
Sigit membuntuti Winda dengan mobilnya, dia mengawasi Winda yang berjalan ditrotoar.
Tin tiin
Sigit membunyikan klakson begitu mobilnya sampai dibelakang Winda.
"Win. Berhenti Win."
Winda tidak menghiraukan Sigit, dia terus berjalan.
Tin
Kembali Sigit membunyikan klakson agar Winda menghentikan langkahnya.
"Win. Winda! " panggil Sigit kepada Winda.
Sigit menghentikan mobilnya dipinggir jalan, dia keluar dari mobil dan berjalan mengejar Winda.
"Win. Tunggu Win! "
Sigit meraih tangan Winda. dan menggenggam kedua tangannya.
"Win. masalah ini bisa kita bicarakan baik-baik, Tidak begini caranya."
Winda acuh, tidak peduli. Matanya melihat jalanan yang bising dengan suara laju mobil dan kendaraan lain.
"Ayo kita masuk mobil dulu. ini sudah malam. Kita bisa membicarakannya dengan baik-baik nanti, jangan disini. ya... "
Bujuk Sigit, kedua tangannya memegang pundak Winda, matanya menatap bola mata Winda.
"Biarkan aku sendiri Git."
Ucap Winda lirih melepaskan kedua tangan Sigit dari pundaknya. dia berjalan meninggalkan Sigit.
"Winda Zilvana Idris."
Suara Sigit saat Winda melanjutkan langkahnya.
"Sekali lagi, aku, Sigit Andra Winata menyuruhmu masuk kedalam mobil. kalau tidak..."
Sigit menggantungkan kalimatnya. Winda membeku mendengar kata-kata Sigit bagaikan samurai.
Winda tau jika dia melanjutkan langkahnya itu hanya akan mengundang kemarahan Sigit semakin muncak.
Winda pun menghentikan langkahnya dengan mata yang masih basah.
"Jika tidak apa?! " jawab Winda membalikkan tubuhnya menghadap Sigit.
Sigit berjalan mendekati Winda lalu menatap Winda serius.
"Bersikaplah yang dewasa, bijaklah dalam mengatasi masalah. Kita adalah dua insan yang dipersatukan dalam perbedaan, dan aku masih dalam proses memahami semua itu."
Ucap Sigit lirih memandangi wajah istrinya yang sembab.
Mata teduh Sigit menatap manik Winda, tangannya memegang kedua pundak Winda.
"Kita sama-sama saling mensuport menyatukan perbedaan itu, sehingga menjadi sebuah keluarga yang ideal nantinya.Walaupun pada awalnya kita sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini, dan itu akan sulit bagi kita jika kita tidak berjuang bersama, dan jika kita masih sama-sama mengedepankan ego, maka itu sama saja busyit. percuma, hanyan seperti neraca yang tidak seimbang karena tidak sama muatannya."
"Maafkan aku ya... untuk masalah taruhan waktu itu hanya masa lalu, dan aku pun sama sekali tidak bermaksud melecehkan dirimu. Jadi jangan berfikir yang macam-macam, sekarang kita harus menyambut masa depan kita. Jangan menyerah dan percayalah aku benar-benar ingin bersamamu menjalani hidup sampai masa tua nanti."
Winda mendengarkan perkataan suaminya yang lembut tidak ada nada tinggi seperti biasanya, ucapannya begitu bijak, dia mendapatkan kejujuran dan keseriusan dalam bola mata Sigit.
"Masih adakah kebencian yang kamu kemas dalam pernikahan ini? "
Tangan Sigit merengkuh tubuh Winda dan membawanya dalam pelukannya.
"Sudah aku katakan tadi bahwa aku sama sekali tidak ada rasa benci ataupun dendam Win."
Winda merasakan betapa nyamannya dada bidang Sigit sebagai sandaran kepalanya saat ini, belaian lembut tangan kiri Sigit dikepalanya terasa begitu menenangkan dirinya.
Sigit tersenyum memandang wajah Winda, tangan kanannya menghapus air mata dipipi Winda.
"Kita pulang ya..." bujuk Sigit setelah mendapati ketenangan dari wajah Winda.
"Entah kenapa aku belum bisa mengucapkan kata cinta kepadamu Win, Aku juga sebenarnya sudah jatuh cinta pada dirimu, kepribadianmu, sosokmu, dan... tutur katamu yang selalu aku olok-olok dulunya. Bahkan aku sudah nyaman mengganti kata lu gue jadi kata aku kamu saat ini." kata hati Sigit mengagumi wanita didepannya, matanya masih menatap wajah istrinya.
"Kita pulang ya..." ucap Sigit lagi.
Kedua tangan Winda dalam genggaman tangan Sigit.
Sigit menuntun Winda mendekati mobilnya, dan membukakan pintu untuk Winda.
Setelah masuk didalam mobil, Sigit memasang seatbelt Winda, hidungnya nyaris menyentuh pipi Winda.
"Kenapa? kenapa sikapmu selalu mengaduk-aduk perasaanku Git? terkadang hangat terkadang juga dingin. Tapi kamu selalu bisa mengubah suasana yang membuatku nyaman." kata Winda dalam hati.
Winda segera memalingkan wajahnya dari pandangan Sigit, dia menolehkan wajahnya dikaca mobil yang berada disampingnya.
Sigit memperhatikan kristal bening yang masih meleleh dipipi merona istrinya.
"Sudah jangan menangis lagi, sekarang kita pulang ya... atau... mau makan dulu. tadi belum sempat makan kan..."
__ADS_1
Sigit mengusap sisa lelehan kristal bening Winda di pipinya, hati kecilnya tidak tega melihat seorang wanita menangis didepannya, apalagi jika itu adalah orang terdekatnya.
Sigit mengemudikan mobilnya dengan tangan kirinya meraih jari tangan Winda, dan menyematkan jemarinya menggenggam tangan Winda.
Winda menahan detak jantungnya yang seakan lari, dia melihat tangannya yang sudah dalam genggaman Sigit.
"Jangan bersedih, aku akan selalu ada untukmu." kata Sigit.
Winda hanya menatap Sigit.
"Aku berharap kamu bisa membuktikannya Git."
"Kita cari makan dulu ya didepan, ngecasger air mata yang stoknya sudah mengering karena banyak yang tumpah tadi, sampai matanya bengkak kayak gitu."
kata Sigit melirik menggoda Winda.
"Bodo! " jawab Winda pandangannya lurus kedepan.
Sigit malajukan mobilnya, suasana didalam hanya hening hingga mereka sampai disebuah angkringan.
"Kamu tunggu disini saja biar aku yang turun." Sigit berlalu meninggalkan Winda sendirian didalam mobil.
Winda menunggu Sigit didalam mobil. Setelah beberapa saat, dia ingin buang air kecil yang sudah ditahannya dari tadi, diapun turun dari mobil lalu melongokkan kepalanya kekanan dan kekiri mencari toilet terdekat.
"Mau kemana kamu Win? " tanya Sigit sudah berada di belakangnya.
"Aku mau ketoilet Git, mau buang air kecil." jawab Winda setelah menoleh kearah Sigit.
"Sudah nanti saja, sebentar lagi juga sudah sampai rumah."
"Ya gak bisa lah Git, Winda udah nahan dari tadi."
"Jangan sembarangan buang air kecil ditempat seperti ini."
"Kenapa? "
"Ya karena ini tempat umum Win."
"Terus? kalau sudah kebelet apa disuruh buang air kecilnya disini? "
"Ya... gak juga."
"Ya sudah Winda ketoilet dulu kalau begitu."
"Cepetan. Aku tunggu disini saja ya? "
Winda mengangguk menjawab pertanyaan Sigit, berjalan kebelakang mencari toilet.
"Wah kebetulan sekali ada bidadari cantik didepan mata. sendirian saja neng..." laki-laki itu menatap wajah Winda.
Winda menatap tajam laki-laki didepannya.
"Jangan macam-macam kamu ya, kamu bisa dihajar suami saya kalau sampai ketahuan mengganggu saya."
"Ha ha ha ha suami? mana? jangan ngaku-ngaku sama suami kamu ya... ha ha ha ha ha jelas-jelas bidadari cantik sendirian."
Laki-laki itu terbahak-bahak menertawakan Winda setelah memastian keadaan disekitarnya tidak ada orang lain, yang ada hanya mereka berdua.
"Jangan kurang ajar kamu ya! hiyaa..." Winda menendang perut lawan didepannya, namun tendangannya meleset justru gerakan lawannya lebih cepat menyekap tubuhnya.
"Cantik. sungguh menarik! " kata lawannya mendekatkan wajahnya ditelinga Winda.
Winda merinding mendengar perkataan laki-laki yang sudah menyakapnya dengan kedua tangan dari belakang.
"Toloong... toloooong.... toloooooong."
Winda mngeraskan suaranya agar didengar orang lain.
"Sudahlah percuma kamu berteriak cantik. he he he he..."
"Jangan kurang ajar lu bre**sek! "
Bugh bugh bugh bugh
Sigit menyerang laki-laki yang meyekap Winda dari belakang secara bertubi-tubi, membuat laki-laki itu terjerembab ditanah.
Winda terjatuh ketika tangan laki-laki itu melepaskan tubuhnya karena serangan Sigit.
Sigit mencengkram kerah baju laki-laki itu.
"Jangan maca-macam lu sama istri gue! "
Sigit mengangkat tangan kanannya yang sudah membuat kepalan.
"Jangan bang jangan. Ampun, ampun saya bener-bener minta maaf, ampun. Saya tidak akan mengulanginya lagi."
Kata laki-laki itu ketakutan, ketika kepalan Sigit akan mendarat diwajahnya.
"Tolong lepaskan saya bang." laki-laki itu memelas kepada Sigit.
Sigit melihat kearah Winda yang sudah berdiri disampingnya menganggukkan kepala kepadanya.
__ADS_1
Sigit melepaskan cengkramannya dan mendorong dada laki-laki didepannya.
"Gue lepas lu, karena istri gue tidak mau tangan gue kotor setelah memukul lu." ucap Sigit.
Mendengar perkataan Sigit laki-laki itu segera berlari meninggalkan mereka.
Sigit melirikkan matanya kepada Winda, dia berlalu menuju mobilnya meninggalkan Winda sendirian tanpa sepatah kata.
"Git! tunggu Git! "
Winda berlari mengejar Sigit setelah menyadari jika lirikannya sebagai pertanda jika Sigit sedang marah kepadanya.
"Git! tunggu aku! "
Sigit bersedekap dada didepan mobilnya sambil menunggu Winda mendekat.
"Seneng?! ada yang godain kaya tadi?! " ucap Sigit ketika Winda sudah disampingnya.
"Iya Winda salah, Winda minta maaf." kata Winda dengan melirikkan mata dan memasang wajahnya yang cemberut.
"Makanya kalau suami bilang itu didengarkan. Bukan dibantah."
kata Sigit marah.
"Iya, iya Winda salah, Winda minta maaf tidak mendengarkan perkataan kamu tadi." ucap Winda memelas disamping wajah Sigit.
Sigit hanya meliriknya sebentar.
"Ya sudah. Masuk! "
Sigit memerintahkan Winda masuk dalam mobil mereka.
Winda menurut perkataan Sigit, dia masuk didalam mobil.
Sigit segera masuk didalam mobil setelah memarahi Winda. Sigit melajukan mobilnya dijalan yang sepi kendaraan melintas.
"Ehem." deheman Winda membuka keheningan diantara mereka didalam mobil.
Sigit melirikan ekor matanya pada Winda.
"Napa? "
"Masih marah? "
"Nggak."
"Terus kenapa diam saja dari tadi? "
Sigit tidak menjawab pertanyaan Winda.
Sigit membelokkan mobilnya kearah perumahan Teratai Indah.
Winda baru tersadar setelah mobil Sigit sampai didepan kontrakannya.
"Git? kenapa pulang kesini? bukannya ke rumah papi Wi..."
kalimat Winda terhenti, dia tidak mengerti maksud Sigit kenapa mereka pulang dikontarakn bukannya dirumah mertuanya.
"Sudah jangan bengong saja. Sana cepetan turun buka gerbangnya."
kata Sigit membuyarkan lamunannya.
"I-iya aku turun."
Winda segera turun dan membuka gerbang.
"Aneh, kebiasaan. Suka seenaknya sendiri." gerutu Winda.
Sigit memasukkan mobilnya diparkiran mini Winda.
"Pertanyaanku yang tadi belum kamu jawab Git. kenapa kita pulang disini, bukannya dirumah papi? " tanya Winda mengulangi pertanyaan nya lagi ketika mereka sudah didepan pintu rumahnya.
Sigit hanya tersenyum dan mendekati Winda.
"Karena aku tidak ingin kamu malu didepan keluargaku dengan mata yang sangat bengkak ini." jelas Sigit.
Winda terpaku memandang suaminnya.
Sigit menatap wajah Winda, matanya tidak berkedip, Sigit sedikit menundukkan wajahnya yang sudah mensejajari wajah Winda.
Winda terpaku melihat bibir Sigit yang semakin mendekati kedua bibirnya.
"Aku ingin...."
Kata Sigit terjeda, dada Winda semakin berdegup kencang.
"Malam ini hanya ada cerita kita, aku dan kamu."
Selanjutnya terserah anda ...
eh salah, terserah Sigit dan Winda ...😂😂
__ADS_1
Jangan lupa kasih semangat untuk author ya...😍😍