Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 162. Cuma drama


__ADS_3

"Pak Re, jangan cari kesempatan ya."


Lirih Tania pada Renaldi, ia merasa tidak nyaman diperlakukan Renaldi seperti sepasang kekasih sungguhan. Tania berusaha merenggangkan rangkulan Renaldi yang terasa berlebihan menurutnya.


Namun dengan sigap Renaldi merapatkan tubuhnya pada tubuh Tania kembali. Mengeratkan cengkraman tangannya pada pundak Tania.


"Sudah ikutin saja." Jawab Renaldi tidak mau kalah dengan Tania.


"Iya tapi jangan terlalu berlebihan juga kali pak."


"Udah diem, sekarang sandarkan kepala mu dipundakku, dan letakkan kedua tanganmu dipinggang ku."


"Tapi pak..."


Tania menolak anjuran laki-laki yang semakin mengeratkan cengkraman tangan pada pundaknya. Kedua bola mata mereka saling bertemu. Langkah kakinya melambat.


Tania masih gugup jika harus melingkarkan kedua tangannya pada pinggang sosok disampingnya.


"Ya Tuhan, bagaimana ini... Kenapa jadi seperti ini?" Batin Tania ragu.


"Tania." Suara Renaldi lirih penuh penekanan menyentak lamunan Tania. "Apa kamu mau malu tertangkap basah sama Alex ha?!"


Renaldi tahu jika wanita disampingnya tidak ingin sandiwaranya diketahui Alex, maka dari itu Renaldi sengaja menyebut nama laki-laki itu agar Tania bisa diajak kompromi.


Tania terdiam sejenak mempertimbangkan perkataan Renaldi, ia tidak punya pilihan lagi dengan perintah Renaldi karena Alex sudah pasti masih terus mengawasinya.


"I-iya pak, baiklah."


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Tania terpaksa memeluk pinggang Renaldi walaupun dirasa sangat canggung. Lalu menyandarkan kepalanya sesuai perintah Renaldi.


Tubuh Tania terasa kaku bagaikan robot, pikirannya tidak tenang dihadapkan dengan masalah sandiwara yang dibuatnya sendiri, dia harus beradegan sempurna seolah Renaldi adalah seseorang yang sudah memilikinya seperti yang sudah dikatakan pada mantan tunangannya.


Tania bersyukur dengan datangnya Renaldi disaat Alex memintanya kembali untuk merajut cinta mereka yang sudah berakhir, setidaknya dengan kedatangan Renaldi tadi bisa membantu Tania bebas dari kejaran Alex. Walaupun harus melakoni drama yang menurutnya konyol itu.


Renaldi melakukan perannya dengan sempurna. Kini Renaldi mengalihkan tangannya pada pinggang Tania.


Sementara Alex yang terus memandang tanpa berkedip pada sepasang sejoli yang berlalu meninggalkan nya sendiri merasa hancur hatinya, dadanya terasa sesak melihat keromantisan Tania dan Renaldi.


Apalagi ditambah Tania menyandarkan kepalanya didada renaldi dengan tangan mereka saling memeluk pinggang satu sama lain membuat mata Alex semakin terasa panas saja.


Ah sudahlah anggap saja hari itu merupakan hari sial buat Alex karena sudah berbuat bodoh dengan mencampakkan kesetiaan Tania kekasih di masa lalunya. Itulah akibat yang harus ditanggungnya setelah apa yang pernah ia perbuat sendiri.


Penyesalan sudah tidak ada guna lagi untuk Alex. Ia harus menerima kekalahannya jika Tania menolaknya, sudah pasti rasa sakit dan kecewa masih melekat pada diri Tania.


Setelah memastikan kepergian Tania dan Renaldi dari parkiran dengan menaiki sebuah mobil yang dikemudikan Renaldi sendiri, Alex juga segera berlalu meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa telah ditolak pujaan hatinya yang telah ia kecewakan sendiri.


Alex sama sekali tidak peduli dengan panggilan Siska. Alex segera mengendarai mobilnya.

__ADS_1


❄️❄️❄️


"Sayang, kamu dimana? Udah selesai belum belanjanya Silvi?" Suara Sigit terdengar dari panggilan Winda.


"Udah, tapi aku masih di toko souvernir sama Silvi nunggu Tania."


"Memang Tania kemana?"


"Ketoilet."


"Hmmmm.... Ketoilet ya?"


"Hm. Kenapa bang?"


"Oh tidak, kalau belanjanya udah selesai segera turunlah, pulang sama Abang, Abang udah nunggu dibawah."


"Bareng Abang? Kan aku tadi bareng-bareng sama Silvi dan Tania bang?"


"Iya Abang tau. Silvi udah dijemput Willy, ini baru sampai dia."


"Terus Tania?"


"Udah tidak usah dipikirin dia, dia udah pulang duluan."


"Kok Abang tau kalau Tania udah pulang duluan? sementara tas dan kunci mobilnya aja masih disini sama aku?"


"Udah bawa pulang aja."


"Udah cepetan turun. Abang juga ingin segera pulang. Capek."


Tut.


Panggilanpun berakhir setelah Sigit mengucap salam.


❄️❄️❄️


Didalam mobil Renaldi.


Suasana hening didalam mobil setelah beberapa saat berada dalam perjalanan.


Tania tidak tahu mau pergi kemana mereka, Renaldi tidak mengatakan sepatah katapun setelah mereka berada di dalam mobil. Sedangkan Renaldi, dalam diam merutuki dirinya sendiri setelah menyadari apa yang sudah diperbuatnya.


Entah apa yang ada dalam pikirannya saat berada di pusat belanjaan ketika melihat Tania merasa tersakiti dengan tingkah Alex hingga dirinya bisa berbuat sesuatu diluar nalarnya, memanggil Tania dengan sebutan sayang didepan Alex tadi, bak pangeran berkuda putih saja menyelamatkan tuan putri dari marabahaya.


Rasa canggung singgah didalam hati Tania. Tidak nyaman.


"Em... Sa-saya ucapkan terimakasih atas...."

__ADS_1


"Sudah tidak usah salah faham, itu tadi cuma drama. Jadi jangan besar kepala dulu kamu." Sahut Renaldi datar memotong kalimat Tania.


Tania terdiam tidak melanjutkan kalimatnya walaupun ada perasaan kesal mendengar perkataan laki-laki disampingnya yang sedang mengemudi.


"Lagian laki-laki play boy kayak Alex diladenin." Cuitan Renaldi mengejutkan Tania.


"Apa?" Tania terbelalak seakan tidak percaya dengan ucapan Renaldi. "Memangnya aku terlihat murahan gitu maksud bapak?"


Renaldi melirik sekilas Tania seraya tersenyum sinis, lalu fokus kembali pada kemudinya.


"Asal bapak tau saja ya, saya tadi pergi kesana bersama Winda dan Silvi, saya ketemu sama Alex itu juga cuma kebetulan setelah saya dari toilet." Jelas Tania kesal. "Gara-gara ide gila bapak juga saya harus pulang duluan tidak pamit dengan teman-teman saya."


"Ya telpon saja mereka, gampang kan?"


Bukannya mendapatkan solusi justru jawaban Renaldi membuat Tania semakin sewot.


"Boro-boro telpon. Tas dan kunci mobil semuanya ketinggalan diatas meja."


Renaldi mengangguk kecil seraya mengeluarkan benda pipih dari saku jasnya.


"Nih." Renaldi mengulurkan hpnya pada Tania. "Telpon Winda sekarang, kasih tau kalau kamu sudah pulang biar mereka tidak menunggumu, kasihan mereka kalau harus menunggu terlalu lama."


Tania menatap benda pipih didepannya dari tangan Renaldi.


"Cepetan Tania."


Tania segera mengambil hp Renaldi dan menekan nama yang sudah terlihat dilayar hp.


Terkadang Tania tidak mengerti dengan sikap kaum lelaki, terlalu menganggap enteng masalah. Seperti saat ini misalnya, sudah yang ketiga kali ini Renaldi membawanya secara sepihak dan tiba-tiba.


Entahlah, semua itu memang karena kebetulan atau memang sudah karakter Renaldi yang suka membawanya keluar sesuka hati.


❄️❄️❄️


Winda sudah berada didalam mobil bersama suaminya dalam perjalanan pulang ke rumah mereka, Sigit menjelaskan setiap pertanyaan Winda yang diajukan padanya.


Termasuk alasan kenapa Sigit bisa berada dilantai dasar menunggu Winda, padahal sebelumnya Sigit sudah bilang akan sibuk seharian hingga malam baru bisa pulang.


"Jadi itu yang membuat Abang jemput Winda dipusat perbelanjaan tadi?"


"Hm." Sigit tersenyum.


"Lalu apa rencana Abang selanjutnya?" tanya Winda setelah mengetahui kisah yang sebenarnya.


Sigit tersenyum tidak sabar menunggu waktunya tiba.


"Sabarlah, ini aja masih pendinginan Win, kamu doain aja semoga berjalan tanpa kendala." Sigit ingin istrinya ikut andil mewujudkan rencananya dengan memberikan dukungan, maka dari itu Sigit tidak menutup-nutupi rencana dari Winda.

__ADS_1


Bersambung....🤗🤗🤗


Sarangheo 💞💞💞💞


__ADS_2