Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 93


__ADS_3

Revan sudah mendapatkan beberapa buku yang ia cari, namun Ningsih masih asik dengan buku-buku yang berada didepannya.


Revan membiarkan Ningsih memilih buku sesuai tugas yang dicarinya, ia sudah merasa bosan menunggunya cukup lama, lalu berjalan mendekati Ningsih mengatakankan kepadanya agar segera mengakhiri pencarian buku yang dicarinya sedari tadi, namun Ningsih masih belum juga menemukannya, pada akhirnya Revan meninggalkannya sendirian dan menunggunya di kafe terdekat.


"Ya sudah mas Revan tungguin disana biar Ningsih lanjut cari buku akuntansinya ya..." jawab Ningsih ketika Revan memberitahukan keinginannya.


"Ya udah kalau begitu aku ke kafe dulu, dan..."


Revan merogoh dompetnya, lalu mengeluarkan kartu kreditnya.


"Nih bayarnya pakai ini saja, sekalian bayar buku ku yang tadi ya."


Revan menyodorkan kartu kreditnya pada Ningsih.


Ningsih terdiam memandangi benda pipih yang disodorkan Revan padanya, ia merasa ragu menerimanya.


"Tidak perlu mas, Ningsih sudah bawa ..."


"Buruan kataku Sih, kalau tidak aku pulang saja, dan dengan terpaksa aku akan tinggalin kamu sendirian disini." ucap Revan memotong kalimat Ningsih yang berusaha menolaknya.


Dengan terpaksa akhirnya Ningsih menerimanya.


"I-iya mas baiklah, nanti kalau Ningsih sudah menemukan bukunya, Ningsih akan segera menyusul mas Revan ke kafe ya..." jawab Ningsih.


"Hm, buruan."


Revan berjalan menuju kafe yang tidak jauh dari toko buku, lalu mencari tampat duduk dan segera memanggil waiters untuk memesan minuman dan makanan ringan untuknya.


Saat menunggu pesanan datang ia mendengar percakapan seseorang dengan teman wanitanya sedang membicarakan temannya yang menurutnya sangat menarik percakapan mereka, iapun merasa tertarik untuk menguping pembicaraan mereka.


Perlahan-lahan ia memberanikan dirinya melirik dua insan yang berada dibelakangnya. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati wajah lelaki itu yang tak lain adalah Renaldi, kakak kandungnya. Ia teringat kalimat Sigit waktu itu yang menceritakan keluarganya, termasuk Renaldi.


"Renaldi? bukankah dia adalah kakak kandungku?" gumamnya lirih dengan memiringkan kepalanya.


Ia semakin mempertajam pendengarannya dengan percakapan mereka.


"Aldi, sudahlah tidak usah terlalu bersedih kita kan masih bisa cari jalan yang lain." ucap wanita itu yang tidak lain adalah Anita yang sedang terlihat menghibur kakaknya.


Revan mengerutkan keningnya mendengar Anita menyebut kakaknya dengan sebutan Aldi.


"Aldi?" lirihnya menyebut nama kakaknya tidak mengerti.


"Siapa yang sebenarnya mereka bicarakan?" lanjutnya penasaran.


"Aku sudah berusaha mencari bidadari kecilku kemana-mana selama ini Lili, tapi belum juga aku menemukannya."


"Lili? seperti aku pernah bertemu dengan wanita ini sebelumnya, tapi siapa dan dimana ya?" Revan semakin tidak mengerti. Ia berusaha mengingat wajah wanita yang duduk disamping kakaknya. Tapi ia benar-benar tidak mengingatnya.


"Lantas apa hubungan mereka?" ia bertanya sendiri dalam benaknya.


"Hhhh, kenapa aku jadi pusing begini? bodo amat ah dengan urusan mereka."


"Silahkan mas pesanannya dinikmati."

__ADS_1


Seorang waiters dengan ramah mempersilahkannya setelah meletakkan pesanannya diatas meja.


"Iya mbak terimakasih ya." ucap Revan.


"Sama-sama." jawab waiters itu sembari tersenyum padanya lalu pergi meninggalkannya.


Revan kembali menguping pembicaraan dua insan itu sembari menyeruput minumannya.


"Kamu yang sabar ya Al... kita usaha sama-sama mencarinya, karena bagaimanapun dia adalah adik Azzam, orang yang dulu selalu membuatku tenang." jawab wanita disampingnya.


Mereka saling pandang menguatkan satu sama lain. Besar harapan Renaldi dan Anita untuk bisa menemukan adik sahabatnya itu, namun mereka tidak mengetahui dimana keberadaannya sekarang.


"Aldi... jangan patah semangat, kita sama-sama berdoa agar Tuhan segera mempertemukan bidadari dengan kita lagi."


"Tapi Li, aku sama sekali tidak ingat namanya, apalagi wajahnya sekarang, sudah pasti berbeda dari wajahnya yang dulu."


"Sama. aku juga begitu Al. Mmm... apa kamu sudah mencoba melacak keberadaan bapaknya?"


"Sudah tapi tetap saja belum ketemu, karena nama bapak juga pasti banyak yang sama di daerah Jakarta ini. Aku juga sudah pernah mencoba menemui seseorang yang namanya sama dengan bapak, tapi orangnya berbeda, dan itu sudah beberapa kali aku salah orang terus Lili."


"Aldi, kamu masih punya foto kita berempat dulu ketika kita sedang bermain ditaman belakang rumah mereka kan?"


Aldi menggeleng


"Tidak, hpku hilang saat aku naik kendaraan umum waktu itu."


Wanita itu terdiam sejenak lalu memandang jam tangan yang menempel ditangannya.


Sendirian.


Revan melihat kakaknya sedang termenung sambil memegang gelas dan memperhatikan gelas yang berada diatas meja. Sehingga tergelitik hatinya untuk menghampiri kakaknya yang sedang sendirian itu.


Revan berdiri dan berjalan ke meja makan kakaknya, menghampirinya.


Sambil membetulkan topinya ia duduk di kursi yang diduduki wanita tadi.


"Selamat siang kak."


Renaldi terkejut mendengar suara seseorang memanggilnya dengan sebutan kak kepadanya.


Penasaran.


Ia penasaran dengan laki-laki yang tiba-tiba duduk dikursi yang berada disampingnya. Dengan teliti ia memperhatikan laki-laki itu sedang membetulkan topinya, lalu sedikit mengangkatnya sehingga lebih terlihat jelas wajah Revan.


Terkejut.


Kedua bola matanya membulat dengan sempurna.


"Re-van?" ia menyebut nama Revan seakan tidak percaya dengan laki-laki didepannya. Sedangkan Revan tersenyum kecil sedikit dingin, seolah mengerti dengan sikap kakaknya yang benar-benar terlihat sangat terkejut mendapati dirinya.


"Hm, ini aku Revan kak." jawab Revan seraya mengulurkan tangannya berjabat tangan pada Renaldi.


"Bagaimana kamu bisa seyakin itu menyebutku dengan panggilan kak hm?"

__ADS_1


suara Renaldi tidak kalah sinis degan Revan, mengabaikan uluran tangannya.


"Yah... mungkin itu karena darah kita mengalir dari ibu yang sama." jawab Revan. Ia mengangkat kaki kanannya dan ditumpu dengan kaki kirinya, kedua tangannya ia silangkan didadanya.


Renaldi menghela nafas panjang lalu tersenyum kecut.


"Hhh.... ternyata laki-laki tua itu sudah menceritakan jatidirimu yang sebenarnya sekarang hm?" ucap Renaldi seakan mengejek status Revan hingga terangkat kedua alisnya yang menimbulkan kerutan di dahinya.


Terlihat jelas dari sorot mata Renaldi jika ia tidak menyukai dirinya. Namun Revan tetap saja bersikap tenang dengan ucapan kakaknya barusan.


Renaldi menatap wajah Revan yang tersenyum dingin kepadanya. Mata mereka beradu pandang.


Ada kemiripan diwajah mereka memang jika diperhatikan dengan teliti. bentuk wajah dan rambut yang sama, sedikit ikal. Bibir mereka pun sama, hanya mata, alis, hidung dan pipi lebih mirip dengan Winata, sehingga tidak heran jika Revan lebih mirip dengan Bram dan Sigit.


Pertemuan mereka saat ini merupakan pertama kalinya, Renaldi benar-benar merasa bertemu dengan ibunya. Dengan melihat wajah Revan ia langsung teringat ibu yang sudah melahirkannya.


"Apakah ini benar ya Tuhan... dia benar-benar mengingatkan ku dengan ibu. Aku sangat rindu denganmu ibu... aku ingin sekali mendekap dirinya yang seakan jelmaan darimu. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi... ya Tuhan berikan aku kekuatan untuk menerima semua ini..." jeritan hati Renaldi yang sangat menginginkan pelukan hangat ibunya, iapun ingin sekali memeluk mahluk yang berada didepannya sebagai pelampiasan rasa rindunya terhadap ibunya. Namun tiba-tiba wajah Winata terlihat jelas dimata Revan, segera ia menepis rasa rindu itu dari hatinya.


"Winata... kamulah yang menanam kebencian ini dihatiku... kamulah yang akan menuai perbuatanmu suatu hari nanti! tunggulah permainan menarik dariku Winata!"


❄️❄️❄️


"Bapak, ibu kita cari mas Aldi sekarang ya."


Winda meminta kedua orang tuanya untuk mencari keberadaan orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya.


Pak Idris dan Bu Arini mengerti keadaan putrinya yang merasa kehilangan Aldi setelah kepergian Azzam. Mereka merasa iba dengan putrinya saat ini.


Kedua orangtua Winda mengalihkan pandangannya pada menantunya, ada rasa tidak enak hati padanya, hawatir jika Sigit salah faham dengan sikap putrinya.


Sigit menatap kembali pandangan kedua mertuanya, ia sudah mengetahui siapa Aldi, yaitu orang yang pernah Winda ceritakan padanya waktu itu.


Sigit tersenyum lalu memejamkan kedua matanya sejenak.


"Bapak sama ibu tidak usah hawatir dengan Sigit, karena Sigit juga akan membantu Winda mencarikan mas Aldi." ucap Sigit pada mereka.


"Terimakasih nak atas pengertiannya." ucap pak Idris.


"Kalau begitu kita mulai saja sekarang, dengan mencarinya dikampung kita dulu." Lanjut Bu Arini menambahi ucapan suaminya.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


"Hubungan yang tidak akan pernah putus adalah hubungan sedarah. Karena ia adalah saudara yang akan selalu ada ikatan batin dengan sekeping hati."


Saranghe 💞💞

__ADS_1


__ADS_2