Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 91


__ADS_3

Renaldi memandangi gundukan tanah yang sudah bertahun-tahun itu setelah selesai membacakan doa untuk Azzam, lalu melihat tulisan yang tertera dipapan yang berada didepannya. Iapun terduduk seakan berhadapan dengan wajah sahabatnya itu.


Sudah menjadi rutinitas hampir setiap bulan Renaldi selalu menyempatkan dirinya mendatangi makam sahabatnya itu, apalagi ia sangat merasa bersalah setelah kepergian keluarga sahabatnya.


Saat ini sudah enam bulan ia tidak menghampiri makam Azzam, rasa rindu terhadap sahabatnya hinggap setelah pertemuannya dengan Lili.


"Zam... maafkan aku, sampai hari ini aku belum menepati janjiku untuk menjaga adikmu, sejauh ini aku sudah berusaha mencarinya, namun belum juga kutemukan bidadari kecilku itu."


suara parau Renaldi terasa berat, matanya mulai berkaca-kaca seakan menyesali kebodohannya yang belum juga menemukan adik sahabatnya.


"Entah dimana dia sekarang Zam, sudah sekian lama tidak bertemu dengannya aku takut jika aku tidak akan mengenalinya lagi. Tentunya dia sekarang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik. Dan kalaupun aku bertemu dengannya suatu hari nanti belum tentu aku mengenalinya, karena sampai detik ini aku tidak mengetahui namanya, itulah salah satu kebodohanku yang sudah aku lakukan dulu, aku hanyalah ingat nama panggilan kesukaannya, yaitu bidadari kecilku, itu saja Zam." ucap Renaldi sambil tersenyum pilu pada sepotong kayu didepannya menertawakan kebodohannya sendiri.


"Tapi, kamu tenang saja sahabatku karena aku tidak akan berhenti begitu saja mencari bapak, ibu dan juga bidadariku. Aku akan terus mencarinya hingga keujung dunia sekalipun, hingga aku menemukan mereka." kata Renaldi


Tidak terasa hari sudah semakin senja, hampir setengah hari ia berada disana, hingga rumput liar yang ia cabut sudah tertumpuk disisi gundukan tanah, menyadari suasana yang sebentar lagi menggelap, Renaldi mulai beranjak dari duduknya dan meninggalkan makam Azzam menuju parkiran mobilnya. Didepan pintu gerbang iapun bertemu dengan pengurus makam dan menyapanya sebentar lalu berpamitan padanya dan segera memasuki mobilnya dan melajukannya dijalan gang sempit itu.


❄️❄️❄️


Kedatangan Winda dan Sigit disambut bahagia oleh ibu Arini dan pak Idris, mereka sudah mempersiapkan makanan kesukaan Winda.


Hari ini merupakan pertama kalinya Sigit berada dirumah mertuanya, rumah yang luas dan penataan ruangan yang sangat epik, gaya rumah tropis modern terlihat nyaman dan tenang dirasakannya.


Dalam diam ketika Winda sudah terlelap di alam mimpi, ia memandangi wajah didepannya yang terlihat begitu lelahnya, dalam pikirnya ia tidak habis pikir jika istrinya termasuk keluarga berada, namun ia tidak tau alasannya kenapa semasa kuliah penampilan Winda sangat sederhana tidak seperti gadis lainnya yang rata-rata lebih mengandalkan gaya hidup, style dari pada kesederhanaan.


Sekilas Sigit mengingat sikap Winda ketika masih kuliah banyak diam, namun dibalik pendiamnya Winda ternyata mampu menggugah rasa penasarannya yang awalnya sempat membuatnya suka menggoda Winda saat itu karena dimata Sigit, Winda adalah seorang gadis yang cantik, menarik, lugu dan disiplin.


"Maaf kak, mau tanya fakultas hukum yang sebelah mana ya?" suara seorang gadis cantik tiba-tiba terdengar dari belakangnya.


Mendengar suara pertanyaan dibelakangnya, Sigit menengok kanan kirinya yang tidak terdapat seorang pun disekitarnya, lalu ia memutar tubuhnya mencari pemilik suara itu.


"Ya? lu tanya ke gue?" ucap Sigit dengan menunjuk dirinya pada gadis yang belum ia kenal didepannya.


"Ya." jawab gadis itu dengan menganggukkan kepalanya tersenyum.


"Saya mahasiswi baru jurusan hukum, dan saya tidak tau sebelah mana gedungnya, bisakah kamu memberitahu saya?" lanjut Winda.


"Oh. Tentu saja." jawab Sigit.


"Fakultas Hukum sebelah kanan, dan yang sebelah kiri itu fakultas Humaniora." lanjut Sigit sambil menunjukkan tangannya ke gedung yang dimaksud pada gadis itu.


"Terimakasih."


###


Sigit tersenyum teringat awal pertemuannya dulu, dengan wajah Winda yang polos dan penampilan yang sangat sederhana.


"Kalau saja dari dulu Abang sudah tau kamu adalah jodohku, pasti Abang tidak akan semena-mena dengan mu Win." kata Sigit.


Sigit berdiri disisi ranjang samping Winda sambil menyilangkan kedua tangannya didadanya, ia memperhatikan wajah Winda seraya tersenyum dan menghela nafas panjang.


"Hhhhhh... siapa sangka peristiwa malam itu menyatukan kita walaupun awalnya sangat tidak masuk akal adat dan peraturan di desa itu, tapi... bagaimanapun juga Abang sangat bersyukur, karena dengan begitu sekarang Abang menjadi suamimu." lanjut Sigit berkata sendiri.


Setelah puas memperhatikan wajah Winda, ia berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya disamping Winda hingga ia turut terlelap.


❄️❄️❄️


"Ibu." panggil Winda pada ibunya.


Wanita setengah baya itu baru saja melangkahkan kakinya memasuki dapur dengan membawa sayuran yang barusan dipetiknya dari kebun yang berada disamping rumahnya, ia mendapati Winda sudah bersama bik Ratih didapur. Iapun tersenyum padanya.


"Kamu sudah disini?" tanya ibunya sambil meletakkan bawaannya diatas meja.


Bik Ratih bergegas mengambil sayuran yang baru diletakkan Bu Arini.

__ADS_1


"Iya Bu, sudah lama Winda tidak membuat keributan di dapur ini kan?"


"Bisa saja kamu nak." ibu terkekeh menanggapi perkataan Winda sambil meneruskan pekerjaan bik Ratih meracik bumbu dapur.


Winda berjalan mengangkat panci yang sudah terlihat uap panas dari dalam panci itu, lalu menuangkannya kedalam cangkir. Seperti biasanya ia selalu membuatkan minuman hangat untuk suaminya setiap pagi.


"Kata bik Ratih, ibu sama bapak mau ke makam mas Azzam pagi ini?" kata Winda sambil mengaduk air kopi didalam cangkirnya.


"Iya." jawab wanita setengah baya itu padanya.


"Boleh Winda ikut?"


Mendengar pertanyaan Winda, wanita itu hanya tersenyum dan terdiam sesaat memandangi wajah putrinya. Ia sudah menduga jika putrinya mengetahui rencana mereka pergi ziarah ke makam putra sulungnya pasti Winda akan ikut serta dengan mereka.


Sebenarnya rencana pergi ziarah sudah dari minggu kemarin, namun gagal karena pekerjaan pak Idris. Hari ini kebetulan pak Idris ada waktu senggang sehingga bisa mewujudkan keinginan istrinya. Semalam bu Arini sudah membicarakan bersama suaminya agar bersedia mengajak Winda, namun pak Idris tidak mengizinkannya karena menurut pak Idris, Winda dan suaminya pasti masih lelah setelah perjalanan jauh. Apalagi kondisi putrinya sekarang yang sedang hamil harus mengutamakan kesehatannya dengan banyak istirahat.


"Ibu." suara Winda terdengar sambil menggoyangkan lengan ibunya yang masih terdiam.


Bu Arini memandang wajah Winda yang menunggu jawabannya. Winda mengangkat kedua alisnya tidak sabar ingin mendengar kalimat dari ibunya yang terlihat ragu.


"Kenapa? tidak boleh ikut?" tanya Winda semakin penasaran.


"Bukan begitu nak." jawab Bu Arini melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.


"Kamu kan baru datang tadi malam, tentunya masih capek kan?"


"Tidak, Winda tidak capek kok." sahut Winda cepat.


"Winda, kamu sedang hamil sekarang, wanita yang sedang hamil muda tidak boleh terlalu capek. Itu bisa mempengaruhi kondisi kesehatan kamu."


"Kan sudah beberapa bulan bu? berarti sudah kuat kan janin Winda? lagian Winda kangen sama mas Azzam bu... boleh ya? ya?"


"Hhhhh....." Bu Arini menghembuskan nafas panjang mendengar perkataan putrinya, tidak tahu mengapa Winda sekarang jadi lebih keras kepala tidak seperti biasanya.


"Winda." suara pak Idris terdengar mengagetkan Winda dari depan pintu. Winda menoleh kearah bapaknya.


"Bapak..."


Pak Idris berjalan mendekati mereka.


"Kalau kamu benar-benar ingin ikut, bicarakan dulu dengan Sigit, dia suamimu yang bertanggung jawab penuh atas dirimu sekarang." jawab pak Idris.


"Bapak membolehkan Winda ikut pak?" tanya Winda dengan mata berbinar.


"Bukan bapak yang mengizinkanmu, tapi izin suamimu yang akan membolehkan kamu ikut ziarah."


Mendengar penjelasan dari bapaknya, Winda tersenyum dan bergegas membawa secangkir kopi buatannya untuk Sigit yang masih didalam kamarnya.


"Baiklah Winda akan bicara sama Abang dulu kalau begitu."


Pak Idris terdiam melihat Winda yang sudah beranjak meninggalkannya.


Winda berjalan menuju kamarnya dengan membawa harapan mendapatkan izin dari suaminya.


Setelah berada didalam kamarnya, Winda meletakkan kopinya diatas meja, ia melihat suaminya yang tertidur diatas ranjang.


"Abang, kok tidur lagi? bukannya turun kebawah setelah shalat shubuh?"


Winda duduk diatas ranjang mendekati suaminya.


"Hmm.... disini dingin sekali ternyata."


Winda melirik Sigit yang mencoba membuka matanya.

__ADS_1


"Abang sakit?"


"Tidak."


"Capek?"


"Sedikit sih."


Sigit kini sudah mengalihkan posisi tidurnya dengan duduk bersandar dikepala ranjang sambil melihat wajah istrinya yang terdiam seakan ada yang disembunyikannya.


Winda berjalan mengambil cangkir yang dibawanya tadi, lalu memberikannya pada Sigit.


"Kenapa murung? apa ada sesuatu?" tanya Sigit penasaran seraya menerima uluran cangkir yang dibawa istrinya.


Winda memperhatikan Sigit yang langsung menyeruput kopi darinya, kedua bola mata mereka saling beradu beberapa saat. Winda ragu untuk mengutarakan keinginannya setelah dia pikir-pikir suaminya pasti mencegahnya dengan alasan yang sama seperti ibunya.


"Hey... malah bengong?"


"Hm?"


"Ada apa?"


"Em... i-itu bang, hari ini bapak bersama ibu mau pergi ziarah ke makam mas Azzam."


"Hm, terus?"


"Winda sebenarnya ingin ikut ziarah juga, tapi kata bapak harus tanya dulu sama Abang. Tapi, Abang sepertinya masih capek jadi... sepertinya Winda ziarahnya ditunda dulu lain kali saja." jelas Winda dengan sedikit terbata-bata.


Sigit terdiam heran dengan penjelasan Winda yang menyimpulkan keputusannya sendiri. Ia memperhatikan Winda yang melipat selimut tebal disampingnya.


"Kenapa begitu? Abang kan belum memberi jawaban untuk Winda?" kalimat Sigit.


Winda menghentikan kegiatannya melipat selimut dan mengalihkan pandangannya pada laki-laki disampingnya.


"Maksud Abang? Abang izinin Winda ikut bapak dan ibu ziarah gitu?" ada senyum mengembang di kedua pipi Winda setelah mendengar kalimat suaminya.


"Hm, kenapa tidak? Abang pasti izinin karena Abang juga ingin mengunjungi makam Kakak ipar Abang juga." jawab Sigit sambil tersenyum simetri.


"Tapi ada syaratnya." sahut Sigit cepat seraya menarik tubuh istrinya diatas ranjang dan mendekapnya.


"Iiih.... Abang jangan macem-macem ya ini sudah pagi loh."


Winda mencoba menghindari tangan suaminya, namun apalah dayanya ketika tangan kekar Sigit sudah lebih dulu menangkapnya dan memeluknya dari belakang, sehingga tubuh Winda terkungkung tidak berkutik.


"Ssstt ikutin saja kata Abang, jangan berontak."


Winda dengan terpaksa mengikuti perkataan suaminya, ia terdiam dengan tangan Sigit membelai perutnya yang sudah mulai membesar, ada rasa nyaman dalam dirinya ketika Sigit terus membelai dengan lembut sehingga menimbulkan reaksi dari dalam perutnya.


Winda merasakan tendangan bayi dalam perutnya semakin hari semakin kuat, palagi jika Sigit mengajak berinteraksi dengan bayinya, perutnya terasa seperti arena sepak bola karena gerakan yang dilakukan oleh Sigit.


"Biarkan kita menikmati suasana nyaman seperti ini sejenak. Karena suatu hari nanti kita pasti akan merindukan suasana seperti ini disaat anak kita sudah lahir nanti." bisik Sigit ditelinga Winda yang tertutup hijabnya. Winda hanya tersenyum membenarkan kalimat suaminya, lalu tersenyum dan meletakkan tangannya diatas tangan laki-laki yang sedang mengelus perutnya.


.


.


.


.


Bersambung...🤗


Akak2 Yang sudah kangen sama Abang dan Winda silahkan berikan dukungannya lagi ya...

__ADS_1


Saranghe 💞💞


__ADS_2