Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 84


__ADS_3

Gunawan berjalan menyusuri jalan setapak disebuah desa terpencil, ia melihat kerumunan orang-orang yang berdatangan dirumah duka salah satu warga yang baru saja mengalami kecelakaan maut. Ia melihat diantara orang-orang wanita yang duduk didalam ruangan terdapat seorang ibu muda yang berbaju longgar dan menggunakan jilbab besar sedang memangku balita ditengah kerumunan didalam rumah petak sederhana itu.


Sesekali ibu muda itu mengusap air matanya terlihat lemah, matanya sembab sambil memeluk tubuh mungil putranya.


Gunawan memastikan keadaan keluarga malang itu, mereka tak lain adalah istri dan anak dari supir taxi yang meninggal karena kecelakaan ketika membawa atasannya pulang dari Singapura menuju rumah kediamannya. Ia sempat mendengar perbincangan sekilas antar warga setempat tentang supir taxi itu yang ternyata baru menikah tiga tahun lalu dan baru dikaruniai seorang anak laki-laki yang baru berusia sekitar dua tahun. Mereka tinggal disebuah rumah kontrakan yang sangat sederhana, dan tidak punya sanak saudara terdekat disana.


Haru dan pilu Gunawan menyaksikan pemandangan didepannya ketika si balita menangis ingin bertemu sang ayah. Berulang kali balita meronta ingin bersama sang ayah, seakan faham jika sang ayah sudah meninggalkannya untuk selamanya. Begitu pula dengan semua orang yang berada disana juga sama merasakan kepiluan melihat balita itu. Berkali-kali mereka mengusap air mata dipipi, tidak tahan melihat si balita.


"Ya Allah, kasihan mbak Riana ya sama si kecil."


"Iya, padahal suaminya masih muda loh."


"Ih bagaimana ibu Astri ini... yang namanya umur kita mah tidak ada yang tau atu Bu...."


"Iya tau kalau itu bu, tapi... coba lihat Hasan kalau menangis, jadi sesek dada saya melihatnya."


"Iya si Bu, saya juga sama seperti itu. Apalagi mereka tidak punya sanak saudara disini, sedangkan mbak Riana juga sering bolak-balik ke rumah sakit."


"Iya ya kasihan mereka."


Samar-samar Gunawan mendengar pembicaraan para warga tentang cuplikan kisah keluarga malang didepannya. Hatinya pun perih mendengar kisah mereka. Perlahan ia berjalan meninggalkan kerumunan orang-orang yang berada didepan rumah duka itu.


❄️❄️❄️


Sigit keluar dari ruang rawat kedua orang tuanya yang masih belum sadarkan diri. Ia berjalan dengan gontai mendekati Winda dan mbok Lastri di ruang tunggu, lalu duduk disamping Winda.


"Kenapa Abang keluar?" tanya mbok Lastri pada Sigit begitu duduk disamping Winda.


Sigit menoleh ke arah mbok Lastri yang sedang mengamati wajahnya begitu sendu.


"Ada perawat dan dokter yang memeriksa kondisi mami dan papi mbok, jadi aku disuruh menunggu di luar dulu." jawab Sigit.


"Abang makan dulu sama mbak Winda. Ini sudah jam tujuh malam loh... jangan biarkan tubuh kalian menjadi sakit, biar mbok yang ganti nungguin bapak dan ibu." mbok Lastri mengingatkan mereka yang belum makan hingga malam, ia merasa iba melihat Sigit yang terpukul dengan kondisi orang tuanya.


Sigit memaksakan senyum tipisnya pada wanita paruh baya disampingnya.


"Hm, terimakasih mbok, sebentar lagi." jawab Sigit. "Biar aku duduk disini dulu sebentar mbok, nanti aku sama Winda cari makan diluar." lanjut Sigit pada mbok Lastri. "Mbok Lastri sendiri sudah makan belum?" tanya Sigit.

__ADS_1


"Sudah bang, tadi sekalian cari baju ganti diluar." mbok Lastri menjawab pertanyaan Sigit.


"Dari tadi siang aku tidak melihat Revan mbok, kemana dia?" Sigit mengamati keadaan sekitarnya yang hanya terdapat mbok Lastri dan Winda diruang tunggu.


"Tadi si..." mbok Lastri terdiam sejenak mengingat-ingat Revan."Setelah mendonorkan darahnya pada bapak dia banyak diam dan melamun bang."


Sigit mengerutkan keningnya dan mengalihkan pandangannya pada mbok Lastri, ia curiga Revan mengetahui sesuatu tanpa sepengetahuannya.


"Memangnya apa yang sudah terjadi mbok?" Sigit bertanya dengan nada tenang seakan menutupi rasa penasarannya. Walaupun rasa penasaran menggelayut didalam pikirannya saat itu, ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana jika saat ini Revan mengetahui statusnya. Disaat orang tuanya masih dalam keadaan belum sadar.


Sigit menunggu kalimat wanita didepannya yang menatap kedua bola matanya.


Mbok Lastri mengalihkan pandangannya pada Winda yang duduk disamping Sigit yang ikut penasaran menunggu jawaban darinya.


"Mbok? apa ada sesuatu yang terjadi pada Revan?" Sigit bertanya kembali sambil menatap wajah dan memegang pundak wanita itu.


Mbok Lastri kembali memberanikan dirinya melihat wajah Sigit yang masih menatapnya.


"Mbok tidak tahu betul apa yang sudah Revan lakukan, tapi... tadi mbok lihat, Revan seperti menyimpan sesuatu setelah kepolisian memberikan tas kecil padanya sebagai alat bukti kepemilikan bapak." jelas mbok Lastri terbata-bata, lalu melanjutkan kalimatnya kembali. "Kemudian dia kerumah sakit dan bercakap-cakap dengan dokter. Lalu berjalan kesana kemari seperti ada yang diurusnya. Setelah itu pamit sama mbok kalau dia ada tugas yang harus segera dikerjakan." jelas mbok Lastri dengan wajah bingung tidak mengerti maksud ulah Revan seharian sebelum kedatangan Sigit dirumah sakit.


Sigit menggigit kecil bibir bawahnya, ada sedikit perasaan curiga dengan tingkah adiknya jika diperhatikan dari cerita mbok Lastri.


Winda menggenggam tangan Sigit, ia melihat gurat kesedihan diraut wajah suaminya, tidak tega dirinya membiarkan Sigit tenggelam dalam kesedihan.


"Abang."


"Hm? kenapa?" suara Sigit lirih seraya menatap manik hitam istrinya.


Winda membalas tatapan suaminya.


"Di dunia ini, semua kehidupan sudah tercatat dilauhul Mahfudz, tidak ada yang terlewat. Ada laki-laki ada perempuan, ada panjang ada pendek, ada siang ada malam, ada sehat juga ada sakit. Apapun yang terjadi itu semuanya sudah ketetapan dari Allah, begitu juga dengan keadaan, ada sedih juga ada bahagia, maka dari itu Abang harus kuat dan sabar menghadapi ini semua." Winda membelai rambut Sigit yang terlihat kusut berantakan seperti keadaannya saat ini, lalu melanjutkan kalimatnya."Bersabarlah seperti nabi Ayyub as ketika diuji dengan penyakit kulit selama 7 tahun hingga diusir dari rumahnya dan ditinggalkan istrinya, hanya Rahmahlah satu-satunya yang setia menemani beliau hingga sembuh kembali karena ketakwaannya kepada Allah. Bersabarlah seperti Hajar yang ditinggal nabi Ibrahim ditengah gurun pasir tanpa ada rumah, pohon dan manusia lain selain seorang bayi mungil yang bernama Ismail waktu itu, dengan keadaan yang sangat membuatnya bingung mencari air untuk putranya yang terus menangis, hingga datanglah pertolongan Allah dengan mengeluarkan pancaran air dari pukulan telapak kaki putranya hingga dikenal sampai detik ini dengan nama air zam-zam. Bersabarlah seperti nabi Yusuf yang difitnah dari perbuatan seorang Zulaikha istri seorang Wazir ketika itu sampai beliau dimasukkan ke dalam penjara bertahun-tahun lamanya sehingga pertolongan Allah datang kepadanya dengan diangkatnya beliau menjadi menteri pangan yang dapat mempertemukan ayah dan saudaranya kembali. Dan bersabarlah seperti orang-orang yang beriman, orang yang selalu berperasangka baik kepada Allah dari semua cobaan, ujian yang menimpa dirinya sehingga dia merasakan bahwa itu bukanlah suatu ujian, melainkan suatu kenikmatan yang Allah berikan kepadanya, dengan begitu mereka akan dekat kembali kepada-Nya, begitu juga dengan kita bang, kita harus mengambil hikmah dari sebuah peristiwa yang terjadi, karena bisa jadi kita telah jauh dan kurang mendekatkan diri dari-Nya saat ini."


Sigit terdiam mencerna kalimat istrinya, ia merasa benar apa yang dikatakan Winda barusan. Ia baru tersadar jika mungkin akhir-akhir ini ibadahnya agak kendor.


Sigit menggenggam balik genggaman Winda dengan erat, dengan tatapan sendunya ia tersenyum pada wanita yang sudah membuat hatinya tenang kembali.


"Banyaklah berdoa dan meminta dengan merendah pada-Nya bang." suara Winda lirih terdengar ditelinga Sigit yang masih menatapnya.

__ADS_1


"Terimakasih sayang, kamu sudah mengingatkan Abang dan selalu ada untuk Abang." Sigit mengangkat kedua tangan Winda berada dalam genggamannya.


Cupp


lalu mencium tangan Winda dan memeluk tubuh yang sudah terlihat berisi itu.


❄️❄️❄️


Dirumah Winata.


"Kira-kira berapa hari saya sudah bisa menerima hasilnya dok?"


"Kamu bisa menunggunya paling cepat tiga hari anak muda."


"Baik dokter, kalau begitu saya tunggu hasilnya secepatnya. Terimakasih."


Revan membalikkan tubuhnya diatas ranjang mengingat pembicaraannya dengan dokter tadi siang setelah menemukan jalan keluar terbaik menurutnya. Pikirannya kacau setelah membaca beberapa lembar tulisan yang tertera di atas kertas putih itu.


Rasa tidak percaya bercampur marah dan kecewa berkecamuk dalam pikirannya saat ini.


"Tidak, tidak, aku harus bisa menyimpan ini semua sampai hasil tes DNA itu keluar, aku harus bersikap seperti biasa, agar Abang tidak curiga." Revan duduk dari berbaringnya, ia sandarkan kepalanya dikepala ranjang.


"Tapi, kalau memang benar aku bukan anak mereka kenapa mereka sangat menyayangiku sama seperti Abang?" Revan mengerutkan keningnya, bingung. "Atau... aku dan abang bukan anak mereka juga? dan Abang juga tidak mengetahuinya?"


Revan masih larut dalam pemikirannya sendiri.


"Tapi... kenapa dalam tulisan orang itu mengatakan jika aku adalah adik kandungnya? itu berarti... ya Allah... misteri apa ini yang tidak pernah aku ketahui selama ini didalam keluarga Winata?" Revan menarik kasar rambutnya dalam kebimbangan statusnya didalam keluarga Winata.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗

__ADS_1


Wah pasti kangen nih sama Abang ya...


Saranghe 💞💞


__ADS_2