Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 73


__ADS_3

"Azam Alfian Idris. Itulah namanya... satu-satunya saudara kandung yang aku miliki. Kakak yang selalu menjagaku, selalu ada untukku. Dia selalu menenangkan tangisku, menghiburku saat aku bersedih sehingga membuat Winda kecil sangat kehilangan, terpukul dengan kepergiannya."


Winda menundukkan kepalanya mulai menceritakan secuil masa lalunya pada Sigit. Ia menahan sesak dadanya mengenang kakak laki-lakinya, matanya terasa panas membendung air yang siap tumpah dari peraduannya.


Tangan Sigit meraih kedua tangan Winda dan menggenggamnya, berniat memberikan kekuatan pada wanita didepannya.


"Saat itu... aku masih kecil, umurku sekitar lima tahun, masih terlalu kecil untuk mengetahui apa penyebabnya mas Azam meninggal." kalimat Winda terjeda sejenak melihat jemari Sigit terpaut dijemari tangannya.


"Seingatku... mas Azam dibawa ambulans ke rumah sakit, ibu menangis tersedu-sedu memegangi mas Azam diatas brankar dalam ambulans itu. Melihat tangisan ibu membuatku ikut menangis dalam pangkuan bapak, bapak mendekapku, menenangkan tangisanku. Hingga mobil putih itu sampai dirumah sakit, dokter dan beberapa perawat segera membawanya di UGD. Beberapa saat setelah diperiksa keluarlah seorang dokter perempuan memanggil ibu dan dan bapak dengan aku dalam gendongan bapak, mereka menanyakan keadaan mas Azam yang dijawab oleh dokter itu jika mas Azam terkena kanker stadium akhir. Katanya sangat kecil kemungkinan mas Azam untuk sembuh."


"Selama mas Azam dirumah sakit, aku menjadi gadis yang pendiam dan selalu murung, hingga ketika mas Aldi sahabat mas Azam mengetahui kabar tentang mas Azam dia menghawatirkan aku dia segera mencariku ditaman bersama bapak, dia menghiburku, mengajakku bermain, menanyakan semua keinginanku dan tidak segan menurutinya, hanya satu permintaanku yang dia bilang tidak bisa mewujudkannya, yaitu mengembalikan mas Azam padaku, dia bilang hanya doa-doa Winda yang bisa membantu kondisi mas Azam.... hiks.... hiks...hiks... hingga... hiks... hiks... hiks... pagi harinya mas Azam sudah tidak bergerak lagi... dia sudah meninggalkan kami selamanya.... meninggalkan Winda sendirian... hiks... hiks... hiks..."


Winda terisak tidak kuat melanjutkan kalimatnya lagi, kristal bening kini berubah seperti air hujan semakin deras mengalir dipipinya tidak sanggup mengingat sang kakak saat itu.


Sigit berdiri mendekap wajah istrinya didada bidangnya, ia membelai kepala Winda lembut.


"Winda... sayang... kamu harus kuat. Kamu harus sabar. Apa yang dikatakan mas Aldimu memang benar. Hanya doamu yang dibutuhkan mas Azam sekarang, dia sudah bersama dengan Sang pemilik nyawa. Selalu doakanlah dia."


hati Sigit teriris mendengar kisah masa kecil istrinya, ia merasakan perasaan Winda saat itu.


Sigit menumpu kedua lututnya diatas pasir duduk didepan Winda, kedua tangannya menyapu air mata Winda dan mengecup pucuk kepalanya.


"Sayang... tetaplah jadi bintang dilangit yang tidak lelah memancarkan cahayanya, walaupun ia tertutup awan mendung dimalam hari, namun awan itu lambat laun akan pergi dengan sendirinya karena sapuan angin. Kamu pasti bisa seperti bintang itu bidadari ku... cup."


Winda menatap manik hitam Sigit, ia merasakan kenyamanan dari perhatian suaminya, ia seperti bertemu dengan teman masa kecilnya ketika menatap bola mata Sigit dan senyumannya sekilas.


"Mas bintang... aku seperti melihat bola matamu didepannku... senyuman itu... aku merindukanmu..."


"Abang..." kedua tangan Winda memeluk Sigit yang masih duduk berjongkok didepannya.


"Sudah sudah... jangan lama-lama sedihnya, dikira orang Abang sedang memutus pacarnya. Tuh lihat, mereka sedang melihat kita..."


"Abang bisa aja."


Sigit melepaskan pelukan Winda dan kembali duduk di kursinya, sedangkan Winda membersihkan sisa-sisa air matanya.


"Kalau mas Aldi sekarang dimana..."


tanya Sigit mencairkan suasana.


Mendengar pertanyaan Sigit, Winda hanya menggelengkan kepalanya.


"Winda tidak tau dimana dia sekarang."


"Kok gitu tidak tau? memangnya kemana dia?"


"Setelah mas Azam meninggal dia selalu menemani aku, tapi... tidak lama setelah itu dia tidak pernah datang ke rumah lagi, kata tetangganya waktu itu dia dan ibunya sudah pindah, mereka cuma tinggal berdua dengan ibunya karena ayahnya sudah meninggal. Entah dimana pindahnya, karena tidak lama setelah itu bapak mengajak ibu pindah dari desa terpencil itu juga. Padahal mas Aldi sudah berjanji padaku akan selalu menjagaku dan akan selalu ada untukku. Tapi seenaknya dia pergi begitu saja tanpa pamit padaku. Hhhh... andai suatu hari nanti aku bertemu dengannya, pasti akan aku tagih janjinya itu."


Winda menghembuskan nafasnya dengan mengangkat sebelah alisnya, membuat Sigit terheran dengan keinginan Winda.


"Terus? Abang sebagai suami fungsinya apa?"


Sigit bertanya keheranan mengerutkan keningnya menatap Winda.


Winda tidak menyadari ucapannya jika akan membuat Sigit tersinggung. Ia menjadi bingung dengan kata-katanya sendiri, seperti orang ketangkap basah.


"Hm? aku bilang apa tadi bang?"


"Iya... nanti kalau suatu hari kamu sudah bertemu dengan Aldi kamu akan menyuruhnya selalu menjagamu dan... selalu ada untukmu. Terus? Abang gimana?"


"Ya Allah bang... Abang cemburu? sama orang yang gak jelas siapa, dimana dia sekarang? hm? ha-ha-ha."


Sigit semakin bingung dengan jawaban Winda yang justru menertawakannya seperti orang bodoh.

__ADS_1


"Abang kan suami Winda, jadi abang akan selalu bersama dalam hati Winda, akan bersama hidup Winda. Abang adalah jantungnya Winda." lanjut Winda seraya meletakkan tangan Sigit di dadanya.


Kedua bola mata meraka saling beradu mencari kebenaran hati mereka dari sorot matanya. Sigit berjalan mendekati Winda dan mengangkat bahu wanita yang telah berhasil meluluhkan hatinya hingga mereka berdiri berhadapan.


Sigit mendekatkan wajahnya dengan bibirnya nyaris menyatu dengan bibir Winda, tangan kanannya memegang pinggul ramping Winda, namun tangan Winda segera menghadang bibir didepannya dan kepalanya ia tarik kebelakang.


"Sabar bang, ini ditempat umum. Banyak anak dibawah umur disini."


Winda berkelit dari kungkungan suaminya, ia melepaskan pelukan tangan Sigit dari pinggangnya dan berlari menjauhi suaminya sambil menertawakannya.


"Ha ha ha ha..."


"Awas ya kamu..."


Sigit berlari mengejar Winda dipinggir pantai, kaki mereka tidak peduli basah air laut yang mulai pasang menciprat dibaju mereka.


"Kejar Winda bang.... ha ha ha ha..."


"Dasar bocah nakal ya..."


"Winda tidak bocah bang.... Winda udah punya suami... ha ha ha..."


Sigit masih mengejar Winda yang setiap kali akan tertangkap olehnya, selalu saja Winda pandai mengelabuhi dirinya dengan membalikkan badan disisi yang berbeda, membuat Sigit mencari ide agar terbalas rasa capeknya dengan memeluk tubuh istrinya.


"Abang capek sayang, Abang balik duluan ya..."


Sigit membalikkan badannya menuju tempatnya semula seolah tidak peduli dengan Winda.


Winda mengejar Sigit dengan memanggil- manggil namanya.


"Abang. Jangan balik dulu tangkap Winda dulu, baru pulang bang."


"Abang."


"Bodok, Abang udah capek."


"Ih Abang.... gak seru ah Abang... gak romantis."


Brugh...


Tanpa Winda sadari ternyata ketika ia memanggil Sigit, langkah suaminya sudah pelan dan segera berbalik arah langsung memeluk tubuhnya yang tidak siap menerima pelukan Sigit secara tiba-tiba.


Mereka terjatuh diatas pasir yang basah oleh deburan ombak dan berguling-guling diatasnya, Sigit menindih tubuh Winda dibawahnya, bibirnya mengecup bibir tipis Winda dibawahnya. Lalu tersenyum bangga keinginannya telah terwujud.


Cup


"Sudah kena, sekarang kita pulang oke."


"Abaaaang...."


Winda kesal dengan ulah Sigit yang sudah mengecohnya. Ia bergegas duduk dan mendorong tubuh suaminya.


"Abang ih... gak seru ah..."


sungut Winda yang justru mengundang tawa Sigit.


"Ha ha ha... justru ini seru sayang... kita pacaran. Kita belum pernah pacaran seperti ini..."


Sigit menimpali kalimat Winda seraya mengulurkan tangannya pada Winda agar berdiri seperti dirinya yang sudah berdiri.


Winda tersenyum setelah membenarkan kalimat suaminya jika mereka memang belum pernah pacaran sebelumnya, ia meraih uluran tangan Sigit dan berdiri disampingnya.


Cup

__ADS_1


Sekali lagi Sigit mencium pipinya sambil berjalan merangkul pundaknya


"Abang ih..."


"Asyik tau sayang.... seru... pacaran dengan istrinya sendiri. Halal lagi."


"Tidak gitu juga kali bang... lihat-lihat tempatnya kaliiii..."


"Itu? coba lihat. Mereka ngapain coba? pacaran kan?" Sigit menunjuk dengan dagunya pada orang yang dimaksud. Winda menganggukkan kepalanya setelah melihat beberapa pasang muda mudi disekitarnya. "Yah sama kan... malah mending Abang dapat pahala."


Winda tersenyum sambil melirik suaminya yang benar-benar bisa membuat perasaannya kembali menghangat.


"Bang. Tau gak? mata Abang mengingatkan Winda dengan mas bintang, laki-laki hebat yang selalu datang ketika Winda sendirian."


"Kenapa?"


"Mata yang indah."


"Sudah tidak usah dibahas, Abang tidak mau disamakan dengan orang lain. Abang ya Abang bukan si A, B, C, D bahkan Z." Winda terdiam mendengar argumen suaminya.


Mereka berjalan dengan tangan Sigit merangkul pundak Winda dan begitupun dengan Winda, kedua tangannya memeluk perut Sigit.


"Abang."


"Hm."


"Terimakasih ya..."


"Untuk apa?"


"Untuk hari ini sudah membuat Winda seneng."


"Itu doang?"


"Hm."


"Tidak ada yang lain nih?"


"Emmm. Nanti malem deh bonusnya."


"Udah mulai genit ya istri Abang..."


"Biasa aja."


Ha ha ha ha


Mereka tertawa meninggalkan jejak langkahnya dipinggir pantai yang hilang seketika tersapu oleh riak ombak, sama seperti kesedihan dan kekalutan hati mereka sebelum mendatangi pantai itu, hati yang carut marut persoalan pekerjaan dan masa lalunya mampu hilang secara perlahan dengan perhatian dan saling memahami keadaan satu sama lain dengan pasangannya.


Winda bersandar mesra didada Sigit melangkah bersama menuju mobil mereka.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


Mana nih support nya untuk Abang Igit dan Winda...


ayo dukung terus mereka ya akak2ku ...

__ADS_1


Saranghe....💞💞


__ADS_2