
Sigit merasa panik melihat istrinya. Keringat sebesar biji jagung membanjiri dahi Winda yang sedang mengerang kesakitan. Setelah mengetahui istrinya mengeluarkan darah, Sigit segera memberitahukan dokter dan perawat melalui tombol yang berada diatas ranjang, sedangkan Winda terus saja menggenggam tangan suaminya, ia tidak ingin melewatkan detik demi detik tanpa Sigit disampingnya.
Winda berjuang dengan rasa sakit yang bertambah hebat di perut dan pinggang nya membuatnya harus pandai-padai mengatur nafasnya, sesekali ia terdiam sesaat menatap wajah suaminya dan beralih pada langit-langit didalam ruangannya. Winda merasakan rasa yang benar-benar luar biasa sakitnya.
Dokter Lina dan dua suster yang menjaga Winda sudah berada didalam ruang bersalin. Mereka sibuk mempersiapkan yang diperlukan untuk persalinan Winda yang seharusnya masih satu bulan lagi. Dokter menyarankan agar Winda melakukan operasi saja, sangat beresiko jika harus melahirkan secara normal.
"Aduh... sakit Git."
"Hmmmmm..... ya Allah..."
"Allahu Akbar."
Sigit tidak tega melihat wajah Winda sedang menahan rasa sakit, suara rintihan Winda menyayat ulu hatinya, tangannya menggenggam erat genggaman Winda.
Namun diluar kendali Winda, rasa sakit dan panas dibagian pinggul belakang semakin beruntun seakan memaksanya melepas genggaman Sigit dan beralih mengalungkan kedua tangannya pada leher Sigit.
"Sabar sayang, sebentar lagi dokter akan..."
Sigit melihat dokter menyiapkan sarung tangan.
"Sepertinya bu Winda akan segera melahirkan dok." kata seorang perawat yang mengangkat kedua kaki Winda dan memandu menekukkan kedua lututnya, kemudian memeriksanya kembali.
"Pintunya sudah terbuka sempurna." lanjutnya sedikit membuka kain hijau yang menutupi sebagian tubuh pasien nya.
"Hhhufffff.... hah... ini sakit sekali rasanya Git, aaaaaa....."
"Dokter!" teriak perawat itu mulai bergerak cepat, sangat panik. Sementara wanita yang dipanggil pun segera mengambil langkah dan tidak kalah bergerak cepat menggerakkan tangannya yang tertutup kain itu
"Tarik nafas... keluarkan perlahan huufff... tarik .... keluarkan hufff.... tarik.... iya... keluarkan..." dokter Lina memberikan arahan pada Winda sesuai dengan keadaan pasiennya dengan perlahan dan telaten.
"Allahu Akbar!!!" seru Winda sudah kehilangan semua aura malu atau apalah namanya rasa itu yang tidak bisa diceritakan.
"Iya terus..."
"Ya Allah..." masih mendesah.
"Ayo Win, kamu pasti bisa. Kamu adalah wanita yang hebat sayang..." Sigit sesekali membelai pucuk kepala istrinya, tenaganya seakan hilang entah kemana melihat istrinya berjuang antara hidup dan mati.
"Ya Allah... aku tidak tega melihatnya kesakitan seperti ini, kalau bisa tergantikan atau dipindahkan rasa sakit itu, biarkan aku saja yang menanggungnya ya Allah..." batin Sigit, terkoyak hatinya tersayat-sayat. Lemas, kedua lututnya seakan tak bertulang lagi, namun ia harus terlihat kuat demi mensupport istrinya.
"Terus..."
"Allaahu Akbar!!!"
Secara reflek tanpa disadari, Winda mengejan dengan sendirinya, dan tidak berselang lama kemudian terdengar suara tangis bayi mungil mengiringi suara takbir yang diucapkannya untuk terakhir kalinya setelah merasa sesuatu yang luar biasa keluar dari bagian bawahnya.
"Oe... oe... oe..."
Ketiga wanita yang berada didalam ruangan itu terlihat sangat sibuk seketika setelah bayi mungil itu lahir. Tangan dokter wanita itu terlihat cekatan memainkan sebuah benda kesehatan yang entahlah apa namanya, yang jelas, Sigit meliriknya sekilas di bagian bawah istrinya ada sebuah wadah steinlist besar dan beberapa alat disekitarnya dengan seorang perawat setia melayaninya.
"Hhhhh...." tubuh Winda sangat lemah dengan mata terpejam sejenak, lalu menatap wajah suaminya yang berada tepat diatasnya sedang tersenyum sendu.
"Alhamdulillah... bayinya lahir dengan selamat pak." suara dokter seraya menyerahkan bayi mungil itu pada perawat disampingnya dan segera mengurusnya di posisi yang lain.
"Bayi laki-laki yang tampan dan sehat." lanjutnya dengan senyuman manis diwajahnya, kemudian melanjutkan mengurus Winda.
"Alhamdulillah ya Allah ya Tuhanku..." suara Sigit lirih ditelinga Winda, bola mata yang sudah terasa panas karena menahan mendung yang cukup lama, tak berani keluar dari tabir kelopak matanya. Dalam hatinya, dia harus kuat, harus bisa menahannya.
Cupp.
__ADS_1
Sigit mengecup kening istrinya yang terlihat sangat lelah.
"Kamu dengar suara tangisannya barusan hm? kamu benar-benar hebat sayang. Kamu hebat, cup. Terimakasih, cup."
kembali Sigit mengecup kening wanita yang terlihat lemas tak bertenaga diatas ranjang itu. Tangannya menggenggam jemari Winda sangat erat dengan mata berbinar.
Dokter dan seorang perawat sudah menyelesaikan tugasnya mengeluarkan sisa-sisa darah kotor didalam rahim Winda, mereka mengambil sepotong pakaian untuk ganti pasiennya.
"Mohon maaf pak, kami akan membersihkan Bu Winda dulu, bapak silahkan menunggu diluar sebentar ya..." suara suster memberitahu Sigit.
"Oh iya sus." jawab Sigit sambil menolehkan kepalanya sekilas pada suster itu, ia merenggangkan genggamannya pada tangan Winda dan menatap wajah lelah itu. "Sebentar ya, Abang keluar dulu, setelah itu Abang akan menunggumu lagi disini."
"Hm." jawab Winda tersenyum.
Sigit masih tidak menyadari reaksi dari gantungan kunci bintang yang berada didalam saku celananya. Cahaya gantungan kunci bintang yang terus menyala disertai gerakan glitter bertaburan didalamnya seakan terjadi hujan salju dibawah sinar bulan purnama tepat seperti kejadian malam itu.
❄️❄️❄️
Di ruang yang berbeda.
"Jadi? Aldi itu adalah kamu?" mami terkejut mendengar penjelasan Renaldi, begitu pula dengan orang-orang disekitarnya, terkejut.
"Laki-laki yang selama ini dicari Winda?" lanjutnya seakan tidak percaya.
Suasana hening.
Renaldi awalnya merasa bingung dengan keadaan yang terkesan rumit itu, entahlah harus percaya atau menampiknya.
Namun setelah mengingat dan menyaksikan sendiri reaksi dari gantungan kunci bintang yang menunjukkan identitas dan alat bukti untuk Sigit, ia mulai mengikis pikirannya yang terus berputar antara kenyataan yang dilihatnya dan perkataan Bram, Revan, papi dan mami mereka memang benar adanya.
Ketika Revan menanyakan secara detail mengenai sangkutan Renaldi dengan benda milik Abangnya, Renaldi pun menceritakan semua kisah masa lalunya bersama keluarga mendiang sahabatnya.
Semua mata yang ada disitu mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang baru datang dihadapan mereka tanpa terdengar suara decitan langkah kakinya.
"Sigit yakin, dia hanya ingin mengambil keuntungan dari peristiwa ini." lanjutnya dengan tegas.
Bugh.
Renaldi alias Aldi yang sesungguhnya, mengepalkan tangannya dan mengarahkan tinjunya tepat di perut Sigit.
"Sakit?!" ucap Renaldi dengan menatap tajam manik hitam milik Sigit didepannya.
"Astaghfirullah Renaldi!" pekik mami terkejut.
Sigit meringis memegang perutnya.
"Itu berarti kamu tidak gila Git!" lanjut Renaldi melihat lawannya berubah wajahnya terlihat kesakitan. "Kalau kamu sudah tidak merasakan sakit terkena tinjuku ini, berarti kamu sudah gila."
"Sialan! brengsek!" seru Sigit tidak terima.
Bugh.
Sigit segera membalas tinju rivalnya, ia menyerang balik dengan meninju pipi kiri Renaldi, gerakannya sangat cepat.
Semua pandangan mata di sekitarnya terbelalak melihat balasan Sigit yang secara tiba-tiba.
"Sigit!"
"Abang!"
__ADS_1
"Git!"
"Bang!"
"Hentikan!
Suara Bram, Revan, Papi, mbok Lastri dan mami berbarengan.
Tersentak, kaget.
"Ada apa ini?" belum hilang rasa terkejut mereka, terdengar suara seorang wanita lain dari sisi lorong didepan mereka.
"Bu Arini? pak Idris?" mami dan papi berbarengan menyebut nama kedua orang yang baru hadir disekitar mereka dengan wajah kaget, semua yang ada disana menatap kedua orang yang baru datang.
Bu Arini dan pak Idris berjalan semakin mendekat dengan posisi mereka berdiri.
Tidak lama kemudian, secara perlahan, terlihatlah wajah dari seorang laki-laki yang berjalan semakin mendekat dan menyembul dari arah belakang kedua besannya. Orang itu tak lain adalah Gunawan, asisten papi yang disuruhnya untuk menjemput kedua besannya.
"Gun?"
"Iya pak, kami sudah sampai disini. Mohon maaf jika saya terlambat membawa bapak dan ibu Idris ke sini." ucap Gunawan sambil membungkukkan setengah badannya.
Sementara tanpa ada yang menyadari dari sisi pandang seorang pemuda yang berada dihadapan mereka, terkulai lemas. Perlahan-lahan terduduk dengan kedua ujung sepatu menjinjit, kedua lututnya bertumpu pada lantai menyangga beban tubuhnya.
Tidak terasa air matanya merembes dari kelopaknya.
"Ibu... bapak..." bibirnya terasa kelu memanggil sebutan dua orang yang tiba-tiba saja datang di tengah-tengah keramaian mereka, retina matanya kembali berputar seolah lorong waktu yang terjadi beberapa tahun silam.
"Ayo Al kita lanjutkan lagi tugasnya dirumahku nanti Al."
"Siap yang penting disiapkan saja kuenya di halaman rumah belakang Zam."
"Siap, ibu pasti menyajikan makanan kesukaan mu."
Tes tes tes....
Air mata itu seakan jebol dari tanggul pertahanannya.
"Sudah Aldi, jangan dimanja terus Darinya."
"Biar Bu, toh Bidadari juga masih kecil."
"Kamu ya... sama saja dengan Azam, pasti kalau ditegur ibu, jawabannya sama persis, Bidadari masih kecil he he he..." suara-suara orang yang sangat ia rindukan seakan baru saja terjadi peristiwa waktu itu, hingga kekehan pak Idris, sosok orang tua yang bijaksana seakan terucap tepat di telinganya.
"Benarkah itu kalian pak... bu..." lirihnya masih ragu. "Tapi... kenapa sosok dan wajah di depanku saat ini seakan engkau pak... bu..." Renaldi tidak berkedip. Pikirannya kacau, sekacau suara kacauan burung dipagi hari.
.
.
.
Bersambung 🤗🤗
Makin ser ser ser gak sih kak membayangkan sikap Renaldi alias Aldi??
Hmmm...🤔🤔
semoga makin seru aja deh kehaluan akak2ku yang Terlop lope saat baca🌹🌹 sehingga menggerakkan hati dan jari tangannya untuk memberikan semangat : vote, hadiah, like komen, semua dah.. untuk cerita ini.
__ADS_1
Saranghe 💞💞💞