
Tania berjalan cepat mengekor dibelakang Renaldi begitu mereka sampai di perusahaan cabang kemudian segera memasuki ruang kerja Renaldi.
"Tolong kamu cek dengan teliti semua data keuangan dan barang pesanan yang masuk selama ini, jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun. Setelah selesai semua kamu kirim ke email aku sekarang. Aku tunggu di ruangan ku secepatnya, setelah itu kamu boleh pulang." perintah Renaldi seraya membukakan pintu ruang kerja untuk Tania, kemudian berlalu meninggalkan Tania menuju ruang kerjanya.
"Baik pak akan saya kirim secepatnya." jawab Tania, lalu segera memulai apa yang diperintahkan Renaldi.
Tania baru mengetahui permasalahan yang sedang terjadi setelah Renaldi menjelaskannya selama dalam perjalanan.
Terkejut. Itulah yang Tania rasa, bagaimana tidak? jelas-jelas sudah dua kali ia menyerahkan laporan keuangan untuk upah pekerja dan pembayaran bahan material pada Renaldi, tetapi ternyata dana yang sudah dikeluarkan raib tidak tersalurkan, bahkan para pekerja sudah membuat jadwal demo jika upahnya tidak segera diberikan dalam waktu satu minggu ini.
Dan satu hal yang lebih mengejutkan lagi ternyata kualitas bahan material yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang pernah dipromosikan oleh pihak promotornya.
Kecewa.
Sudah jelas Renaldi akan dibuat malu oleh seseorang dengan sengaja, entah siapa yang sudah berani bermain api dengan Renaldi.
Malam semakin gelap. Tania mengalihkan pandangannya pada jam yang melingkar dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan, sedikit lagi kerjaannya sudah selesai. Ia beranjak dari duduknya berjalan mengendap menuju ruangan Renaldi. Terlihat di sana seorang lelaki masih berkutat didepan laptop dengan wajah serius, sesekali membolak-balik lembaran map yang menumpuk di samping laptop.
Ada rasa kasihan melihat sosok lelaki didepannya seakan tidak menghiraukan waktu istirahatnya.
"Kasihan pak Re, dia bekerja keras selama ini mengurus proyek ini, tetapi sepertinya ada yang dengan sengaja ingin menghancurkan nama baiknya." gumam Tania. Cukup lama ia memperhatikan Renaldi yang tidak menyadari keberadaannya, Tania membalikkan badannya meninggalkan tempat itu, ia segera menyelesaikan tugasnya agar ia bisa segera pulang.
Tidak memerlukan waktu lama akhirnya pekerjaan Tania selesai juga, ia segera masuk ruangan Renaldi dan menghampirinya.
"Permisi pak, boleh saya masuk?"
Renaldi menoleh kearah sumber suara.
"Hm, silahkan."
Renaldi memperhatikan kedua tangan Tania saat memasuki ruangannya.
"Apa itu?" tanya Renaldi.
"Ini tugas yang sudah saya selesaikan, dan ini secangkir kopi yang harus bapak minum sebagai teman kerja pak Re malam ini." Tania meletakkan berkas yang diminta Renaldi tadi sore, lalu meletakkan secangkir kopi disisi laptop.
Renaldi menatap tajam Tania sesaat, lalu mengalihkan pandangannya pada secangkir kopi didepannya.
"Silahkan diminum pak Re."
"Hm, terimakasih. Harusnya kamu tidak perlu repot-repot membuat kopi segala."
"Tentu saja tidak repot, kan cuma air pak."
__ADS_1
Renaldi diam tidak menanggapi ucapan Tania, merasa tidak perlu di tanggapi.
"Kalau sudah selesai, saya boleh izin pulang dulu pak..."
Renaldi melihat jam tangannya dengan mengerutkan keningnya. Terdiam sejenak terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ternyata kenyataan tidak sesuai dengan perkiraannya, semula ia mengira jam 7 malam kerjaan Tania sudah selesai ternyata sudah hampir jam 10 malam kerjaan Tania baru selesai.
"Tidak, kamu jangan pulang sendirian ini sudah larut malam, biar aku yang mengantarmu pulang."
"Tidak perlu pak saya bisa pulang send..."
"Sudah jangan membantah." sahut Renaldi merasa bersalah karena ini semua karena perintah nya hingga Tania harus kerja lembur. Renaldi menghabiskan kopinya dan merapikan berkas diatas mejanya.
Dengan cepat Renaldi memasukkan mesin pipih dan berkas yang diberikan Tania padanya barusan kedalam tas kerjanya.
"Ayo pulang."
Renaldi beranjak dari kursinya keluar ruangan yang diikuti Tania. Percuma saja Tania akan berontak dengan perkataan Renaldi tadi, karena jika tidak dituruti sudah pasti laki-laki itu akan melakukan hal yang sama seperti yang sudah-sudah.
"Pak Dodi terimakasih sudah bekerja dengan baik selama ini. Tolong sampaikan titipan saya untuk anak dan istri bapak, sampaikan salam saya juga untuk mereka ya pak, jangan lupa senang-senangkan mereka besok." pamit Renaldi pada Dodi, salah petugas keamanan kantornya dimalam hari seraya menyisipkan selembar amplop disaku Dodi.
"Ya Allah pak terimakasih, insya Allah besok akan saya ajak mereka jalan-jalan pak terimakasih."
"Hm, sudah sudah jangan berlebihan seperti ini, tidak baik. Saya langsung pulang dulu, titip kantor ya."
"Baik pak akan saya jaga dengan aman sentosa, hati-hati dijalan pak, Bu."
"Iya Bu."
❄️❄️❄️
Dikediaman Sigit Andra Winata.
Sudah beberapa purnama terlewati, didalam rumah mewah nan besar hanya ada mereka berdua, terasa sepi walaupun setiap dua hari sekali Ningsih datang untuk membantu beres-beres pekerjaan rumah Winda.
Rumah yang begitu besar membuat Winda kewalahan, tidak sanggup membersihkan setiap sudut ruangan sendirian. Dengan begitu mami Lia selalu berkunjung untuk menghibur menantunya yang kesepian ketika Sigit berangkat kekantor, bahkan terkadang sampai malam Sigit baru pulang kerumah karena kerjaan.
"Bang, hasil wawancara Winda tadi siang sudah langsung diterima besok pagi, jadi besok Winda sudah bisa membantu ibu Widia ditaman kanak-kanak."
Ya, Winda mengisi waktu senggangnya untuk membantu mengajar anak-anak kecil walaupun belum genap satu Minggu disana. Namun, entah mengapa ia sudah jatuh hati dengan mereka, ingin berada diantara mereka setiap paginya. Walaupun tidak mudah membimbing anak-anak yang masih kecil, ia tetap membujuk suaminya agar diizinkan. Hingga izin Sigit pun terucap dengan syarat hanya satu bulan.
Setiap kali Winda merindukan Brian putranya, selalu membuatnya murung dan banyak diam. Hal itu yang membuat Sigit khawatir dengan keadaan istrinya.
Sebenarnya Sigit pun ingin sekali segera mendapatkan amanah lagi, namun sepertinya Tuhan belum menghendakinya walaupun mereka sudah berusaha keras membuatnya, berikhtiar sesuai yang disarankan dokter.
__ADS_1
"Sayang...." Sigit duduk sambil mengalungkan tangannya pada perut Winda dari belakang dengan menyandarkan dagunya diatas pundak istri tercintanya. "Kamu yakin ingin melanjutkan keinginanmu itu?"
"Hm, yakin dong. Kenapa? Abang meragukan kemampuan Winda?"
"Bukan, bukannya Abang meragukan kemampuanmu sayang..."
"Tapi...." sahut Winda menimpali perkataan suaminya yang terlihat sedang meragukan dirinya.
"Abang tahu betul jika menjadi pembimbing ditaman kanak-kanak itu sangatlah luar biasa. Tenaganya, ide kreatifnya, kesabarannya. Belum lagi ditambah pembuatan perangkat pembelajaran yang sudah pasti akan menyita banyak waktumu. Abang hanya khawatir jika kamu nantinya terlalu capek maka akan berimbas dengan kondisi kesehatan mu sayang. Ingat, kita sekarang dalam masa ikhtiar."
Winda diam mencerna kalimat suaminya, ia berfikir apa yang dikatakan Sigit memang benar. Mereka sepakat akan serius dengan program yang sudah dijadwalkan dokter mereka.
"Mungkin untuk seminggu dua minggu atau paling lama satu bulan kamu masih merasa fun menjalani aktivitas itu, tapi untuk menjadi pembimbing anak-anak itu tidak bisa hanya dalam kurun waktu yang sebentar tetapi membutuhkan waktu yang tidak dapat ditentukan." Sigit terhenti sejenak seraya membalikkan tubuh istrinya menghadap dirinya agar mereka dapat saling menatap satu sama lain.
Winda menatap manik hitam suaminya yang terlihat teduh, ada kehangatan didalam sorot mata yang ia lihat di sana. Winda menghela nafas panjang.
"Oke, Abang akan mengizinkanmu hanya untuk sekedar mengisi waktu senggang mu saja, atau kalau kamu ingin kembali bekerja bersama Abang di perusahaan WP lagi, maka Abang akan lebih senang mendengarnya karena kita akan selalu bersama tentunya." ucap Sigit yang diakhiri dengan senyuman menggoda pada wanita didepannya.
"Itu mau Abang, bukannya fokus bekerja malah asyik fokus gangguin Winda.... au hahaha hahaha...." jawab Winda dengan gelak tawa geli ketika Sigit mulai menggelitik perut dan bagian tubuh lainnya.
Malam semakin larut, udara dingin terasa seakan semakin menyusup tulang rusuk mereka. Sigit belum berhenti menggoda istrinya hingga Winda memohon kepadanya agar menghentikan godaannya.
"Sudah bang geli tahu. au hahaha hahaha... hentikan bang..."
"Makanya kamu jangan memancing Abang terus dari kemarin ya..."
"Iya iya maaf hahaha maaf Abang Sigit sayaaaang..."
Sigit menindih tubuh Winda dengan kuat hingga wanita itu tidak bisa berkutik.
"Maaf diterima dengan syarat..."
Cup.
Sigit mulai menyambar bibir tipis istrinya dengan lembut, menggigit kecil bibir ranum itu kemudian menjelajah setiap lekuk tubuh lainnya hingga tidak sehelai benangpun yang menutupi tubuh keduanya, mereka bergulat di bawah selimut tebal, saling memberi kehangatan dengan sentuhan-sentuhan yang sangat mendominasi rasa bahagia keduanya.
Ah sudahlah biarkan sepasang sejoli itu menikmati malam mereka, ayo akak2 readers kasih support cerita ini lagi...
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...🤗🤗🤗
Sarangheo 💞💞💞