Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 52


__ADS_3

"Kita mau kemana ini Git?" tanya Winda pada Sigit begitu mereka sudah berada didalam mobil camry silver metalic yang baru keluar dari parkiran rumah papi Winata.


"Kita ke Monas dulu ya." jawab Sigit.


"Hm? ngapain di Monas?" Winda menoleh menatap Sigit yang fokus dengan kemudinya.


Sigit hanya melirik tidak menjawab pertanyaan Winda yang berada disampingnya, tangannya menghidupkan music didepannya.


Winda merasa kesal dengan tingkah Sigit yang acuh dengan pertanyaannya, dia mengalihkan pandangannya dibalik kaca yang terlihat taburan bintang dilangit, Winda memperhatikan mobil Sigit yang mereka kendarai berbeda tidak seperti biasanya, dia merasa nyaman berada didalamnya hingga tidak terasa mereka sudah memasuki parkiran, Sigit segera memarkirkan mobilnya dan mematikan mesin mobilnya.


"Ayo turun." ajak Sigit pada Winda yang masih terbengong.


"Malah bengong... ayo buruan turun." ucap Sigit lagi.


Winda mengikuti ajakan Sigit menuruni mobilnya, dia mengikutinya dari belakang.


Di taman Monas terdapat rerumputan hijau yang terawat dan bersih sehingga nyaman sebagai tempat bersantai. Selain itu ada juga pepohonan yang beraneka jenis sehingga membuat taman tampak asri dan sejuk.


Biasanya pengunjung lebih suka menghabiskan waktu di taman Monumen Nasional pada sore hari. Tempat ini sangat cocok sebagai area rekreasi bersama keluarga dan juga sahabat.


"Kita duduk disini sebentar ya."


"Hm, lama juga tidak apa-apa, aku ingin sekali melihat atraksi air mancur menari, sudah lama aku tidak kesini lagi sejak acara semester tiga dulu." ujar Winda yang sudah duduk di hamparan rerumputan sambil menatap Sigit dengan tersungging senyum di pipinya.


"Lama bener."


"Hm, lumayanlah. Sekarang ini aku baru kesini lagi." jawab Winda.


"Kenapa?"


"Yah... karena tidak ada waktu untuk jalan-jalan seperti ini, apalagi kalau malam jalan-jalan sendirian disini, takut." jawab Winda terdiam sejenak lalu melanjutkan bicaranya sambil menatap langit cerah penuh kerlipan bintang.


"Walaupun sebenarnya pingin sih seperti Silvi, Tania yang bisa jalan malam Mingguan seperti cerita mereka, tapi... setiap aku mau berangkat mengikuti ajakan mereka aku selalu ingat pesan ibu dan bapak yang melarang ku keluar malam yang tidak penting, mereka hawatir karena aku seorang gadis yang hidup sendiri di ibu kota, jadi harus bisa jaga diri baik-baik." lanjut Winda.


"Terus om Ibrahim?"


"Oh, mas Ibrahim, dia sepupuku."


"Kenapa kamu tadi bilang sendirian? dan tidak tinggal saja bersama dengan keluarganya?"


"Aku tidak ingin menambah bebannya, aku ingin belajar mandiri."


Sigit mendengarkan perkataan Winda, ada rasa perih dalam hatinya, dia duduk semakin mendekati Winda dengan tangannya melingkar dikedua lututnya yang di tekuk.


Mereka terdiam beberapa saat, kemudian Sigit membuka pembicaraan di keheningan antara mereka.


"Win."


"Ya?"

__ADS_1


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."


"Hm, apa itu? katakan saja, aku akan mendengarkannya."


Sigit menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.


"Kamu lihat bintang-bintang diatas itu?"


"Hm, indah ya, kenapa?"


"Aku harap, setelah kamu mengetahui apa yang aku katakan nanti akan membuat setiap permasalahan dalam rumah tangga kita kedepannya tetap seperti bintang dilangit." Sigit menghentikan kata-katanya sejenak memperhatikan Winda.


Winda menoleh kearah Sigit yang terlihat tenang, namun kata-katanya terdengar serius ditelinga nya.


"Bintang yang selalu bersinar walaupun tidak ada rembulan, dia tetap menghiasi langit malam yang gelap, dia bisa memberikan sejuta inspirasi dan bisa menghibur semua orang yang memiliki masalah setiap kali memandangnya, pun begitu aku ingin kita dapat menyelesaikan masalah kita seperti bintang yang tak terhitung jumlahnya namun sangat indah saat kita menikmatinya."


"Maksudnya?"


"Aku ingin kita bersama-sama dalam keadaan apapun, tidak ada yang disembunyikan dari kita. Sampai kita tua bahkan sampai ke surga-Nya nanti, aku berharap kita bisa berkumpul lagi."


"Kenapa kamu bisa seyakin itu pada ku? kalau aku bisa menemanimu sampai tua nanti? bukannya kamu... sudah ada yang..."


kata Winda terhenti menatap wajah Sigit disampingnya.


Sigit menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskannya kasar.


"Hhhhhhhh dua tahun aku hidup di Belanda menuruti keinginan papi kuliah di sana, ambil jurusan bisnis. Papi ingin aku yang melanjutkan semua bisnisnya, karena hanya aku yang papi harapkan, bang Bram, dia sama sekali tidak memiliki jiwa bisnis, sementara Revan, dia masih sekolah" Sigit mengalihkan pandangannya ke tugu Monas menceritakan asal mula kuliah di Belanda.


Winda merasakan kecewanya hati Sigit yang terpaksa mengikuti keinginan orang tuanya untuk mengambil jurusan yang tidak diinginkannya, namun hatinya juga jengkel ketika mendengar Sigit putus kuliah dan kembali lagi ke Indonesia tanpa memberitahukan orangtuanya, sehingga membuat mami jatuh sakit memikirkannya.


Winda masih terdiam ketika mendengarkan cerita Sigit yang sama dengan rekaman video dalam digital yang dia lihat bersama seorang gadis bule.


"Namanya Camelia, dia teman kuliah. Waktu itu kami sama-sama ambil jurusan bisnis, dulu dia pernah menjadi teman special ku selama kurang lebih sekitar empat tahun. Dua tahun bersama ketika di Belanda dan dua tahun jarak jauh Jakarta Belanda." kata Sigit menjeda kalimatnya sambil melirik Winda disampingnya.


Winda berusaha menutupi perasaan hatinya yang ada rasa cemburu ketika mendengar Sigit menyebut nama Camelia sebagai teman specialnya, Winda segera mengalihkan pandangannya dari Sigit, tangannya kembali membuka tas dipangkuannya mengambil permen mint yang berada didalamnya.


"Waktu itu, tepatnya ketika semester lima aku kuliah disini yaitu tahun keempat hubungan kami, tiba-tiba dia memutuskan komitmen yang sudah disepakati bersama walaupun berhubungan jarak jauh, namun hal itu tidak menjadi masalah untuk kami. Dan..."


Sigit menggantung kalimatnya.


"Kenapa?" Winda penasaran dengan kalimat Sigit yang terhenti tidak juga keluar dari mulutnya.


"Sebenarnya aku sangat bersyukur dan sangat berterima kasih pada bidadari ku yang sudah mendoakan ku selama ini." Sigit tersenyum sambil mencubit ujung hidung Winda, sehingga membuat Winda meringis karena ulahnya.


"Bidadari? maksudnya?"


tanya Winda bingung tidak mengerti maksud Sigit.


"Hm, dengan tidak sengaja aku melontarkan candaan kepadanya yang aku rasa biasa sih, karena sudah seringkali aku menggodanya, tapi ternyata candaan ku membuat dia marah bahkan sampai menyumpahi ku agar aku mendapatkan jodoh yang lebih parah daripada nya." Jawab Sigit sambil melirik dan mencebikkan bibirnya kearah Winda.

__ADS_1


Winda terbelalak mendengar ucapan Sigit barusan, dia merasa ucapan Sigit barusan adalah sebuah ledekan untuk nya. Winda menatap mata Sigit yang terlihat senyum mengembang dikedua pipinya.


"Apa maksud dari perkataan mu barusan Git? jangan muter-muter kalau cerita Git."


"Kamu ingat ketika aku menggodamu di pintu lift saat pulang kuliah, sehingga kamu mengatakan sumpah serapah apa padaku?" tanya Sigit.


Winda mengerutkan keningnya mengingat apa yang dikatakan oleh Sigit.


Winda menganggukkan kepalanya setelah mengingat peristiwa yang ternyata dirinya telah termakan sumpahnya sendiri.


"Ternyata satu minggu setelah peristiwa itu, Camelia memutuskan hubungan kami. Tapi setelah aku pikir-pikir mungkin karena bidadari ku tidak ridho jika aku bersanding dengan wanita lain, jadi Allah tidak merestui sehingga kami putus, ha ha ha..." Sigit tertawa lepas ketika melihat wajah Winda yang terlihat kesal karena gurauannya.


"Sigit!! gak lucu!"


"Iya kan? nyatanya kita dipertemukan dengan


cara yang unik hingga kita dipaksa menikah oleh penduduk setempat?"


"Iya tapi tidak berkata seperti itu juga kali Git."


Suasana semakin ramai dengan pengunjung yang mulai berdatangan ingin menyaksikan atraksi air mancur menari.


Atraksi ini terbuka untuk umum setiap hari Sabtu dan Minggu malam tanpa biaya apa pun. Dalam satu hari biasanya air mancur menari hanya berlangsung sebanyak dua sesi.


Sedangkan durasi pada setiap sesinya selama 20-30 menit. Dengan sesi pertama pukul 19.30 WIB dan sesi kedua pukul 20.30 WIB. Air mancur Monumen Nasional baru beroperasi kembali setelah diadakannya perbaikan karena sebelumnya mengalami kerusakan.


Setiap sesi pertunjukan air mancur menari ini akan beriring beberapa lagu nasional dan lagu daerah. Lagu tersebut berbentuk instrumental hasil aransemen musisi Addie MS dengan PT Garuda Indonesia sebagai pemilik hak cipta.


Pada setiap gerakan air, akan menyesuaikan alunan musik sehingga terlihat seperti sedang menari. Selain itu, air mancur menari juga memiliki lampu yang berwarna-warni dan tembakan laser yang menjadikan atraksi ini sangat indah.


Winda terpesona dengan pemandangan yang ditunggu-tunggunya sudah mulai, dia terdiam dengan senyum keceriaan dibibirnya.


"Wah... indah sekali ya Git..." ucap Winda terkagum melihatnya ketika air mancur menari sesi pertama sudah mulai, membuat Sigit mengurungkan niatnya untuk mengatakan sesuatu yang sangat penting pada Winda.


Winda menikmati setiap lagu yang mengiringi gerakan air mancur menari penuh lampu warna-warni didepannya.


"Git aku suka sekali melihat atraksi ini, terimakasih ya sudah mengajakku kesini."


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


untuk next chapternya yang romantis2 aja ya... biar greget sama babangnya 😀

__ADS_1


ayo diramaikan like n koment nya akak2ku yang terlop-lope.♥️


Saranghe.💞💞


__ADS_2