
Acara pemakaman baru saja selesai dua jam yang lalu, suasana di kediaman keluarga Winata masih banyak para pengunjung yang berdatangan.
Winda sudah tidak terlihat diruang tengah, ia memisahkan dirinya dari para tamu sesudah para sahabatnya pulang tadi, ia terdiam merenung sendirian diatas ranjang. Bayangan wajah Brian masih melekat di pelupuk matanya.
Pandangan matanya kini beralih pada keranjang bayi milik Brian yang masih berada didalam kamar. Perlahan ia berjalan mendekati keranjang bayi itu, masih segar melekat dalam ingatannya semalam ia sempat menidurkan bayi mungil itu disana.
Tangannya meraba pinggiran keranjang dengan tatapan tidak berkedip, matanya kembali basah tidak mampu membendung cairan bening didalam.
"Brian..." Suaranya lirih terdengar sangat berat.
"Brian..." Tangannya menggerayangi keranjang bayi. "Brian... hiks hiks..." Tangan kanannya meraih selimut Brian yang masih teronggok diatas ranjang, lalu mengangkat dan menciumnya. "Maafin mama nak... maafin mama... mama tidak bisa menjagamu dengan baik... hiks maafin mama..."
Berulang kali ia mengusap area pipi dan hidungnya yang tidak henti mengalir airnya.
Sudah puas Winda meneliti setiap sisi keranjang, ia menyenderkan tubuhnya didinding dengan sengaja memerosotkan tubuhnya kebawah hingga terduduk dilantai, tidak berdaya.
Air matanya sudah tidak terlihat lagi, pandangannya kosong lurus ke depan dengan kaki tertekuk bersila.
Cukup lama Winda hanyut dalam suasana duka didalam kamar sendirian, entah dimana Sigit suaminya. Sejak pulang dari pemakaman tidak terlihat kelebatnya didalam ruang tamu, Winda belum bertemu dengan Sigit.
Sebelumnya Winda sempat melihat sosok Sigit sedang bercakap-cakap dengan sahabat dan rekan kerjanya termasuk Anita dan Renaldi, mereka terlihat sedang bercakap-cakap dengan serius.
Pikiran Winda saat itu mungkin Sigit sedang menceritakan kronologi kejadian putranya semalam yang terjadi begitu cepat.
❄️❄️❄️
Sementara itu masih dikediaman keluarga Winata, tetapi diruangan yang berbeda, Bu Arini yang masih terpukul dengan kepergian cucu pertamanya telah pingsan lagi dan lagi. Renaldi mengangkat dan membawanya ke dalam kamar. Wanita itu teringat kembali sosok putranya yang terbaring kaku ditengah kerumunan para tetangga yang melayat dirumahnya waktu itu.
Dimata Bu Arini, wajah Brian sangat mirip dengan Azam, putra sulungnya. Jika dilihat dari dagunya, matanya, bentuk wajahnya saat masih bayi, mereka berdua sangat mirip.
__ADS_1
Dan ternyata bukan hanya Bu Arini saja yang mengira mereka berdua mirip, bahkan Renaldi yang hanya mengenal Azam tidak dari lahir pun mengatakan hal yang sama seperti Bu Arini, mereka seakan melihat Azam terlahir kembali.
Namun, ketika siang itu Renaldi mendapat telpon dari Bram yang mengabarkan tentang meninggalnya Brian, Renaldi segera meluncur menuju kediaman keluarga Winata. Ia juga merasa kehilangan.
Renaldi membalurkan minyak angin di hidung, telapak kaki dan berakhir di telapak tangan, kemudian memijitnya perlahan. Begitu juga dengan Pak Idris duduk diranjang memijat ujung kaki istrinya secara perlahan.
Panik.
Itulah pak Idris sekarang. Tentu saja pikirannya tidak tenang setelah kejadian ini, ia khawatir terjadi sesuatu dengan istrinya saat ini.
Peristiwa yang sama saat itu ketika kepergian putranya untuk selamanya membuat istrinya ngedown, sakit-sakitan karena kehilangan. Hingga ia memutuskan untuk pindah dari tempat tinggalnya.
Hingga malam semakin larut, keadaan Bu Arini semakin mengkhawatirkan semua anggota keluarga, sehingga Renaldi membawa Bu Arini ke rumah sakit, wanita yang dia panggil sebagai ibu itu sangat membuatnya ketakutan, agar tidak terjadi apa-apa pada ibunya, Renaldi segera membuat tindakan.
Renaldi menyarankan Sigit agar tidak memberi tahu Winda tentang keadaan ibunya, Renaldi yakin dengan Winda ketika melihat kondisi ibunya akan membuat Winda semakin drop. Maka dari itu Renaldi menahan Sigit saat berlari hendak memberi tahu Winda.
❄️❄️❄️
Makan malampun pun Sigit memaksa istrinya agar mau mengunyah makanan walau tiga suapan saja. Menurut Sigit itu sudah cukup dari pada tidak makan sama sekali.
"Sayang..." suara Sigit memecah kebisuan saat tangan Winda hendak memasukkan kuncup penyedot ASI pada putingnya.
"Sini Abang bantu ya?" Winda tidak menjawab, tangan Sigit membuat gerakan yang sama saat pertama kali membantu Winda memompa ASI didalam mobil malam itu.
Sigit tahu jika Winda menahan sakit saat ini dibagian ***********. Karena terlihat jelas dimatanya, payudara istrinya terlihat seperti membengkak, besar dan keras.
Winda memejamkan matanya dengan wajah sedikit meringis menahan sakit saat tangannya mulai membuat gerakan yang mengakibatkan cairan putih susu itu mengalir dalam sebuah botol.
Cukup lama Winda memompa hingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan tugasnya, ia segera membuang cairan didalam botol itu di westafel dan membersihkan semua peralatannya, lalu kembali duduk diatas ranjang dengan menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.
__ADS_1
Sigit bingung dan bimbang antara memberitahukan keadaan Bu Arini atau menuruti perintah Renaldi.
Ia letakkan kembali hp nya dia atas nakas, menatap wajah istrinya dan merapatkan duduknya dengan Winda.
" Yang sabar ya, semua ini ujian dari Allah maka dari itu kita harus mengikhlaskan ini semua agar Brian tenang disana." Ucap Sigit, tangannya meraih jemari tangan Winda, lalu menautkan jari tangan mereka, menggenggamnya erat.
"Cupp." kecupan hangat dipunggung tangan Winda menambah rasa tenang telah diperhatikan sang suami.
"Tidur dulu yuk, ini sudah dini hari, sebentar lagi suara ayam-ayam jago akan terdengar." Bujuk Sigit lembut dengan tatapan terlihat sangat lelah.
Tentunya sangat sakit, sakit sekali kehilangan orang yang sangat disayangi. Apalagi ini adalah darah daging yang masih dalam hitungan hari merasakan kehidupan dunia yang penuh ujian dan cobaan.
Sigit memaklumi perasaan istrinya, mungkin... saat ini perasaan Winda sedang sedih, menyesal, ingin marah, dan semua perasaan yang lain berbaur didalam hatinya, maka dari itu ia harus lebih sabar berada disamping istrinya.
Apalagi jika Winda mengetahui sang ibu yang dirawat dirumah sakit saat ini, bisa jadi hatinya bertambah pilu sekarang.
"Sungguh kasihan engkau istriku.... bersabarlah, aku akan selalu ada disampingmu sayang.... " batin Sigit.
❄️❄️❄️
Mami dan papi bingung apa yang barusan terjadi dalam keluarga mereka, mulai dari Brian mendadak sakit hingga meninggal sehingga membuat besannya jatuh pingsan berkali-kali. Mami tidak mengetahui apa alasannya yang membuat besannya itu pingsan berkali-kali.
Ditambah lagi Bram dan istri beserta kedua anaknya harus segera kembali ke Riau, disanalah tempat tugasnya sejak dulu. Pihak rumah sakit sudah menghubunginya, agar segera kembali.
Seharusnya malam ini mereka sudah kembali ke Riau, tetapi karena keadaan dirumah masih berduka maka ia terpaksa menundanya.
.
.
__ADS_1
. Bersambung 🤗🤗🤗
Sarangheo 💞💞💞💞