Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 49


__ADS_3

"Win, pegangan yang bener biar aman." perintah Sigit yang kesekian kalinya.


Winda tidak mengindahkan perintah Sigit, dia tetap berpegangan besi jok motor yang berada dibelakangnya, merasa tidak direspon perkataannya oleh Winda, Sigit semakin menambah kecepatan, sehingga Winda terperanjat dengan mengalihkan pegangan tangannya diperut Sigit dengan erat.


Sigit tersenyum merasa menang dengan tingkah Winda, tangan kirinya memegang kedua tangan Winda yang bergelayut diperutnya.


"Jangan lepas! pegangan seperti ini sampai rumah!" teriak Sigit, kepalanya menoleh kesamping kanan memberi perintah pada Winda, tangan kirinya kembali memegang stir motor yang melaju semakin kencang.


"Ini namanya tipu daya Git, mencari kesempatan." gerutu Winda dari belakang.


Sigit tidak menggubris perkataan Winda yang tidak jelas ditelinganya.


"Git, pelan-pelan, jangan ngebut aku takut." kata Winda.


Selama perjalanan Winda tidak nyaman dengan tingkah Sigit, dia tidak pernah


berboncengan seperti ini sebelumnya dengan laki-laki yang bukan mahramnya, baru pertama kali ini dia merasa seperti muda mudi yang berboncengan ketika pulang sekolah.


Setiap Winda merenggangkan pegangannya, tangan Sigit selalu menarik dan memegangnya erat, dengan terpaksa Winda mengikuti perintah Sigit dengan memegang perut Sigit, walaupun dia masih merasa Sigit adalah temannya bukan suaminya.


Berbeda dengan Sigit, dia merasakan ini adalah kencan pertamanya dengan Winda menggunakan motor, dia merasa seperti Dilan yang sedang menbonceng Milea ketika pulang dan berangkat sekolah, sangat berbeda suasananya ketika menggunakan mobil seperti biasanya.


Sigit tersenyum melihat tangan Winda yang masih melingkar erat diperutnya ketika motor mereka sudah memasuki gerbang dan melewati pak Zain yang siap menutup gerbang kembali.


Sigit memarkirkan motor dan melepas helm dari kepalanya menghadap Winda.


"Ternyata menjadi Dilan dan Milea sangat asyik, apalagi tokohnya Sigit dan Winda barusan lebih asyik, bebas razia dengan segel terjamin halal."


"Apaan sih Git kamu... jangan ngaco deh..."


"Hm, serius. Aku gak ngaco Windaku sayaaaang...."


"Apaan sih."


Winda meletakkan helmnya di spion motor, wajahnya terlihat kemerahan menahan malu saat Sigit mengucapkan kata sayang dibelakang namanya, Winda melajukan langkahnya memasuki rumah meninggalkan Sigit yang masih memegang helm ditangannya.


Ada semburat senyum menghias bibir Sigit melihat istrinya yang mulai terpancing dengan tingkahnya.


"Winda, Winda... aku bener-bener sudah gila bila berada di dekatmu. hmm... semoga kamu bisa menerima pernikahan ini setelah mendengarkan penjelasan dari mami tadi pagi." lirih Sigit sambil melihat Winda yang sudah berlalu memasuki pintu masuk rumahnya kemudian meletakkan helmnya di spion satunya lalu berjalan menuju pintu masuk.


Sigit berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, begitu sampai didepan pintu kamarnya, dia langsung membuka pintu dan masuk sambil celingak-celinguk mencari sosok istrinya.


"Apa liat-liat! sana cepetan mandi dan ini baju gantinya!" ucap Winda setelah mendapati Sigit di depannya sambil mengulurkan baju Sigit yang baru dia ambil dari lemari didepannya.

__ADS_1


Sigit terdiam melihat sikap istrinya yang masih sama melayani kebutuhannya seperti Winda sebelum mengalami kecelakaan tenggelam di pinggir laut yang menimpanya.


"Git, buruan mandi! lihat tuh baju kamu, aku jadi pengen muntah melihatnya!" kembali Winda mengingatkan Sigit untuk segera membersihkan dirinya, Sigit baru tersadar dengan perkataan Winda.


"Hm, terimakasih sayang..." balas Sigit sambil menerima pakaiannya dari tangan Winda.


"Sayang sayang. Emang gak ada kata lain apa!" sungut Winda merasa kesal.


"Baik my honey...."


"Aisssshhhhhh."


"Ha ha ha ha..."


Sigit tertawa, sengaja menggoda istrinya yang tiba-tiba merah merona kedua pipinya setelah mendengar sebutan my honey.


"Baik. Aku mandi dulu my honey..."


"Hisssshhhhhh ck."


Sigit segera menuju kamar mandi yang berada disamping ruang ganti baju sambil tersenyum kecil senang melihat tingkah Winda yang meliriknya kesal.


"Kenapa coba... lagi-lagi aku melayani kebutuhan Sigit, menyiapkan makannya, sekarang baju gantinya? apa aku memang sudah sering melakukannya? tapi kapan? dimana? kenapa aku tidak mengingat semuanya tetapi aku bisa merasakannya, apa yang sebenarnya terjadi padaku?"


Winda meraih digital yang berada di dalam tasnya lalu memutarnya sebentar dan mematikannya kembali.


"Aku harus tanyakan pada Sigit langsung bagaimana ceritanya sampai terjadi pernikahan ini. Dan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan gadis bule itu. Aku tidak mau jadi penghalang mereka berdua. Tidak, aku tidak mau jadi penghalang."


Setelah beberapa saat berada di kamar mandi Sigit keluar dengan mengenakan celana pendek dengan kaos abu, tangannya mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk putih di kepalanya sambil berjalan mendekati Winda.


Setelah berdiri tepat didepan Winda yang duduk di tepi ranjangnya, dia memperhatikan wajah Winda yang melamun tampak gelisah dengan memegang sebuah digital ditangan yang berada dipangkuannya.


"Ehem..." suara Sigit didepan kaca mengagetkan Winda.


Winda terperanjat saat mendapati Sigit sudah berada didepannya, dia terkejut melihat penampilan Sigit, yang membelakanginya menghadap kaca riasnya diatas meja.


Lagi-lagi Winda teringat laki-laki didalam mimpinya yang sama dengan postur tubuh Sigit, dari model potongan rambutnya baju yang dipakainya, gerakannya yang membelakanginya persis dengan laki-laki didepannya.


Sigit melihat cermin didepannya yang terlihat jelas wajah Winda yang sedang memperhatikannya, mata Winda tidak berkedip melihat dirinya, Sigitpun menghentikan tangannya mengusap rambutnya, penasaran dan membalikkan badannya menghadap Winda dan mendekatinya.


"Ada apa Win? adakah tingkahku tadi mengingatkanmu dengan seseorang?"


kata Sigit sambil duduk di tepi ranjang didepan Winda.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mengingat apapun, cuma aku merasa setiap mimpiku pasti terjadi, entah itu sudah terjadi atau baru saja aku alami seperti sekarang ini." jawab Winda merasa heran sambil menatap wajah Sigit yang terlihat lebih segar setelah mandi dibandingkan pertama dia melihat wajah Sigit dirumah sakit tadi pagi.


"Apa kamu tau, apa yang sebenarnya terjadi padaku? dan... apa kamu juga tau jika aku pernah seperti ini? melihatmu dari belakang saat kamu bercermin?" lanjut pertanyaan Winda yang ditanggapi Sigit dengan tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Apa kamu sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi padamu sebelum kamu dirawat di rumah sakit beberapa hari yang lalu?" tanya Sigit menatap wajah Winda.


Winda menjawab dengan gelengan kepala dan terdiam, benar-benar tidak mengerti apa-apa.


"Kamu yakin tidak ada bayangan apapun yang bisa mengingatkanmu?"


"Tidak Git, aku cuma bermimpi, dan mimpi itu begitu jelas seakan benar-benar nyata, itu saja." jelas Winda.


"Apa itu sering?"


"Hm. malah yang tadi aku sudah memimpikan sejak aku masih duduk di bangku SMP Git. Aku melihat sosok didepanku tadi sama dengan postur tubuh, model rambut, dan memakai kaos yang sama abu-abu sedang membelakangiku, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya dalam mimpiku, dan dalam mimpiku itu aku terheran kenapa bisa ada laki-laki didalam kamarku, aku pun keluar dari kamar dan menanyakan siapa laki-laki itu yang berada didalam kamarku kepada bapak, tapi bapak malah menjawab pertanyaanku kalau laki-laki itu adalah suamiku, aku justru terheran dengan jawaban bapak, mana mungkin dia suamiku, menikah saja belum he he he, tapi... justru aku malah selalu mendoakannya, dimanapun dan siapapun dia semoga Allah selalu menjaganya dijalan yang benar."


"Apa kamu tidak merasa pusing atau ada tanda-tanda apa gitu setelah terbangun dari mimpimu selama ini?"


"Tidak, aku biasa saja."


Sigit terdiam setelah mendengar cerita Winda, dia merasa Tuhan sudah memberikan pertanda pada Winda sejak masih sekolah tentang jodohnya yang tidak lain adalah dirinya sendiri, Sigit semakin terharu dengan cerita Winda, ternyata selama ini dia bisa seperti sekarang mungkin karena dukungan dari doa Winda juga, pandangannya beralih ketangan Winda yang memangku digital yang tidak asing baginya yang sama dengan digitalnya yang dia simpan didalam laci lemarinya.


"Bukankah itu digitalku? kenapa bisa ditangan Winda?" pikir Sigit setelah menyadari benda ditangan Winda.


"Terus kenapa digital itu ada padamu? kamu dapatkan itu dari siapa Win?"


.


.


.


.


Bersambung...🤗


Terimakasih atas support nya akak2ku...


yang sudah rindu sama babang Sigit dikasih part husus full babang ya...


ayo2 diramaikan lagi like n koment nya...🥰


saranghe...💞💞

__ADS_1


__ADS_2