
Tringting Ting Ting Ting Ting Ting....
Sigit menatap tajam wajah Renaldi, sedangkan semua orang disekitarnya terkejut melihat benda yang menggelinding dilantai.
Renaldi kembali terkejut melihat benda itu bercahaya untuk yang kedua kalinya.
"Ayo sekarang aku layani tantanganmu brengsek." Sigit mengeratkan giginya, rahangnya sudah mengeras, geram.
Renaldi tidak menggubris perkataan Sigit, ia masih terheran menatap benda yang bercahaya di belakang Sigit. Sedangkan Revan berjalan mendekati gantungan kunci bintang dan memungutnya.
Ia sangat terkejut saat memegang gantungan kunci itu tidak bercahaya lagi ditangannya.
"Kenapa mati cahaya itu?" batin Renaldi.
"Ini? gantungan kunci ini?" Revan tertegun, teringat gantungan kunci miliknya, ia meneliti benda ditangannya.
Gantungan kunci bintang yang sama persis dengan miliknya, gantungan kunci bintang yang akan bercahaya jika bersentuhan dengan pemiliknya dan akan mati cahayanya jika disentuh orang lain.
"Itu?? gantungan kunci bintang..." papi, mami dan Bram juga ikut terheran. "Kenapa Renaldi sampai bisa mempunyai gantungan kunci bintang itu?" papi bertanya sendiri, keningnya berkerut keheranan.
"Ayo keluar sekarang." suara Sigit memecah keheningan.
Renaldi menatap Revan dan keluarganya, terdiam seketika dengan menatap benda ditangan adiknya.
"Ada apa dengan mereka?"
"Kak." Revan berjalan mendekati Renaldi. "Dari mana kakak mendapatkan benda ini?" tanya Revan sambil mengangkat tangannya.
Renaldi bertambah penasaran dengan pertanyaan Revan.
"Kenapa? apa ada yang menarik?" jawabnya menyembunyikan rasa penasarannya.
Revan mengalihkan pandangannya pada papi dan abangnya bergantian.
Sigit meliriknya sekilas kemudian tersenyum meremehkan benda ditangan Revan, lalu mengalihkan pandangannya pada wajah Revan.
"Heh, apa bagusnya benda remahan seperti itu? banyak gantungan kunci yang sama di luaran sana seperti itu." ucapnya mengejutkan semua orang. Sigit benar-benar tidak menyadari cahaya yang terpancar dari benda itu barusan, sehingga dengan mudah ia mengucapkan kalimat seperti itu. Andai ia mengetahui benda itu bersinar setelah mengenai tubuhnya, ia pasti akan sama seperti Revan dan juga yang lain reaksinya.
Terkejut.
Kaget.
Tidak percaya.
Atau bahkan histeris, entahlah bagaimana reaksinya jika ia menyadari gantungan kunci bintang itu miliknya yang selama ini diberikan kepada bidadari kecilnya dulu.
"Tapi ini beda bang dengan yang ada di luaran sana."
"Apanya yang beda." bantah Sigit cepat. Ia hanya memandang sekilas tidak tertarik dengan benda itu.
"Perhatikan betul bang." Revan mempertahankan pendapatnya membujuk abangnya, berjalan mendekati Sigit, agar memastikan benda ditangannya.
"Sudahlah, kembalikan itu milikku." sahut Renaldi seraya meraih benda itu dari tangan adiknya.
"Eits tunggu dulu." dengan cepat Revan menghindari tangan kakaknya. "Saya masih penasaran dengan benda ini." lanjutnya sambil menggaet tangan Sigit. "Tolong pegang sebentar bang."
Sigit mengangkat sebelah alisnya, menghembuskan nafas dengan kasar membiarkan tangan Revan meletakkan benda itu diatas telapak tangannya.
Triiiiiing.....
Seketika gantungan kunci bintang itupun menyala, bintang itu mengeluarkan cahaya lebih terang daripada tadi saat hanya terbentur dadanya sekilas.
Terkejut.
Suasana hening seketika.
Deg.
Deg deg deg deg.
Detak jantung Sigit terasa berdegup sangat kencang dari sebelumnya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Semua pasang mata menatapnya tidak kalah terkejut melihatnya.
Sigit terpaku.
"Kamu menyukai gantungan kunci itu?"
__ADS_1
"Iya aku sangat suka dengan gantungan kunci bintang ini mas, unik. Dia bisa bercahaya seperti bintang di langit."
"Kalau kamu suka, kamu boleh mengambilnya."
"Benarkah?"
"Hm. Ambil aja itu buat kamu."
Sigit membisu menatap benda yang tiba-tiba saja bercahaya ketika berada diatas telapak tangannya, kemudian mengalihkan pandangannya pada Revan, ia menggeleng kan kepalanya mengingat gantungan kunci bintangnya sudah ia berikan kepada gadis kecil yang tersesat dan bersamanya didalam gudang malam itu.
"Ha-hantu....!!"
"Ka-kamu... se-setan ya?"
"Hus! enak aja kalau ngomong."
"Terus mas siapa? manusia juga seperti bidadari kan?"
"Iya aku manusia, tapi bukan seperti bidadari."
"Haaa... takut..."
"Hei. Kamu kenapa?"
"Hiks, hiks, hiks jangan dekati bidadari, jangan-jangan... kamu... manusia silu...."
"Aku bukan manusia siluman."
"Aku sedang tersesat disini."
"Tersesat?"
"Hm."
"Kamu sendiri?"
"Aku tadi siang dibully teman-temanku."
"Dibully? Kok bisa? gimana ceritanya?"
"Aku tadi udah muter-muter sekitar sini tau, tapi jalannya tetep aja pohon semua."
"Tapi aku tadi dari sana ada gedung kosong."
Ingatannya kembali pada peristiwa didalam gedung kosong itu. Terlihat gadis kecil yang bernama bidadari yang ketakutan malam itu.
"Mas bintang terimakasih ya... sudah membantu dan menemani bidadari disini, jika tidak ada mas bintang tadi entah bagaimana bidadari sekarang, hiks, hiks... mungkin sudah hilang ditengah hutan dan di maka..."
"Ssstttt... jangan nangis, jangan berkata seperti itu pula." jari telunjuk Sigit diarahkan pada bibir Winda. "Yang penting sekarang bidadari tenangin dulu diri bidadari ya, dan jika bidadari sudah ngantuk, sini."
"Tidur disini, didada mas, anggap saja aku adalah kakakmu oke?"
"Baik mas."
"Git, bukankah itu gantungan kunci milikmu? tiga gantungan kunci bintang yang dipesan husus papi waktu itu?" suara Bram dihadapan nya menghentikan lamunannya.
Sigit masih menatap lekat tidak berkedip benda ditangannya, lalu beralih pada wajah Bram tepat didepannya.
"Kamu ingat apa kata kakek yang mendesain gantungan kunci bintang milik kita ini?" kata Bram mengingatkan adiknya.
"Kok mati kek punya bang Bram saya pegang?"
"Iya punya Sigit juga mati kek bintangnya?"
"Itu karena bukan pemiliknya yang memegangnya, walaupun kalian bersaudara namun gantungan kunci itu sudah merespon pemiliknya. Jadi bintang itu tidak akan menyala kalau bukan pemiliknya. Kalian faham sekarang?"
"Iya kek."
Sigit terdiam kembali teringat percakapan mereka waktu itu dengan si kakek pembuat gantungan kunci ditangannya.
"Kakek itu bilang gantungan kunci bintang milik kita tidak akan menyala lampunya jika bukan pemiliknya yang memegangnya. Kamu ingat kan?" kalimat Bram terdengar mengingatkan. "Dan sekarang gantungan kunci bintang ini bukanlah gantungan kunci bintang remahan, ini benar-benar milikmu Git."
Sigit mengangguk, namun masih merasa bingung kenapa gantungan kunci bintang yang pernah ia berikan pada gadis kecil bidadari ada pada Renaldi.
"Iya, benar bang ini milikku, tapi..." jawab Sigit masih bingung.
__ADS_1
"Ada apa? apa ada yang kamu sembunyikan dari kami?" tanya Bram.
Sigit menggeleng.
"Bukan begitu bang."
Sigit beralih melirikkan matanya pada Renaldi. Lalu berjalan mendekatinya yang masih terdiam menatapnya.
"Katakan, dari mana kamu mendapatkan benda ini?" tanya Sigit lirih.
Renaldi masih terdiam menatap wajah Sigit tidak mengerti.
"Kenapa benda bidadari bisa jadi milik Sigit? kenapa jadi begini ceritanya?" batinnya kacau.
"Cepat katakan siapa yang sudah memberikan gantungan kunci ini padamu?" pertanyaan Sigit terucap lagi dengan tatapan tajam.
"Kak." Revan berdiri didepan Renaldi, penasaran. "Tolong jawab pertanyaan Abang Sigit kak."
Renaldi menatap Revan ragu mengatakan yang sebenarnya.
"Ayolah kak, katakan." bujuk Revan.
Hening.
Renaldi melihat sekitarnya. Entah mengapa justru wajah bidadari kecilnya hadir dipelupuk matanya sedang berlarian tersenyum mengejar Azam dan dirinya.
"Dia... dia..." tanpa sadar Renaldi mulai mengucapkan begitu saja apa yang muncul didalam retina kedua bola matanya. "Bidadari kecilku yang sangat periang dan selalu membuatku rindu untuk bertemu dan bersama...."
Tes tes
Tidak terasa buliran bening lolos begitu saja menerobos kelopak matanya.
"Bidadari kecilku yang polos dan menggemaskan. Dia... dia bidadari. Bidadari kecilku..."
Lunglai
Terkulai lemas, kedua lutut Sigit bergetar seakan tidak kuat menyangga tubuhnya saat mendengar nama bidadari yang disebut Renaldi. Kedua bola matanya terbelalak menahan sesak nafasnya.
"Hiks, hiks, hiks jangan dekati bidadari, jangan-jangan... kamu... manusia silu...."
"Apa kamu sama seperti bidadari?"
"Terus mas siapa? manusia juga seperti bidadari kan?"
Kalimat gadis kecil itu terngiang berkali-kali ditelinga nya.
Sigit memejamkan matanya dengan menggigit kecil bibir bawahnya. Tidak percaya dengan kalimat yang barusan keluar dari mulut laki-laki didepannya.
"Sudah hentikan. Jangan mencoba mengarang cerita tentang bidadari kecilku."
🎵🎵🎵🎵
Tiba-tiba hp Sigit bergetar dan sebuah panggilan terdengar dari saku celananya.
Sigit segera meraih hpnya dan membaca nama yang tertera dilayar hp, kemudian memencet tombol hijau.
"Iya hallo. Tumben nelpon gue Tan?"
.
.
.
. Bersambung 🤗🤗
Haduh makin deg deg ser hatiku. Samakah dengan akak-akak semua...
kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya ya...
??
Ayo semangat dukungannya....
Saranghe 💞💞💞
__ADS_1