Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 136


__ADS_3

Bu Arini terkesiap melihat wajah lebam Renaldi, mulutnya seakan menyebut nama seseorang. Begitu juga dengan pak Idris terpaku melihat wajah Renaldi, keningnya berkerut, tubuh mereka perlahan-lahan terasa kaku, membuat semua orang terheran menyaksikan mereka.


"Ibu... bapak..."


"Aldi... Azam..." lirih Bu Arini nyaris tak terdengar, hanya terlihat bibir saja yang bergerak.


Perlahan tanpa ia sadari, kakinya mulai melangkah kecil seakan terhipnotis dengan wajah pemuda didepannya.


"Aku melihat kalian disini..."lanjutnya, langkahnya semakin mendekati Renaldi, tangannya terangkat terlihat ingin memegang wajah pemuda itu.


"Kamu disini nak..." matanya mulai berkaca-kaca, teringat masa kecil anaknya.


Sigit mengerutkan keningnya tidak mengerti, semua orang pun terheran melihat adegan yang mengharukan itu.


"Wajahmu persis Aldi anakku nak..." Bu Arini meraba wajah lebam itu. "Sahabat Azam anakku." lirihnya seperti orang linglung sehingga lupa dengan tujuan utamanya datang ke tempat itu.


Tangan Renaldi menyahut telapak tangan wanita setengah baya dihadapannya, bertubi-tubi ia mengecup tangan itu dengan berderaian air mata.


"Ibu... ini Aldi bu... hiks hiks... ini benar Aldi... ibu benar, ibu tidak salah mengenali Aldi anak ibu..." Renaldi mendekap tubuh wanita itu, kepalanya bersandar pada perut wanita yang dia sebut sebagai ibu.


Bu Arini tidak berkedip terpaku menatap dinding didepannya, tangannya mengelus rambut Renaldi.


"Benarkah? benarkah ini Aldi anakku? aku tidak sedang bermimpi kan?" ucap wanita itu mengalihkan pandangannya pada suaminya yang sudah berada di sampingnya turut bersedih, air mata terlihat menyembul walaupun terlihat disembunyikan.


"Benar Bu. Dia Aldi." suara pak Idris terdengar parau, dadanya sesak menahan tangis haru.


Sigit seperti orang bodoh, perlahan langkahnya mundur seakan tidak percaya dengan adegan didepannya.


"Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Bagaimana ibu bisa mengenali Renaldi dengan wajah lebam seperti itu? ini apalagi ya Allah..." gumam Sigit lirih. "Berarti... orang yang selama ini dicari keluarga istri ku ada di sekitarku." Sigit terlihat sock. "Renaldi? Aldi? Aldi? Renaldi?" ia mengulang-ulang menyebut nama itu, kepalanya seakan dipenuhi nama Aldi dan Renaldi.


"Kenapa skenario author membingungkan aku seperti ini ya Allah... aku benar-benar seperti orang yang melakukan suting sinetron saja... menyebalkan." lanjut Sigit.


"Ibu."


"Anakku."


"Aldi selama ini sudah mencari kalian kemana-mana Bu, tapi hari ini Allah mempertemukan kita disini."


Aldi masih dalam posisi memeluk pinggang Bu Arini, menikmati kehangatan belaian seorang ibu yang ia rindukan selama ini, sedangkan pak Idris merangkul pundak istrinya dengan tersenyum, kedua matanya berbinar.


"Kami juga mencari mu nak..." pak Idris menimpali perkataan Aldi, ia mengambil alih posisi istrinya dengan mengangkat pundak Aldi, ingin memeluk tubuh gempal pemuda dihadapannya itu.


Mereka beradu pandang sesaat, kemudian mengusap air mata mereka.


"Anakku."


"Bapak."


Kedua lelaki itu pun saling mendekap, menggulung rasa rindu yang lama terpendam.


Tania dan Faisal merasa bingung, tidak tahu apa-apa, mereka saling pandang.


Sementara mami, papi, Bram, Revan dan mbok Lastri terharu sehingga tanpa mereka sadari air matanya merembes melihat ketiga manusia dihadapannya.


Pak Idris melepaskan pelukannya, ia memegang pundak Aldi.


"Kamu disini sedang apa Al?" tanya pak Idris.


Renaldi mengusap air matanya.


"Saya mengantar Sigit dan keluarganya kesini pak."

__ADS_1


Pak Idris terkejut.


"Kamu sudah kenal dengan menantu bapak?"


"Ya pak, saya bekerja di perusahaan cabang WP."


"Sudah lama?"


"Ya, bisa dibilang cukup lama pak."


"Benarkah?"


Renaldi menganggukkan kepalanya.


"Tapi, Winda adikmu juga bekerja disana."


Renaldi mengernyitkan dahinya.


"Apa?"


Pak Idris terbengong melihat reaksi wajah Renaldi saat mengucapkan kata Winda.


"Hm. Iya bener Winda." jawab pak Idris lagi. "Winda adiknya Azam. Dia juga bekerja disana."


"Winda?" Renaldi mengulangi menyebut nama Winda. Sejenak ia terdiam.


"Ya, dia istrinya Sigit." pak Idris mengalihkan pandangannya pada menantunya yang masih terdiam.


Bagaikan robot seketika Renaldi dan Sigit, kedua bola mata mereka beradu pandang saling menatap, mencari kebenaran.


"Kalian sepertinya sudah saling kenal." ucap pak Idris merasa senang.


"Tapi... mengapa tadi ibu liat kalian saling meninju? ada apa?" sahut Bu Arini tidak mengerti.


"Oh... tidak, tidak apa-apa bu, itu tadi Sigit sepertinya cuma salah paham." Renaldi tersenyum, lalu melontarkan perkataan pada Sigit. "Iya kan?"


Sigit masih kaku, belum bisa secepat itu menerima apa yang baru saja terjadi. Bahwa kenyataannya Renaldi adalah Aldi yang sebenarnya.


Revan merasa lega telah menemukan titik temu salah satu ketenangan dalam hubungan kedua saudaranya itu. Kepalanya terasa nyut-nyutan ketika berada ditengah mereka berdua yang saling berbaku hantam selama berdekatan, tidak beda jauh seperti kucing dan tikus yang selalu ribut tidak ada ketenangan sama sekali.


"Syukurlah ya Allah, author telah mempertemukan mereka, sehingga tidak membuat para pembaca tegang dan kesal dengan sikap kedua saudaraku." gumam Revan.


Mami meraih lengan kiri papi seraya tersenyum bahagia melihat pertemuan yang membuat hatinya terharu.


"Oh iya Git, bagaimana keadaan Winda sekarang?" tanya Bu Arini mengalihkan topik pembicaraan.


Sigit masih menata ruang hatinya untuk menerima kenyataan yang baru saja ia saksikan, ia melamun.


"Git?" suara Bu Arini membuyarkan lamunannya.


"Oh iya Bu?"


"Bagaimana keadaan Winda?" Bu Arini mengulang pertanyaannya.


"Tadi sih suster bilang mau membereskan Winda dulu."


Bu Arini dan mami mengerutkan keningnya secara bersamaan, terheran dengan jawaban Sigit.


"Maksudnya?" tanya Bu Arini.


"E... itu maksudnya mau membersihkan Winda dulu." jawab Sigit kebingungan.

__ADS_1


Mami mengerti keadaan putranya, ia pun berjalan mendekati Sigit.


"Sepertinya kalian berdua harus dirawat dulu." ucap mami dengan tersenyum, seraya kedua tangannya meraih tangan Sigit dan Renaldi.


"Dibersihkan sisa darah kalian dan diobati luka kalian. Ayo." mami menarik tangan mereka.


"Bu Arini dan pak Idris, silahkan menemui Winda dulu di ruangannya." kata mami. "Dan kamu Tania, tolong kamu tungguin Renaldi diruang rawatnya, sepertinya lukanya lebih parah dari pada Sigit." lanjut mami seraya membawa keduanya pada ruangan yang berbeda, dimana ruangan yang sudah dipesan sebelumnya.


"Baik mi." Tania mengekor dibelakang mereka.


Revan dan Bram menghela nafas lega setelah melihat semuanya pergi, beban yang mengganjal pikiran Bram sudah berkurang, tinggal satu langkah lagi membuat keluarga Winata tenang lagi.


Ia ingin hubungan antara papinya dan Renaldi harmonis tidak ada kebencian dimata Renaldi lagi.


❄️❄️❄️


Diruang rawat Renaldi.


"Sudah selesai."


Suster sudah selesai membersihkan sisa-sisa darah dan mengobati luka diwajah Renaldi, ia meninggalkan Tania dan Renaldi didalam ruangan itu.


"Kalau boleh saya tebak, sepertinya pak Renaldi habis berantem sama Sigit ya?" tanya Tania setelah Renaldi mengganti bajunya. Mereka duduk diatas ranjang klinik.


"Kenapa fasih banget nyebut nama Sigit?" tanya balik Renaldi menanggapi pertanyaan Tania, tangannya meraba kasa yang tertempel di dahinya. "Kalian sudah saling kenal?"


"Ya, dia temen kuliahku dan Winda juga sahabatku." jawab Tania sambil memainkan jari-jari tangannya. "Kami teman satu kelas dan sangat dekat."


Renaldi merasa tertarik dengan jawaban wanita disampingnya, itu karena menyangkut nama Winda.


"Benarkah?"


"Hm."


Tania bersemangat.


"Sigit dulu dengan Sigit yang sekarang sangat jauh berbeda."


Renaldi membenarkan letak duduknya mencari posisi yang nyaman.


"Laki-laki yang suka sekali meledek Winda dan paling suka jail dengan sahabatku itu ternyata kualat dengan perbuatannya."


"Karena sering menirukan logat bahasa Winda waktu itu akhirnya membuat hati seorang gadis lugu itu kesal dan jengkel padanya, sehingga Winda pun langsung melontarkan sebuah ucapan yang sangat mengejutkan aku waktu itu."


"Lucu dan menarik menurut ku waktu itu, karena baru itu aku lihat seorang Sigit rela berlari dari lantai tujuh sampai basecamp hanya mencari seorang Winda, hanya untuk mencabut kata-katanya, bahkan sampai bersujud dikaki Winda, ha ha ha."


"Bener-bener lucu. Ha ha ha."


Renaldi ikut tersenyum kecil menatap wajah Tania, ia mendengarkan kisah Sigit dan Winda yang memang menurut rabaannya sangat berlawanan dulunya.


"Tapi, sepertinya Sigit sangat menyayangi bidadariku, bahkan dia sangat panik ketika mendengar nama Winda saat gadis ini menelponnya." batin Renaldi.


.


.


. Bersambung 🤗🤗


Sebenarnya pingin sih double up, tapi apalah... ternyata mata ini sudah tidak sanggup jika harus dipaksakan.


Semoga tetap menghibur akak2 semua cerita babang ya...

__ADS_1


Saranghe 💞💞💞


__ADS_2