
Dua hari sudah Sigit dan Winda berada didalam kamarnya setelah ultimatum malam itu diucapkan. Mereka hanya melakukan aktivitas didalam kamar, Winda sendiri merasa ada yang hilang dari kebiasaannya sehari-hari yang selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor, saat ini ia hanya merapikan tempat tidur, main hp dan tiduran. Sigit sendiri melampiaskan dirinya dengan tiduran tidak ingin diganggu siapapun.
Sesuai perintah Sigit semua keperluan Winda dan Sigit selama itu diantar mbok Lastri dan Ningsih secara bergantian kedalam kamar mereka.
Kalau Sigit sudah membuat keputusan tidak ada orang dirumah yang berani membantahnya selagi itu masuk logika dan demi kebaikan semua anggota keluarga.
Sigit merasa kasihan melihat istrinya yang tertidur diatas sofa. Dalam hatinya tidak tega membuat keputusan seperti itu kepada Winda, ia ibaratkan hukumannya terhadap Winda bagaikan burung didalam sangkar, membatasi ruang gerak istrinya yang semestinya ibu hamil harus banyak melakukan olah raga layaknya wanita yang sedang hamil, namun dirinya justru membuatnya terkekang seperti itu.
Sigit membuka situs husus ibu hamil dan mulai mencari tempat terdekat dan nyaman untuk istrinya berolah raga. Setelah berhasil mendapatkan tempat yang sesuai dengan yang diinginkan ia segera menghubungi nomor kontak yang tercantumkan di alamat tersebut. Ia tersenyum merencanakan mengajak Winda ketempat itu.
Terbayang dalam benaknya menemani Winda di sanggar olahraga ibu hamil akan menyenangkan istrinya. Dengan begitu ia juga bisa merasakan interaksi dengan anaknya lebih dekat sesuai dengan anjuran yang telah dibacanya dalam situs tersebut.
Sigit segera menghubungi tante Mirna yaitu pemilik boutique langganan mami agar menyiapkan baju olahraga untuk istrinya.
Sigit benar-benar seperti orang gila saat membayangkan bersenang-senang bersama istrinya beberapa hari kedepan. Ia sudah mengatakan rencananya mengajak Winda berlibur beberapa hari kepada papi dan Gunawan, dan selama itu pula dia izin tidak masuk kekantor.
Papi memaklumi dan memberikan izinnya pada Sigit yang sudah bekerja keras di negeri orang selama hampir satu bulan sehingga membuahkan hasil untuk perusahaannya.
"Sayang..."
panggil Sigit membangunkan istrinya.
"Win." tangan Sigit menggerakkan pundak Winda dengan pelan.
"Hm?" suara Winda terdengar lemas.
Ia membuka matanya perlahan dan mendapati wajah suaminya sudah didepannya, lalu memperhatikan pakaian Sigit yang sudah berganti kostum berbeda ketika ia sebelum ketiduran.
Pakaiannya kini lebih santai dengan menggunakan kaos casual yang dipadukan dengan celana panjang.
"Bangun."
"Hm? Winda ketiduran ya?"
"Malah tanya? cepetan ganti baju sana."
"Mau kemana?"
"Keluar, mencari udara segar."
"Emangnya mau kemana?"
"Udah buruan ganti baju."
Sigit membantu Winda yang kesulitan untuk bangun dari sofa. Ia memegang tubuh Winda dari depan.
Tangan Winda mencengkeram sofa sebagai sumber kekuatannya untuk bisa berdiri. Semakin hari ia merasa semakin besar kehamilannya. Untuk banyak bergerak ia sudah tidak bisa seperti hari-hari sebelumnya.
"Hati-hati." ucap Sigit.
"Hm."
Winda berjalan menuju ruang ganti hendak mengambil baju gantinya, namun begitu sampai didepan ranjang, kedua bola matanya terpaku pada gamis putih keperakan beserta hijab sudah tergeletak diatasnya. Winda segera mendekati gamis itu dan tersenyum sambil meraba benda yang sudah pasti cantik bila melekat ditubuhnya.
"Wah... bagus sekali bajunya..." gumamnya dengan mata berbinar.
__ADS_1
Setelah puas memperhatikan gamis itu, ia mengambil dan membawanya ke dalam ruang ganti.
"Sebenarnya suamiku itu seorang suami yang perhatian dan penyayang sih padaku, apalagi melihat keadaanku sekarang, dia semakin menyayangi ku walaupun terkadang dia galak dan cuek."
Pikir Winda, ia tersenyum bahagia melihat penampilannya menggunakan gamis dan jilbab yang sudah disediakan Sigit untuknya. Ia segera keluar dari ruang ganti.
Sigit terpaku melihat Winda saat melihat wajah istrinya yang baru keluar dari ruang ganti. Menurutnya Winda sekarang semakin hari semakin cantik dan menggemaskan.
"Sudah siap?"
Tanya Sigit dengan meletakkan tangannya di pundak Winda, lalu menuntunnya keluar dari kamar mereka.
"Sudah. Emangnya mau kemana sih bang?"
Winda mendongak menatap wajah suaminya yang menuntunnya menuruni tangga dengan hati-hati.
"Ketempat yang sudah pasti sangat kamu sukai nantinya."
"Apa itu?" tanya Winda penasaran.
"Nanti kalau sudah sampai kamu pasti tahu apa itu."
Winda melirik suaminya yang mencoba membuatnya penasaran. Ia mencubit kecil lengan kekar yang masih setia menuntunnya hingga mereka sampai di ruang tengah.
"Aww... sakit tahu sayang." teriak Sigit dengan wajah berubah cemberut menatap wajah istrinya yang tetap saja terlihat cantik walaupun sedang kesal.
"Adu dudududuuduh... baru aja angkrem dua hari didalam kamar makin romantis aja nih mas Sigit sama mbak Winda. Dunia memang milik kalian berdua deh." celetuk Ningsih tiba-tiba terdengar sehingga menghentikan langkah sepasang suami istri itu.
"Apaan? angkrem? emangnya ayam apa?" sungut Sigit tidak terima dengan ucapan Ningsih.
Ningsih cengar-cengir melihat Sigit kesal dengan ucapannya.
"Mau kemana kalian udah rapi begini?" tanya mami begitu melihat putra dan menantunya berada didepannya.
Mami terkejut melihat penampilan Winda yang terlihat sangat cantik dari hari-hari biasanya. Ia memperhatikan Winda dari ujung kaki hingga ujung kepalanya yang tertutup hijab.
Begitu anggun menantunya hari ini menurutnya.
"Wah... kamu terlihat sangat anggun pakai baju ini Win?"
"Emm... benarkah? Abang tadi yang nyiapin diatas ranjang mi." jawab Winda apa adanya seraya mengalihkan pandangannya pada suaminya yang salah tingkah.
Mami mengangkat sebelah alis dan bibirnya sedikit tersenyum.
"Ehem ehem..." deheman Ningsih semakin dikerasin setelah mendengar pengakuan dari Winda.
"Begini nih kalau mas Sigit sudah bertindak, artis Korea yang paling romantis aja lewat ya gak bu?"
"Hm betul..." mami mengacungkan jempolnya didepan Ningsih.
Kedua wanita itu tertawa saling menganggukkan kepalanya.
Sigit melirik kan ekor matanya pada Ningsih yang terlihat kegirangan telah mendapat dukungan dari mami.
"Ini lagi, bawa-bawa artis Korea, kayak orang tidak punya pendirian aja. Dengerin Sih, disini itu adanya Sigit Andra Winata bukan artis Korea, ngerti!" ucap Sigit dengan memasang wajah jutek pada Ningsih.
__ADS_1
"Hehehe..." mami dan Ningsih tertawa berbarengan.
"Begini nih kalau kebanyakan nonton drakor, sukanya ngehalu jadi gebetannya aktor drakor. Udah ah kami pamit keluar dulu mi." lanjut Sigit sambil pamit dengan mami.
"Hati-hati jagain menantu dan cucu mami."
"Siap. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sepasang suami istri itu meninggalkan rumah dan segera masuk didalam mobil.
Sigit diam-diam merasa tersanjung dengan komentar kedua wanita itu, ia menyembunyikan senyumannya saat menatap wajah istrinya sambil mengemudi mobil.
❄️❄️❄️
Di kantor cabang WP tempat Winda bekerja.
Aldi berjalan memasuki gedung menuju ruang resepsionis menanyakan ruang kerja Winda kepada mereka para pekerja di meja resepsionis.
Terlihat perbincangan mereka yang serius dengan tangan Aldi seperti memperagakan postur tubuh seseorang.
"Oh mbak Winda istrinya pak bos maksud bapak?" jawab salah satu karyawan wanita.
"Maksud dari perkataan mbak apa ya?" Aldi semakin tidak mengerti dengan ucapan karyawan yang berdiri didepan meja resepsionis itu.
"Maksudnya, disini yang namanya Winda ya itu istrinya pak Sigit Andra Winata pak." jelas karyawan itu.
Aldi terkejut mendengar nama lengkap Sigit yang disebut wanita didepannya itu.
"Apa? istrinya Sigit Andra Winata?" ucap Aldi seraya kedua alisnya terangkat keatas sehingga terlihat kerutan-kerutan didahinya.
"Iya pak. Dan untuk beberapa hari kedepan beliau tidak masuk kerja, jadi bapak bisa kesini lagi Minggu depan."
"Kenapa aku seperti orang bodoh begini? sampai-sampai aku harus mencarinya disini. Lagi pula apa peduliku dengan winda?"
"Oh begitu ya mbak, baiklah terimakasih mbak atas informasinya, permisi."
"Iya pak sama-sama."
Aldi meninggalkan gedung cabang dengan hati gontai, berjalan dengan cepat menuju mobilnya. Tidak tahu kenapa dia selalu terbayang wajah Azam saat memikirkan Winda.
Ia menutup pintu mobil dengan keras sebagai pelampiasan rasa kesalnya begitu memasuki mobilnya.
"Sebenarnya kenapa dengan jalan pikiran ku saat ini?! sudah jelas-jelas kalau wanita itu sudah bersuami, bahkan sudah hamil, dan itupun dengan Sigit anak si tua itu! tapi kenapa aku masih saja memikirkan dia?!"
Aldi memukul kemudi dengan keras, menggerutu dan memaki-maki suami kedua dari mendiang ibunya.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...🤗🤗
Saranghe 💞💞💞