Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 96


__ADS_3

"Gimana bang?" tanya Winda ketika Sigit berjalan mendekat kearahnya.


Ini adalah tempat ketiga dari teman-teman Aldi sesuai petunjuk yang diberikan satpam tadi pagi.


Sigit menoleh kearah Winda, memperhatikan wajah istrinya yang sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban darinya.


"Sudah menemukan titik keberadaannya?" lanjutnya lagi berharap ada kabar baik dari suaminya.


Sigit memandang kedua wanita yang berada didepannya, ia berdiri disamping istrinya memberitahukan informasi yang ia dapatkan dari seseorang.


"Kata bapak tadi sih, pemilik rumah ini sedang berada diluar kota dan tadi malam baru berangkat, dia hanya sekedar tahu kalau mas Aldi sudah lama pindah di Jakarta, dan kebetulan kemarin empat hari yang lalu baru saja dia main kesini." jawab Sigit.


Terkejut.


Winda membulatkan kedua bola matanya mendengar jawaban suaminya barusan.


"Empat hari yang lalu? itu berarti sama dengan hari ketika aku sampai dirumah ibu?"


"Apa? empat hari yang lalu mas Aldi kesini? itu berarti kita baru sampai dirumah ibu dong bang?"


Sigit menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan Winda.


"Hm, sepertinya begitu."


"Ya Allah bang tau gitu kita kesininya dari kemarin-kemarin ya..." suara Winda terdengar kecewa. Menyesali tidak mempercepat jadwal berliburnya lebih awal.


Sigit mengernyitkan keningnya dan mengangkat kedua bahunya melihat istrinya yang tampak gurat kesediaan diwajahnya.


"Yah... mau gimana lagi?" jawab Sigit pasrah.


Winda terdiam.


"Ya sudah ayo kita pulang saja, dan bagaimana kalau kita ke taman dulu seperti yang kamu katakan tadi malam? biar tidak tegang kamu Win?" Bu Arini menyahut pembicaraan Sigit dan Winda. Mengingatkan tempat yang diinginkan putrinya tadi malam.


Ia menggamit lengan Winda dan mengajaknya memasuki mobil setelah melihat wajah putrinya yang masam. Ia segera memberikan isyarat kepada suaminya agar segera pergi dari tempat itu.


Sigit masuk didalam mobil dan duduk disamping pak Idris.


Mobil sudah bergerak melintasi jalan raya.


Sigit tidak mengemudikan mobil mertuanya karena dilarang oleh pak Idris dengan alasan ia tidak mengenal daerah yang akan mereka lalui maka dari itu ia pun mengiyakan agar tidak nyasar.


Selama dalam perjalanan mereka berbincang-bincang mengisi keheningan, sesekali terdengar suara tawa ketika kedua orang tua Winda menceritakan masa kecil Winda yang terdengar lucu.


Sigit menangkap wajah istrinya yang tersipu malu ketika semuanya menertawakannya sehingga rasa kesalnya sudah tidak terlihat lagi.


"Oh iya Win, ibu sudah menyuruh bik Ratih untuk mengundang para tetangga dan anak-anak panti untuk hadir di acara tasyakuran kehamilanmu besok sore, jadi hari ini kamu tidak boleh terlalu capek ya." kata Bu Arini mengingatkan Winda.


Winda tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.


"Iya Bu."


"Supaya putri dan cucu ibu ini mendapatkan doa yang baik dari mereka, diberikan kesehatan dan dimudahkan persalinannya nanti."


"Aamiin." suara mereka bertiga berbarengan mendengar kalimat wanita setengah baya itu.


"Terimakasih Bu." ucap Winda dengan memeluk tubuh ibunya.


Sigit tersenyum kepada bapak mertuanya dan beralih pada kedua wanita dibelakangnya. Ia melihat haru kedekatan antara ibu dan anak itu.


Perbincangan masih terus berlangsung membuat pak Idris semakin semangat mengendarai mobilnya, kendaraan berlalu lalang semakin merapat kemacetan sudah mengular dihadapan mereka.


"Maa syaa Allah macetnya... panjang bener, kalau melewati jalur itu kita bisa terjebak macet yang sangat lama." ucap pak Idris dengan nada pelan matanya menatap menantunya yang juga terlihat cemas. Mereka tidak sanggup menunggu kemacetan yang panjang.


Sigit menengok kekanan dan kekiri mengamati jalan sekitarnya.

__ADS_1


Winda membayangkan betapa membosankan berada didalam kemacetan.


"Tidak ada jalan lain apa pak yang bisa kita tempuh selain jalan didepan?" tanya Winda.


Pak Idris melihat Winda dari kaca spion diatasnya, ia terdiam sejenak.


Gusar.


itu yang pak Idris tangkap dari wajah putrinya.


"Ada, jalan depan itu belok kanan. Tapi kita akan melewati jalanan yang areanya hanya terdapat pepohonan yang lumayan panjang setelah itu baru kita akan sampai ditaman itu, karena hanya orang tertentu yang faham daerah sini jadi tidak semua orang mengetahui jalan lintasan itu." jawab pak Idris.


"Ya sudah pak kita ikuti rute yang itu aja pak biar tidak menunggu lama. Iya kan?" ucap Bu Arini yang diakhiri seolah-olah meminta pendapat dari anak dan menantunya.


Sigit dan Winda menganggukkan kepala menyetujui ucapan ibunya.


"Iya Bu."


Pak Idris ahirnya mengalihkan rute perjalanan mereka menuju taman wisata yang diinginkan Winda sesuai keinginan putrinya kemarin yang ingin mengunjungi tempat wisata yang terkenal itu.


Hanya beberapa pengendara mobil dan roda dua yang melintasi jalanan itu sehingga terlihat sepi. Jalan yang sudah sedikit rusak dan berlubang, pak Idris mengendarai mobilnya dengan pelan dan hati-hati.


Tidak lama setelah memasuki gang kecil yang dikatakan pak Idris tadi, akhirnya mobil mereka sudah berada di area penuh pohon-pohon yang menjulang. Terlihat sudah sangat tua kalau diperhatikan dari bentuk batang pohon itu. Besar dan tinggi.


Terlihat asri dan sejuk disiang hari berada di daerah yang penuh pohon sempurna seperti didalam hutan. Suasana didalam mobil berubah hening setelah beberapa saat Winda mengakhiri ceritanya, Sigit menoleh kearah belakang melihat istri dan mertuanya sudah tertidur.


"Kenapa Git?" tanya pak Idris.


"Tidur ya?" lanjutnya.


Sigit memandang pak Idris dan tersenyum.


"Biasa Git mereka berdua seperti itu kalau dalam perjalanan, seger kalau baru naik mobil, ngobrol ngalor ngidul entah apa bahasannya pasti ada aja bahan pembicaraannya, gak ada habisnya. Begitu sudah tiga puluh menit ngobrolnya bapak ditinggal tidur, mengemudi sendirian he he he bapak jadi sopir mereka." jelas pak Idris dengan tertawa.


"Pasti kamu juga sama kan? hehehe..."


Begitulah keakraban dua laki-laki itu selama didalam mobil mengisi keheningan setelah istri mereka tertidur.


Sigit menikmati rindangnya pepohonan dari balik kaca mobil. Ia melihat jalan belokan didepannya, ia memperhatikan setiap belokan dan gang yang dilewatinya, semakin ia meneliti jalan yang mereka lewati ia terdiam mengingat-ingat jalanan itu seakan-akan ia pernah melintasi jalan itu.


"Mungkin perasaanku saja, jalanan seperti ini kan banyak dan hampir sama juga." Sigit berkata sendiri dalam benaknya, ia masih meneliti setiap jalanan yang dilewatinya.


Semakin melaju mobilnya melewati jalanan yang terdapat beberapa belokan dan jembatan yang benar-benar membuatnya tercengang mengingatkan peristiwa beberapa tahun yang lalu ketika ia masih kecil, ia terpisah dari rombongannya setelah melewati jembatan itu yang terdapat beberapa belokan dan beberapa gang kecil yang sempat membuatnya bingung.


Ia baru tersadar ketika melihat tanda yang masih berdiri kokoh sama seperti pada saat pertama kali ia melihatnya saat itu.


 


Bolak balik ia berjalan mencari jalan yang sudah ditempuh sebelumnya namun tetap saja pohon semua yang ia jumpai. Lari dan terus berlari mencari jalan pulang agar tidak terjebak disini hingga malam.


Resah.


Takut yang ia rasakan saat itu tidak menemukan jalan keluar hingga petang. Matahari sudah tenggelam, jingga merah sudah menghitam. Gelap.


"Bidadari?" tiba-tiba pikiran Sigit mengingat seseorang yang pernah merasakan nasib yang sama dengannya waktu itu walaupun dengan latar belakang yang berbeda.


"Ha-hantu....!!"


"Ka-kamu... se-setan ya?"


"Hus! enak aja kalau ngomong."


"Terus mas siapa? manusia juga seperti bidadari kan?"


"Iya aku manusia, tapi bukan seperti bidadari."

__ADS_1


"Haaa... takut..."


"Hei. Kamu kenapa?"


"Hiks, hiks, hiks jangan dekati bidadari, jangan-jangan... kamu... manusia silu...."


"Aku bukan manusia siluman."


"Aku sedang tersesat disini."


"Tersesat?"


"Hm."


"Kamu sendiri?"


"Aku tadi siang dibully teman-temanku."


"Dibully?" bocah laki-laki itu terkejut. "Kok bisa? gimana ceritanya?"


"Aku sekarang sedang ketakutan mas? jangan ngajakin aku ngobrol aja, ayo kita cari jalan keluar dari sini yuk..."


"Aku tadi udah muter-muter sekitar sini tau, tapi jalannya tetep aja pohon semua."


"Tapi aku tadi dari sana ada gedung kosong."


Sigit semakin terbelalak kedua bola matanya saat sebuah bangunan gedung kosong didepannya yang terlihat dari balik kaca mobil. Sebuah bangunan tua yang sama.


Ingatannya kembali pada peristiwa didalam gedung kosong itu.


"Mas bintang terimakasih ya... sudah membantu dan menemani bidadari disini, jika tidak ada mas bintang tadi entah bagaimana bidadari sekarang, hiks, hiks... mungkin sudah hilang ditengah hutan dan di maka..."


"Ssstttt... jangan nangis, jangan berkata seperti itu pula." jari telunjuk Sigit diarahkan pada bibir Winda. "Yang penting sekarang bidadari tenangin dulu diri bidadari ya, dan jika bidadari sudah ngantuk, sini."


"Tidur disini, didada mas, anggap saja aku adalah kakakmu oke?"


"Baik mas."


Winda terlihat lebih tenang berada dipelukan Sigit, ia memegangi benda yang mengeluarkan cahaya ditangannya. Sigit melihatnya dengan tersenyum.


"Lucu juga bidadari ini, sesuai dengan namanya."


"Kamu menyukai gantungan kunci itu?"


"Iya aku sangat suka dengan gantungan kunci bintang ini mas, unik. Dia bisa bercahaya seperti bintang di langit."


"Kalau kamu suka, kamu boleh mengambilnya."


"Benarkah?"


"Hm. Ambil aja itu buat kamu."


"Git?" tangan pak Idris menggerakkan lengan Sigit yang masih melamun tidak menjawab panggilannya yang ketiga kalinya.


"Ha? iya pak?" jawab Sigit gelagapan menengokkan kepalanya melihat laki-laki disampingnya.


"Kamu ngelamun apa? dari tadi diajak ngobrol diam, ditanya bapak juga diam tidak menjawab." jelas pak Idris.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung 🤗🤗


Saranghe 💞💞


__ADS_2