Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 39


__ADS_3

Winda telah dipindahkan diruang rawat setelah dokter Tama dan perawat usai memeriksa keadaannya dan menyatakan kondisi Winda sudah membaik.


Ibu Arini duduk disisi ranjang Winda, dia memperhatikan putrinya yang sudah lebih baik, tidak ada alat-alat kesehatan lainya yang terhubung ditubuhnya seperti tadi pagi kecuali selang infus yang terhubung ditangannya dengan botol yang berada ditiang besi didepannya.


Winda duduk bersandar dikepala ranjang meluruskan punggungnya, dia merasa lelah dibagian kepala belakangnya.


Perlahan Winda memperhatikan sekelilingnya, pandangnya tertuju pada mami Lia, papi Winata yang berada disisi kanan ranjangnya, lalu beralih kearah bapaknya dan berahir pada ibunya dan Sigit yang berada disisi kiri ranjangnya dengan Sigit berdiri didekat tiang besi infus disamping duduknya.


Winda tersenyum kepada mami Lia dan papi Winata yang sedari tadi menunggunya setelah dirinya dipindahkan diruang rawat dan memperhatikan dirinya, ada gurat bahagia diwajah mereka yang ditangkap Winda ketika melihat dirinya, Winda mencoba mengenali mereka namun belum juga mengingat siapa mereka, Windapun menoleh kearah ibunya.


"Mereka siapa bu? teman ibu sama bapak?" tanya Winda kepada ibunya setelah memperhatikan kedua orang tua yang merasa asing baginya dengan tersenyum manis.


Seketika perkataannya membuat suasana hening didalam ruangan kelas executive, bu Arini spontan melihat besannya yang sama-sama terkejut dengan dirinya, mami Lia menutup mulutnya, terlihat sedang memikirkan sesuatu tentang menantunya.


Winda terbengong melihat sikap orang-orang disekitarnya yang terlihat terkejut dari raut muka mereka.


"Oh... me-mereka orang tuanya nak Sigit Win..." jawab bu Arini pada putrinya setela mami Lia mendekatinya memegang kedua pundaknya memberikan penguatan batin kepadanya.


"Oh... maaf om, tante, Winda tidak mengenali om dan tante adalah orang tuanya Sigit, dan... kenalkan saya Winda teman kuliah Sigit om, tante." kata Winda lembut dengan senyuman dibibirnya sembari menelangkupkan tanganya didada sebagai salam perkenalan menurutnya, lalu menoleh pada Sigit yang masih duduk disampingnya terkejut mendengar ucapannya.


"Maaf Git, aku tidak pernah bertemu dengan orang tuamu sebelumnya." ucap Winda menatap wajah Sigit didepannya.


"Terus kamu ngapain duduk deket aku seperti ini? jangan kurang ajar kamu ya. Tadi juga ngapain pakai cium-cium keningku? pegang-pegang tanganku pula!bukannya kamu tidak suka deket-deket denganku selama ini?" lanjut Winda sambil menggeser duduknya dari Sigit yang terbengong mendengar ucapannya.


Kedua orang tua mereka saling pandang setelah mendengar Winda mengatakan tingkah suaminya seolah tidak mengetahui apapun dengan hubungan mereka sekarang.


Tangan bu Arini memegang lengan Sigit dengan saling bertatap muka lalu menganggukan kepalanya sebagai isyarat kepada Sigit agar lebih sabar menghadapi cobaannya saat ini, sigitpun membalas anggukan ibu mertuanya.


Sigit beranjak meninggalkan ruangan rawat Winda dan segera menuju ruangan dokter Tama dengan diikuti bapak Idris, mertuanya untuk menanyakan permasalahan yang dihadapi Winda.


Sigit mengetuk daun pintu didepanya setelah sampai didepan ruangan dokter Tama.


Setelah dipersilahkan masuk oleh dokter Tama, Sigit dan pak Idris memasuki ruangan dan duduk diatas kursi yang berada di depan meja yang bertuliskan dr. Tama Adi Nugroho.


Sigit menceritakan kondisi istrinya yang barusan terjadi diruang rawatnya yang hanya mengenali orang-orang tertentu, yaitu bu Arini, pak Idris dan dirinya sebagai temannya bukan suaminya, sedangkan dengan papi dan maminya Winda tidak mengenalnya.

__ADS_1


Dokter Tama mendengarkan perkataan Sigit sampai selesai, setelah selesai dia baru menjelaskan penyebab terjadinya keanehan terhadap istrinya saat ini adalah kemungkinan karena tekanan trauma dan bisa saja karena pengaruh stress yang berlebihan sehingga saat ini istrinya mengalami amnesia anterograde, yaitu pasien hanya mengingat peristiwa dimasa lalunya saja, amnesia sejenis ini bisa bersifat sementara bahkan permanen.


Sigit berpikir sejenak menyimpulkan keterangan dari dokter Tama bahwa kemungkinan Winda tidak mengingat pernikahan mereka, terlebih lagi Winda tidak menyaksikan prosesi ijab qabulnya, jadi kemungkinan ingatan statusnya sebagai istrinya hilang, sama sekali tidak terekam.


Sigit menggigit bibirnya, rahangnya mengeras dengan tangan terkepal sambil memejamkan matanya, dia benar-benar terpukul dengan keadaan Winda sekarang.


Pak Idris yang berada disampingnya mengerti apa yang dirasakan menantunya saat ini, dimana disaat sayang-sayangnya terhadap istrinya dia harus merasakan kehilangan rasa itu dari istrinya dan harus memulainya lagi dari awal.


โ„โ„โ„


Pagi hari tepat pukul delapan pagi dokter Tama memeriksa keadaan Winda yang semakin membaik, dan menurut catatan kesehatannya Winda besok sudah diperbolehkan pulang jika keadaannya semakin baik lagi.


Memang ketika diperhatikan Sigit dari semalam Winda sudah bisa berdiri dan berjalan menuju kamar mandi dengan dibantu bu Arini karena masih merasa malu dengan Sigit yang dikiranya teman kuliah bukanlah suaminya, dan kebetulan semalam yang bisa menunggu Winda hanya dirinya dan ibu mertuanya saja, sementara papi, mami dan pak Idris pamit pulang.


Dokter tama dan suster sudah selesai nemeriksa Winda, mereka keluar dari ruang rawat Winda, kini tinggalah mereka bertiga.


Tidak lama bu Arini pamit pulang terlebih dulu setelah menerima panggilan dari seseorang, tentunya Winda merasa keberatan jika hanya berdua saja dengan Sigit dirumah sakit, namun karena bu Arini ada kepentingan yang harus dikerjakan saat itu juga membuatnya harus meninggalkan mereka berdua, sehingga Winda hanya pasrah dengan keputusan ibunya.


Setelah kepergian ibu mertuanya Sigit masuk kekamar mandi dengan membawa handuk putih ditangannya akan mandi karena merasa lengket disekujur tubuhnya walaupun berada diruangan ber ac.


Winda terhenti melihat tubuh atletis Sigit didepannya sampai tubuh polos itu tertutup kaos abu-abu.


"Kenapa liat-liat? tertarik pengen dipeluk lagi?" ucap Sigit menggoda Winda, dia lupa jika Winda tidak mengingat statusnya sebagai suaminya.


"Gak sopan. dasar tidak tau malu." jawab Winda kesal.


"Kenapa harus malu sama istrinya sendiri?" jawab Sigit dengan enteng dan memeluk tubuh Winda setelah melempar handuknya diatas ranjang.


Mata mereka saling beradu dengan bibir yang sudah terkikis, Winda hanya terpaku melihat bibir Sigit yang sudah berhasil mengulum bibir tipisnya, dia merasakan sentuhan Sigit seakan dia pernah melakukan hal yang sama entah dimana dan dengan siapa.


Winda terhanyut dengan permainan bibir dan pergulatan lidah Sigit didalam mulutnya, hingga Winda tersadar dan mendorong tubuh Sigit.


"Apa yang kamu lakukan Git? kamu harus tahu batasan. Siapa aku? dan siapa kamu? jangan seperti binatang yang tidak punya akal, ingat Git. Kita hanya teman kuliah tidak lebih." Sigit menepuk jidatnya baru tersadar dengan kondisi istrinya yang tidak mengingat status mereka yang sudah bebas grebekan.


"Haduh Winda... status kita itu jika diibaratkan jalan ya jalan tol sayang... bebas hambatan." batin Sigit.

__ADS_1


"Hm, lupa honey..." ucap Sigit sambil melirik Winda.


"Apa lagi itu Git. Honey honey honey jangan sampai aku didamprat temen perempuan spesialmu dengan kata candaan kamu itu, tidak lucu Tau?!" jawab Winda kesal sambil berlalu meninggalkan Sigit menuju sofa dengan menarik tiang besi impus disampingnya.


"Hm. Siap nyonya Andra." ucap Sigit seakan meledeknya.


Winda berpikir sejenak dengan ucapan Sigit yang baru duduk disofa depannya.


"Siapa itu Andra? kamu jangan buat gosip ya Sigit Andra Winata!" ucap Winda tanpa sengaja menyebut nama lengkap suaminya.


Winda membelalakkan kedua bola matanya, terkejut dengan kalimat yang dia keluarkan sendiri.


"Ups..." lanjut Winda sambil menutup mulutnya.


"Ha ha ha ha."


Sigit gemas menertawakan ulah Winda.


"Apa maksud ucapanmu menyebutku nyonya Andra Git?" Winda menanyakan ucapan Sigit yang baru diucapkan kepadanya.


.


.


.


.


.Bersambung...


ayo mana dukungannya...??


jangan lupa selalu tinggalkan jejak.


Saranghe๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž

__ADS_1


__ADS_2