Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 129


__ADS_3

Renaldi berkali-kali menepis perasaan hatinya terhadap wanita yang bersamanya saat ini, yang sudah berstatus sebagai istri dari rivalnya. Didalam hatinya tidak ada perasaan suka ataupun cinta disana, namun ia hanya merasakan rasa sayang, rasa ingin menjaganya, dan rasa ingin melindunginya dari hal buruk yang menimpanya.


Setelah beberapa hari menjalani hari-hari dibawah atap yang sama, menghirup udara ditempat yang sama, ia merasa sedang bersama seseorang yang sudah lama ia kenal. Terngiang-ngiang di telinganya kalimat yang di ucapkan Winda dua hari lalu padanya.


Semilir dingin angin malam mengusik ketenangannya. Ia duduk didepan teras rumah sendirian dalam gelap malam, tak terlihat kelipan bintang satupun menghiasi langit pekat. Sejak sore awan mendung menutupi langit biru hingga tak terlihat senyuman manis senja menjelang petang.


Renaldi menimang niatnya, antara ragu dan yakin ingin kembali ke Jakarta memberitahukan keberadaan Winda pada keluarganya, namun pikirannya bertolak belakang dengan hati kecilnya.


"Nak Renaldi, menurut ibu sebaiknya segeralah kamu kabari keluarganya di Jakarta, sangat berbahaya jika dia berlama lama berada disini."


"Tapi disini sinyal tidak dapat dijangkau Bu."


"Tetapi nak, jika dibiarkan seperti ini terus menerus tidak secepatnnya ditangani bisa berpengaruh besar pada kesehatan bayi juga ibunya. Setidaknya nak Renaldi melakukan sesuatu." terngiang perbincangannya dengan Bu Iroh tadi siang.


Bu Iroh mencoba membujuk Renaldi saat mengetahui bayi dalam kandungan Winda bergerak sangat lambat tidak seperti biasanya.


Saat mereka sedang memasak didapur, Winda mengatakan tendangan anaknya tidak aktif seperti hari-hari biasanya pada Bu Iroh. Hati Bu Iroh merasa resah, ia berpikir seharusnya Winda dibawa ke dokter untuk melakukan pemeriksaan, apalagi setelah terjadi peristiwa penculikan hingga adegan melarikan diri dari tempat yang cukup jauh jaraknya ia belum memeriksakan kandungan Winda. Namun apa yang bisa ia perbuat mengingat rumah sakit dan klinik sangat jauh jaraknya dan susah jangkauan perjalanannya.


Jarak antara rumah kerumah saja paling dekat setengah kilo bahkan satu kilo meter dari rumahnya. Desa yang ia tempati sangat jarang penduduknya, tidak seperti desa sebelahnya yang sudah lebih padat daripada daerahnya.


"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Renaldi


"Apalagi cuaca mendung. Dari tadi kilau kilat tidak berhenti pertanda akan segera turun hujan." lanjutnya merasa bimbang.


Ia memandangi kendaraan roda dua yang sudah dipesankan Bu Iroh sore tadi pada tetangganya yang berprofesi sebagai tukang ojek di daerah sekitar mereka. Sementara Maman pemilik kendaraan masih setia menunggunya dari petang tadi hingga sekarang sambil memasukkan tubuhnya didalam sarung menutupi seluruh tubuhnya, hanya terlihat rambut kepalanya yang menyembul tersapu angin.


"Mang, kita berangkat sekarang ya mang." kata Renaldi akhirnya mengambil keputusan mengalahkan rasa ragunya, ia berlalu masuk kedalam meninggalkan Maman sendirian.


Renaldi melongokkan kepalanya didalam kamar Winda, terlihat sebujur tubuh Yang tertutup selimut sudah tertidur pulas diatas tempat tidur. Ia baru melihat Winda tidur sepulas itu setelah beberapa hari mengatakan tidak bisa tidur sepanjang malam.


"Nak Renaldi, ada apa?" tanya Bu Iroh baru saja keluar dari kamarnya menatap dirinya yang kebingungan.


"Oh tidak Bu." jawabnya sedikit gugup. "Saya rasa, saya harus berangkat ke Jakarta sekarang saja Bu, tidak tega saya melihatnya." ucap Renaldi mengatakan niatnya.


"Yakin mau kesana sekarang? cuaca saat ini kurang bagus loh." Bu Iroh menatap manik hitam renaldi, khawatir. "Diluar anginnya sangat kencang, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, apa sebaiknya tidak besok pagi saja?"


"Tidak Bu, saya rasa lebih cepat lebih baik." ucapnya yakin.


Bu Iroh terdiam sejenak masih menatap wajah Renaldi yang terlihat resah, kemudian berjalan mendekati Renaldi.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati dijalan." pesan Bu Iroh seraya menepuk kecil lengan kekar Renaldi.


Renaldi melihat tangan kecil wanita didepannya yang memberikan perhatian padanya, ia menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Dan saya titip Winda dulu bu."

__ADS_1


"Tidak usah hawatir, ibu akan menjaganya dengan baik."


Setelah berpamitan, Renaldi segera beranjak dari tempatnya dan segera berangkat bersama mang Maman. Bu Iroh mengantar mereka didepan rumah hingga tidak terlihat lagi kedua sosok itu dalam kegelapan malam.


❄️❄️❄️


Sementara ditempat yang berbeda.


Terlihat seorang gadis bersama seorang rekan kerjanya baru saja keluar dari ruangan setelah menyelesaikan pertemuan dengan para kontraktor bangunan.


"Sebaiknya kita langsung saja pulang ke Jakarta sekarang Tan."


"Tapi diluar mendung, sepertinya hujan sebentar lagi akan turun."


"Aku besok ada acara pertemuan dengan perusahaan Utama. Jadi malam ini juga aku harus segera berangkat." Faisal memberitahukan agendanya pada Tania.


Ya, mereka adalah Tania dan Faisal yang secara tidak sengaja perusahan mereka telah bekerja sama dalam proyek pembangunan pusat perbelanjaan di daerah terpencil.


Tania mengikuti langkah Faisal, mereka memasuki area parkir dan masuk kedalam mobil.


"Perjalanan kita di daerah ini saja sudah lumayan memakan waktu." kata Faisal sambil memasang seatbelt nya.


Tania terdiam melihat sekitarnya lalu memasang seatbelt nya.


"Seperti yang dikatakan pak Rahmat tadi, pak Renaldi tidak bisa dihubungi hpnya tidak aktif." jelas Faisal mulai melajukan mobilnya.


❄️❄️❄️


Malam semakin larut suasana hening hanya sisa-sisa air hujan yang menetes dari atas rumah dan dedaunan. Winda baru saja keluar dari kamar mandi, ia sudah terjaga dari tidurnya.


"Kamu yakin melihat wanita itu berada didepan rumah ini saat itu?"


"Yakin bos. Dia bersama seorang laki-laki sedang berjalan disekitar sini."


"Sekarang kita geledah rumah itu, siapa tau mereka masih ada didalamnya."


Winda terkejut saat mendengar suara perbincangan seseorang diluar luar. Ia sudah terjaga dari tidurnya sebelum Bu Iroh izin beberapa saat lalu pergi keluar rumah mengecek gudang hasil panen sebentar setelah mereka membicarakan kepergian Renaldi.


Hujan mulai reda, udara mulai dingin menembus jaket tebalnya. Ia mengintai dari balik jendela yang terlihat empat orang sedang berjalan beriringan kearah rumah Bu Iroh.


Alangkah terkejutnya ia saat melihat jelas wajah beberapa orang itu dari cahaya lampu penerang jalan depan rumah Bu Iroh.


Deg.


Winda gemetar ketakutan, hatinya gelisah bercampur bingung apa yang harus ia lakukan saat ini.

__ADS_1


"Leo???" gumam Winda tidak percaya menahan rasa terkejutnya. "Dan mereka... anak buahnya." kedua bola matanya terbelalak tercekat rasa takut.


"Bu Iroh, Winda takut sekali saat ini..." lirihnya kebingungan.


"Jangan sampai mereka menemukanku disini itu sangat berbahaya. Aku harus berbuat sesuatu." lanjutnya berusaha mencari jalan keluar.


Winda berpikir harus segera berbuat sesuatu agar tidak tertangkap komplotan penculik itu lagi, ia meraih selimut tebal kemudian segera berjalan menuju pintu belakang pergi dari rumah Bu Iroh.


"Maafkan Winda Bu Iroh, Winda pergi tanpa pamit dulu, terimakasih atas kebaikanmu." gumamnya sambil berjalan dengan sesekali memandang ke belakang.


"Bismillahirrahmanirrahim... ya Allah lindungilah kami dari kejaran mereka."


Winda mempercepat langkahnya menyusuri jalan setapak dalam pekatnya malam. Ia terus berjalan dan berjalan semakin menjauh.


Hujan gerimis sudah tidak ia rasakan lagi, namun kilauan kilat seakan membelah kegelapan malam, ia sangat ketakutan mendengar gemuruh petir yang mulai menyambar di langit.


Winda menghentikan langkahnya berteduh dibawah pohon menenangkan dirinya sendiri ditengah kesunyian malam. Ia merasa sudah cukup jauh kakinya berjalan meninggalkan rumah Bu Iroh.


"Sepertinya aku harus berhenti sejenak disini, Leo dan anak buahnya pasti tidak akan mengetahui aku disini." gumamnya seraya mengedarkan pandangannya.


Winda menyandarkan tubuhnya di batang pohon yang besar. "Aw... aww." tiba-tiba ia merasakan sakit pada bagian perutnya.


Ia memejamkan matanya dengan menggigit kecil bibirnya menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja datang, kemudian melihat langit yang mengeluarkan kilatan cahaya yang semakin bertubi-tubi.


Duarrr duuuaaarrrrrr duaarrrrrrr.....


Seketika tubuh Winda terasa seakan terhantam batu besar saat mendengar dentuman petir yang menggelegar, ia pun memejamkan matanya kembali.


Namun, tiba-tiba...


Bayang-bayang aneh muncul dikepalanya, sesosok laki-laki tinggi dan seorang wanita dengan posisi si wanita menggunakan hijab memeluk si laki-laki dari belakang, mereka berdiri didepan pintu. Wanita itu memeluknya sangat erat menyandarkan kepalanya dipunggung laki-laki itu, terlihat ketakutan mendengar suara petir.


"Sigit aku takut."


"Git, aku takut Git."


"Aw... kepalaku pusing..." Winda memegangi kepalanya. Ia merasakan sesuatu yang aneh, aneh benar-benar dirinya merasakan sesuatu yang sangat hebat.


Duarrrrrr....


Bersambung....🤗🤗


Hatiku meronta berharap suatu keajaiban terjadi pada Winda. Bagaimana dengan mu akak2 terlope-lope semua ??


Saranghe...💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2