
Terlihat diwajah papi sedang ragu untuk mengatakan sesuatu, membuat Winda semakin penasaran.
"Pi? katakan saja apapun itu Winda akan mendengarnya." suara Winda meyakinkan papi.
Papi memandangnya.
"Sebenarnya papi dan mami tidak ingin ikut campur dengan urusan kalian, tetapi ini menyangkut kebaikan kalian sendiri jadi papi harus tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi dua hari ini, karena papi lihat selama dua hari ini banyak orang yang berdatangan ke rumah dan mengaku sebagai Aldi. Kalau papi boleh tahu siapa sebenarnya Aldi itu Win?" tanya papi akhirnya keluar begitu saja.
Winda menoleh kearah mami lalu kembali menatap laki-laki yang sudah terlihat tua itu sedang duduk menunggu jawabannya.
"Dia... dia adalah sahabat mas Azam sejak kecil Pi. Setelah mas Azam pergi meninggalkan kami mas Aldi yang selalu menghibur kesedihan kami, dia sudah seperti keluarga kami." jawab Winda menjelaskan sekilas hubungan mereka dulu.
Papi dan mami terdiam mendengar kalimat menantunya, mereka baru mengetahui kalau Winda ternyata mempunyai seorang kakak dan orang itu ternyata sudah meninggal sejak kecil.
"Apa Igit sudah mengetahui itu?"
"Sudah pi. Winda sudah pernah menceritakannya pada Abang. Tapi untuk orang-orang yang datang kerumah itu belum Winda kasih tahu karena mungkin Abang sudah sibuk mengurus perusahaan di Singapura, jadi menurut Winda biar nanti saja Winda menceritakannya."
"Ya sudah, pesan papi jangan sampai rumah tangga kalian ribut hanya karena masalah sepele. Apalagi Igit pernah punya pengalaman pahit dari kehidupan papi dulu jadi dia sangat membenci dengan yang namanya penghianatan."
Winda tersentak dengan kalimat terakhir papi, terlihat jelas dari raut wajahnya sedang menyimpan rasa penyesalan.
"Iya pi, Winda akan selalu mengingat pesan papi." jawab Winda.
Suasana hening.
Ketiga orang itu terdiam tidak ada sepatah katapun yang keluar dari lisan mereka.
Tangan mami meraih kedua pundak Winda.
"Ya sudah ini sudah larut malam kamu segera masuk kamar dan istirahatlah. Papi hanya ingin tahu itu saja karena secara tiba-tiba banyak orang yang berdatangan dirumah sampai tadi malam."
"Iya mi, pi maafkan Winda."
"Tidak apa-apa." jawab mami menatap kedua bola mata menantunya.
"Kalau begitu Winda masuk ke kamar dulu pi, mi."
ucap Winda kemudian.
Mami menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Istirahatlah." jawab papi memandang Winda.
Winda beranjak dari tempatnya dan segera menuju kamarnya menaiki tangga dengan pelan sambil merenungi perkataan papi.
Terngiang kata penghianatan dari kalimat papi yang terdengar sangat menyakitkan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Sigit jika sampai Sigit salah paham dengannya nanti.
"Aku harus kasih tahu Abang begitu Abang datang nanti, pasti Abang akan ngerti." gumamnya seraya membuka pintu kamarnya.
Winda segera membuka hijabnya dan meletakkannya di sandaran kursi, lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Gerakan dalam perutnya kini semakin kuat, ia mengelusnya dengan tersenyum membisikkan kata-kata seakan berbicara dengan anaknya yang sudah besar.
"Biarkan kita seperti ini dulu, suatu saat nanti kita akan merindukan suasana seperti ini." kembali ia teringat kalimat Sigit saat menarik tangannya, mengajaknya kembali diatas ranjang dengan mengelus perutnya.
Ada butiran bening yang mengalir di pipinya. Rasa rindu bersama suaminya bergelayut manja dipikirannya.
__ADS_1
"Abang... ternyata Winda tidak sanggup jauh darimu hiks hiks."
Hatinya pilu menahan Isak tangis.
❄️❄️❄️
Sementara ditempat yang berbeda.
Sigit sudah siap mengemasi barang-barangnya, sudah tidak sabar rasanya menunggu malam berganti siang.
Satu persatu ia masukkan pakaian dan barang-barang lainya yang sudah berjajar diatas ranjang.
"Sebentar lagi im cooming Winda." ucap Sigit tersenyum bahagia menyebut nama istrinya.
"Ternyata berbeda ya kalau sudah menikah ada tempat tujuan kalau pulang begini, tidak seperti dulu ketika pulang kerumah tidak ada semangat, paling cuma mami doang yang menungguku." gumamnya masih dengan aktivitas beres-beres.
"Awas saja nanti kalau aku sudah sampai dirumah akan aku habiskan hari-hariku bersama anak dan istriku, mengajak mereka jalan-jalan dimanapun yang mereka inginkan."
"Akan kubuat mereka tersenyum bahagia bersamaku."
"Papi, mami doakan kami agar kami selalu bersama penuh dengan kebahagiaan."
Sigit terus bergumam hingga semua barang bawaannya tertata rapi didalam koper. Ia menutup kopernya dan meletakkannya di samping meja rias. Lalu meraih gantungan kunci yang terletak di atas meja.
Sigit berjalan menyusuri jalanan menuju kafe yang mempertemukannya dengan gadis pemilik gantungan kunci itu. Ia memesan minuman dan duduk di kursi yang sama.
Sudah beberapa waktu ia menunggu orang yang dicarinya dan memperhatikan setiap pengunjung yang baru datang, namun orang yang ditunggunya tidak juga terlihat.
Sigit memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu. Ia berjalan menjauhi tempat itu.
Tepat didepannya ia berpapasan dengan seseorang yang dicarinya, dia menghentikan langkahnya.
Orang yang merasa diajak bicara berhenti dan membalikkan badannya.
"Iya, ada apa ya?" jawab gadis itu memandang wajah Sigit.
"Oh anda yang menolong saya malam itu ya?"
"Iya."
"Duduk dulu yuk disitu." ajak gadis itu.
"Tidak usah, saya cuma ingin mengemba..."
"Sudahlah cuma sebentar kok, sebagai rasa terimakasih saya kepada anda karena sudah menolong saya." gadis itu memotong kalimat Sigit dengan tangan kanannya sudah menggandeng tangan kiri Sigit agar mengikutinya duduk di kursi yang berada didepan mereka.
Gadis itu memesan minuman untuk mereka.
"Oh iya perkenalkan nama saya Nadine, kalau boleh tahu nama anda siapa ya, karena dari kemarin belum sempat kenalan, anda hanya memberikan baju dan mencarikan taksi buat saya." ucap gadis itu sambil menyodorkan tangannya.
Sigit melihat tangan gadis didepannya lalu mengalihkan pandangannya pada wajah gadis itu.
"Saya Sigit, dan saya kesini hanya ingin memberikan gantungan kunci anda yang terjatuh saat anda akan menaiki mobil di bandara waktu itu." Sigit menyambut jabat tangan gadis itu dan menjelaskan alasannya datang menemuinya.
"Mungkin ini sangat berarti buat anda." lanjut Sigit seraya meletakkan gantungan kunci diatas meja.
Namun gadis didepannya hanya melihat benda yang baru diletakkannya diatas meja sekilas lalu tersenyum kecut. Sigit heran melihat reaksi yang ditujukan oleh gadis itu berbeda dengan angannya yang mengira gadis itu akan terkejut dan sangat girang telah menemukan benda berharganya kembali.
__ADS_1
"Heh... dulu si iya sangat berarti sekali buat saya, tetapi sekarang itu hanya sebagai gantungan kunci biasa, sama dengan gantungan kunci yang lain." jawabnya.
Sigit terhenyak mendengar kalimat gadis itu.
"Tapi kenapa?" tanya Sigit penasaran.
Gadis itu melihat wajah Sigit lalu menjawab pertanyaannya.
"Dulu ketika saya masih kecil, saya punya teman laki-laki yang memberikan itu padaku. Kami sempat dekat dan dia mengatakan padaku kalau aku harus seperti bintang itu. Tapi sekarang dia sudah menikah dengan wanita lain." jawab gadis didepannya.
Deg.
Hati Sigit tersentak mendengar kalimat gadis itu. Ia ingin memastikan kebenarannya tentang siapa gadis didepannya, apakah benar dia adalah bidadari atau bukan.
"Apa sejak pertama kali anda dan teman kecil anda itu melihat sesuatu didalam gantungan kunci itu ketika kalian sedang bersama?" tanya Sigit setelah memerhatikan gantungan kunci itu tidak ada reaksi ketika mereka bertemu seperti malam itu ketika ia bersama bidadarinya.
"Maksudnya?" tanya gadis itu tidak mengerti.
"Ya... seperti ada cahaya yang terpancar dari bintang didalam gantungan itu misalnya." jelas Sigit.
"Tidak, gantungan kunci bintang ini tidak sehebat itu, dia tidak seperti yang anda katakan, biasa-biasa saja. Yang membuat gantungan ini spesial dalam diri saya itu karena orang yang memberikannya pada saya saat itu." Jawab gadis itu sambil memegang benda itu.
Sigit menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasannya.
Ia sangat yakin jika gadis didepannya bukanlah bidadari kecil yang ia duga selama ini.
"Ternyata benar kata hatiku jika dia bukanlah bidadari kecil yang bersamaku malam itu." batin Sigit.
❄️❄️❄️
Tepat pukul empat sore Winda sudah berada di kafe teratai sesuai dengan janji yang laki-laki itu katakan.
Ia mendapati seseorang yang melambaikan tangan kepadanya, diapun berjalan kearahnya.
"Sudah memesan minuman?" tanya Winda saat duduk di kursi didepan laki-laki itu.
"Sudah, sebentar lagi juga datang minumannya." jawab Aldi karena ia sudah memesan pada pelayan sebelumnya, ia meminta pada pelayan itu agar minumannya diantar dimejanya jika temannya sudah datang.
"Oh iya kenalkan nama saya Renaldi." ucap Aldi menyodorkan tangannya pada Winda.
Winda terkejut dengan kedua matanya terbelalak mendengar kalimat laki-laki didepannya.
"Renaldi? kenapa semudah itu aku mendengar nama Renaldi setelah orang-orang yang mengaku sebagai Aldi kemarin?" batin Winda tersenyum sendiri.
"Kenapa tersenyum? ada yang lucu dengan nama saya?" ucap Aldi.
"Oh tidak cuma aneh saja dengan keadaan saya akhir-akhir ini." jawab Winda dengan cepat.
Mereka berbincang-bincang dengan asyik. Pelayan kafe pun datang dengan dua cangkir dan disert diatas nampan.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung 🤗🤗
Saranghe 💞💞💞