Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 122


__ADS_3

Setelah melakukan pengintaian selama beberapa hari di kediaman Winata, segerombolan penculik yang sudah menyusun strategi semalaman sudah siap melancarkan aksinya. Seorang lelaki yang berpakaian sebagai pengirim paket berdiri di depan gerbang dengan sebuah paketan yang terbungkus rapi ditangannya.


Sementara didalam dapur, terlihat mbok Lastri kebingungan mencari cara menyumbat aliran air kran yang terus keluar karena pipa airnya patah.


Winda ikut kebingungan melihatnya, ia berjalan kian kemari mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyumbat pipa tersebut.


"Waduh mbok masih ngalir terus airnya." Winda panik, bingung melihat air disekitar mbok Lastri semakin membanjiri lantai. Sementara di rumah tidak ada siapa-siapa lagi setelah Sigit berangkat ke kantor, mami dan Revan pun pergi. Dengan mami diantar Riyan sebagai supir pribadinya.


"Iya mbak, gimana ini caranya ya?" baju mbok Lastri sudah basah kuyup.


Winda mondar mandir di belakang mbok Lastri, memikirkan sesuatu.


"Oh iya mbok, biar Winda panggilin pak Zain sebentar ya, biar dibantuin pak Zain dulu." Winda teringat seseorang yang selalu berada didepan pos penjagaan.


Winda segera berjalan menuju halaman depan, tepatnya pos penjagaan mencari sosok pak Zain setelah mengingatnya.


"Pak zain!"


"Pak zain!"


Dengan tergopoh-gopoh Winda memanggil nama pak Zain.


Laki-laki yang mendengar namanya dipanggil pun menolehkan kepalanya kepada Winda yang terlihat kebingungan.


"Iya mbak ada apa?"


"Itu pak tolong pak Zain bantuin mbok Lastri dulu sebentar, pipa airnya patah jadi airnya banjir kemana-mana sekarang." jawab winda menjelaskan setelah berhadapan dengan pak Zain.


"Pak Zain mau ngapain?" tanya Winda ketika melihat tangan pak Zain memegang kunci pintu gerbang.


"Mau buka pintu gerbang mbak, ada kurir nganter paket katanya."


"Paket? buat siapa?" Winda heran.


"Belum tau mbak, ini baru mau saya bukain pintu gerbangnya." pak Zain menunjukkan kunci gerbang padanya.


"Em." Winda bingung melihat pak Zain yang masih memperhatikan dirinya. Sedangkan ia bingung harus melakukan apa ketika teringat mbok Lastri yang sedang kerepotan dengan air yang semakin membanjiri lantai.


"Em... biar Winda saja yang bukain pintu gerbangnya pak, pak Zain langsung kebelakang saja." Winda segera meraih kunci yang berada ditangan pak Zain. "Pak Zain cepetan bantuin mbok Lastri aja."


Pak Zain menoleh kearah kurir dibalik gerbang sekilas lalu melihat Winda didepannya.


"Udah cepetan pak, kasian mbok Lastri kerepotan dari tadi." Winda mendorong pak Zain agar segera berjalan menuju belakang rumah.


Tanpa berpikir panjang, pak Zain pun segera berjalan memasuki rumah mengikuti perintah Winda.


Winda berjalan mendekati pintu gerbang.


"Paketan buat siapa mas?" tanya Winda pada kurir didepannya seraya membuka gembok dari pengaitnya.


Tukang kurir itupun membalik paketan mencari tulisan tujuan pengiriman.


"Disini pengiriman ditulis dengan tujuan atas nama Winda mbak."


Kurir itupun tersenyum setelah membaca sebuah tulisan menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Buat saya?" Winda heran tidak mengerti, ia sudah berdiri tepat berhadapan dengan kurir didepannya.


"Paketan buat aku? perasaan aku tidak pernah pesan online deh, atau paketan dari ibu?" Winda penasaran.


"Dari siapa ya mas?"


"Tidak tau mbak, saya cuma mengirimkan barang paketan saja mbak."


Winda masih ragu menerima paketan itu, ia melihat antara benda itu dan kurir didepannya bergantian.


"Tapi... saya merasa sedang tidak memesan online deh mas."


"Mohon maaf mbak, saya hanya sebagai pengantar, jadi saya mengantarkan paket ini sesuai return mbak."


"Silahkan tanda tangan dulu mbak sebagai tanda bukti penerimaan." lanjut kurir itu menyodorkan kertas dan pena padanya.


Tanpa Winda sadari saat dia terbengong memikirkan seputar pengirim paketan, sebuah mobil hitam berhenti didepannya, dua orang laki-laki dengan wajah tertutup bergerak cepat menyekap mulutnya dan menarik kedua tangannya kebelakang, kemudian membawanya kedalam mobil.


Winda tidak bisa bergerak sedikitpun dengan kekuatan kedua orang itu. Ia menjerit sekuatnya dan berontak, namun kembali bungkaman tangan penculik itu lebih kuat dari teriakannya.


Tukang kurir yang tidak lain komplotan penculik itupun secepat kilat menutup pintu gerbang seperti semula dengan gembok terpasang rapi, lalu segera memasukkan bungkusan paketan beserta dirinya didalam mobil.


Laki-laki didepan kemudi segera menjalankan mobilnya menjauhi tempat itu dengan kecepatan tinggi.


Kedua orang yang memegang tubuh Winda sudah membuka penutup wajahnya, sehingga terlihat wajah mereka dengan jelas, namun Winda merasa tidak mengenali wajah mereka semua.


Selain kedua orang yang menyekapnya dan seseorang yang menyamar sebagai kurir, ternyata masih ada tiga orang yang duduk dibelakang nya. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat aksinya yang dengan sekuat tenaga mencoba melawan komplotan temannya.


"Hahaha... sudahlah cantik nurut saja kamu, percuma saja kamu melawan, hanya membuang-buang tenagamu saja. Hahaha..."


"Hahaha..."


"Hahaha..."


"Aww...."


Winda menginjak kaki laki-laki di sebelah kirinya sekuat tenaga.


"Sialan."


Laki-laki itu meringis kesakitan menghentikan gelak tawanya, matanya semakin tajam menatap Winda.


"Berani ya kamu melawan ha!"


Tangan laki-laki itu mencengkeram dagu Winda.


"Pengecut! kalian pengecut!!"


ucap Winda membara menatap tajam balik laki-laki itu.


Laki-laki itu terkejut dengan keberanian gadis didepannya yang mengumpat dirinya.


"Apa kamu bilang?!" wajahnya didekatkan dengan wajah Winda yang meringis menahan rasa sakit, tangannya mengangkat dagu sanderanya.


"Katakan sekali lagi." suaranya lirih terdengar ditelinga Winda.

__ADS_1


Semua mata disekelilingnya menatap sikap kedua manusia yang terlihat seperti sedang berakting dalam sebuah adegan film. Sementara seseorang yang mengendalikan kemudi hanya sesekali meliriknya melalui kaca spion diatasnya dengan tersungging senyum licik.


"Kalian pengecut!!" ucap Winda lirih mengulangi kalimatnya, dengan nada lantang menjawab laki-laki itu, menatap tajam manik didepannya.


Plakkkk.


Rasa panas saat sebuah tamparan mendarat di pipi Winda. Keberaniannya semakin memuncak bertepatan dengan tamparan itu.


"Kalian hanya berani melawan seorang wanita yang sedang tidak berdaya, dengan menyekapku begini dan ditambah lagi kalian bergerombol, itu sudah menunjukkan bahwa kalian benar-benar laki-laki yang tidak punya nyali."


Terasa panas kalimat Winda ditelinga para penghuni mobil saat itu.


"Pengecut!!" lanjutnya sangat lirih penuh tekanan.


Kedua bola mata laki-laki itu bagaikan sorotan elang yang mematikan. Kedua rahangnya mengeras menahan gemuruh dari cercaan Winda bagaikan sembilu yang mengoyak hatinya.


"Tutup mulutnya! agar tidak merobek gendang telingaku!" kata laki-laki itu melirik teman disebelah Winda.


"Dan ikat kakinya supaya tidak melukaiku lagi." lanjutnya.


Winda semakin resah dan ketakutan ketika komplotan itu membungkam mulutnya dan mengikat kedua kakinya.


"Ya Allah ampuni dosaku ya Allah... tolonglah hamba yang sudah banyak dosa ini ya Allah..."


Ia memperhatikan jalanan didepan yang semakin jauh dari jalur tempat tinggalnya, melewati gedung menjulang tinggi dan lahan yang penuh pepohonan.


Suasana hening, semua penghuni didalam mobil terdiam sesekali melihat dirinya yang terus saja berontak hingga hilang tenaganya.


🎵🎵🎵


Di tengah keheningan itu tiba-tiba terdengar suara hp berdering dari laki-laki yang sudah menyekap mulutnya tadi.


"Halo bos."


"....."


"Sudah bos, sesuai rencana, target sudah dalam perjalanan menuju lokasi."


"...."


"Siap bos."


klik.


Winda melirik laki-laki yang sedang menggenggam hpnya seraya meliriknya dengan tersenyum licik.


"Tenang saja gadis cantik, sebentar lagi juga sampai tempat baru untukmu." ucap laki-laki itu meneliti tatapan mata Winda.


"Hehehe..... hahaha.... hahaha..."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung 🤗🤗


Saranghe 💞💞💞


__ADS_2