Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 167. Sebuah kabar tentang Tommy


__ADS_3

Diluar gedung tampak sepi. Para pendemo sudah tidak terlihat lagi setelah Renaldi berhasil menenangkan mereka. Laki-laki itu berjanji akan segera menyelesaikan masalah ini secepatnya. Satu Minggu, waktu yang dijanjikan nya.


Hari ini sudah genap satu Minggu waktu yang telah dijanjikan Renaldi, namun ternyata Renaldi masih buntu belum mendapatkan jalan keluar.


Satu Minggu ini Renaldi telah mendapatkan fakta tentang Tommy. Ia diam-diam menyelidikinya tanpa sepengetahuan Firman, melalui inteligen khusus Renaldi mencari jejak tentang keberadaan Tommy.


Renaldi memijit-mijit keningnya. kepalanya terasa sangat pening mengambil keputusan yang membuatnya dilema. Tiga puluh menit sudah ia terdiam dalam kebisuan.


"Pak Firman, tolong berikan semua gaji pekerja hari ini juga. Pakailah uang ini." Renaldi mengalihkan pandangannya pada sosok lelaki yang baru saja masuk didalam ruang kerjanya. Akhirnya ia mengeluarkan keputusannya dengan harapan semoga ini adalah keputusan yang tepat.


Ia mengeluarkan bungkusan amplop coklat dari dalam laci meja kerjanya.


"Tapi pak, itu kan uang pribadi bapak."


"Saya tidak mau keluarga mereka kelaparan gara-gara ulah si Tommy, apalagi sekarang semua bahan pokok naik karena kenaikan harga BBM. Jadi saya tidak ingin melihat keluarga mereka kesulitan. Berikanlah hak mereka."


Firman menatap amplop coklat yang tergolek diatas meja didepannya. Amplop tebal yang sudah pasti menampung sejumlah nominal uang yang bertumpuk. Ya, ratusan juta bukanlah nominal uang yang sedikit. Ia menangkap sorot mata lelaki didepannya sekarang tidaklah main-main.


"Anda..."


"Jangan khawatir pak, saya tidak mengambil uang perusahaan, semuanya sudah diurus Siska, jadi jalankan saja perintah saya." Renaldi mengerti kekhawatiran laki-laki didepannya.


"Bukan itu maksud saya..."


"Sudahlah, segera kasih hak mereka hari ini juga." sahut Renaldi tidak ingin keputusan yang diambilnya dicegah Firman.


Firman terdiam, pandangannya tertuju pada amplop coklat dan Renaldi. Antara ragu dan nurut pada atasan menggelitik hati kecilnya.


"Pak Firman."


"Eh, i-iya pak, segera saya urus gaji mereka sekarang juga. Permisi." Firman tergagap mendengar namanya disebut Renaldi.

__ADS_1


"Hm."


Firman segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Renaldi dengan membawa serta amplop coklat dari atas meja Renaldi.


❄️❄️❄️


"Ayah, hari ini Alice sangat senang sekali karena kita bisa makan bersama lagi setelah sekian lama kita tidak pernah makan ditempat ini."


"Iya sayang, ayah juga sangat senang hari ini bisa bersenang-senang dengan putri kecil ayah yang cantik ini." jawab seorang laki-laki yang duduk berhadapan pada putrinya dengan suara lembut penuh rasa sayang. Tangan kanan laki-laki itu membelai lembut dagu putri kecilnya lalu menyuapinya dengan sabar.


Terlihat jelas laki-laki itu sedang menyembunyikan rasa sedih dibalik senyuman dibibirnya. Dengan telaten dan sabar menyuapi putrinya yang berkulit putih bersih itu dengan sesekali memberikan segelas air minum disela-sela suapan, lalu melanjutkan suapannya lagi.


Sementara dari kejauhan terlihat dua orang yang sedang memperhatikan adegan seorang ayah dan anak yang sedang menikmati makan siangnya.


Ya, mereka adalah Firman dan Renaldi yang sedang makan siang di restoran yang ternama. Sengaja Renaldi mengajak Firman makan siang disana karena ada alasan tertentu yang ingin Renaldi tunjukkan pada Firman.


"Pak Re... bukankah gadis kecil itu yang berada di rumah sakit yang pak Re kunjungi kemarin?" Firman terheran tidak mengerti kenapa atasannya selalu membuntuti gadis kecil itu beberapa hari ini. Terlebih lagi ketika melihat sosok lelaki berada dihadapan gadis kecil itu, Renaldi tidak segera menghampiri laki-laki itu. Orang yang sudah membawa kabur uang perusahaan. Tommy.


"Pak Re... apa maksud semua ini?" Renaldi masih terdiam belum mengeluarkan jawaban.


"Tolong jelaskan mengapa akhir-akhir ini anda selalu mengunjungi gadis kecil itu dirumah sakit, bahkan selalu menghiburnya dengan membawakan semua yang diinginkannya pak Re? dan apa sebenarnya hubungan gadis kecil itu dengan Tommy sibedabah itu?! tolong jelaskan sekarang juga pak Re. Atau aku akan..." Firman semakin geram, suaranya sedikit meninggi saat menyebut nama Tommy walaupun pada akhirnya menggantung begitu saja.


Dengan wajah tenang Renaldi menghela nafas panjang seraya memejamkan matanya.


"Dia putrinya Tommy, pak Firman." tanpa basa-basi Renaldi menjawab dengan jelas. Sementara Firman tampak wajahnya sangat terkejut saat mendengar suara Renaldi.


"Aku tidak akan bisa menghukum seseorang yang sedang mendapatkan peran begitu berat dari Tuhan pak Firman." lanjut Renaldi. Firman tertegun.


"Istrinya baru saja kecelakaan beberapa bulan yang lalu saat mengurus putrinya yang berada dirumah sakit, bolak-balik dari rumah ke rumah sakit mengurus putrinya yang mengidap sakit kanker darah." Netra Renaldi menatap wajah lawan bicaranya.


"Dan sekarang sudah studium akhir. Kamu lihat kan tubuh gadis itu begitu putih bersih pak Firman, akan tetapi sebenarnya tubuh itu putih karena lemah, pucat pak bukan kulitnya yang putih bersih, akan tetapi menderita, dia sangat menderita pak Firman berkali-kali harus cuci darah." Renaldi terdiam sesaat, kedua bola matanya berkaca-kaca, rasa perih dan sakit dalam hatinya.

__ADS_1


"Hancur hati saya pak Firman, hati saya seakan hancur seketika setelah menemukan sebuah fakta lagi tentang Tommy saat itu, rasa geram, kesal, benci dan dendam seketika berubah menjadi kasihan. Bagaimana mungkin saya tega harus menambah beban Tommy yang begitu berat dan bertubi-tubi cobaan Tuhan padanya, sebagai sesama manusia harusnya kita merangkulnya, mendekatinya agar dia tidak semakin terpuruk, berbuat hal yang semakin merugikan orang lain dan dirinya sendiri pak Firman."


Kedua bola mata Firman menatap sosok laki-laki dari seberang meja makannya. Laki-laki itu terlihat sedang sibuk mengelap mulut gadis kecil yang baru saja memuntahkan sesuatu.


Samar-samar Firman mendapati penglihatannya menangkap noda merah pada tissue yang dipegang Tommy.


Gadis itu...


memuntahkan darah berkali-kali, setelah itu tergolek lemah dalam pelukan Tommy.


Tommy membopong putri kecilnya dibantu dengan dua orang lelaki menuju parkiran mobilnya.


"Kamu sudah melihatnya sendiri pak Firman, bagaimana menurut mu perasaan Tommy saat ini?" Firman mengangguk kan kepalanya yang merunduk pilu setelah melihat keadaan Tommy. Ada rasa nyeri di ulu hatinya.


"Itulah pemicu Tommy tega melakukan semua ini terhadap para pekerja proyek dan juga perusahaan. Jadi kita tutup saja kasus Tommy saat ini untuk sementara." lanjut Renaldi.


"Tapi... kita harus tetap meminta pertanggungjawaban nya juga pak Re." sahut Firman.


"Ya, saya tahu itu. Nanti jika urusan Tommy sudah selesai aku akan mengurus semuanya."


"Tapi, bagaimana jika Tommy menghilang lagi? apa anda bisa meminta pertanggungjawaban darinya?" ucap Firman ragu.


"Tenang saja masalah itu, saya sudah menyiapkan semuanya."


.


.


.


Bersambung 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2