Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 146. Tania


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu Bu Arini berada di apartemen Renaldi. Setelah diperbolehkan pulang oleh dokter, Renaldi bersikeras membawa wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibunya itu keapartemennya yang cukup luas. Selama itu juga Anita sering mengunjungi Bu Arini disana.


Suasana kekeluargaan sangat Winda rasakan saat mereka berkumpul seperti malam ini. Mereka makan bersama setelah selesai acara masak memasak didapur.


Winda dan Sigit berkunjung keapartemen Renaldi setelah ditelpon Renaldi untuk makan malam di sana.


"Akhirnya selesai juga ya Bu." Anita mematikan kompor setelah memastikan masakannya sudah matang.


"Hm, jadi seneng kalau begini, masakpun cepat selesai." Winda menimpali perkataan Anita, Bu Arini tersenyum kepada keduanya.


Anita dan Winda membantu Bu Arini menyiapkan hidangan dimeja makan. Winda membawa beberapa piring, sedangkan Anita meletakkan gelas diatas meja.


Tidak butuh waktu lama beberapa menu hidangan sudah tersaji disana.


"Nah... Sekarang saatnya makan-makan." Bu Arini meletakkan sepiring nasi beserta lauk pauk bagian suaminya dan Renaldi didepan mereka.


Pak Idris dan Renaldi segera meraih bagiannya dan menyantap nya.


Winda mulai melayani Sigit setelah ibunya selesai menyidukkan nasi diatas piring bapaknya dan Renaldi. Begitupun dengan Anita tidak mau kalah segera mengambil bagiannya.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum."


Saat mereka mulai menyuapkan makanan, mereka mendengar suara seseorang mengetuk pintu yang diiringi dengan uluk salam dari balik pintu depan.


Semua mata saling pandang bertanya-tanya siapa orang dibalik pintu.


"Sepertinya ada tamu yang datang." Bu Arini memandang Renaldi sekilas lalu beralih pada Sigit. Kedua lelaki itu mengedikkan pundaknya dan menggelengkan kepalanya tidak tau.


"Tidak tau siapa Bu." Jawab Sigit.


Winda beranjak dari duduknya. "Biar aku yang melihatnya. Kalian lanjut saja makannya." Berjalan menuju pintu ruang tamu.


"Wa'alaikumsalam."


Winda membuka pintu dan melihat sesosok gadis yang sudah berdiri didepannya. Winda memperhatikan wajah gadis itu. Alangkah terkejutnya dia.


"Tania?"


"Winda?"


Suara keduanya bersamaan menyebut nama satu sama lain. Mata Winda berbinar kegirangan.


"Tania apa kabar?" Mereka saling memeluk melepas rasa rindu, gurat kebahagian jelas terlihat pada wajah keduanya.


"Baik Win, kamu apa kabar? tumben ada disini, apa sedang ada acara disini?" Tania terkejut saat melihat sahabatnya ada di apartemen Renaldi. Ia tentunya sangat senang bertemu sahabatnya disini karena dirinya memang sudah rindu dengan sahabatnya itu.


"Hm, tidak ada apa-apa, kami hanya sekedar makan-makan saja." Winda tersenyum pada Tania. "Ayo masuk kedalam ikut bergabung." Tangan Winda menarik lengan sahabatnya dan menggiringnya masuk hingga keruang tamu.


"Sudahlah kalian lanjutkan makan malamnya, biar aku tunggu di sofa saja." Tolak Tania menunjuk sofa didepan mereka saat melintas diruang tamu.

__ADS_1


"Tania..." Winda membulatkan matanya.


Sedikit kesal.


"Aku kesini hanya mau mengantar berkas ini sama pak Renaldi Win, tadi siang dia yang memintaku mengantarkan ini ke apartemennya, tapi sayangnya aku baru sempat mengantar nya sekarang." Tania mengangkat tumpukan berkas ditangannya pada Winda.


Winda melirik Tania sinis tidak senang mendengar penolakan wanita didepannya.


"Tania.... Tidak sopan menolak perintah!" Winda merebut benda ditangan Tania dan meletakkan diatas meja. "Ayo bergabung dengan kami."


Winda berhasil memaksa Tania ikut serta dengannya hingga diruang makan.


Tania sebenarnya sungkan merasa tidak enak dengan Renaldi. Matanya memperhatikan Renaldi sesaat kemudian beralih pada Sigit dan kedua orangtua Winda.


"Selamat malam semua." Sapa Tania seraya menundukkan kepalanya.


"Selamat malam juga Tania." jawab ibu dan semua yang ada di ruang makan bersamaan membalas sapaan Tania dengan tersungging senyuman.


"Maaf, saya..."


"Tidak apa-apa, bergabunglah." Jawab Renaldi memotong perkataan rekan kerjanya tanpa melihat wajah Tania setelah meliriknya, ia tahu jika wanita itu merasa canggung dengannya dilihat dari cara Tania meremas jari tangannya yang sempat diliriknya tadi. "Duduklah." Lanjut Renaldi.


Tania memandang Renaldi menggeser kursi yang hanya tersisa disisi lelaki itu untuknya. Lalu memandang sekelilingnya yang memang sudah tidak ada tempat lain selain disamping Renaldi.


Pak Idris duduk dikursi kepala keluarga, deretan kursi samping kanan pak Idris terdapat Sigit dan kursi kosong tentunya kursi Winda, selanjutnya terdapat Anita disamping kursi kosong itu. Sedangkan disisi kiri pak Idris terdapat Bu Arini dan Renaldi. Ia tertegun menelan salivanya sedikit ragu.


"Haduh kenapa jantungku begini? kenapa aku merasa gugup seperti ini?" batin Tania.


"I-iya Bu." Tania gugup.


Winda membantu Tania sahabatnya yang masih berdiri canggung itu duduk dikursi yang sudah disiapkan Renaldi.


"Ayo silahkan duduk Tania." Ucap Winda mempersilahkan sahabatnya seakan suatu perintah yang tidak bisa ditolak lagi. Tania pun menurut seperti merpati yang sudah jinak.


Selama makan malam berlangsung hanya ada sedikit perbincangan pak Idris dengan keluarganya disela-sela makan malam mereka, sedangkan Tania hanya terdiam tidak bersuara sedikitpun kecuali suara dentingan sendok yang saling bersentuhan dengan piringnya. Ia hanya fokus memerhatikan Sigit dan Anita yang terlihat akrab dan paling sering menanggapi perkataan pak Idris dari pada yang lainnya.


Sedangkan Renaldi sesekali melirik tingkah wanita disampingnya yang masih terdiam seakan lebih terlihat menahan rasa malu terhadapnya. Ia menangkap sikap gugup Tania dari cara wanita itu menahan dentingan sendok yang sengaja di tahannya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara dentingan yang keras seperti yang lainnya yang lebih luwes menggerakkan sendok makannya.


"Sepertinya ada yang tidak beres nih dengan jantungku malam ini." Tania seakan berada dikutub, badannya seakan kaku seketika saat dia menangkap lirikan Renaldi padanya yang kesekian kalinya.


Setelah beberapa saat berhasil menahan rasa gugup selama di meja makan, makan malam pun akhirnya selesai juga sesuai harapannya.


Tania segera membantu Winda membereskan peralatan makan yang sudah kosong dan mencucinya di pencucian piring.


"Win."


Tania membuka pembicaraan dengan Winda saat hanya ada mereka berdua setelah Renaldi berlalu ke ruang tengah setelah meletakkan gelas di pencucian piring.


Tania sesekali menolehkan kepalanya pada sosok Sigit dan Anita yang sejak tadi asyik berbincang-bincang diruang tengah, terkadang mereka terlihat tertawa sampai terbahak-bahak dan terkadang pembicaraan mereka terlihat serius, Tania awalnya ragu ingin mengungkapkan perasaannya pada Winda, namun ia berusaha memberanikan diri bertanya pada sahabatnya dengan apa yang sudah mengganjal dalam pikirannya.


"Hm." jawab Winda singkat.

__ADS_1


"Kamu lihat tidak sih sama Anita?"


"Kenapa?" Winda melambatkan gerakan menggosok piring dari spons ditangannya. Ia menoleh sekilas pada lawan bicaranya.


"Aku lihat beberapa kali saat memergoki Sigit bersama Anita sejak Brian sakit kemarin sepertinya mereka sangat akrab, mereka sepertinya sudah saling kenal, maksudku... mereka nyambung gitu dengan pembicaraan mereka."


"Maksudmu?" Masih santai dengan gerakan mencuci piring kotornya sambil menanggapi perkataan Tania.


"Ya... maksud ku kamu tidak curiga gitu dengan mereka. Sepertinya mereka sudah saling faham satu sama lain."


Winda terkekeh menanggapi penilaian sahabatnya terhadap Anita dan suaminya. Kirain ada sesuatu yang akan mengejutkannya.


"Kenapa malah tersenyum seperti itu?" Tania terheran dengan tingkah Winda. "Ada yang salah dengan kata-kata ku barusan? sampai-sampai kamu menertawakan aku?" Lanjutnya kesal.


"Tidak, tidak ada yang salah dengan kata-kata mu Tan. Cuma... Kamu harus tau jika Anita itu adalah Lili, asal kamu tau ya Tan, Anita itu selain teman kecilku yang pernah jatuh hati sama kakakku dia dulu juga teman satu sekolah dengan Sigit."


Tania mengerutkan keningnya. "Iya aku tau itu, tapi... itu kan dulu Win... Sekarang mas Azam kan sudah tiada." Tania meletakkan piring-piring yang sudah dibilas bersih Winda ke rak piring diatas pencucian piring.


"Bicara apa kamu ini Tan... tidak usah terlalu sensitif gitu napa jadi wanita."


Tania geleng-geleng kepala mendengar kalimat Winda, ia mendekatkan bibirnya pada telinga sahabatnya.


"Zaman sekarang hati-hati saja dengan siapapun Win, jangan sampai ada Lidia-lidia lain yang merebut suami dari istri pertama, seperti di serial yang sempat viral di media sosial saat ini, entar nyesel loh kamu kalau sudah kejadian baru tau rasa, termehek-mehek." Bisik Tania bergemuruh.


"Ha ha ha ha Tania Tania... kamu itu terlalu paranoid. Masa iya teman sendiri dituduh sebagai toxid. Lucu deh kamu Tan Tan ha ha ha...." Winda tertawa geli mendengar ungkapan Tania. Ia yakin jika suaminya tipe suami setia. Tidak seperti Faris lelaki yang di ada didalam film seri yang sedang booming di media sosial yang dimaksud sahabatnya barusan.


"Ye... dibilangin tidak percaya kamu Win." bibir Tania sedikit mencibir, lalu mengerucutkan bibirnya mendengar sanggahan Winda terhadap pendapatnya, ia merasa kesal telah ditertawakan sahabatnya.


"Ha ha ha... udah ah tidak usah bahas itu lagi bahas yang lain aja." Winda mengalihkan topik pembicaraan. "Misalnya... bahas Tania yang sedang jatuh hati dengan some one. Mas Aldi misalnya ha ha ha..."


Tania terkejut mendengar celetukan Winda tiba-tiba saja, sontak membuatnya terbelalak, jantungnya kembali berdegub. "Winda, ngomong apaan sih, jangan ngaco kamu iiiiih!"


"Lah yang terlihat gugup saat makan didekatnya tadi siapa?" Lirikan Winda yang menggoda sahabatnya membuat wajah Tania memerah seketika disampingnya.


"Winda! aku tadi cuma gugup karena..."


"Suka ya sama mas..."


"Ehem, ehem. Siapa yang kalian bahas barusan Tania, Winda."


Tiba-tiba terdengar suara bas laki-laki yang sangat mereka kenal, suara itu berasal dari belakang mereka yang tak lain tepat berada di meja makan tanpa mereka ketahui kapan datangnya laki-laki itu. Kedua sahabat itupun menghentikan candaannya dan melihat pemilik suara itu.


.


.


Bersambung 🤗🤗🤗


Happy reading...


Sarangheo 💞💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2