
Suasana kediaman keluarga Winata sangat sepi, hari ini papi dan mami sedang keluar bersama asisten pribadinya.
Revan terlihat sendirian duduk dibangku taman disamping rumah dengan beberapa buku tugas yang baru saja ia selesaikan.
Ia termenung memandangi kolam renang yang terlihat bening airnya sambil bergumam sendiri.
"Seandainya sejernih air itu hubunganku didalam keluarga ini, pasti saat ini aku tidak akan merasakan perasaan yang berbeda seperti ini." lirih Revan meratapi keadaannya, tangannya memutar-mutar kaleng minuman diatas meja.
"Hhhhh, tapi siapa yang meyangka jika aku hanyalah seorang anak tiri mami." lanjut lirihnya seraya tersenyum menertawakan dirinya sendiri. Pandangannya menerawang didasar kolam renang yang seakan semakin membiru.
Ningsih berjalan mendekati taman dengan membawa nampan yang berisi camilan dan jus dingin untuk Revan, ia kasihan memperhatikan Revan sendirian yang lebih banyak diam setelah kembali dirumah ini.
Ia meletakkan camilan dan minuman diatas meja.
"Mas Revan dari tadi melamun loh?"
suara Ningsih memecah kebisuan Revan.
Mendengar perkataan seseorang yang tiba-tiba datang dan meletakkan makanan dan minuman untuknya, Revan mengalihkan pandangannya pada orang didepannya.
"Ck, apaan kamu Sih, tiba-tiba dateng aja."
"He he he kaget ya mas?"
Revan menggeser duduknya dengan posisi yang nyaman. Ningsih memegangi nampan yang sudah tidak ada isinya.
"Diminum mas." ucap Ningsih basa-basi untuk menghilangkan rasa kikuknya mempersilahkan Revan, ia ingin duduk di kursi yang kosong didekat Revan, namun ia ragu dengan laki-laki didepannya yang telah berubah lebih dingin dari sebelumnya.
Setelah beberapa saat disana Ningsih masih mematung terdiam ditempatnya. Revan merasa heran dengan asisten rumah tangganya yang masih berdiri didepannya, ia tidak berkedip menatap Ningsih.
Ningsih semakin salah tingkah diperhatikan anak majikannya.
"Bo-boleh Ningsih duduk disini mas?"
"Terserah."
Ningsih menyatukan bibirnya kedalam dan mengangkat sebelah alisnya. Lalu duduk di kursi. Revan memalingkan wajahnya dari pandangan Ningsih.
"Sepi ya mas." ucap Ningsih setelah duduk di kursi yang berada disebelah Revan.
Revan tidak bergeming dari pandangannya membiarkan wanita didepannya bergabung dengannya.
Hening.
Tidak ada jawaban dari Revan, Ningsih berniat ingin beranjak dari duduknya meninggalkan laki-laki didepannya sendirian, namun ia tidak tega melakukannya.
Dari raut wajah laki-laki itu ia yakin bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja, banyak masalah yang sedang disembunyikannya.
Hanya sesekali tangan laki-laki itu meraih camilan yang dibawanya tadi lalu mengunyahnya perlahan.
"Mas Revan ada waktu senggang gak hari ini?" tanya Ningsih penuh rasa hati-hati.
Revan menghentikan mengunyah dan mengalihkan pandangannya pada Ningsih.
"Hm, kenapa memang?" jawabnya dingin.
Ningsih mencoba mencairkan suasana hening yang masih tercipta karena sikap dingin Revan.
"Mmm, gak sih cuma... Ningsih mau minta tolong temenin nyari buku di toko buku hari ini, karena ada tugas yang harus segera Ningsih selesaikan."
Revan kembali menatap wajah Ningsih.
"Tugas? tugas apa maksudnya?" tanya Revan heran.
"Ya... tugas sekolah mas."
"Tugas sekolah? memangnya kamu sekolah?"
"Iya."
Glek
Revan kembali terkejut mendengar jawaban Ningsih, sama sekali ia tidak mengetahui jika wanita yang dianggapnya hanya sebagai pembantu yang lebih mengedepankan kerjaannya ternyata masih peduli dengan pendidikannya.
Bingung.
Revan semakin tidak mengerti, ia menautkan kedua bibirnya dan mengangkat sebelah alisnya terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan jari telunjuknya terangkat.
"Tapi, sebentar-sebentar." Revan mulai tertarik dengan pembicaraan Ningsih, ia merubah posisi duduknya agar lebih berhadapan dengan lawan bicaranya. Lalu melanjutkan kalimatnya kembali.
"Kenapa aku tidak pernah melihat kamu berangkat ke sekolah setiap hari?"
"Ya... itu karena kebaikan ibu sama bapak, mas."
"Mami sama papi? maksudnya?" tanya Revan semakin tidak mengerti.
"Iya mas, panjang ceritanya." Ningsih mulai melihat cahaya teduh didalam bola mata Revan, berbeda dengan pandangan yang ketika ia baru datang membawa camilan tadi.
"Ketika itu Ningsih pertama kali masuk kerja disini mas, karena Ningsih sedang terjepit dengan keadaan keuangan keluarga kami dikampung."
Tanpa Revan sadari perkataan Ningsih membuatnya tertarik untuk mendengarkannya. Selama ini ia hanya tahu Ningsih adalah pembantu yang mengurus rumah saja.
"Ibu merasa kasihan pada Ningsih ketika mengetahui alasan Ningsih kerja diumur yang seharusnya Ningsih masih menikmati masa-masa sekolah seperti teman-teman yang lain, tapi justru Ningsih harus bekerja demi keluarga."
Ningsih berhenti sejenak dengan menunjukkan senyumnya pada Revan.
"Maka dari itu ibu menganjurkan Ningsih agar tetap sekolah dengan ikut program homeschooling." lanjutnya yang diakhiri dengan senyum.
Revan terdiam. Berkecamuk dalam pikirannya tentang wanita yang sudah merawat dan membesarkan dirinya.
Hening.
__ADS_1
Ningsih memperhatikan lawan bicaranya yang tidak meresponnya sama sekali.
"Bagaimana mas Revan? bisa nganter Ningsih?" tanya Ningsih berharap laki-laki didepannya bisa mengajaknya ke toko buku.
Revan tidak menjawabnya, ia berdiri dari duduknya.
"Mas Revan?" Ningsih menyebut nama Revan.
Revan hanya menolehkan wajahnya sejenak pada Ningsih, menjawab sesukanya tanpa memperdulikan orang didepannya.
"Sorry, aku lagi sibuk." jawab Revan dan berlalu meninggalkan Ningsih sendirian.
Lemas.
Hilang sudah harapan Ningsih yang ingin mengajak anak majikannya itu keluar rumah. Meminta Revan untuk nemaninya ke toko buku hanyalah alasannya saja.
Setidaknya, menurut Ningsih bisa mengembalikan sikap Revan seperti sebelumnya. Namun apalah dayanya jika orang itu tidak menginginkannya.
Revan masuk didalam rumah menuju kamarnya.
Sesampainya didalam kamar ia termenung, teringat kembali dan mencerna kalimat Ningsih yang masih terngiang di telinganya.
"Mas Revan ada waktu senggang gak hari ini?"
"Hm, kenapa memang?"
"Mmm gak sih cuma... Ningsih mau minta tolong temenin nyari buku di toko buku hari ini, karena ada tugas yang harus segera Ningsih selesaikan."
"Tugas? tugas apa maksudnya?"
"Ya... tugas sekolah mas."
"Tugas sekolah? memangnya kamu sekolah?"
"Iya."
"Tapi, sebentar-sebentar."
"Kenapa aku tidak pernah melihat kamu berangkat ke sekolah setiap hari?"
"Ya... itu karena kebaikan ibu sama bapak, mas."
"Mami sama papi? maksudnya?"
"Iya mas, panjang ceritanya."
"Ketika itu Ningsih pertama kali masuk kerja disini mas, karena Ningsih sedang terjepit dengan keadaan keuangan keluarga kami dikampung."
"Ibu merasa kasihan pada Ningsih ketika mengetahui alasan Ningsih kerja diumur yang seharusnya Ningsih masih menikmati masa-masa sekolah seperti teman-teman yang lain, tapi justru Ningsih harus bekerja demi keluarga."
"Maka dari itu ibu menganjurkan Ningsih agar tetap sekolah dengan ikut program homeschooling."
Revan membolak balikkan badannya diatas ranjang.
"Ck, kenapa kepikiran begini? apa urusannya sama aku?"
"Tapi, setidaknya mami dan papi memang orang baik, mereka sudah berbuat baik kepada siapa saja."
"Buktinya mereka peduli dengan masa depan Ningsih. Padahal ia hanya seorang pembantu dirumah ini." Revan berkata sendiri memikirkan keluarga Winata.
Hati dan pikirannya kini mulai kalut dan berontak dengan dirinya. Ia benturkan tubuhnya diatas ranjang yang hanya memantulkan tubuhnya kembali diatas ranjang.
"Kenapa dengan otakku? apa aku sudah tidak waras lagi?" gerutunya berusaha memejamkan matanya.
Tiga puluh menit sudah berlalu, ia masih saja tidak tenang memikirkan masalahnya.
"Hhhhhhhhh."
Revan menghembuskan kasar nafasnya, lalu meraih jaket, topi dan kunci mobilnya yang terletak diatas nakas.
Ia berjalan menuruni tangga dan mencari seseorang di dapur. Namun ia tidak menemukan siapapun disana.
Revan berjalan menyusuri lorong menuju kamar belakang husus kamar pembantu namun tidak menemukan siapapun juga.
"Pada dimana sih orang-orang dirumah, sepi amat." gumamnya.
Revan memutar langkahnya menuju taman bunga yang ia tinggalkan Ningsih tadi.
Dari kejauhan terlihat seseorang yang dicarinya sedang duduk di kursi yang ia tinggalkan. Iapun mempercepat langkahnya mendekati orang itu.
"Ayo buruan ikut sekarang."
Ningsih mengalihkan pandangannya pada orang yang suaranya tiba-tiba saja terdengar dari belakangnya.
Terkejut.
"Hah?"
"Buruan!" seru Revan sambil membalikkan badannya berjalan menuju halaman depan rumah.
Ningsih berdiri masih dengan keterkejutannya.
"Apa mas Revan sudah berubah pikiran ya?"
sambil berjalan ia bertanya-tanya sendiri.
"Terus ke toko buku?" lanjutnya dengan mata berbinar.
"Wah kalau benar begitu berarti... he he he he asyik." Ningsih tidak melanjutkan kalimatnya, matanya membulat karena kegirangan, pikirannya sudah kacau membayangkan suasana berduaan bersama Revan.
"Mimpi apa semalam kamu Ningsih."
__ADS_1
Ia masih bergumam sambil tersenyum dan berjalan mengikuti Revan yang sudah berada didalam mobil.
"Buruan masuk!"
"Ma-mau kemana mas?"
Revan tidak menjawab pertanyaan Ningsih, ia masih menatap dingin Ningsih.
"Ke toko buku?"
"Ck, bawel amat ya kamu Sih. Kalau iya kenapa?"
"Bu-bukan begitu mas, Ningsih mau bilang dulu sama mbok Lastri."
"Udah cepetan masuk. Keburu aku berubah pikiran nanti."
Ningsih hendak masuk didalam mobil Revan dengan membuka pintu belakang, namun suara Revan sudah menggelegar ditelinga nya
"Hei, siapa suruh kamu duduk dibelakang hem? memangnya aku supir kamu?" suara Revan ketika Ningsih membuka pintu belakang.
"Enak aja kayak nyonya besar, duduk depan." mata Revan menatap tajam Ningsih.
Ningsih cemberut menutup kembali pintu mobil dan berjalan ke depan kemudian membuka pintu depan, mau tidak mau ia harus mengikuti perintah laki-laki itu.
"Ya Allah mas galak amat sih, bilang baik-baik napa?" celetuk Ningsih ketika duduk disamping Revan.
Revan tidak menggubris perkataan Ningsih, ia segera melajukan mobilnya menuju tempat yang diminta Ningsih, toko buku.
❄️❄️❄️
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya mereka sampai di makam Azzam.
Winda duduk dipinggiran dan mengikuti bapaknya membacakan doa bersama diatas pusara kakaknya.
Tetesan air mata mulai menembus peraduannya, rasa rindu yang menyimpan kenangan kebersamaan masa kecil mereka menari indah dalam memorinya.
Untaian doa dan bacaan ayat-ayat Al Qur'an terdengar mengalun indah menyejukkan hatinya.
Sepoi angin terasa sejuk menyapu wajahnya.
Setelah beberapa waktu berada dimakam kakaknya ia baru menyadari ada tumpukan rumput yang belum begitu layu didekat kakinya, itu berarti rumputnya belum lama dicabut oleh seseorang. Tersemat dalam benaknya yang melakukannya tidak lain adalah penjaga makam, Ia mengerutkan keningnya tidak mengerti mengapa penjaga makam tidak segera membuangnya sekalian.
"Kenapa Win? kamu sudah terasa capek?"
tanya Bu Arini yang tanpa sepengetahuannya telah memperhatikan dirinya sedari tadi.
Winda menggelengkan kepalanya seraya menatap wajah ibunya.
"Tidak Bu."
"Terus kenapa seperti itu?"
Winda mengalihkan wajahnya dan menunjukkan rumput yang masih tertumpuk sedikit segar pada ibunya.
"Ini ada tumpukan rumput yang lumayan banyak Bu."
Bu Arini dan kedua lelaki didekatnya mengikuti pandangan Winda yang menunjuk pada rumput itu.
"Oh, mungkin mang Maman lupa belum membuangnya. Biarin saja nanti kita temui beliau sekalian ngucapin terima kasih karena sudah mengurus makam kakakmu." jawab Bu Arini yang diakhiri dengan senyuman.
Winda mengangguk dan membalas senyuman ibunya.
"Sudah yuk kita pulang, besok-besok kesini lagi." ajak pak Idris pada ketiga orang didekatnya.
Mereka berjalan beriringan dengan Sigit disamping pak Idris dan Winda bersama Bu Arini menuju parkiran dan berpamitan kepada seseorang yang tak lain adalah mang Maman.
"Kami pamit dulu ya mang." pamit pak Idris pada laki-laki yang sudah terlihat sedikit tua itu.
"Iya pak."
"Terimakasih kasih sudah merawat makam putra kami dengan baik mang, lama kami tidak kesini jadi kemungkinan rumput liar sudah meninggi kalau tidak diurus mang Maman. Dan sepertinya kemarin mang Maman baru saja membersihkannya jadi sekali lagi kami sangat berterimakasih mang." ucap pak Idris.
Mang Maman bingung dengan kalimat laki-laki didepannya, ia pun mengerti maksud dari ucapan pak Idris dan tersenyum padanya.
"Iya pak sama-sama, tapi... masalah yang membersihkan rumput itu sebenarnya kemarin bukan saya melainkan dibersihkan oleh nak Aldi pak." jawab mang Maman jujur.
Pak Idris dan ketiga orang yang berada disampingnya terkejut mendengar jawaban mang Maman.
"Apa? nak Aldi?" tanya pak Idris ragu.
"Iya pak. Bahkan ia sering kemari, hampir setiap bulan malah. Tapi kemarin cukup lama ia tidak kesini, yah sekitar enam bulanan sepertinya. Baru kemari kemarin sore itu" jawab mang Maman lagi menjelaskan pada pak Idris.
Bu Arini dan Winda terkejut mendengar penjelasan mang Maman.
Winda tidak berkedip memperhatikan laki-laki itu berbicara. Hatinya terasa senang mendengar nama Aldi disebut penunggu makam kakaknya, itu berarti ada kemungkinan bisa bertemu kembali dengan sahabat terbaik kakaknya yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri sama seperti mas Azzamnya.
"Mas Aldi...? benarkah kamu masih mengingat kami? tapi mengapa kamu tidak pernah mengunjungi kami? apa kamu sudah lupa padaku? bidadari kecilmu ini mas? mas Aldi... aku sangat merindukan mas Azzam dan dirimu... mas Aldi aku ada disini..." suara rintihan hati Winda, tidak terasa air matanya kembali meleleh di pipinya.
"Mas Aldi..." lirih Winda.
.
.
.
.
Bersambung 🤗🤗
"Hari yang paling indah adalah hari yang mampu mempertemukan kita kembali dengan orang-orang yang kita sayangi nan jauh dimata."
__ADS_1
Saranghe 💞💞💞