
Winda tersenyum duduk di tepi ranjang rumah sakit memandang ibunya. Berusaha menutupi kesedihannya.
Tangan Winda sibuk mengupas buah apel untuk ibunya. Sesekali terdengar celotehan Renaldi, Sigit dan Anita dari balik dinding ruang rawat ibunya. Mereka berbincang diruang depan.
Anita. Ya, wanita ini sering Winda lihat ketika dirumah sakit saat Brian dirawat di rumah sakit hingga acara pengajian selesai dirumahnya semalam, dan sekarang Anita ada disini bahkan ikut menunggu ibunya bersama Aldi.
Winda terheran melihat Renaldi bisa akrab dengan Anita saat ini. Setau Winda, Anita adalah seorang wanita yang pernah bekerjasama dengan suaminya dulu dibawah naungan perusahaan Duta Perkasa. Tapi kenapa wanita itu bisa berada disini ikut menunggu ibunya dirumah sakit? ada hubungan apa mereka? batin Winda.
Winda menyuapi ibunya dengan telaten.
"Bapak kamu sebentar lagi juga datang kesini nak." Ucap Bu Arini disela-sela kegiatan mengunyah apelnya.
"Tentu bapak capek ya Bu?" Jawab Winda diiringi senyum pada ibunya.
"Semalem Aldi sama Lili yang menemani ibu disini, bapakmu disuruh Aldi istirahat dulu di apartemennya, Win." lanjut Bu Arini.
Winda mengerutkan keningnya seraya melirik kan matanya begitu mendengar nama Lili.
"Lili Bu? siapa dia? sepertinya Winda tidak asing dengan nama itu?" Winda meletakkan piring yang berisi potongan buah apel diatas nakas karena sang ibu sudah menolak uluran potongan apel darinya.
"Assalamualaikum, selamat siang Al, Lili. Kamu sudah disini ternyata Git?" Belum sempat mendapat jawaban dari ibunya, Winda mendengar suara pak Idris sedang menyapa ketiga orang yang berada diruang tunggu.
"Wa'alaikumsalam pak." Serempak terdengar jawaban ketiga suara dari balik dinding.
Winda semakin bingung mendengar pak Idris menyebut nama Lili, nama yang sama dengan yang dikatakan ibunya tadi.
"Winda mana? apa dia sudah baik-baik saja Git?" Lanjut pak Idris.
"Alhamdulillah sudah lebih baik pak, dia ada didalam menemani ibu."
"Benarkah? Alhamdulillah ya Allah... Kalau begitu bapak masuk dulu ya." Pak Idris segera mengayunkan langkah kakinya memasuki ruangan.
"Winda..."
Winda menoleh mengalihkan pandangannya pada bapaknya, lalu tersenyum menghambur memeluk tubuh laki-laki bijaksana itu.
"Bapak..."
"Kamu baik-baik saja nak?"
Winda menganggukkan kepalanya menahan buliran bening agar tidak lolos dari peraduannya.
"Iya pak Winda tidak apa-apa."
Pak Idris menangkap suara putrinya sedikit parau, ia tau jika putrinya sedang menahan tangis.
"Kamu sabar ya menghadapi semua ini, bapak tau jika menghadapi ini semua tidaklah semudah yang seperti bapak katakan saat ini."
__ADS_1
Winda terdiam, ia berusaha menahan rasa sakit didalam hatinya, namun dengan cepat ia teringat pesan suaminya semalam agar tidak menangis didepan ibunya, karena jika ia menangis hanya akan membuat ibunya semakin bersedih.
"Iya pak, Winda baik-baik saja kok, bapak dan ibu jangan khawatir ya? Karena ada Abang yang akan selalu ada untuk setiap keadaan Winda. Jadi bapak dan ibu tidak perlu khawatirkan Winda lagi." Jawab Winda dengan tersungging senyum dikedua pipinya.
Pak Idris memeluk dan mencium kepala putrinya, sedangkan Bu Arini tersenyum kecil melihat keduanya.
"Oh iya, Winda tadi dengar bapak menyebut nama Lili saat didepan tadi, siapa Lili itu pak?" Winda teringat seseorang yang sempat disebut orang tuanya. Iapun bertanya pada sang bapak. Pak Idris justru tersenyum kecil melihat Winda yang sudah lupa dengan sosok Lili.
"Oh, Lili... Itu temenmu waktu kecil... Yang suka bermain dengan Azam. Masak kamu lupa?"
Winda mengerutkan keningnya semakin penasaran seraya mengingat-ngingat teman masa kecilnya.
"Lili... Lili..."
Tidak lama kemudian...
Winda teringat sosok gadis kecil yang lebih tua dua tahun darinya. Gadis kecil yang sangat membuat mas Azamnya gemas bila gadis kecil itu sudah merajuk pada kakaknya.
"Oh iya Lili yang suka sama mas Azam itu?" Bola mata Winda terbelalak setelah mengingat sosok Lili.
Pak Idris tersenyum geli melihat tingkah Winda sudah berhasil mengingat temannya.
"Ya, Lilinya Azam. Dia ada didepan bersama Aldi dan suamimu."
Deg.
"Bu-bukannya Anita yang sedang bersama mereka?" Ucap Winda tidak percaya.
"Bukan, dia itu Lili, Win..." Sanggah pak Idris seraya menertawakan Winda dan berlalu keluar ruangan.
"Tapi..." Winda sedikit bingung begitu ketiga orang yang sedang berbincang diluar sudah berdiri didepannya.
"Hai..." sapa Anita pada Winda.
Winda tidak bergeming masih terdiam menatap wanita didepannya tidak berkedip.
"Win... Hai." suara Anita membuyarkan lamunan Winda.
"A-a-Anita... bu-bukannya kamu adalah Anita?" gugup. Winda menyebut nama Anita terbata-bata.
"Ya, aku adalah Anita Pricilia." Jawab Anita. "Lili adalah nama panggilanku dari teman masa kecilku." Lanjut Anita tersenyum kecil dibibirnya.
"Benarkah Lili itu kamu Anita?"
"Ya, aku Lili, Win..." mereka saling memeluk satu sama lain. Melepaskan kerinduan mereka bertahun-tahun lamanya.
"Maafkan aku yang sama sekali tidak mengenalimu selama ini... Maafkan aku." Anita menyesali perbuatannya yang telah menyakiti adik dari laki-laki yang sangat ia cintai sejak masa kecilnya. Rasa bersalah terhadap Winda seakan seperti gunung Himalaya, dan duri mawar yang telah melukai seseorang.
__ADS_1
Dihari Brian telah divonis sudah meninggal dunia oleh dokter, Bram langsung memberi kabar Renaldi setelah memberitahu Sigit. Saat itu juga Renaldi menghubungi Anita dan memberitahukan jika keponakannya sudah tiada.
Malam hari ketika acara pengajian doa dirumah papi Winata, Renaldi sudah memberitahukan siapa Anita sebenarnya pada Sigit dan Bram. Sejak malam itu Sigit bersikap biasa terhadap Anita seperti halnya Renaldi.
Winda mengangguk seraya mengusap air matanya. Anita mengurai pelukannya pada Winda.
"Winda... Winda sungguh tidak percaya kita bisa bertemu seperti ini..."
Mereka saling tersenyum dengan saling pandang meneliti perubahan wujud mereka yang sangat berbeda jauh dari masa kecilnya dulu.
❄️❄️❄️
Tidak terasa percakapan mereka berlangsung sangat lama hingga malam semakin larut pun tidak terasakan oleh Winda.
Sigit dan Renaldi merasa khawatir dengan kondisi Winda jika mereka dibiarkan terus mengobrol berdua diruang tunggu. Cukup lama Sigit menunggu Winda berharap mengajaknya pulang, namun Winda terlihat masih asyik mengobrol dengan Anita membuat Sigit mengurungkan niatnya dan tertidur diatas kursi.
Melihat Sigit yang tertidur pulas diatas kursi membuat Renaldi tidak tega melihat nya, akhirnya Renaldi memberanikan diri mengingatkan Winda.
"Win... Sudah malam, sebaiknya besok disambung lagi. Pulanglah dulu kasihan suamimu jika kelamaan menunggumu." Ucap Renaldi sambil menunjuk Sigit yang sudah tertidur.
Winda menoleh arah yang ditunjuk laki-laki disampingnya. Ia melihat tubuh suaminya yang meringkuk diatas kursi dengan kedua tangannya sebagai sandaran.
"Ya Allah Sigit..."
"Kasihan kan? pulanglah, bangunkan dia dengan pelan jangan membuatnya terkejut."
Winda mengangguk mendengar perkataan Aldi, lalu beralih memandang kedua orang tuanya.
"Sudahlah, biar aku yang menunggu ibu bersama bapak, kamu pulanglah jangan khawatirkan mereka. Sekarang akulah yang harus menjaga mereka." Winda ragu mendengar kalimat Aldi karena merasa tidak enak hatinya.
"Iya, Win benar yang dikatakan Aldi barusan, kamu pulanglah." suara Anita menguatkan kalimat laki-laki disampingnya.
Winda terdiam sesaat memandang kedua orang itu. Lalu terdengar jawaban darinya.
"Kalian sangat baik sekali padaku dan orang tua, terimakasih, terimakasih banyak mas, Anita..."
"Hm."
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu."
Winda menatap wajah keduanya lalu beranjak dari duduknya berjalan mendekati suaminya yang sudah tertidur.
.
.
. Bersambung 🤗🤗🤗
__ADS_1
Sarangheo 💞💞💞💞