didekat telinga Winda. "Sabar... Abang juga merasakan bagaimana perasaan mu saat ini. Lihat ibu dan mami, mereka juga sama Win seperti kamu." Sigit menunjuk kearah kedua wanita yang duduk bersampingan didepannya.
"Kita duduk dulu disana yuk." Sigit membujuk Winda dan mengajaknya bergabung duduk bersama ibu dan mami. Winda nurut, mengikuti ucapan suaminya.
Mereka terdiam duduk diruang tunggu, sudah hampir dua jam Winda menahan bagian dadanya yang nyeri.
ASInya yang sudah keluar banyak karena Brian menyusunya sangat kuat. Seharusnya saat ini Brian sudah beberapa kali terbangun mencari ASI, namun bayi itu tergeletak tidak berdaya diatas keranjang bayi ruang ICU. Kini ASI itu telah menetes membasahi baju yang dipakainya hingga tembus dihijabnya.
Sigit yang melihat hal itu menjadi bingung. Ia belum pernah melihat hal semacam itu sebelumnya.
"Sayang?" Sigit menatap wajah istrinya yang menahan rasa sakit.
"Sakit Git....hssssss" jawab Winda kesakitan seraya menggigit bibir bawahnya.
Mami dan Bu Arini keheranan melihat wajah Winda yang menahan kesakitan. Bu Arini beranjak dari duduknya.
"Kenapa nak?" tanya Bu Arini setelah duduk disamping putrinya.
"Winda merasakan nyeri didadanya Bu." jawab Sigit.
Mendengar jawaban Sigit, Bu Arini faham apa yang dimaksud menantunya itu, ia melihat jilbab putrinya yang memang sudah basah.
"Oh... Iya mami tau apa yang seharusnya kamu lakukan Git." sahut mami yang sudah berdiri disamping besannya.
Sigit terheran.
Apa yang barusan dikatakan mami Lia justru membuatnya tertegun. Bahkan pikirannya saat ini jadi ngelantur, kedua bola matanya terbelalak. Masak iya dia yang akan menyusu istrinya, gimana coba? memang sih cukup lama ia tidak sempat bermain-main dengan gunung kembar itu lagi setelah kejadian penculikan Winda sampai saat ini.
__ADS_1
"Kamu bawa Winda ke mobil Bram sekarang bang, di sana ada alat penyedot khusus dan... Bantu Winda menyedot ASI itu." Lanjut mami, Sigit tidak mendengar perkataan mami, dia masih melamun.
"Hey." Suara mami mengagetkan lamunan Sigit. "Cepetan." Sigit tersadar, bingung apa yang harus dilakukannya.
Winda melirik Sigit lalu beranjak berdiri meninggalkan suaminya yang masih duduk terbengong.
Winda terdiam kesal tidak bisa membuka pintu mobil karena terkunci. Dia berdiri bersandar pada pintu mobil.
"Win." suara Sigit mengagetkannya. "Maaf Abang kelamaan datang." sambil mengacungkan kunci mobil ditangannya. "Cari bang Bram ambil kunci mobilnya dulu."
Winda masih terdiam tidak menyahut perkataan suaminya.
Sigit sudah membuka pintu mobil Abangnya dan ikut mengobrak-abrik isi didalamnya mencari benda benda yang dijelaskan mami Lia setelah kepergian Winda.
"Sudah ketemu Git." Winda menunjukkan benda yang dimaksud mami, lalu segera membuka dua kancing bajunya.
Ia merasakan sangat keras kedua susunya disertai rasa nyeri. Perlahan-lahan Winda mulai memasang alat ditangannya dan tidak lama kemudian dia merasakan sedikit rasa lega begitu ASI nya sudah mulai mengalir disebuah botol susu.
Sigit menatap wajah istrinya sambil memegang ujung hijab agar tidak menggangu proses penyedotan ASI.
"Sudah enakan?" tanya Sigit. Winda mengangguk menatap suaminya yang sedari tadi memandangnya tidak berkedip.
"Hm, sedikit lega Git."
"Boleh Abang bantu?" tanyanya lagi, Winda mengangkat wajahnya melihat suaminya sekilas.
"Memangnya mau bantu apaan?" jawab Winda tanpa melihat Sigit.
Sigit menyingkirkan tas Winda yang terletak diantara mereka, ia duduk semakin rapat dengan Winda dan melakukan pijatan lembut pada pangkal payudara istrinya setelah memastikan hordeng kaca mobil tertutup rapat.
Winda terkejut melihat jari tangan suaminya yang begitu pandai membuat pijatan seraya mengurut dengan lembut, bola matanya tidak berkedip memandang Sigit.
"Abang... pandai sekali melakukan pijatan ini?" akhirnya keceplos juga rasa penasaran Winda. Sementara itu ada senyum yang berkembang di wajah Sigit.
"Hm, mami tadi yang memberitahu Abang caranya. Agar rasa nyeri segera berkurang maka bantulah istrimu memijit sedikit mengurut pangkal payudara nya secara lembut ketika ia menyedot ASI nya nanti, itu kata mami tadi dan di iyakan oleh ibu." Sigit memberitahukan penjelasan dari mami dan ibu mertuanya.
"Kirain lagi..."
Cup
Ucapan Winda terpotong dengan ulah Sigit yang tiba-tiba saja mengecup bibir ranum itu.
"Tetaplah tersenyum seperti ini bidadariku..."
Cuppp.
.
.
. Bersambung 🤗🤗🤗
__ADS_1
Hai kak yang udah rindu pada Abang dan Winda, i Miss u 🤗🤗🤗🤗🤗🤗