Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 29


__ADS_3

"Winda yakin tidak ada masalah? "


tanya mami Lia setelah keberangkatan Sigit kekantor, mereka sudah duduk dikursi panjang yang terletak dibawah bunga melati yang saling terkait satu sama lain pohonnya ditaman bunga mungilnya depan rumah.


"Sangat yakin mi, kami tidak ada masalah apa-apa." ucap Winda yang diahiri senyum kepada mertuanya.


Mami Lia memperhatikan wajah manis didepannya tidak berkedip, pandangannya berhenti dikelopak mata menantunya yang seperti tersengat lebah, tangannya mengelus kepala menantunya dengan senyuman dibibirnya.


"Terimakasih sudah mau menjadi teman hidup abang, putra mami, Sigit." ucap mami lirih didepan Winda.


Winda meraih tangan mami Lia yang membelainya, kemudian mencium tangan mami Lia, lalu tersenyum dengan mata saling memandang.


"Mami sangat berharap padamu Win, kamu bisa sabar menghadapi sikap abang, yang terkadang marah, diam, suka memerintah seenaknya sendiri secara tiba-tiba. Meskipun sifatnya begitu berubah-ubah tapi mami yakin dia punya cara sendiri untuk membahagiakanmu." lanjut mami Lia.


Winda menggenggam tangan mertuanya.


"Kami juga sangat mengharapkan doa dari mami sama papi, supaya kami bisa menjalani ini semua dengan saling memahami mi, seperti mami dan papi." ucap Winda tersenyum.


Mami lia tersenyum mendengar tutur menantunya yang lembut, sopan, dengan penuh harapan kebahagiaan.


"Tentu Win, mami sama papi akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, semua putra mami, Bram, Sigit, Revan dan menantu mami, Shofia dan kamu, juga cucu mami, Selena. Dia anaknya bram, abangnya Sigit." ucap mami terhenti sejenak.


"Bram, abangnya Sigit, dia lebih ramah seperti Revan. Istrinya bernama Shofia, dia seorang dokter, mereka sekarang tinggal di Riau, mereka baru mempunyai seorang anak, namanya Selena, mereka akan berkumpul dirumah papi jika ada liburan dan waktu-waktu tertentu."


Winda mendengarkan kata-kata mami yang mulai menceritakan tentang keluarga kecilnya dan masa kecil suaminya, dia kadang tersenyum disela-sela carita sang mertua, dan kesal ketika mendengar kenakalan suaminya.


Bahkan mami membendung air matanya ketika cerita yang sama dengan mbok Lastri yang mengalir dari rentetan kisah suaminya ketika memperjuangkan keinginannya kuliah dijurusan hukum.


Winda mengelus pundak mertuanya yang sudah menitikkan air matanya saat menceritakan Sigit sempat menghilang sampai pembekuan ATMnya karena menolak keinginan papi Winata kuliah di Belanda. Sampai ahirnya ditemukan orang-orang suruhan papi.


"Mami sangat terpukul waktu itu, tetapi... sekarang mami senang Sigit paling tidak sudah ada yang mengingatkan dan sudah ada seorang wanita yang menghawatirkan dan menunggunya selain mami ketika pulang kerja." kata mami sembari mengusap air matanya tersenyum disela rasa bersedihnya melihat menantunya.


Winda menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis memberikan semangat untuk mertuanya.


"Insya Allah mi, Winda akan belajar menjadi istri yang baik."


Mereka berbincang-bincang sampai tidak terasa matahari sudah berada ditengah, mami yang baru menyadari segera mengahiri pertemuan mereka.


"Tidak terasa ya ternyata sudah berjam-jam mami ngobrol tentang abang, ya sudah mami pulang dulu, kasihan Riyan menunggu lama dimobil." mami berdiri mengingat Riyan sopirnya lalu mengenakan kaca mata hitamnya kembali.


"Iya mi, maafkan Winda mi." Winda berdiri didepan mertuanya.


"Kalian cepat pulang kerumah papi, mami kesepian dirumah cuma sama Revan saja."


"Iya mi, mami sehat ya..."


Winda menyalami tangan mami.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Mami Lia berjalan menuju mobil dan masuk didalamnya.


Winda mengantarnya sampai mobil berlalu menjauh dari gerbangnya.


❄❄❄


"Tolong panggilkan Renaldi, suruh keruangan saya sekarang." ucap Sigit kepada sekertarisnya.


"Iya pak." jawab Santi lalu menutup kembali telpon interaktifnya.


Tidak lama setelah menutup panggilannya terhadap sekertarisnya, terdengar suara pintunya diketuk dari luar.


Tok tok tok


"Masuk." ucap Sigit, lalu muncullah sosok pemuda yang usianya sepantara dengan Bram, abangnya, dengan postur tubuh yang besarnya hampir sama dengan dirinya.


"Bapak memanggil saya? " ucap Renaldi sudah berdiri didalam ruangan Sigit.


"Iya, silahkan duduk." jawab Sigit berdiri dari kursi panasnya dan berjalan kesofa didepan meja kerjanya mempersilahkan Renaldi duduk.


Renaldi duduk disofa yang dipersilahkan untuknya, dia memperhatikan atasannya sesaat setelah mereka duduk berhadapan.


Salah tingkah, itulah yang dirasakan Renaldi didalam ruangan yang tiba-tiba suasana berubah menjadi tegang, karena Sigit hanya memperhatikan berkas yang ada diatas meja didepan mereka, dengan sesekali melirik kearahnya.


"A-ada apa pak, bapak memanggil saya? " gugup, itulah kata-kata yang mampu dikeluarkan Renaldi membuka kalimatnya.


ucap Sigit memberi perintah dengan memajukan dagunya, kedua tangannya bersedekap dada.


Renaldi menuruti perintah atasannya, tangannya meraih setumpuk berkas dan membukanya.


"Buka lembaran ke enam."


Perintah Sigit dibarengi dengan jari kanan Renaldi membuka lembar demi lembar berkas ditangannya.


Sesekali pandangan Renaldi dialihkan ke atasannya dan lembaran-lembaran di tangannya hingga sampailah pada lembaran yang dicarinya.


"Sudah pak." Renaldi melihat kearah Sigit.


"Baik. Perhatikan poin ke lima." ucap Sigit dengan raut tenang, namun kata-katanya sangat tegas.


Renaldi mengikuti perintah Sigit, dia membaca poin ke lima kemudian terdiam beberapa saat. Setelah itu dia kembali melihat kearah Sigit kembali.


"Sudah pak. Apa ada yang salah pak? ini sesuai dengan pembukuan keuangan perusahaan pusat pak." jawab Renaldi berusaha tenang.


Mendengar perkataan Renaldi, Sigit tersenyum tipis dan mengangangat alis kirinya, lalu menghempaskan nafas beratnya.


"Ok, baiklah, sekarang tolong buka berkas yang ada dimap hijau itu." Sigit melirikkan matanya dengan tangan bersedekap dada duduk diatas sofa, Sigit menyuruh Renaldi membuka map yang lain diatas meja.

__ADS_1


Renaldi pun mengikuti perintah Sigit dan membuka map hijau.


"Buka halaman ke enam, baca poin ke lima dan enam."


Sigit memperhatikan mimik Renaldi ketika membaca poin yang dimaksud, pada awalnya ada rasa cemas diraut Renaldi yang tertangkap oleh Sigit, namun Renaldi segera menutupi rasa cemasnya dengan raut terkejutnya, Sigit melihat dengan jelas dan semakin yakin ada yang disembunyikan oleh Renaldi.


"Kenapa diam?! " tanya Sigit setelah Renaldi mengalihkan pandangannya tertuju pada dirinya.


"Kenapa bisa seperti ini pak? "


tanya Renaldi terlihat tenang seakan-akan tidak mengerti.


"Kenapa? apa ada yang berbeda? "


Sigit balik bertanya kepada lawan bicaranya.


"Jelas sekali ini pak, sangat berbeda. Ini bisa membuat perusahaan rugi besar, dan bisa berdampak pada pembatalan kerjasama dengan perusahaan Utama saat ini dan juga relasi perusahaan yang lain."


"Itu saja? " ucap Sigit.


Renaldi semakin tercekat, sama sekali tidak mengira jika atasannya yang masih muda, baru beberapa hari menggantikan pemilik utama perusahaan WP, Winata Pratama benar-benar gesit dan cerdik menyeleksi setiap berkas.


"Maksud bapak? " tanya Renaldi mulai terlihat pias diwajahnya.


"Apa yang saya maksudkan justru kamulah satu-satunya orang yang mengetahui semuanya." lirikan tajam Sigit terlihat mematikan.


"Kenapa bocah ini bisa mengetahuinya? bukankah selama ini tidak ada yang tahu? aku sudah mengaturnya serapi mungkin. Si tua itu, bukankah bodoh selama ini? dia yang telah membawaku masuk diperusahaannya yang begitu menggiurkan relasinya? kenapa tidak terpikirkan olehku sebelumnya kalau dia mempunyai penerus yang benar-benar tidak bisa diremehkan sama sekali, ya! anak ini salah satunya! "


Renaldi berpikir sendiri dengan ketelitian Sigit yang sama sekali tidak terpikirkan dalam perhitungannya.


Mendengar perkataan Sigit yang to the poin tertuju pada dirinya, membuat Renaldi mulai terlihat lebih tenang dengan tersenyum sinis sambil tangannya meletakkan kedua berkas yang kontroversi diatas meja.


Perlahan-lahan Renaldi menggeser duduknya dan merubah posisi duduknya bak bos besar.


Plok plok plok plok plok


Renaldi bertepuk tangan setelah meletakkan kedua berkas diatas meja.


"Benar-benar jenius anda bapak Sigit Andra Winata. Ha ha ha ha ha" ujar Renaldi


Sigit semakin geram, dia mengeraskan rahangnya menahan emosinya.


"Aku harus bisa lebih mengontrol emosiku jika ingin terkuak kebusukannya." pikir Sigit.


Bersambung...


Nah... sudah mulai up lagi ya...


terimakasih yang sudah setia menunggu kelanjutannya.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya... 💖


💖💖


__ADS_2