
Winda samar-samar mendengar pembicaraan papi yang sempat menyebut nama Sigit dan rumah sakit MMC.
Papi sengaja berjalan menjauh dari meja makan keluar rumah masih melanjutkan pembicaraan dengan Gunawan di gawainya yang diikuti mami berjalan disampingnya.
Setelah kepergian papi dan mami, Winda segera menuju kamarnya mengambil kunci motor didalam laci, yang menurutnya milik Sigit.
"Aku harus segera memastikannya di rumah sakit MMC. Ya Allah lindungilah Sigit... semoga tidak kenapa-kenapa." ucap Winda lirih menahan rasa panik setelah mendengar perkataan papi yang sudah menaiki mobilnya.
Setelah mendapatkan kunci motor Sigit didalam laci, Winda berlari kecil menuju garasi yang terletak disamping. Winda memencet tombol pada remote digenggamannya, namun ternyata justru motor gede didepannya yang merespon remotenya.
"Hadehhhh.... masa iya aku naik motor beginian..." nada suara Winda kecewa setelah mendapati motor yang tidak diinginkan.
"Mbak Winda mau kemana? kok mau bawa motor abang?" tanya pak Zain terheran ketika menemukan sumber dari alarm motor Sigit berbunyi.
"Saya mau ke rumah sakit MMC pak Zain, tapi saya butuh motor supaya cepat sampai ke sana."
"Oh... didepan ada motor metik, mbak Winda pakai saja." ucap pak Zain sambil mengulurkan kunci motor padanya.
"Iya pak, saya pakai itu saja sekarang ya." ucap Winda berbinar sambil berlari kedepan mendekati pos penjagaan.
Winda melajukan motornya dengan kecepatan tinggi tidak sabar ingin segera sampai di rumah sakit.
"Maafin Winda Git, selama ini aku tidak tahu apa-apa, belum sempat aku memastikan masalah ini kamu malah di rumah sakit."
Winda bergumam sendiri sambil mengendarai motornya membayangkan kebersamaan mereka beberapa hari bersama sejak di rumah sakit sampai di rumah papi Winata.
"Aku benar-benar menghawatirkan keadaan mu Git, setelah beberapa hari ini tidak melihat mu aku ingin sekali bertemu dengan mu."
Winda masih bergumam.
Tiiiiiiiiiiiiiinnn....
Winda sudah mendekati lokasi rumah sakit, dia tidak memperhatikan jalanan ketika hendak menyeberang memasuki gerbang masuk rumah sakit sehingga hampir saja dia terseret mobil dari belakang jika tidak segera mengerem motornya.
Ciiiiiiiiiiiiiiiiitttt
Winda kaget dengan mobil yang ada didepannya yang sudah terbuka kaca jendelanya.
"Jika masih ingin hidup hati-hatilah mengendarai motornya mbak!" ucap pengendara mobil dengan wajah kesal.
Winda hanya menganggukkan kepalanya.
"Maaf mas." ucap Winda merasa bersalah.
Pengendara mobil itu hanya melihatnya sinis dan kembali melajukan mobilnya dijalan raya.
Winda segera memasuki parkiran mensejajarkan motornya dengan motor yang lain diparkiran motor dan mematikan mesinnya lalu segera mencabut kuncinya dan dimasukkannya ke dalam tasnya.
Winda berjalan memasuki rumah sakit dan menanyakan keberadaan suaminya di bagian informasi, namun perawat tidak menemukan pasien atas nama Sigit Andra Winata setelah berulang kali mengecek nama-nama pasien.
Winda semakin cemas mengingat perkataan papi Winata yang menyebut nama Sigit dan rumah sakit MMC, dia berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit semakin cemas memikirkan Sigit, berkali-kali dia menghubungi nomer Sigit, namun tidak juga diangkat-angkat.
__ADS_1
Winda segera menghubungi nomer papi dan mami namun tidak dapat tersambung, mungkin sudah dalam pertemuan dengan relasi kerjanya, pikir Winda setelah teringat pamit papi ketika dimeja makan tadi pagi.
Sudah hampir satu jam Winda berada dilorong rumah sakit, namun tidak juga dirinya menemukan orang yang dicarinya.
"Sigit... kamu dimana? aku sudah capek menunggumu disini sendirian... aku ingin melihatmu sekali saja itu sudah cukup untuk ku Git..."
Hati Winda saat ini sangat berkabut, entah perasaan apa yang ada dalam hatinya, rindu, sayang, cinta, benci, kasihan, kesal, yang jelas dia hanya ingin Sigit.
"Sigit... aku tidak tau kamu dimana, tapi aku merasa kamu selalu ada bersamaku."
Air bening tidak terasa menetes di pipinya, dia menatap kosong dinding didepannya sambil meremas jari-jari tangannya, tanpa dia sadari ada seseorang yang memperhatikan dirinya dari belakang, kemudian memegang pundaknya.
"Kamu mencari seseorang nona cantik?"
Winda merasakan pundaknya disentuh tangan yang ukurannya lebih besar dari orang yang berada dibelakangnya dengan suara yang tidak asing lagi ditelinga nya, lalu Winda membalikkan badannya ke pemilik suara tersebut.
Alangkah terkejutnya Winda saat mendapati seseorang yang mengenakan kemeja putih dengan lengan tangan dilipat sesiku, kedua bola matanya sempurna membulat melihat kemeja laki-laki itu dibagian dada dan pelipisnya berlumuran darah.
"Sigit? benarkah kamu Sigit?"
Winda terpaku tidak percaya melihat sosok laki-laki yang dia hawatir kan berada didepan nya, sementara Sigit mengangguk menatap Winda dengan sedikit senyum dibibirnya.
"Aku tidak mimpi lagi kan? ini nyata, iya kan Git?" lanjut Winda sambil memegang wajah Sigit dengan air mata masih meleleh di pipinya.
Sigit kembali mengangguk dan membiarkan tangan Winda memegang wajahnya, mata mereka saling beradu seakan melepas rindu.
"Hm. Kamu tidak sedang bermimpi, ini nyata seperti yang kamu lihat sekarang, Ini aku Sigit Andra Winata yang selalu merindukan sosok Winda yang tidak ada duanya di dunia ini."
"Apa kamu juga merindukan aku?" tanya Sigit lirih ditelinga Winda.
Winda mengangguk dengan mengeratkan tangannya dipunggung Sigit, Sigit mengimbangi pelukan istrinya.
Mereka kembali saling menatap satu sama lain setelah cukup lama berpelukan.
"Terimakasih sudah menungguku dan mencemaskan ku." ucap Sigit dengan tersenyum dan membelai lembut pipi kanan Winda.
"Apa yang sebenarnya terjadi? dan kenapa kamu sampai bisa disini?"
Winda memeriksa pelipis Sigit yang keluar darah.
"Darah... darah apa ini Git?" lanjut Winda sambil menatap manik hitam milik Sigit, terheran melihat kemeja Sigit penuh darah, tangannya meraba kemeja bagian dada Sigit.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa dengan ku."
"Tidak apa-apa kamu bilang? terus pelipis dan kemeja kamu banyak darah itu apa?!"
"Oh, ini... ini tidak apa-apa, dan ini bukan darahku Win..."
"Bukan darahmu? lantas darah siapa itu?"
"Hmmmmm.... udah ada rasa hawatir ya hehehe."
__ADS_1
"Ck, siapa juga yang hawatir sama situ, biasa aja kali... jangan GR deh."
"Hmmm... terus yang meluk sampai aku sesak napas tadi siapa?"
"Aissssh, udah ah aku berangkat kerja aja sekarang."
"Eitttt, siapa yang izinin kamu berangkat ke kantor Winda?, bukannya tadi berharap kita bisa bertemu lagi?" ucap Sigit menarik lengan Winda yang sudah membalikkan badan akan berjalan meninggalkannya.
Winda menghentikan langkahnya karena tangan Sigit menarik tangannya dengan kuat, sehingga membuat dirinya kembali dalam pelukan Sigit dengan mata mereka saling beradu.
"Kita pulang ke rumah sekarang yuk, nanti aku ceritakan kalau sudah di rumah, panjang ceritanya kenapa aku sampai disini." ucap Sigit menggenggam tangan Winda yang terpaku menatap wajah Sigit.
"Sudah yuk kita pulang saja, lihat penampilanku mengundang perhatian banyak orang." ajak Sigit dengan menggandeng tangan Winda berjalan keluar pintu rumah sakit menuju parkiran.
Begitu sampai diparkiran Sigit terlihat seperti mencari sesuatu disekitar parkiran.
"Em, Win kita tunggu disini dulu ya, sebentar lagi taksi onlinenya sampai."
"Tidak usah naik taksi Git, aku tadi kesini sebenarnya pakai motornya pak Zain."
"Apa? kamu pakai motor sendiri kesini?"
"Hm, kenapa?"
"Ceroboh kamu, besok lagi jangan diulangi naik motor sendiri, berbahaya untuk mu."
kata Sigit cemas mendengar ucapan Winda mengendarai motor sendiri dari rumahnya hingga rumah sakit MMC.
Sigit merasa takut jika terjadi sesuatu pada istrinya mengingat ada riwayat amnesia yang belum mengingat sebagian ingatannya.
Sigit menerima uluran kunci motor dari tangan Winda, dia segera menghidupkan motornya dan menghampiri Winda, lalu membonceng nya melaju berbaur dengan kendaraan yang melintas.
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
kata motivasi " Terkadang apa yang kita inginkan tidak sama dengan kenyataan yang sudah tertulis di Lauhil Mahfudz, maka bersabarlah dan selalu berprasangkalah yang baik terhadap Sang Pencipta."
yang kemarin hawatir sama babang bisa senyuman-senyum ya...😊
Ayo diramaikan like n koment nya...
Terimakasih...🤗
Saranghe...💞💞
__ADS_1