
Winda dan kedua rekannya sudah berada di perusahaan cabang, mereka sudah memasuki pabrik yang mengelola minuman kaleng yang cukup terkenal itu, meneliti dan memperhatikan kinerja karyawannya yang sangat antusias bekerja.
Firman terlihat seru dengan percakapan sesama atasan perusahaan cabang di dalam ruangan manager.
Winda bersama Dian memeriksa berkas yang disodorkan oleh atasan perusahaan itu. Lembaran demi lembaran mereka teliti.
"Siapa penanggung jawab ini semua pak?" tanya Winda seraya menutup berkas ditangannya kepada atasan perusahaan cabang didepannya setelah selesai memeriksa berkas itu.
"Pak Renaldi." jawab orang itu.
Winda terkejut mendengar jawaban orang didepannya.
"Renaldi? apa orang itu adalah orang yang dimaksud Abang? kakaknya Revan? dia kan memang dipindahkan dipedalaman?"
"Renaldi?" tanya Winda memastikan
"Iya Bu."
"Apakah Renaldi itu adalah orang yang dipindahkan dari perusahaan pusat maksud bapak?" tanya Winda lagi.
"Iya betul, beliau orang yang ulet bekerja. Sangat bertanggung jawab. Seperti yang anda lihat tadi para karyawan di sini sangat antusias bekerja, mereka semua semangat menjalankan pekerjaannya karena kedisiplinan beliau dan keramahan beliau, saya saja sampai mengaguminya. Beliau juga pandai mengambil hati para karyawan." jawab atasan itu menjelaskan sekilas tentang bawahannya.
"Sebenarnya sih, tempat beliau tepatnya diperusahaan pusat. Bukan disini di pedalaman seperti ini kalau dilihat dari kepandaiannya mengelola perusahaan." lanjutnya lagi mengeluarkan pendapatnya. Ia tidak mengetahui siapa wanita yang banyak bertanya padanya.
Winda tersenyum menanggapi jawaban orang didepannya. Sedangkan Firman menganggukkan kepala walaupun tidak mengerti maksud pertanyaan Winda.
Dian heran dengan Winda bersikap tidak seperti biasanya, merasa ada yang aneh dengan menanyakan seseorang yang tidak ia ketahui siapa.
"Boleh kami bertemu dengan beliau pak?" tanya Winda.
"Boleh-boleh saja bu tapi beberapa hari ini beliau saya tugaskan untuk mengantarkan laporan dipusat, karena kemarin perusahaan pusat ada masalah jadi kami juga segera bergerak cepat." jawab laki-laki itu.
"Sayang sekali ya pak kami tidak bisa bertemu dengan orang hebat seperti beliau." tutur Firman.
"Iya pak, tolong sampaikan salam kami kepada beliau ya." ucap Winda menimpali perkataan Firman.
"Ya Bu nanti akan saya sampaikan jika beliau sudah kembali lagi."
"Ya sudah kami pamit dulu kalau begitu, sudah cukup kami disini. Semoga keterpurukan yang sedang dialami perusahaan saat ini cepat berlalu." kalimat Firman mengakhiri kunjungannya.
"Iya pak aamiin."
Mereka keluar dari ruangan dengan berjalan beriringan menuju parkiran mobil.
Firman mengantarkan Winda sampai didepan gerbang yang menjulang tinggi milik papi Winata. Ketika sampai didepan gerbang ia merasa heran dengan beberapa orang yang berdatangan ingin bertemu dengannya sehingga membuat pak Zain kuwalahan menangani mereka.
"Ada apa Win? rame banget rumah pak Winata?" tanya Firman ketika melihat keramaian didepannya.
"Iya rame bener, apa ada demo disini?" tanya Dian penasaran menatap manik Winda.
"Demo? tidak tidak ini pasti gara-gara berita kemarin, dan mereka orang-orang yang mengaku Aldi lagi, ini tidak bisa dibiarkan aku harus segera bertindak agar tidak ada lagi orang yang ribut menjadi Aldi. Tapi bagaimana caranya?" Winda terdiam berpikir sejenak.
Winda mengalihkan pandangannya pada Firman yang masih memegang kemudi, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya.
"Ok juga." celetuknya membuat kedua rekannya terbengong.
"Apanya yang ok Win? rumah mertuamu ada keributan kamu malah bilang ok." kata Firman heran.
"Iya yang bener aja Win." Dian menambahi perkataan atasannya.
__ADS_1
Winda tidak merespon kedua rekannya, ia tersenyum dengan wajah berbinar merasa mendapatkan ide cemerlang, ia turun dari mobil dan berjalan menuju pintu Firman berada.
"Pak Firman ayo turun sama Winda." kata Winda meminta Firman segera turun.
"Kenapa saya ikut turun?"
"Sudah ikutin Winda aja."
"Tapi didepan banyak orang itu."
"Pak Firman mau bantuin Winda gak?"
Terdiam.
Firman terlihat bingung dengan sikap Winda.
Namun belum juga Firman turun dari mobilnya orang-orang yang berkerumun mendatangi dan menyebut nama Winda.
Firman semakin terkejut melihatnya.
"Winda ini aku Aldi."
"Aku Aldi Win."
"Akulah Aldi yang kamu cari."
Winda semakin pusing mendengar pengakuan orang disekitarnya.
"Stop stop stop! cukup! kalian bukanlah orang yang saya cari, karena Aldi yang saya cari sudah saya temukan sekarang. Inilah orangnya." Winda membuka pintu kemudi Firman dan menarik tangannya agar segera turun dan berdiri disampingnya.
Firman pun mengikuti keinginan Winda dan berdiri disamping Winda.
"Tenang aja pak, ikutin kata Winda sekarang." jawab Winda sambil berbisik.
Dian tertegun melihat pemandangan didepannya.
"Iya. Saya adalah Aldi yang dicari mbak Winda selama ini jadi kami mohon saudara-saudara sekalian silahkan tinggalkan tempat ini, dan biarkan kami masuk didalam." kata Firman dengan suara lantang.
Winda dan Firman kembali masuk didalam mobil dan meninggalkan kerumunan orang-orang yang tidak diundang.
Seketika suara kecewa dari orang-orang itu terdengar gaduh lalu berlalu meninggalkan tempat itu.
Firman memarkirkan mobilnya dihalaman rumah yang luas
Takjub.
itu yang dirasa Firman dan Dian begitu berada di halaman rumah pemilik perusahaan WP.
Baru pertama kali ini mereka memasuki area rumah bos besarnya.
"Wow... rumah pak Winata besar banget ya Win." kata Dian kagum melihat rumah didepan mata begitu besar dan bagus bak istana.
Winda hanya tersenyum simetri melihat tingkah Dian membiarkan mereka berhalusinasi tentang rumah yang didiaminya. Ia memaklumi sikap rekannya itu sama seperti dirinya dulu ketika pertama kali memasuki rumah ini yang membuat dirinya terkagum-kagum.
Winda mengalihkan pandangannya pada Firman.
"Pak Firman, terimakasih banyak ya atas bantuannya hari ini."
"Oh biasa saja itu tidak seberapa dengan apa yang sudah diberikan Abang kepada ku." jawab Firman.
__ADS_1
"Baiklah kita turun dulu yuk." ajak Winda.
"Oh tidak usah, aku sangat capek ingin segera istirahat. Lagi pula ini sudah malam." sahut Firman cepat menjawab ajakan Winda.
"Iya aku juga sudah capek ingin segera PW. Lain kali saja ya." Dian tidak mau kalah menjawab ajakan Winda.
"Baiklah kalau begitu kami pamit dulu." Firman undur diri setelah bercakap-cakap dengan Winda.
Tin.
Firman segera melajukan mobilnya melewati gerbang yang sudah sepi dari kerumunan.
❄️❄️❄️
Tok tok tok
"Mbak Winda. Mbak Winda dipanggil bapak disuruh turun kebawah sekarang." suara Ningsih memberi tahunya setelah terdengar suara ketukan pintu dari kamarnya.
Winda segera mengenakan jilbabnya dan membuka pintu.
"Iya Sih, mbak segera turun." kata Winda setelah berhadapan dengan Ningsih.
mereka berjalan menuruni tangga beriringan.
"Ada apa ya Sih malam-malam begini papi manggil Winda?" tanya Winda penasaran.
"Tidak tau mbak, bapak cuma nyuruh Ningsih untuk manggilin mbak aja." jawab Winda.
Winda mencoba menerka ada masalah apa hingga dia dipanggil mertuanya. Ia berjalan dibelakang Ningsih yang berjalan ke arah ruang kerja papi.
"Bapak dan ibu sudah menunggu mbak Winda didalam mbak, silahkan masuk." Ningsih membukakan pintu dan mempersilahkan Winda masuk ruangan.
"Terimakasih Ningsih."
Ningsih menganggukkan kepalanya.
Winda segera masuk ruangan, ia melihat kedua orang yang disebut Ningsih tadi sudah menunggu kedatangannya.
"Pi, mi."
Mami berdiri menyambut kedatangan Winda dan mengajak duduk disampingnya.
"Duduk dulu baru kita bicara ya?" ucap mami.
Papi masih terlihat diam tidak memperhatikan dirinya membuat Winda semakin ketakutan menerka peristiwa yang baru saja terjadi didepan gerbang.
"Pi, mi ada apa ya malam-malam begini manggil Winda? Winda ada salah ya hari ini?" tanya Winda sudah terlihat merasa bersalah.
Papi memandangnya.
.
.
.
.
Bersambung🤗🤗
__ADS_1
Saranghe💞💞💞