Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 121


__ADS_3

Indah senyum mentari pagi menyemburkan semburat jingga di ufuk timur, seindah mawar merekah ditaman setelah terguyur gerimis hujan semalam hingga membasahi altar halaman.


Sigit baru saja keluar dari kamar mandinya, ia berjalan mendekati meja rias sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk ditangannya.


"Ini baju Abang, Winda taruh disini ya." Winda meletakkan stelan kemeja dan jas diatas ranjang.


"Hm."


Sigit menghentikan gerakannya, memandang baju yang tergeletak diatas ranjang lalu meraih dan mengenakannya, ia mengalihkan pandangannya pada Winda yang mengenakan jilbab menutupi rambut yang masih sedikit basah hendak keluar dari kamar mereka.


"Mau kemana?"


Winda menolehkan kepalanya kepada suaminya.


"Mau ke dapur dulu buatin kopi Abang."


"Tidak usah."


Sigit berjalan mendekati Winda. Meraih tangan istrinya.


Winda mendongak melihat wajah Sigit.


"Kenapa?"


"Sini bantuin Abang pakai baju dulu."


"Hm? yang bener saja?" Winda terkejut dan tersenyum kecil. "Biasanya juga pakai sendiri." menatap wajah suaminya.


"Sudah bantuin saja." Sigit menarik kecil tubuh istrinya agar lebih dekat dengannya.


Winda melihat suaminya sekilas dan meraih kancing kemeja didepannya.


"Hm, tidak apalah membantu papa muda yang lagi ingin dimanja." ucap Winda.


Satu persatu kancing itu sudah berhasil masuk dalam lobangnya.


Sigit semakin mendekatkan wajahnya pada wajah yang bertambah bulat itu hingga hidung mereka saling beradu. Hangatnya hembusan nafas terasa diwajah mereka. Tangan Sigit memegang pinggang Winda dan menekannya semakin merapat ke tubuhnya.


Mata mereka saling pandang memperhatikan manik hitam yang terasa teduh.


"Berartinya dirimu dalam hatiku. Sungguh tiada kata mampu mewakili keindahannya


tentang debaran cinta yang bergelora di dada ini, tentang untaian kisah kita yang telah menjadi purnama dalam dekapan cinta,


kini ruang hatiku hanya berpuisikan namamu, terukir indah di dinding hatiku."


"Beribu kisah telah kita lalui,


suka duka bersama kita pernah lewati


canda, tawa, prasangka, curiga, bahkan cemburu dan airmata


segalanya telah membuatku lebih dalam memahami hatimu."


"Mengertilah, kini dihatiku hanya ada satu cinta ,cinta untukmu. Segala asaku hanya ingin selalu bersamamu, menyayangimu. Jangan pernah berhenti mencintaiku karena cintaku juga hanya untukmu. Jangan pernah kau ragukan kesetiaanku."


"Terimakasih senyuman manismu yang selalu menghiasi hari-hariku. Terimakasih juga untuk tetap bersamaku. Betapa berartinya adamu di setiap hembusan nafasku, kaulah nadi di jiwaku"


Kalimat Sigit terdengar lirih mengena dalam hati Winda, matanya berbinar tak berkedip menatap wajah suaminya yang sungguh terlihat sangat takut bila jauh darinya.


Hati Winda semakin terharu dengan kalimat yang diucapkan Sigit, bola matanya menangkap kejujuran dalam manik hitam didepannya.


"Jadi, sikap Abang semalam sama kamu seperti itu karena sangat berartinya dirimu untukku sayang."


"Berhati-hatilah menentukan sikapmu dalam setiap keadaan. Karena Abang tidak ingin sesuatu terjadi lagi padamu."


"Cukup kecelakaan di pantai saat itu yang membuat Abang merasa takut menjalani hari-hari sendirian tanpa dirimu."


Sigit menatap lekat wajah istrinya, terlihat mendung gumpalan air mata mulai menembus peraduannya. Tangan kanannya perlahan meraba lembutnya kulit pipi istrinya.

__ADS_1


Winda terpaku menatap wajah suaminya. Tetesan bening mengalir begitu saja dari kelopak matanya.


Sedih.


Senang.


Terharu.


Berbaur dalam lautan perasaan hatinya.


"Abang..." suara Winda terdengar parau menahan segala rasa dalam hatinya.


Sigit mendekap tubuh istrinya, menyandarkan dagunya diatas pundak Winda.


Beberapa saat mereka saling mendekap, Menikmati hangatnya hati mereka yang sudah saling terpaut dalam sebuah ikatan cinta dan kasih sayang.


"Hei... kenapa seperti ini? harusnya kita senang pagi ini bukan?" suara Winda mencoba menenangkan. Merenggangkan pelukannya, kembali merapikan kemeja suaminya.


"Hhhhhh... sepertinya Abang malas bekerja hari ini." suara Sigit berat.


Winda tersenyum melihat tingkah suaminya.


"Tidak boleh malas." sahut Winda, kedua tangannya memegang wajah suaminya tepat beradu pandang. "karena sebentar lagi Abang pasti akan selalu ingin bersama Winda setelah Winda melahirkan nanti."


"Hm, pasti Abang akan senang saat itu." Sigit tersenyum dan bersemangat kembali.


Sementara mami dan Revan sudah menunggu Sigit di meja makan. Mami masih menyimpan rasa penasaran pada sikap Sigit semalam yang terlihat sangat marah pada menantunya.


Mami mendongak kamar Sigit yang berada diatas masih belum ada tanda-tanda suara mereka keluar dari dalam kamarnya.


"Ningsih."


Ningsih berjalan mendekati mami.


"Iya Bu."


"Tolong kamu panggilin Abang sama Winda diatas sekarang ya, soalnya sebentar lagi saya mau pergi, saya ada pertemuan dengan teman-teman diluar."


"Apa?"


"Iya Bu, semalam mas Sigit nyuruh Ningsih ngerapiin kamarnya yang dulu lagi."


"Terus." mami semakin penasaran.


"Mas Sigit naik keatas terus turun lagi dengan membopong mbak Winda sampai dalam kamarnya yang dulu."


"Apa? kamar Abang yang dulu?"


mami terkejut.


"Iya Bu."


"Mereka sedang marahan?"


"Tidak Bu, Ningsih lihat mereka saling pandang terus tangan mbak Winda berpegangan melingkar dileher mas Sigit dengan kepalanya disandarkan dikepalanya mas Sigit." jawab Ningsih semangat mengingat ia semalam sempat mengintip sepasang suami istri yang sepanjang jalan menuruni tangga dengan aksi yang sangat romantis.


Wajah mami seketika berseri setelah mendengar perkataan Ningsih. Kepalanya diarahkan ke kamar Sigit yang berada dibawah.


"Wah pasti seru banget semalam."


Ningsih mengangguk dan tersenyum pada majikannya yang ikut bahagia.


Revan hanya mengangkat sebelah alisnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Wanita kalau ada beginian pasti sukanya gosip." celetuknya.


"Bukan gosip kali mas, tapi cerita yang sebenarnya." sahut Ningsih tidak terima.


"Sama aja!" Revan melirik Ningsih seraya meraih piring didepannya. "Cerita sesuai penglihatan atau pendengaran doang."

__ADS_1


Revan mendengus kesal. Ningsih menyebikkan bibirnya pada Revan tidak terima, sedangkan mami tersenyum melihat tingkah Revan dan Ningsih.


Tidak lama kemudian pintu kamar Sigit terbuka dari dalam dan keluarlah kedua orang yang baru saja dibicarakan mami dan Ningsih.


Terlihat dari wajah sepasang sejoli yang bersinar dan berseri jauh berlawanan arah tiga ratus enam puluh derajat dibanding dengan raut wajah yang terlihat semalam.


"Pagi mi, Van." sapa Sigit santai tanpa beban lalu menarik kursinya dan duduk.


Winda tersenyum pada mami dan Revan. Ia duduk disamping suaminya.


"Pagi Bang." jawab mami dan Revan bersamaan.


Sigit merasa heran diperhatikan Ningsih sambil tersenyum meliriknya dan Winda.


"Kenapa senyum-senyum?"


"Mas Sigit tidak ucapin selamat pagi juga sama Ningsih? masak cuma ibu dan mas Revan aja yang disapa, kan ada Ningsih juga disini?"


celoteh Ningsih protes.


Sigit melirik tajam Ningsih dan beralih pada sekitarnya.


"Gak ada kerjaan lain apa?!"


sungutnya.


"Gak ada bang, yang ada siap-siap aja Abang pasang cctv dan beli obat kuntitan, supaya aman tidak ada makhluk pengintip." celetuk Revan.


"Ngintip apaan."


Sigit terkejut dan kesal.


Winda mengangkat kedua alisnya tidak mengerti.


"Ya... kayak roman semalem." Revan melirik Abangnya sekilas lalu melihat piring didepannya."Yang itu tu pangeran dan tuan putri turun dari kahyangan." lanjutnya.


Sigit menutupi kegugupannya yang ketangkap basah sikapnya semalam, padahal ia merasa yakin sudah tidak ada yang melihatnya.


"Apaan?"


"Hmmm." mami tersenyum menyebikkan bibirnya dengan sebelah alisnya terangkat.


Semua mata berpusat melihat Sigit dan Winda bergantian.


"Sudah tidak marah lagi?" tanya mami.


"Apaan sih mi." Tangan Sigit sibuk menyendokkan makanan dalam piringnya. "Siapa juga yang marah. Semalam itu karena Igit kasihan ngeliat Winda yang naik turun tangga dengan perut sebesar itu sekarang." jelas Sigit mengatakan alasannya.


"Ya baguslah, mami juga setuju. Karena naik turun tangga juga bisa mempengaruhi kehamilan Winda." komentar mami sependapat dengan Sigit.


"Ehem." Ningsih berdehem.


"Kenapa Sih?" tanya mami.


"Ningsih juga ingin ngerasain seperti tuan putri kayak semalam." jawabnya.


"Tuh sama Revan." sahut Sigit menunjuk adiknya. "Diakan singgle."


"Uhuk uhuk uhuk uhuk." Revan terbatuk mendengar ucapan Sigit. "Apa pula Abang ini ah."


Mami dan Winda tersenyum melihat tingkah mereka. Sedangkan Ningsih tertawa cekikikan.


.


.


.


Bersambung 🤗🤗

__ADS_1


saranghe 💞💞💞


__ADS_2