Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 46


__ADS_3

Setelah kepergian Sigit dari rumah papi menuju Bandung, Winda pun berpamitan dengan mami Lia berangkat ke kantor cabang WP dengan diantar Riyan sesuai titah Sigit.


Dalam perjalanan menuju kantor, tak henti-hentinya Winda memikirkan mimpinya semalam dengan perbuatan Sigit subuh tadi, dia merasa uluran tangan Sigit sudah tidak asing lagi baginya.


"Kenapa bisa sama persis postur tubuh dan ciri-ciri pemuda dalam mimpiku seperti Sigit ya.... apa hubungannya mimpiku dengan dia?" Winda mengerutkan keningnya mencoba mencari jawaban dari mimpinya.


"Kalau diperhatikan, ahir-ahir ini Sigit memang aneh sih... Sigit yang begitu suka ganggu, ngeledek, nyebelin, suka seenaknya sendiri sekarang jadi terbalik. Jadi lebih baik, perhatian, ada rasa hawatir dengan ku, lebih tanggung jawab." pandangan Winda menerawang gedung pencakar langit dari balik kaca mobil sambil menggigit kuku ibu jari tangannya.


"Dan... kenapa dia berani memegang bahkan menciumku? tinggal satu atap lagi, bahkan semalam aku tidur satu kamar dengannya. Anehnya lagi kenapa aku selalu melayani nya makan secara spontan, semua itu berjalan begitu saja, tanpa aku menolaknya justru aku merasakan seolah-olah itu sudah menjadi kebiasaanku."


"Hhhhhh... sudahlah aku tidak mau pusing memikirkan sesuatu yang belum jelas, coba nanti aku cari tau sendiri secara perlahan."


Winda mendesah memijat dahinya yang tiba-tiba membuatnya lelah.


"Sudah sampai kantor mbak Winda..." kata Riyan membuyarkan pikiran Winda ketika mobil mereka sudah berada di parkiran.


Winda tersadar dengan perkataan Riyan yang sudah memberi tahunya.


"Oh sudah sampai ya..." jawab Winda sambil membetulkan tali tas dipundaknya.


"Terimakasih ya mas..." ucap Winda sambil membuka pintu mobil dengan menurunkan kaki kirinya.


"Jangan panggil mas mbak, panggil saja Riyan." ucap Riyan tidak enak dengan panggilan yang dilontarkan istri majikannya padanya.


Winda terdiam dengan mengerutkan dahinya lalu tersenyum tipis setelah mempertimbangkan keadaan Riyan yang memang masih muda.


"Hm... baiklah Riyan, terimakasih..."


Winda berjalan memasuki pintu utama setelah kepergian Riyan dari parkiran, dia memasuki ruangannya yang berada dilantai tiga, namun dia tidak mendapatkan orang yang dicarinya dan letak ruangannya sudah berubah.


"Mbak Winda ya?" kata wanita yang bertuliskan nama Riantika di name takenya menoleh melihatnya menghentikan kegiatan mengetik di keyboard laptop nya, setelah memperhatikan dirinya sejenak.


"I-iya. Bisa bantu saya?"


"Mbak Winda sedang mencari ruangan ya?"


"Ya."


"Perkenalkan saya Riantika, biasa dipanggil Riri."


"Oh ya saya Winda."


"Mari biar saya antar mbak, sebelah sini."


Winda mengikuti langkah Riri yang berjalan didepannya menuju ruangan yang lebih besar dari ruang kerjanya dulu, didalamnya ada beberapa kursi dan meja yang saling berhadapan melingkar, dan ada ruangan lagi didalamnya yang disekat serba kaca, sehingga terlihat transparan, ada sofa coklat didepan sebuah meja kerja yang ada papan nama diatasnya, namun Winda tidak bisa melihat tulisannya karena tertutup sandaran kursi.


Winda terlihat bingung melihat ruangannya yang jauh berbeda, dia dipindahkan dengan meja kerja sekertaris dan atasannya.


Riri mengetahui kebingungan yang dihadapi Winda yang terlihat jelas dari raut wajahnya, Riripun menjelaskan satu persatu pemilik kursi dan meja kerjanya.


Setelah merasa cukup dengan keterangan yang diberikan oleh Riri, Winda pun segera menduduki kursinya yang berdampingan dengan Dian dan Firman.


Tidak lama setelah kepergian Riri datanglah pemilik kursi msing-masing secera berbarengan, Dian dan Firman terkejut mendapati Winda yang sudah masuk kerja karena sudah satu bulan lebih Winda dikabarkan cuti oleh bos mereka, tanpa diketahui orang kantor bahwa atasan mereka tidak lain adalah suami Winda.


Winda dan Dian bercengkrama menceritakan hal-hal baru yang mereka lakukan selama tidak bertemu. Dian menceritakan perihal bos yang merupakan salah satu putra dari pemilik kantor pusat.


Winda hanya terdiam mendengarkan cerita sahabatnya karena merasa belum mengenal atasannya yang baru. Setelah selesai melepas rasa rindu dengan sahabat-sahabat dikantornya, Winda mengerjakan tugas yang diberikan oleh Dian dan Firman selaku atasannya.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat sehingga para karyawan sudah bersiap membereskan meja kerja mereka dan segera pulang, begitu pula dengan Winda, dia segera menuju parkiran yang sudah ditunggu mobil mami Lia.


Winda memasuki mobil dan entah kenapa hatinya terasa sepi ketika dia membayangkan sampai di rumah mami Lia dia merasa kesepian tanpa adanya Sigit yang selalu ada didekatnya walaupun terkadang menyebalkan menurutnya.


Winda terus melamun dan sesekali terlintas senyum dibibir tipisnya.

__ADS_1


"Kenapa jadi ke ingat Sigit terus ya? belum juga sehari tidak bertemu tidak merasakan usilnya dia, kenapa hatiku merasa kehilangan, kesepian... ada apa dengan hatiku?"


Winda memuku-mukul kepalanya dengan pelan, terheran merasakan getaran dalam hatinya.


"Ngaco kamu Win, ngaco ngaco ngaco ngaco!! ayo pikir yang bener! jangan pikirin yang tidak-tidak. Semangat, semangat, semangat Winda!!!" kata Winda dalam hatinya.


Riyan melihat tingkah Winda yang berada dibelakangnya dari spion mobil yang memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Mbak Winda pusing?"


"Hm? gak juga."


Jawab Winda terlihat kikuk setelah melihat Riyan dari spion yang terlihat panik.


Winda mengayunkan kaki nya memasuki rumah mami Lia setelah turun dari mobil, dia tidak mendapatkan siapapun didalamnya, terlihat sepi tidak ada seorang pun.


Winda menaiki tangga menuju kamarnya, dia membuka pintu dan memperhatikan ruangan yang hanya ada dirinya sendiri.


"Entah kenapa Git. Aku merasakan kesepian tanpamu disini, hhhhhhh." lirih Winda sambil duduk diatas sofa merefresh pikirannya yang terasa jenuh, dengan perlahan Winda membuka jilbab dan berniat untuk mandi


Seperti itulah kegiatan sehari-hari yang Winda lakukan, mulai pagi hari dia bersiap kekantor hingga sore, pulang ke rumah orang tua Sigit lalu diam didalam kamarnya sambil menikmati kemerlipan bintang dilangit, dan menikmati kicauan burung dipagi hari.


❄️❄️❄️


"Saya terima nikah dan kawinnya Winda Zilvana Idris dengan mas kawin tersebut dibayar secara tunai."


"Sah, sah, sah."


"Maaf kan aku Win, aku... belum bisa menjawabnya."


"Sigit aku tidak akan memberikan Cintaku pada orang yang tidak mencintai aku sama sekali."


"Cinta tidak harus diucapkan, tetapi harus dengan sikap."


"Izinkan aku melaksanakan kewajiban ku malam ini sayang..."


###


Masih dalam diam tanpa suara setelah 'mereka selesai makan malam direstoran cantika, Winda merasakan suaminya sedang dalam kekalutan, wajahnya terlihat sangat dingin.


Sigit melajukan mobilnya semakin kencang, dia hanya sesekali melirik istrinya yang hanya terdiam.


Mobil Sigit sudah sampai di area Teratai Indah, itu berarti mereka kembali ke rumah kontrakan Winda,


Mobil berhenti begitu sampai didepan gerbang kontrakan Winda.


Winda menoleh kearah suaminya, wajahnya masih seperti orang yang menahan marah.


Winda segera membuka pintu. baru saja berjalan didepan mobil, suara Sigit sudah terdengar ditelinganya.


"Gue kesini, cuma mau anterin lu ambil barang-barang yang lu butuhin saja, setelah itu ikut gue! " kata Sigit kepada istrinya, setelah keluar dari mobil.


Winda kembali terhenti langkahnya dan melihat wajah suaminya yang sudah didepannya.


"Maksudnya? "


"Mulai malam ini lu harus tinggal dirumah gue! "


Mendengar perkataan suaminya, Winda mengernyitkan dahinya.


"Kenapa Git? "


"Ingat! bagaimanapun dan apapun itu alasannya, lu adalah istri gue, dan sebagai seorang istri, lu harus mendengarkan perkataan suami! "

__ADS_1


Winda membelalakkan matanya mendengar kalimat suaminya.


"Fahamkan? " lanjut Sigit ditengah keterkejutan istrinya. Winda masih terdiam.


"Sudah! cepetan masuk! kemalaman nanti pulangnya! "


Tangan Sigit menarik lengan Winda mendekat kearah pintu gerbang.


Winda segera membuka kunci gerbang, mereka berjalan menuju pintu dan membukanya.


Winda berkemas membawa barang-barang yang dibutuhkan saja, lalu memasukkannya didalam koper.


Sigit menunggunya diruang tamu dan memperhatikan istrinya berjalan mendekatinya dengan sebuah koper di seretnya.


Winda memandangi ruangan rumah kontrakkannya, seolah-olah enggan meninggalkannya. Sigit melihatnya dan mengambil alih koper istrinya.


"Sudah! kapan-kapan kita bisa kesini lagi, ayo kemalaman nanti! "


Sigit keluar dengan menarik koper istrinya.


"Sigit toloooong.... hap toloooong hap toloooong hap hap."


"Sigiiiiiittt....!!! heh heh heh heh..."


Winda terbangun dari tidurnya dengan nafas tersengal-sengal, dia kembali bermimpi yang sama setiap malam seakan-akan jelas nyata selama sepuluh malam setelah kepergian Sigit di Bandung.


"Ada apa dengan mimpiku selama sepuluh malam ini? kenapa seperti aku benar-benar melakukannya? seakan nyata aku sudah menikah dengan seseorang dan orang itu adalah Sigit, kenapa dia bilang aku adalah istrinya? dan... siapa perempuan yang tenggelam di laut dalam mimpiku? dan juga dia memanggil Sigit. Ada hubungan apa sebenarnya aku dengan Sigit dalam mimpiku-mimpiku setiap malam?"


Winda merasakan gundah dengan mimpinya, dia beranjak dari ranjangnya.


Sudah sepuluh hari ini Sigit pergi karena proyeknya belum selesai juga dan itu berarti izinnya ke Bandung tiga hari jadi molor sampai sekarang, membuat Winda tetap di rumah mami Lia menuruti permintaan Sigit, walaupun papinya sudah datang tiga hari yang lalu dari Singapura.


"Aku harus mencari sesuatu yang bisa menjadikan petunjuk dalam mimpiku selama ini."


Winda membuka lemari Sigit, tangannya membuka-buka setiap sudut ruang kecil didalam lemari, hingga dia menemukan sebuah laci yang terkunci rapat.


Perlahan Winda memutar kunci yang tergeletak diatas amplop coklat dari laci sebelahnya, lalu membuka kunci itu.


Winda mengerutkan keningnya ketika mendapati sebuah digital didalamnya dengan amplop coklat dibawahnya, serta kotak perhiasan kecil disamping digital.


"Apa ini?"


Tangan Winda meraih digital itu dan mulai memencet tombol on.


Winda memperhatikan secara teliti setiap kalimat, gerakan, serta gambar yang terekam didalam Vidio. Matanya terbelalak badannya lunglai melihat semuanya.


"Ini... ini tidak mungkin....."


Suara Winda lirih tidak percaya, dia membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


Siapa yang sudah kangen sama babang?


ayo ah diboom like and komen lagi...😍😍

__ADS_1


saranghe... 💞💞


__ADS_2