Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 88


__ADS_3

Alangkah terkejutnya Sigit ketika mendapati tulisan hasil tes DNA yang telah dilakukan Revan. Ia seakan tidak percaya jika Revan sudah melakukan tes yang sudah terjamin akurat itu.


"Revan?"


"Ternyata Revan adalah anak papi dengan wanita lain." ucap Revan begitu Sigit menatapnya terkejut.


Revan menatap wajah Sigit yang terlihat panik memperhatikan dirinya.


"Kenapa? apa Abang juga baru mengetahuinya? kalau Revan adalah... anak dari hasil perselingkuhan papi?"


"Revan! jaga bicaramu! kamu jangan salah paham dulu dengan orang tua kita. Abang bisa menjelaskannya." kalimat Sigit menyahut perkataan Revan.


Kedua mata Winda membulat sambil menutup mulutnya, ia tidak menyangka bahwa Revan berpikiran buruk terhadap orang tuanya.


"Abang tidak terima dengan perkataanku barusan?" ucap Revan tersenyum kecut seolah menertawakan Sigit.


"Revan!"


"Bang, sudahlah bang statusku tidak akan berubah jika..."


"Lebih baik kamu diam Revan!" suara Sigit lirih penuh penekanan membuat Revan terdiam.


Revan melihat rahang Sigit sudah mengeras, ia tahu jika abangnya saat ini sedang menahan marah padanya.


"Bang, bang Igit." Tiba-tiba dari lorong rumah sakit terlihat mbok Lastri sedang lari tergopoh-gopoh memanggil nama Sigit.


Sigit menoleh kearah mbok Lastri yang sudah berada didepannya, dengan nafas tersengal-sengal mbok Lastri memperhatikan Revan dan Sigit bergantian lalu berjalan mendekati Revan yang hanya terdiam mematung melihat wanita setengah baya itu sambil memegang wajahnya.


"Revan? kapan kamu datang? ibu dan bapak menanyakanmu terus setelah kamu menjenguknya kemarin. Mereka sangat merindukanmu." kalimat mbok Lastri lirih matanya mulai berkaca-kaca. Revan hanya terdiam tidak bergeming dari tempatnya dengan memejamkan matanya sekilas, membiarkan mbok Lastri menatap dirinya.


Dua hari lalu Revan memang sempat menjenguk mami dan papi diruang rawat mereka walaupun hanya sebentar, namun hatinya seakan hancur ketika melihat keadaan mami, karena ia merasa mereka telah membohongi dirinya dengan menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya selama ini. Terutama ia sangat kecewa terhadap papi yang tidak pernah memberitahunya.


"Revan? Revan kesini mau menemui ibu sama bapak kan?" tanya mbok Lastri menyadarkan lamunan Revan kembali.


"Aku... aku... pasti akan kesana mbok, tapi tidak sekarang karena ada yang harus Revan selesaikan dulu sekarang."


"Tapi..."


Mbok Lastri tidak meneruskan kalimatnya, ia membiarkan Revan pergi dari hadapannya begitu saja.


"Mbok ada apa tadi memanggil Sigit?"


"Oh iya sampai lupa si mbok bang." jawab wanita itu. "Dokter memanggil Abang tadi."


Sigit bergegas menuju ruang rawat orangtuanya bersama mbok Lastri, sementara Winda berjalan membuntuti Revan keluar menuju parkiran. Ia berpikir harus mencegah kepergian Revan sebelum meninggalkan rumah sakit ini.

__ADS_1


"Revan. Tunggu mbak sebentar." ucap Winda ketika Revan hendak membuka pintu mobilnya.


Revan menoleh kearah Winda yang sudah didepan mobilnya.


"Boleh mbak ikut?" tanya Winda saat Revan masih terdiam. Revan hanya memperhatikan wajah Winda lalu menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, silahkan." jawab Revan sambil membuka pintu mobil dan membiarkan Winda mengikuti dirinya membuka pintu mobil dan duduk disampingnya.


Mobil Revan melaju meninggalkan parkiran menuju jalan raya berbaur dengan kendaraan yang berlalu lalang mengisi kepadatan lalu lintas, selama dalam perjalanan suasana hening tidak ada kata-kata yang keluar dari mereka berdua.


"Boleh anterin mbak di kafe mawar itu?" Ditengah perjalanan suara Winda terdengar dengan menunjuk sebuah kafe yang tidak jauh dari perkantoran. Revan menoleh kearah Winda.


"Baiklah." jawab Revan singkat.


❄️❄️❄️


Disebuah pusat belanjaan, tidak sengaja Renaldi menabrak seorang wanita yang tidak ia kenali ketika ia berbalik setelah meletakkan belanjaannya didalam keranjang dorongnya sehingga kertas yang dibawa wanita itu berserakan dididalam keranjang belanjaannya.


"Ups sorry nona, saya tidak sengaja." ucap Renaldi terkejut.


"Lain kali kalau jalan liat-liat, jadi punya mata itu gunanya untuk melihat bukan untuk menabrak orang tau!" wanita itu mengomel dirinya hingga membuat Renaldi terbengong seraya menggaruk kepalanya.


"Galak amat jadi cewek cantik mbak, jangan galak-galak jadi cewek loh, ntar gak ada cowok yang mau sama mbak." seloroh Renaldi menggoda wanita didepannya.


"Ya lagian dari tadi saya sudah minta maaf lah mbaknya ngomel mulu." ucap Renaldi sambil memunguti lembaran kertas yang berserakan diatas keranjangnya, ia mengambil kertas yang ada tulisan nama lalu membacanya dengan lirih.


"Anita Pricilia. Perusahaan Duta Perkasa."


"Apa liat-liat! bawa sini berkas saya." mendengar namanya di sebut, Anita meminta kembali berkas yang sudah terkumpul ditangan Renaldi.


Renaldi memperhatikan wajah Anita ia merasa pernah mendengar nama itu.


"Sepertinya saya pernah mengenal nama ini." kata Renaldi sambil menyerahkan berkas pada Anita.


"Jangan sok kenal jadi orang ya bung." celetuk Anita membiarkan Renaldi yang memperhatikan dirinya, ia segera berlalu meninggalkan lelaki itu.


Renaldi memperhatikan Anita berlalu sambil berpikir tentang wanita itu.


"Anita Pricilia, nama yang sama dengan lili, wajahnya juga mirip dengannya. jangan-jangan..." Renaldi teringat lili teman bermain masa kecilnya bersama Azam. Ia merasakan sorot mata dan cara bicara Anita barusan sama dengan lili ketika sedang marah.


"Kalau benar itu lili berarti dia juga pasti tahu dimana bidadari kecilku sekarang, karena hanya dia yang dulu bersama bidadari kecilku ketika aku meninggalkan daerah itu." Renaldi berpikir sejenak lalu mencoba memanggil Anita yang belum jauh meninggalkanya dengan nama yang ia yakini adalah sahabat masa kecilnya.


"Bunga lili..." panggil Renaldi.


Anita berhenti sejenak samar-samar mendengar nama lili, lalu meneruskan langkahnya kembali menepis pendengarannya yang kemungkinan ia hanya salah mendengar.

__ADS_1


"Bunga lili!" suara Renaldi terdengar lagi, kali ini agak keras dari sebelumnya sehingga mampu menghentikan langkah wanita yang ia panggil. Anita tersentak ketika nama masa kecilnya ada yang memanggil, ia benar-benar tidak salah mendengar namanya telah dipanggil seseorang, iapun berhenti dan mematung teringat Azam, Aldi dan adik perempuan Azam yang paling suka dipanggil dengan sebutan bidadari kecil daripada namanya sendiri sehingga nama aslinya terkikis begitu saja.


Renaldi pun semakin yakin dengan wanita yang bernama Anita Pricilia adalah Lili sahabatnya. Terlebih lagi ketika Anita membalikkan badannya terlihat sedang mencari seseorang yang sempat memanggil namanya.


"Bunga lili, bidadari kecil, Azam?" Renaldi menyebut semua nama yang melekat dalam ingatan masa kecilnya. Anita semakin tercekat ketika mengetahui pemilik suara yang memanggilnya adalah laki-laki yang menabraknya barusan, dalam benaknya mengatakan hanya orang-orang tertentu yang mengenal nama-nama itu.


"Siapa kamu sebenarnya? dan... kenapa kamu mengenal mereka semua?" Anita masih penasaran dengan laki-laki didepannya.


"Kamu benar-benar bunga lili?" Renaldi berjalan semakin mendekati Anita.


Anita masih terdiam mematung dan memperhatikan wajah Renaldi, meneliti dan mengingat sosok lelaki yang benar-benar membuatnya lupa siapa dia sebenarnya hingga mengenali dirinya. Namun, satu-satunya nama yang terlintas dalam ingatannya saat ini adalah Aldi, hanya Aldi satu-satunya lelaki yang mengenal nama itu selain Azam.


"Dan jangan bilang jika kamu adalah Aldi." balas Anita.


Renaldi menganggukkan kepalanya menatap wajah Anita yang banyak berubah dari masa kecil dulu, Anita yang dulu tubuhnya lebih gemuk dan sedikit berkulit gelap kini jauh berbeda, sekarang terlihat lebih cantik, bersih dan langsing membuat Renaldi hampir tidak mengenalinya lagi jika ia tidak teringat dengan sorot mata dan cara bicara Anita tadi.


"Ya, aku adalah Aldi yang selalu bersama Azam." jawab Aldi memastikan Anita.


Kedua bola mata Anita berkaca-kaca melihat Aldi didepannya, tidak percaya dengan apa yang diucapkan lelaki didepannya itu, lunglai sekujur tubuhnya seakan tidak ada tulang belulang yang menopang tubuhnya.


"Aldi?" suara Anita parau menyebut sahabatnya yang tak terpikirkan olehnya akan bertemu kembali. Air matanya membasahi pipinya seraya meraba wajah Aldi yang jauh berubah sehingga ia juga tidak mengenalinya, lalu Anita memeluk tubuh Aldi yang sangat ia rindukan.


"Apa kabar bunga lili?" tanya Aldi saat Anita melepaskan pelukannya. Aldi menatap wajah Anita.


"Aku baik, kamu apa kabar?" balas Anita sambil mengusap air matanya.


"Aku masih mencari bidadari kecil yang entah kemana keberadaannya sekarang." jawab Aldi. "Kita cari tempat duduk disana yuk." ajak Aldi pada Anita mencari tempat untuk menumpahkan rasa rindu mereka. Anita menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju dengan ajakan Aldi.


"Ayok, aku ingin sekali menanyakan sesuatu padamu."


"Hm, boleh."


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


Ayo akak2 dukungannya jangan kasih kendor... pasti terkejut ya...


Saranghe 💞💞

__ADS_1


__ADS_2