Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 161. Masa lalu biarlah berlalu


__ADS_3

Dari kejauhan tampaklah Renaldi dengan kedua tangan bersedekap dada asik memperhatikan dua manusia yang terlihat begitu seru berdebat.


Renaldi baru saja mengakhiri meeting dengan beberapa relasi kerjanya yang masih ingin sekedar mengobrol ringan bersamanya dan Gunawan, walaupun sudah ada beberapa orang yang izin pulang duluan, Renaldi masih bersedia memenuhi keinginan mereka, toh dia juga merasa masih memiliki waktu luang setelah meeting ini.


Kali ini Renaldi mendapatkan tugas menangani proyek bersama Gunawan, orang kepercayaan papi Winata atas perintah papi Winata tentunya sehingga mau tidak mau Renaldi harus mematuhi keputusan itu.


Cukup lama Renaldi mendengar pembicaraan yang dibahas Tania dan lawan bicara Tania. Walaupun samar-samar Renaldi mendengar topik pembicaraan mereka karena hingar bingar keramaian disekitarnya, namun Renaldi masih dapat mendengarnya dengan jelas.


Awalnya, Renaldi tidak peduli dengan mereka berdua dan berniat menyapa mereka saat akan berlalu melanjutkan langkahnya, namun secara tidak sengaja Renaldi mendengar kata move on dan serentetan kalimat selanjutnya dari si lelaki membuat Renaldi mengurungkan niatnya untuk meninggalkan mereka berdua. Renaldi mempersilahkan Gunawan pergi terlebih dulu meninggalkan dirinya sendirian disana.


Setelah kepergian Gunawan keadaan didepan Renaldi membuatnya semakin lama semakin gemas mendengar perkataan lawan bicara Tania. Dari pembicaraan yang ditangkapnya, Renaldi mulai mengerti masalah kedua manusia itu, tanpa disadari kedua tangan Renaldi terkepal dengan rahang yang sudah mengeras menahan amarah melihat tingkah si lelaki yang menggenggam tangan Tania, memaksa Tania untuk kembali melanjutkan hubungan mereka yang sudah kandas.


"Dasar laki-laki tidak tahu malu. Awas saja jika kamu sampai berbuat nekat hingga membuat Tania celaka Alex. Aku jamin aku tidak akan diam membiarkan mu begitu saja." Gumam Renaldi, lirikan matanya bagaikan elang mengincar mangsanya, tajam mengerikan.


Alex adalah relasi kerja yang baru saja melakukan pertemuan dengan pihak perusahaan WP yang diwakili oleh Renaldi dan Gunawan. Jadi tidak heran jika Renaldi sudah mengenal Alex sebelumnya.


Hanya saja yang membuat Renaldi terkejut, ternyata laki-laki itu ada hubungan dengan Tania, dan parahnya pernah menjadi bagian masa lalu Tania. Terlebih lagi saat Renaldi mendengar kata anak, pertunangan yang tertunda, dan melanjutkan rencana pernikahan mereka lagi. Kata-kata itu seakan ejekan untuk Tania.


Entah mengapa Renaldi merasa kesal mendengar semua itu, seakan dirinyalah korbannya.


Antara kasihan dan kesal Renaldi melihat Tania berdiri tegar menepis tangan Alex, matanya nanar.


"Tenanglah Tania, aku akan membantumu." Gumam Renaldi melanjutkan langkah kakinya berjalan mendekati Tania dan Alex.


Renaldi menenangkan dirinya, mengontrol emosinya agar tidak meledak lepas kendali. Renaldi berusaha menampilkan wajah cool dengan senyum mengembang menghias bibir dan kedua pipinya menyapa Tania setelah jarak mereka saling berhadapan.


"Hai sayang... Sudah lama kamu menunggu ku disini?"


Renaldi sengaja mendekatkan bibirnya pada telinga kanan Tania, ditambah lagi kedua tangan Renaldi merengkuh pundak Tania seraya membisikkan sesuatu pada telinga Tania.

__ADS_1


"Ikuti adegan ini sesuai ucapanmu tadi Tania." Bisik Renaldi nyaris tidak terdengar suaranya ditelinga Tania.


Fiks, sempurna! Renaldi terlihat sedang mencium pipi Tania dalam pandangan Alex, jika dilihat dari posisi keberadaan Alex yang berdiri dibelakang Renaldi, terbakar api cemburu.


Linglung.


Tania bingung melihat sikap Renaldi yang tiba-tiba saja datang mengejutkan dirinya. Entah dari mana arahnya makhluk yang memegang pundaknya itu muncul.


Tania masih tercengang dengan apa yang diucapkan Renaldi, membuatnya terbelalak sempurna kedua matanya.


Sementara Alex mengalihkan pandangannya dari Tania pada lelaki dihadapannya yang begitu mesranya mencium pipi Tania tanpa rasa canggung sedikitpun melakukan ciuman itu didepannya.


"Pak Renaldi? Nia? Apa pak Renaldilah laki-laki yang dimaksud Nia tadi?" Gumam Alex dengan mengerutkan keningnya tidak kalah terkejutnya sama seperti Tania. Bedanya, kalau Tania tercengang dengan sikap Renaldi yang tidak pernah sepeti itu sebelumnya pada dirinya, sedangkan Alex tercengang karena tidak mengira jika ucapan Tania barusan benar adanya tentang seseorang yang sudah dimiliki sebagai pengganti dirinya, terlebih lagi laki-laki itu seseorang yang baru saja ia temui dalam suasana meeting tadi.


"Sayang... Kenapa diam saja? Bukankah kamu tadi bilang mau belanja dulu sambil menunggu ku selesai meeting dengan klienku? Terus mana belanjaannya kok tidak ada apapun ditanganmu?" Ucapan Renaldimenyentak lamunan Tania.


Tania baru menyadari keadaannya yang mau tidak mau harus mengikuti sandiwara yang dibuat Renaldi.


Tania sengaja menambah bumbu sandiwaranya dengan menyebut nama panggilan by untuk Renaldi, dimana panggilan itu diambil dari kata hubby yang dulu pernah Tania inginkan untuk memanggil Alex dengan sebutan hubby, namun Alex tidak setuju karena tidak enak didengar ditelinganya.


Alex seakan terbakar mendengar jawaban Tania. Wajahnya terlihat memerah, sehingga membuat Tania merasa terbang diatas angin.


"Oh iya by perkenalkan ini Alex." Lanjut Tania memperkenalkan laki-laki yang sedang kepanasan melihatnya.


Renaldi melihat Alex dengan tersenyum.


"Hm, kalian sudah saling kenal?" Tanya Renaldi pura-pura tidak tahu hubungan mereka, yang sejatinya pertanyaan itu hanya untuk mengorek informasi tentang hubungan Tania dan Alex saja dimasa lalu mereka.


"Hubby, dia orang yang pernah aku c..."

__ADS_1


"Sebentar pak Re, saya mau bicara dengan Nia sebentar." Alex menyahut kalimat Tania seraya menarik tangan Tania beranjak dari tempat mereka berdiri.


"Ceritakan padamu hubby." Batin Tania mendengus kesal melanjutkan kalimatnya yang terputus karena Alex.


Spontan, tanpa kesiapan tarikan tangan Alex membuat Tania mengikuti langkah kaki laki-laki yang sudah terlihat sewot padanya itu, menjauh dari tempat Renaldi berdiri.


"Tania! Jangan macam-macam dengan menggunakan nama pak Re dalam kasus kita berdua Nia."


"Apa maksudmu Alex? Apa kamu tidak dengar pak Re memanggilku apa? dan aku memanggilnya apa hm?"


"Bisa saja kalian sedang membodohi ku Nia."


"Omong kosong dari mana itu Alex."


"Bisa saja Nia, karena kamu mencoba menghindar dariku."


"Denger Alex, hubungan kita sudah berakhir. Kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Yang lalu biarlah berlalu Alex. Biarlah aku menikmati kehidupan ku sekarang."


Tania baru saja membalikkan tubuhnya, namun suara Alex terdengar menghentikan langkahnya.


"Nia, jika sampai kalian terbukti tidak ada hubungan apa-apa, aku yakinkan kamu akan kembali padaku lagi Nia."


Tania membalikkan tubuhnya, melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Alex sendirian menatapnya yang semakin menjauh, sedangkan Renaldi yang mendengar ucapan Alex tersenyum kecil merasa puas membuat laki-laki itu kebakaran jenggot.


Renaldi merangkul pundak Tania dengan entengnya berjalan beriringan menuju eskalator yang tak hentinya berjalan keatas dan kebawah, membawa pengunjung yang berada diatasnya menuju lantai yang lain.


Renaldi menaiki eskalator yang membawanya turun kelantai dasar seakan tak perduli dengan hati seseorang yang masih menatapnya tajam kearah mereka berdua.


Bersambung 🤗🤗🤗

__ADS_1


Sarangheo 💞💞💞💞


__ADS_2