Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 14


__ADS_3

Mobil Sigit sudah masuk area perumahan teratai indah, yaitu diarea rumah kontrakan Winda selama tiga tahun ini dia tempati, Winda tidak menyangka kalau suaminya mengantarnya kekontrakan.


"Hm, Ternyata mau kekontrakan, kirain mau ngajak kemana... "


pikir Winda tidak menyangka suaminya mau mengantar dirinya pulang kekontrakannya.


"Bener kan? disini kontrakan lu? "


"Hm."


"No berapa? "


"17b."


mobil Sigit melaju pelan melintasi perumahan minimalis teratai indah, dia membaca setiap nomer rumah yang ada didepan gerbang.


"20a, 19b, 20b, 19a, 18a, 17a,18b, 17b Nah udah sampai."


Sigit mengerem mobilnya didepan gerbang bernomor yang disebutkan Winda, mereka turun dari mobil lalu berjalan beriringan menuju gerbang.


Halaman depan terdapat parkiran mobil dan taman kecil yang dipenuhi beraneka tanaman bunga dan kursi besi panjang dibawah bunga melati yang saling terkait.


Winda membuka gerbang melintasi taman kecil didepannya dan parkiran kecil yang hanya berkapasitas sebuah mobil saja.


Mereka sudah berada didepan pintu, lalu Winda membuka kunci pintu rumahnya. Sigit mengedarkan pandangan disekitar perumahan.


Langkah kaki Sigit mengikuti langkah kecil Winda didepannya.


Gelap tidak ada sorot cahaya lampu dari dalam rumah ketika tangan Winda membuka daun pintu kontrakannya.


"Assalamualaina wa ala ibadillahishshalihin." suara Winda yang didengar Sigit ketika melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


"Lu tinggal sendirian? " tanya Sigit, matanya memperhatikan tangan Winda memencet skakel lampu ruang tamu.


"Hmm." jawab Winda berlalu menuju ruang dapur dan menaiki tangga lantai dua, Sigit duduk disofa dengan pandangan kearah istrinya yang menaiki tangga.


Rumah terlihat terang dengan adanya pancaran lampu yang sudah menyala. Sigit melihat sekeliling ruang tamu.


Winda berjalan menuruni tangga menuju dapur, dia melihat kearah Sigit yang masih memperhatikan rumah kontrakan minimalisnya yang sederhana.


Samar-samar terdengar suara adzan maghrib berkumandang diantara rintik hujan yang masih turun, setelah beberapa saat didapur Winda berjalan ke ruang tamu dengan membawa sebuah nampan ditangannya.


"Git! shalat dulu! sekalian nunggu tehnya agak dingin "


ucap Winda membuyarkan pandangan Sigit lalu meletakan dua cangkir teh panas yang masih mengepul diatas meja.


"Hm." jawab Sigit beranjak dari duduknya.


"Sebelah situ kamar mandinya."


Winda menunjuk kamar mandi yang terletak disamping dapur, setelah memberi tau suaminya Winda membuka pintu ruang kosong yang terletak didepan ruang tamu, dia membersihkan lantai yang sudah berdebu, setelah beberapa hari tidak berpenghuni.


"Shalatnya dimana? " kata Sigit sudah didepan pintu kamar kosong.


"Disini! aku biasanya shalat disini, sekalian kalau kecapekan kadang ketiduran disini." kata Winda sambil menunjuk sajadah yang sudah disiapkan untuk Sigit, lalu merebahkan dirinya diatas ranjang.

__ADS_1


Melihat istrinya rebahan Sigit menajamkan sorot matanya.


"Buruan shalat! "


Mendengar perintah suaminya, Winda bergegas berdiri meninggalkan Sigit sendirian. dan berlalu kekamar mandi.


Setelah selesai menghadap Sang Pencipta, Winda kembali merapikan perangkat shalatnya, Winda berdiri menghadap ranjang dia tertegun mendapati suaminya masih duduk diatas ranjang, memperhatikan ruang serbaguna miliknya.


"Kok masih disini? "


"Hm. gue masih penasaran aja sama lu."


"Penasaran? penasaran apa memangnya? "


"Lu sendirian dirumah ini, apa tidak ada perasaan takut gitu? "


"Ya... gimana lagi, awalnya takut si, tapi karena aku nyaman disini, lagian kan cuma malam aja aku disini. kalau siang, udah keaktivitas rutin lagi." jawab Winda berlalu menuju ruang tamu. Sigit mengikutinya dari belakang.


"Tehnya diminum dulu keburu dingin nanti." kata Winda setelah mereka duduk disofa.


Mereka menyeruput tehnya yang sudah hangat, Sigit menikmati teh buatan istrinya disaat hujan turun semakin deras diluar.


Setelah meminum tehnya tubuh Sigit terasa hangat, kemudian dia meletakkan cangkirnya diatas meja lagi.


Winda menoleh kearah pintu gerbang ketika terdengar suara gerbang terbuka.


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum..." terdengar suara orang laki-laki uluk salam dari luar, Sigit dan Winda saling pandang lalu melihat kearah pintu.


"Siapa? malam-malam begini ada tamu." Winda hanya mengedikkan kedua tangannya sebagai jawaban tidak tahu.


Sigit terheran, mengingat istrinya tadi bilang kalau dia hanya tinggal sendirian, dan kini ada tamu laki-laki dirumahnya.


"Coba saya lihat dulu siapa yang datang." Winda bergegas berdiri dan berjalan kearah pintu.


Ceklekk


"Waalaikumsalam" Winda membuka pintu dan melihat laki-laki didepannya.


"Mas Faisal? "


Winda terkejut tidak menyangka jika laki-laki didepannya akan datang dirumahnya disaat ada Sigit dirumahnya.


Sigit mengerutkan keningnya, mendengar Winda memanggil nama seseorang.


"Ada apa ya mas malam-malam begini kesini? "


"Tidak dipersilahkan masuk dulu nih?" ada senyum dibibir Faisal setelah mendapatkan Winda dirumahnya.


Winda perfikir sejenak menimbang perkataan Faisal barusan, merasa tidak sendirian dirumah karena ada Sigit didalam, Winda pun mempersilahkan tamunya masuk.

__ADS_1


"Oh iya silahkan masuk mas !"


Winda berjalan mendekati sofa disamping suaminya, yang diikuti Faisal.


Mata Sigit memperhatikan laki-laki berperawakan tinggi, sintal dan sepadan dengan tubuhnya, berkulit putih berhidung mancung, mata sipit dan berkaca mata, yang berjalan dibelakang istrinya dengan rambut dan kemeja sedikit basah karena guyuran hujan diluar.


Faisal menjabat tangan Sigit diiringi senyum tulus dibibir Faisal, membuat suasana panas seketika menjalar dihati Sigit.


Winda beranjak kedapur membuat minuman meninggalkan mereka berdua diruang tamu, hening, sesekali Winda melirik mereka belum ada suara yang terdengar. Faisal meletakkan bungkusan plastik putih yang dibawanya diatas meja.


Setelah selesai membuat minuman dari dapur, Winda kembali ke ruang tamu dengan secangkir teh diatas nampan.


"Silahkan diminum mas! "


Winda meletakkan secangkir teh diatas meja yang disambut senyum dari Faisal.


"Terimakasih."


Tangan Faisal menggeser bungkusan plastik putih didepan Winda dan Sigit.


"Apa ini mas? "


tanya Winda menoleh kearah Faisal dengan mata berbinar-binar, mata Sigit memperhatikan wajah Winda yang berseri-seri kegirangan ketika membuka kardus pipih didalam plastik putih pemberian Faisal.


Sigit merasa mereka sudah saling mengenal lama kalau melihat dari keakraban mereka didepannya.


"Waah, Pitzza! tau aja mas Faisal hujan-hujan begini bawa makanan yang anget-anget!"


kata Winda dengan mengambil sepotong pitzza ditangannya dari kardus yang sudah dia buka sendiri, dia tidak menyadari ada sepasang mata masih memperhatikan gerakannya.


Faisal mengambil sepotong pitzza dan mengunyahnya.


"Silahkan dimakan! "


Faisal mempersilahkan Sigit yang masih terdiam. Winda mengambilkan sepotong lagi ditangannya lalu mendekatkan ditangan Sigit.


"Ayo Git dimakan mumpung masih anget! "


melihat suaminya masih diam, Winda mendekatkan pitzza ditangannya kemulut Sigit.


"Tidak. gue masih kenyang tadi sudah makan di kafe." Sigit menolak suapan Winda.Windapun langsung memasukkan pitzza bagian suaminya kedalam mulutnya. pandangannya beralih kearah Faisal.


"Mas Faisal dari mana? ini kan hari minggu? "


"Tadi sebenarnya mas tidak sengaja lewat sini, setelah dari bandung mas mampir ke hot pitzza, sekalian lewat sini ternyata ada mobil didepan rumahmu. ya mas mampir sekalian."


jawab Faisal menanggapi pertanyaan Winda dengan pitzza masih dalam kunyahannya.


Sigit masih terdiam dalam seribu pertanyaan tentang siapa Faisal, laki-laki didepannya yang asik mengobrol dengan istrinya.


Pada awalnya Sigit berniat segera pulang setelah jam delapan nanti, namun baru selesai shalat maghrib ada tamu laki-laki yang belum dia kenal dan dia melihat ada keakraban diantara mereka, ahirnya dia mengurungkan niatan pulangnya,? berharap berharap laki-laki itu segera pulang.


"Siapa sebenarnya Faisal? kenapa mereka kelihatan begitu akrab? kalau gue pulang sekarang, itu akan mebuatku hawatir. kalau sampai terjadi sesuatu pada Winda, tentu gue yang akan disalahin papi sama mami, tidak tidak. gue harus tetap disini menunggu sampai Faisal pulang."


Kata Sigit dalam hati kecilnya, dia masih terdiam dalam kegelisahannya. matanya masih memperhatikan istrinya dan faisal berbincang-bincang.

__ADS_1


ayo mana semangatnya untuk author ya...


love you all 💖


__ADS_2