Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 144. Bram kembali


__ADS_3

"Maksud Abang?"


Bram menjelaskan pada Sofia apa yang baru saja ia dengar dari percakapan Sigit dan Winda. Tidak ada yang dia tutupi dari Sofia sedikit pun. Wanita itu terdiam, pikirannya melayang merasakan bagaimana perasaan Winda saat ini. Kehilangan harta yang paling berharga sebagai seorang ibu.


Bram melanjutkan perkataannya.


"Sofia, kamu akan tercengang ketika kamu tau apa yang sebenarnya terjadi pada Brian." Bram duduk diatas sofa seraya melirik istrinya setelah berhasil menidurkan Faeyza kembali ketempat tidurnya.


"Memangnya kebenaran tentang apa bang?" Sofia duduk disamping suaminya ingin mengetahui apa yang baru saja diucapkan laki-laki itu.


"Satu hari setelah Brian lahir, dokter Lina memanggilku dan meminta penjelasan bagaimana keadaan Winda saat kehamilannya, karena dokter menemukan ada kelainan pada jantung dan paru-paru Brian. Saat itu dokter mengatakan padaku jika Winda masih beruntung bayinya bisa lahir dengan selamat dalam hitungan kehamilannya yang kurang dari sembilan bulan, tapi... dokter itu juga mengatakan jika keadaan Brian kedepannya..." kalimat Bram terhenti. Seakan ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa bang?" Sofia penasaran tidak sabar ingin mengetahui apa yang sudah terjadi.


Bram terdiam.


"Bang..." Sofia menggerakkan lengan suaminya, panggilannya menyadarkan Bram.


"Kemungkinan besar hanya bisa bertahan paling lama satu bulan dan... paling tidak Brian akan bertahan satu atau dua minggu. Namun setelah dua minggu dirawat di rumah sakit ternyata kondisi Brian agak lebih baik sehingga diperbolehkan pulang." Bram menatap wajah istrinya. Sofia terkejut mendengar penjelasan dari suaminya.


"Dan.... lagi-lagi cobaan datang ketika Brian baru tiga hari berada dirumah. Tuhan lebih menyayanginya Sofia." Sofia terdiam.


"Apa Sigit mengetahui semua ini?" tanya Sofia, Bram menggelengkan kepalanya.


"Tidak."


Sofia mengerutkan keningnya. "Kenapa bisa Sigit tidak mengetahui masalah ini bang? dimana dia saat itu? dan kenapa Abang yang dipanggil dokter Lina bukan Sigit? kenapa bang?" Sofia memberondong pertanyaan karena masih penasaran.


Suasana hening seketika.


Bram terdiam sesaat memandang wajah Sofia yang menyimpan rasa penasaran. Kemudian menjawab pertanyaan istrinya.


"Saat itu dia masih sibuk dengan urusan Winda yang masih lemah karena peristiwa penculikan itu." Sofia baru teringat kejadian itu. Hatinya miris seketika mengingatnya. Rasa kasihan menyelinap disana.


"Dan..." Bram melanjutkan kalimatnya. "Peristiwa itulah yang menyebabkan semua ini." Rahang Bram terlihat mengeras. "Nelson harus membayarnya." Sofia terbelalak mendengar kalimat barusan dari suaminya yang menyebut nama seseorang.


"Ne-Nelson?"


"Ya Sofia, dialah orang yang harus membayar semua ini."


"Siapa dia bang?"

__ADS_1


"Dia adalah seorang pengusaha yang sangat berbahaya, dan dia juga pernah berada didalam jeruji besi setelah terbukti salah di pengadilan." Bram mengganti posisi duduknya. "Kamu tau siapa orang yang sudah membuatnya masuk penjara itu?"


Sofia menggelengkan kepalanya tidak mengerti.


"Seorang mahasiswa yang baru saja mengikuti penelitian studynya dijurusan hukum. Dia berhasil mengumpulkan data-data sebagai bukti semua perbuatan Nelson."


"Siapa mahasiswa hebat itu bang?" Sofia dan Bram saling pandang.


"Sigit Andra Winata, Sofia. Dia adikku sendiri." Jawab Bram geram.


Sofia terkejut mendengar jawaban suaminya, mulutnya melongo tidak percaya.


"Si-Sigit bang?"


Bram menganggukkan kepalanya.


"Hm, Sigit bersama pak Martha pengacara terkenal di negeri ini, telah berhasil menguak kebusukan bisnis Nelson hingga Nelson harus kehilangan semuanya. Dia jatuh terpuruk, namun karena Nelson memiliki banyak teman lambat laun dia bisa berdiri kembali seperti sekarang." Sofia menelan saliva tertegun.


"Maka dari itu, sejak dulu papi tidak setuju jika Sigit kuliah dijurusan hukum. Apalagi keinginan Sigit waktu itu sangat terobsesi menjadi seorang jaksa. Yang menurut papi, mereka akan banyak mendapatkan musuh karena lawan dalam persidangan yang tidak sesuai dengan keinginannya pasti akan menjadi petaka baginya."


"Itu berarti... Sigit sekarang belum menyadari apa yang sudah ia lakukan dulu bang?"


"Hm, bisa jadi seperti itu. Maka dari itu papi dan anak buah om Gun sudah mendapatkan cara untuk menghukum Nelson itu."


"Iya, aku tau bang. Aku tau bagaimana perasaan Winda saat ini. Sebaiknya kita memang harus segera pulang."


❄️❄️❄️


Bandara Soetta.


Suara announcement, sebuah panggilan dengan tujuan kepulauan Riau baru saja terdengar untuk penumpang pesawat yang akan segera boarding.


Sofia berpamitan pada Winda dan mengambil alih gendongan Feyza yang sudah lama dalam gendongan Winda. Sejak bangun shubuh tadi, Winda tidak terlihat bersedih, wajahnya ceria penuh senyum dipipinya. Namun Sofia menemukan ada sorot kesedihan yang disembunyikan Winda dalam manik hitam itu.


Ya, Winda terus menggendong bayi Feyza setelah Bram memberitahu kepulangannya pagi ini pada anggota keluarganya setelah shalat subuh tadi. Winda tidak lepas dari bayi mungil itu.


Begitu pula dengan Bram membisikkan pesan pada Sigit, terkadang mereka berdua terlihat tersenyum disertai dengan kekehan kecil dan terkadang juga terlihat serius diwajah keduanya.


"Segera buat Winda hamil. Jangan ditunda-tunda lagi. Lihat wajahnya, dia sangat senang." Kalimat Bram ditelinga Sigit seraya menunjuk kearah Winda dengan lirikan ekor matanya yang ditanggapi senyum adiknya.


"Sudahlah bang, jangan khawatirkan Igit kalau masalah itu. Pasti Igit akan membuatnya selalu senang."

__ADS_1


"Asal jangan sekali-kali kamu menyinggung ingin segera punya keturunan saat ini, kasihan dia. Dia pasti akan murung lagi." Bram menyenggol pundak adiknya.


"Hm, pasti bang." Jawab Sigit.


Sofia bersama kedua anaknya menghampiri Bram dan Sigit dengan Winda menggandeng Selena disampingnya.


"Sudah bang ayo segera masuk." Suara Sofia menyadarkan dua saudara yang masih terkekeh.


"Hm." Jawab Bram menoleh istrinya sekilas kemudian beralih pada Sigit dan Winda. "Baiklah Abang pamit dulu Git." Bram memeluk adiknya, lalu mendekati Winda. "Dan untuk mu Winda jaga baik-baik kesehatanmu." Winda mengangguk sambil tersenyum.


"Iya bang."


Bram mencium tangan papi dan mami, memeluk mereka bergantian dan berakhir pada Revan. Begitu pula dengan istri dan anaknya.


"Jaga diri baik-baik. Jangan bikin mami sama papi sedih." Pesan Bram pada adik bungsunya.


"Tentu bang."


Bram bersama istri dan anaknya melambaikan tangan mereka ketika berjalan membalikkan tubuhnya.


Keluarga Winata mengantar kepergian Bram beserta istri dan anaknya hingga tidak terlihat lagi sosok mereka. Mami dan papi pulang yang diikuti oleh Revan dibelakangnya. Sedangkan Sigit dan Winda menuju rumah sakit.


Sigit sudah memberitahukan perihal Bu Arini yang masuk rumah saat Winda menanyakan keberadaan ibunya yang tidak ia temukan bersama bapaknya dirumah papi Winata.


Awalnya Winda terus terisak dan ingin segera pergi ke rumah sakit menemui ibunya, namun Sigit memberikan penjelasan pada Winda agar dirinya lebih tenang dulu, sehingga ketika bertemu dengan Bu Arini di rumah sakit ia tidak akan menambah kesedihan ibunya.


"Ingat ya pesan Abang tadi malam?" ucap Sigit sambil membuka seat belt nya dengan memandang wajah istrinya. "Jangan menangis didepan ibu, harus tersenyum dan tegar." lanjut Sigit seraya mengangkat tangannya dengan jari tangan terkepal membentuk kode semangat.


Winda tersenyum tipis dan mengangguk.


"Hm."


Mereka turun dari mobil dan berjalan memasuki lobby rumah sakit dengan jari tangan saling bertautan.


Sungguh terlihat romantis, tidak terlihat jika mereka sedang dalam berduka.


"Terlihat sangat serasi dirimu Win, dan sangat bahagia saat bersama Sigit. Seakan tak terlihat lukamu saat ini jika kamu sebenarnya masih berduka. Teruslah tersenyum adikku. Winda bidadari kecilku... ketahuilah bahwa aku akan selalu berada di dekatmu untuk memastikan bahwa kau benar-benar bahagia." kata hati seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan.


.


.

__ADS_1


Bersambung 🤗🤗🤗


Sarangheo 💞💞💞


__ADS_2