
"Alex, tunggu! Kita harus bicara!" Suara wanita dihadapan Alex kembali memanggilnya.
Ya, laki-laki itu bernama Alex. Ia baru saja selesai menghadiri pertemuan dengan relasi bisnisnya di pusat belanjaan. Tetapi diwaktu yang tidak tepat saat dirinya sekalian hendak membeli kebutuhannya, tiba-tiba Siska menghampirinya. Seorang wanita yang sempat menghancurkan impian Alex, meluluh lantakkan hubungan Alex dengan kekasihnya, Tania.
Siska dengan begitu mudah merenggut kebahagiaan Alex bersama wanita pujaannya yang akan menggelar pertunangan mereka.
Alex menghentikan langkahnya menatap tajam wanita itu.
"Saya rasa sudah tidak ada gunanya lagi jika kamu membicarakan hal basi itu padaku sekarang." Ucap Alex tegas.
"Dengarkan dulu penjelasan ku Lex, sesudah itu kamu..."
"Sudahlah! Mau kamu jelaskan seperti apa masalah itu, percuma saja. Aku sudah muak dengan sandiwara yang sudah kau buat untuk menghancurkan hubunganku dengan Tania." Ketus Alex kesal dengan wanita didepannya.
"Kamu salah faham Lex, aku benar-benar berkata yang sesungguhnya. Itu memang fakta, Airin memang anak kita. Bukan..."
"Cukup Siska!" Tatapan mata Alex nyalang menghujam bola mata Siska. "Masih pandai juga ya ternyata kamu mengarang cerita? Apa kamu belum puas membuat masa depanku bersama Tania berantakan seperti ini hah?!" Alex memotong kalimat pembelaan Siska. Kalimat Siska membuatnya seakan terpojok, seakan dirinya memang benar-benar menjadi satu-satunya seorang laki-laki yang paling bersalah diatas bumi ini.
"Lex, aku berani bersumpah dan membuktikan itu, aku tidak melakukan hal bodoh itu dengan lelaki lain selain dirimu." Tegas Siska lantang.
Mendengar ucapan Siska membuat Alex tersenyum sinis menatap wanita itu.
"Apa kamu bilang? Kamu tidak pernah melakukannya dengan laki-laki lain? lalu siapa laki-laki yang sering kamu temui di club malam itu? Alien? Monster? Atau... Kelelawar yang paling pandai ngelaba setiap malam Siska?" Bantah Alex geram tersenyum sinis. Sementara Siska hanya terdiam tidak percaya dengan kata yang sudah keluar dari mulut Alex.
Alex sepertinya sudah lupa jika Siska merupakan seorang wanita yang sudah dijadikan sebagai pelariannya sejak malam itu. Malam ketika Tania menolak keras untuk melayani keinginan Alex yang sedang keadaan mabuk setelah menenggak minuman keras saat menghadiri acara pernikahan relasi kerjanya. Walaupun saat itu Tania lebih suka dengan berpakaian minim dan seksi bukan berarti Tania juga suka mengobral tubuhnya pada sembarang lelaki, walaupun itu kekasihnya sekalipun.
Pertengkaran kecil pun terjadi saat itu, hingga Tania sengaja membuat jarak tidak saling bertemu untuk beberapa minggu dengan kekasihnya itu.
Namun siapa sangka jika saat itu merupakan awal dari petaka hubungan mereka, diam-diam Alex menjalin hubungan dengan wanita lain yang bersedia memenuhi keinginannya.
"Jangan menuduh sesukamu Alex! Aku bukanlah wanita seperti apa yang kamu sebut Alex!"
"Terserah!"
Alex mengibaskan tangannya didepan Siska, ia menolehkan kepalanya pada pintu toilet yang sudah terbuka, lalu berjalan meninggalkan wanita itu sendirian.
__ADS_1
Sementara itu, Tania yang sudah merasa baikan setelah membuang hajatnya segera beranjak dari depan pintu toilet, namun baru beberapa langkah kakinya berjalan ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Tania!"
Tania menolehkan kepalanya mencari pemilik suara yang terasa tidak begitu asing didengar diantara ramainya pengunjung disana.
"Nia. Tania!" Lagi, Tania mendengar namanya dipanggil seseorang. Hatinya merasa tidak enak ketika bisikan hatinya menerka pemilik suara yang sering ia dengar dulu.
"Suara itu... suara Itu sepertinya aku kenal, seperti... suara Alex. Iya Alex." gumam Tania lirih dengan mengerutkan keningnya.
Ingatan Tania berlayar pada nama seseorang yang pernah dekat dengan dirinya.
"Ah tidak-tidak Tania kamu tidak boleh halu tentang laki-laki itu lagi, ini ditempat umum Tania banyak kan yang memiliki suara itu, lagi pula nama Tania juga banyak tidak dirimu saja Tan, huft." Tania segera menepis pikirannya, ia kembali berjalan tidak melalui tangga darurat lagi, Tania ingin kelantai tiga kembali ketempat dimana sahabatnya berada dengan menaiki eskalator sekalian cuci mata melihat keramaian pengunjung yang lalu lalang disana.
"Nia!"
Langkah Tania terhenti saat lengan tangannya dicekal seseorang secara tiba-tiba dari belakangnya.
"Tania."
Tania terkejut saat bola matanya menangkap sosok Alex disampingnya, lelaki yang pernah mengisi ruang hatinya. Bahkan jauh sudah harapan dan impian mereka menuju masa depan.
"Iya Nia, lama tidak bertemu, kamu apa kabar?" Suara Alex terdengar lembut menatap wajah Tania lekat dengan mata berbinar menyiratkan kebahagiaan.
Tania tidak percaya dengan Alex yang masih memanggilnya dengan nama kesayangan yang dibuat khusus oleh Alex untuk dijadikan nama panggilannya ketika mereka masih bersama.
"Hm, aku Baik." Jawab Tania datar, tidak ingin memberikan jawaban yang mengesankan pada laki-laki didepannya, mantan tunangan lebih tepatnya. Julukan yang menyakitkan bukan? Ah, cukup! biar Tania sendiri yang merasakannya, kakak readers tidak usah.
Menurut Tania Alex sudah menjadi orang lain bukan lagi bagian dari kehidupannya lagi, tidak ada alasan untuk Tania terlalu berbaik hati meladeni Alex.
"Nia, kamu sendirian?" Alex celingukan seakan mencari seseorang bersama Tania.
"Tidak." Tania menyibakkan rambutnya. "Aku bersama..."
"Sudahlah Nia, aku tahu kamu belum bisa move on dariku, aku tahu itu Nia, kamu sendirian kan?" Alex memotong kalimat Tania tidak memberikan kesempatan pada wanita dihadapannya setelah pencarian dari bola matanya tidak mendapatkan siapapun disekitar Tania. Perlahan tangan Alex beralih pada jari tangan Tania.
__ADS_1
"Nia, maafkan aku, maafkan aku yang sudah membuatmu kecewa. Semua itu hanya salah faham Nia."
"Alex."
"Aku mohon maafkan aku, dan kita lanjutkan lagi hubungan kita Nia..."
"Alex tolong lepaskan tanganku..." Tania menepiskan tangan Alex yang menggenggam jari tangannya.
"Nia, dengar penjelasan ku." Alex memaksa kembali meraih tangan Tania. "Sebenarnya Siska sudah menjebakku dan anak itu bukanlah darah dagingku Nia, Siska sudah..."
"Hentikan Alex."
"Nia aku berkata yang sebenarnya, aku masih menunggumu, aku mencarimu kemana-mana selama ini Nia karena aku sangat mencintaimu."
"Alex hentikan."
Alex masih berusaha meyakinkan wanita didepannya, berharap agar Tania bersedia kembali bersamanya seperti dulu. Seakan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya yang jadi pusat perhatian orang yang melintasi mereka.
"Kita lanjutkan pertunangan yang tertunda saat itu Nia, lalu kita langsungkan pernikahan kita, pernikahan yang sesuai dengan keinginanmu dulu. Kita wujudkan impian kita setelah menikah nanti Nia..." Alex memelas dengan tatapan mata sayu.
Tania memundurkan kakinya kembali menepis tangan Alex.
"Maaf." Tania memberanikan diri menatap wajah lawan bicaranya dengan menepiskan kedua tangan Alex dari genggaman. "Terimalah kenyataan dihadapanmu Alex bahwa kita sudah lama berakhir. Jadi pandanglah masa depan lurus kedepan agar tidak ada lagi penyesalan." ucap Tania tegar, tidak ada kesedihan sedikitpun yang tersirat dari raut wajahnya. Tania berusaha menutupi perasaannya yang terluka dengan ketegaran.
"Tidak Tania, tidak! aku tidak bisa melakukannya. Kita bisa memulainya dari awal lagi Nia. Aku mohon." Sahut Alex menarik tangan Tania.
Tania tidak menyangka jika aksi menemani Silvi sahabatnya hari ini akan menjadi dilema bagi dirinya sendiri. Sedih, hancur kecewa, semuanya bergelut dalam relung hatinya saat ini ketika melihat orang yang pernah dicintainya memelas dan memohon belas kasihan padanya. Namun Tania harus tegar, harus bisa belajar dari rasa pahit yang harus ia telan selama berpisah dari Alex. Belajar menjadi wanita tangguh, wanita kuat dan tahan mental setelah menelan pil kekecewaan. Tidak seperti emak-emak readers yang menelan pil keluarga berencana.
"Tidak Alex tidak. Nasi sudah menjadi bubur, semua itu sudah tidak ada gunanya lagi bagiku. Aku sudah tidak bisa menerima mu lagi karena aku sudah memiliki seseorang saat ini." Tania menatap tajam wajah laki-laki didepannya, mengatakan kebohongan yang membawa kebaikan tidaklah masalah menurut Tania. Maka dari itu Tania mencari cara agar Alex mau menerima apa yang sudah Alex lakukan. Karena pada hakikatnya setiap tindakan dan ucapan pasti akan ada resiko yang harus dipertanggung jawabkan.
"Hai sayang... sudah lama menunggu aku disini?"
Disaat pandangan Tania fokus pada Alex, tiba-tiba datanglah seseorang menghampiri mereka berdua dengan wajah sumringah menatap Tania.
Bersambung 🤗🤗🤗
__ADS_1
Jangan lupa dukunganya ya...
Sarangheo 💞💞💞💞