
Winda terbangun dari tidurnya, dia tertidur setelah seharian menemani Sigit didalam kamarnya hingga dia tertidur di sofa.
Winda mengerjapkan matanya merasakan sesuatu yang memeluk perutnya dengan hembusan nafas hangat menerpa ceruk lehernya, dia terheran mendapati dirinya sudah berada di atas ranjang dengan kerudung sudah terlepas dari kepalanya setelah mengingat-ingat dirinya yang berada di sofa sebelumnya.
Winda membalikkan tubuhnya menghadap Sigit, lalu memandang wajah teduh Sigit yang masih tertidur, terlihat sangat kelelahan, dia tersenyum memperhatikan wajah Sigit.
Tangannya meraih lengan kekar yang berada diperutnya, perlahan-lahan dia mengangkatnya berniat memindahkan tangan itu, namun bukannya terpindahkan lengan itu dari perutnya justru semakin mengeratkan pelukan dari dirinya, membuat kedua hidung mereka saling berhadapan, kedua bola mata Winda membulat memperhatikan kedua mata Sigit yang masih terpejam.
"Jangan coba-coba melepaskan pelukanku Win, aku sangat merindukan suasana seperti ini bersamamu. Tetaplah disini jangan kemana-mana." kata Sigit lirih tanpa membuka matanya.
Winda terkejut mendapati Sigit yang ternyata sudah menyadari tingkahnya yang akan mengangkat tangan Sigit dari perutnya.
"Git, apa yang kamu lakukan? aku tidak mengerti kenapa aku bisa di ranjang ini, bukannya tadi aku duduk di sofa menyelesaikan pekerjaanku. Kenapa sekarang aku berada disini?" jawab Winda sambil menatap wajah Sigit didepannya.
"Dan jilbabku, pasti kamu yang melepasnya kan? kenapa kamu lepas Git?" lanjut Winda penasaran.
"Hm, kan sudah aku bilang tadi Win, kalau aku merindukan suasana seperti ini?"
Winda tidak dapat bergerak karena tangan Sigit kembali memeluknya dengan cepat dan kedua kakinya telah terkunci dengan kaki Sigit, Winda melihat bibir Sigit yang bergerak mengatakan sesuatu yang membuatnya tidak percaya, dia merasa apa yang dikatakan Sigit padanya barusan sudah sering mereka lakukan berpelukan seperti ini. Mata Sigit menatap Manik hitam Winda yang memperhatikan dirinya.
"Jangan bilang kalau kamu sudah..."
"Hm. kita sudah menikah Win, jadi wajar kalau kita sering melakukannya."
"Maksudku kalau kita sudah..."
"Cupp, sudah apa hm?"
Pipi Winda merona karena kecupan Sigit dibibirnya lewat begitu saja seperti sudah terbiasa melakukannya, matanya semakin membulat sempurna.
Mereka saling pandang tanpa berkedip, jari telunjuk Sigit mendarat diujung hidung Winda, membelainya dengan lembut lalu beralih ke bibir tipis Winda.
"Maksud kamu melakukan olahraga seperti sepasang pengantin baru hm?" ucap Sigit sambil tersenyum.
"Perhatikan ini." lanjut Sigit lirih pada Winda dengan mengarahkan bibirnya dibibir istrinya.
Winda berontak dengan sikap Sigit, tangannya mendorong dada bidang didepannya dengan pukulan-pukulan kecil, namun Sigit tidak menghiraukan pukulan Winda, tangannya menggenggam tangan Winda dan menindihnya.
Perlahan Sigit mengulum bibir tipis Winda dengan lembut, memberikan rasa nyaman pada istrinya yang sudah mulai menikmati permainannya, semakin lama semakin dalam Sigit menghisap bibir Winda dengan sesekali Winda mengatur nafasnya disela-sela hisapan Sigit.
Winda merasakan lum**an bibir Sigit sudah tidak asing lagi, dia merasa pernah diperlakukan seperti itu oleh Sigit. Winda terdiam tidak membalas hisapan Sigit membuat Sigit terdiam sambil menatap wajah istrinya.
"Hei, kenapa berhenti?" tanya Sigit menghentikan kegiatannya menatap wajah istrinya.
"Aku... tidak mengerti kenapa aku sepertinya sudah terbiasa dengan sikap kamu yang seperti ini." jawab Winda sambil menatap bibir Sigit.
"Kita memang sudah terbiasa seperti ini Win... bahkan lebih dari ini." ucap Sigit mencoba membuat istrinya yakin.
__ADS_1
"Lebih?"
"Hm."
"Tapi aku tidak percaya. Aku belum bisa mengingatnya Git."
"Aku akan membantumu dengan caraku, agar kamu dapat merasakannya"
ucap Sigit terjeda.
Winda melihat ada tekad keseriusan didalam mata Sigit.
"Karena aku tau betul jika saat ini kamu hanya dapat merasakan apa yang sudah pernah kita lakukan bersama walaupun kamu belum mengingatnya. Asal kamu tau hanya ada namamu didalam hatiku Win." lanjut Sigit yang langsung di sahut oleh Winda.
"Masak? pinter gombal ya ternyata kamu." kata Winda sambil menggeser tubuhnya dari kungkungan Sigit.
"maksud kamu?"
"Ya paling tidak sudah ada berapa wanita yang kamu jadikan korban dari kata picisanmu selama ini hm?"
Sigit melepaskan Winda sambil mengerutkan keningnya melihat tingkah Winda yang mengintrogasi dirinya seakan ada yang disembunyikannya.
Winda membenarkan letak duduknya ditepi ranjang.
"Hm. Aku sudah tau Git seperti apa gadis idaman mu, yang pasti jauh lebih sempurna dibandingkan aku." ucap Winda tersenyum kearah Sigit.
"Maksudnya apa lagi Win?" Sigit terheran dengan ucapan Winda.
"Emm... aku tau Git, tadi pagi secara tidak sengaja aku melihat semua vidio rekamanmu, kalian sangat serasi." ucap Winda ahirnya lolos keluar dari mulutnya pada orang di depannya.
Sigit tersenyum setelah mengetahui maksud perkataan Winda, dia teringat videonya ketika masih tinggal di Belanda beberapa tahun yang lalu. Sigit merasa Winda telah terbakar api cemburu dengan tingkah Camelia di rekaman videonya.
"Winda... Winda, unik sekali dirimu, semakin menarik kepribadian mu." pikir Sigit.
"Hm? kamu sungguh melihatnya seperti itu?" kata Sigit sambil melirikan kedua ekor matanya kepada Winda dengan kedua alis terangkat dan mencebikkan bibirnya yang di angguki oleh Winda.
"Hm, tentu semua orang yang melihatnya akan sama komentarnya seperti itu."
"Begitu ya... syukur deh kalau kamu sudah tau, yang pasti wanita ku sangat luar biasa, tidak ada yang bisa membandingi dirinya dalam hatiku."
Sigit beranjak dari ranjangnya setelah melihat Winda yang bersikap cuek lalu melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 4 sore dan berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Winda yang terdiam melihatnya berlalu.
"Hampir saja aku percaya dengan kata-kata dan sikapmu Git, tapi aku lebih bersyukur jika kamu sudah mengakuinya sebelum aku terlanjur jauh menghayal hidup bersamamu." pikir Winda dalam benaknya dengan memperhatikan langkah Sigit hingga tak terlihat dari balik pintu kamar mandi.
Winda tersenyum seraya menertawakan dirinya sendiri setelah mengingat jawaban dari Sigit barusan.
Winda mengikat rambutnya kembali lalu merapikan seprai dan bed cover diatas ranjangnya.
__ADS_1
Sigit keluar dari kamar mandi dengan menggunakan celana bokser seperti biasa dengan bertelanjang dada dan handuk ditangannya terlihat lebih segar tubuhnya setelah mandi, dia berhenti didepan Winda yang masih merapikan ranjangnya.
"Win, jalan-jalan yuk"
"Hm? jalan-jalan? kemana?"
"Ya jalan-jalan keluarlah, mau kan?"
"Bukannya kamu masih capek baru dateng tadi pagi? mending di rumah aja Git."
"Seharian kan sudah tiduran, lumayan lah untuk mengembalikan stamina."
"Tapi aku mau pulang ke kontrakan."
"Pulang ke kontrakan teratai indah?"
"Hm, sesuai permintaan mu sebelum kamu berangkat ke Bandung, aku disini selama kamu di Bandung, kamu kan sudah datang sekarang jadi aku akan kembali lagi ke kontrakan."
"Ya sudah sekalian kita keluar biar aku anter, sekarang cepatlah mandi dan shalat ashar berjamaah, aku tunggu."
Winda beranjak dari atas ranjang yang sudah selesai merapikannya kembali, lalu berlalu menuju kamar mandi dengan membawa baju ganti yang baru diambilnya dari lemari.
Sementara Sigit tersenyum sendiri setelah berpikir menyusun rencana menggoda Winda yang sangat dia rindukan selama beberapa hari dia di Bandung.
Segera Sigit menghamparkan dua sajadah disamping ranjangnya sambil menunggu Winda yang masih dikamar mandi.
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
Selamat hari raya idul Fitri Minal Aidin Wal Faizin mohon maaf lahir dan batin. 🙏
Taqaballahu minni wa minkum shiyamana washiyamakum... 🤲
Bagi akak2ku yang merayakannya.
Semoga sehat selalu...
ayo ramaikan lagi like n koment nya ya...
saranghe...💞💞
__ADS_1