Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 75


__ADS_3

Dengan terpaksa Sigit kembali menyetujui permintaan sahabatnya yang saat ini sedang merayakan hari bahagianya, yaitu Willy. Sudah lama ia tidak nge-band bersama the genks boysnya seperti biasa jika setiap malam minggu. Mereka paling senang menghabiskan malam minggu dengan bermain musik setelah keliling kota menggunakan moge.


Sigit berhenti sejenak, ia melihat Winda bersama Tania berjalan menuntun Silvi menuju singgasana semalamnya. Ia memperhatikan istrinya yang tersenyum anggun melewatinya. Hingga tidak terasa terucap kata-kata indah dari bibirnya setelah menatap wajah istrinya.


"Malam gelap tanpa cahaya bintang


Langit mendung tanpa sang surya


Wahai bidadariku yang selalu kurindu


Dengarlah wahai penenteram jiwaku


Malam ini... akan aku katakan isi hatiku


Untuk yang kesekian kalinya


Duhai cintaku, duhai pujaanku


Biarlah hati ini tenang bersamamu


Merajut hari indah


Seindah pelangi selepas hujan


Jangan biarkan aku


Sendirian memendam rasa itu


Senyummu bagaikan embun dipagi hari


Sejuk dirasa membasahi pagi


Duhai cintaku, duhai pujaanku


Engkaulah bidadari hatiku"


Suuuuuit.


Suit suit suit...


Suara cuitan para hadirin termasuk beberapa teman mereka terdengar bersahutan, para kaum hawa pun terabawa perasaan dengan kata-kata puitis Sigit diatas panggung.


Winda dan Tania bergabung dengan para tamu undangan di meja tamu setelah mempertemukan Silvi dengan Willy dikursi pelaminan mereka, mereka sempurna seperti ratu dan raja.


Winda dan Tania duduk di kursi yang berada dibelakang meja yang ditempati seorang wanita berambut pirang, yang tidak lain wanita itu adalah Camelia, ya Camelia. Ia datang di pesta pernikahan Willy karena undangan Willy yang secara kebetulan mereka bertemu ketika Willy sedang menjemput Silvi sedang fitting baju pengantin mereka.


Camelia datang ke Indonesia untuk urusan bisnis papanya, yang kebetulan saat ini papanya sedang ada di Jakarta sekalian ia ingin menikmati kota Jakarta. Saat itu ia teringat Sigit yang tinggal di Jakarta. Ia merasa bersyukur bertemu dengan Willy. Camelia ingin sekali menanyakan kabar Sigit, namun ia enggan bertanya kepada laki-laki didepannya yang sudah pasti akan diam tidak memberitahunya, kalaupun berbicara pasti juga akan mencelanya. Maka dari itu ia memilih diam seakan tidak peduli dengan Sigit, hingga akhirnya Willy mengundangnya di acara pernikahannya. Sepintas pikirannya saat itu, ia akan mudah bertemu dengan Sigit mengingat mereka adalah sahabat yang sangat dekat.


"Baiklah hadirin semuanya, sebuah lagu kedua yang akan saya persembahkan buat seorang wanita spesial saya malam ini, seorang wanita yang sangat luar biasa, wanita itu tidak lain adalah seorang bidadari hati saya. Sebuah lagu yang berjudul Begitu Indah. Dan semoga hadirin semua terhibur." bola mata Sigit mencari keberadaan Winda diantara tamu undangan.


Bila cinta menggugah rasa


Begitu indah mengukir hatiku


Menyentuh jiwaku


Hapuskan semua gelisah


Duhai cintaku, duhai pujaanku


Datang padaku, dekat di sampingku


Kuingin hidupku selalu dalam peluknya


Terang saja aku menantinya


Terang saja aku mendambanya


Terang saja aku merindunya


Karena dia, karena dia


Begitu indah


Sigit menuruni panggung berjalan menuju meja Winda dan Tania begitu menemukan sosok mereka, ia ingin menjemput Winda untuk diajaknya keatas panggung. Ia ingin memberikan surprise untuk istrinya malam itu agar tidak terlewatkan kesempatan emasnya mengenalkan hubungan mereka didepan umum. Karena menurutnya, menyenangkan seorang istri bisa dengan sedikit tindakan namun sangat berarti untuk pasangannya.

__ADS_1


Dari kejauhan ketika berjalan kearah Winda ia melihat sosok wanita yang tersenyum kepadanya, ia merasa kenal dengan wanita itu, wajahnya tidak asing, persis dengan wanita yang pernah menjalin hubungan dengannya selama empat tahun lalu, namun ia menepis pikiran itu karena ia merasa tidak mungkin jika wanita itu adalah Camelia, tidak mungkin jika Camelia berada disini jika Willy saja tidak mengundangnya, karena setau Sigit, Willy tidak mengundang Camelia.


Alangkah terkejutnya Sigit ketika mereka saling berhadapan. Ya, Camelia berdiri menyambut kedatangannya, yang Camelia rasa kata-kata puitis Sigit ditujukan untuk dirinya, ia yakin jika Sigit belum bisa move on darinya.


Sigit mengerutkan keningnya benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia menatap Camelia dan segera tersadar ketika tangan Camelia meraih tangannya. Sigit segera menghalau tangan Camelia perlahan, lalu melewatinya berjalan menghampiri Winda yang tertegun didepannya.


Sigit mengulurkan tangannya seraya duduk berjongkok didepan Winda dan melanjutkan lirik lagunya.


Duhai cintaku, pujaan hatiku


Peluk diriku, dekaplah jiwaku


Bawa ragaku melayang memeluk bintang


Sigit menunggu Winda membalas uluran tangannya, ia memejamkan matanya sejenak, ia merasa jika Winda penasaran dengan wanita yang berdiri menyambut dirinya tadi.


Tania menyenggol lengan Winda, mereka saling pandang dan Windapun baru menyadari jika dirinya sedang diperhatikan berpasang-pasang mata didalam gedung itu. Iapun meletakkan telapak tangannya diatas telapak tangan Sigit dan mengikuti langkah suaminya menuju panggung.


Terang saja aku menantinya


Terang saja aku mendambanya


Terang saja aku merindunya


Karena dia, karena dia


Begitu indah


Terang saja aku menantinya


Terang saja aku mendambanya


Terang saja aku merindunya


Karena dia, karena dia


Begitu indah


Begitu indah


Begitu indah


Begitu indah


Terlihat begitu romantisnya Sigit ketika menggandeng tangan Winda menaiki panggung bak Romeo and Juliet menaiki keretanya. Siulan para hadirin semakin riuh, bisikan-bisikan kaum hawa terdengar seakan mencela karena iri berada diposisi Winda yang diperlakukan begitu istimewa oleh Sigit. Seakan tidak mau kalah dengan keromantisan pasangan pengantin yang ikut tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya dari singgasananya.


Camelia tidak percaya jika Sigit lebih memilih wanita lain dibandingkan dirinya yang pernah menjalin hubungan selama empat tahun, dimana waktu empat tahun itu cukup lama untuk sebuah hubungan. Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa Sigit tertarik dengan wanita yang tertutup dengan berhijab, setau dia bahwa Sigit tidak suka dengan wanita berhijab.


"Bukankah Sigit tidak menyukai wanita yang berhijab? tapi kenapa sekarang Sigit malah sebaliknya? ada apa ini? siapa wanita itu?"


Camelia bermonolog sendiri dalam benaknya.


"Oh, mungkin dia sedang memancingku agar cemburu melihatnya dengan wanita lain."


lanjut Camelia berprasangka sendiri melihat Sigit dan Winda diatas panggung.


Sigit mengahiri penampilannya dan menyerahkan kembali mikrofon ditangannya kepada moderator yang mengatur acara band selama acara berlangsung.


"Iyah terimakasih kami ucapkan kepada bang Sigit dan mbak Winda yang sudah bersedia mewujudkan permintaan dari sepasang pengantin baru malam ini." kalimat moderator pada mereka berdua.


"Sama-sama." jawab Sigit sambil tersenyum.


Sigit mengulurkan tangannya pada Winda menuruni panggung.


"Baiklah para hadirin sekalian, perlu diketahui bahwa mereka adalah pasangan pengantin baru juga walaupun sudah beberapa bulan lebih dulu dari sepasang pengantin malam ini. Dan... ternyata mereka tidak mau kalah dengan keromantisan kedua mempelai malam ini, doa kami semoga hubungan kalian langgeng hingga kakek nenek... aamiin." kalimat moderator menjelaskan hubungan Sigit dengan Winda bak bintang tamu.


"Abang, kenapa duduknya disini? kasihan Tania duduk sendirian disana." tanya Winda tidak mengerti Sigit mengajaknya duduk bersama John dan Topan.


"Telpon aja suruh gabung Sini." jawab Sigit santai.


"Emang Tania mau deket-deket sama Topan bang?"


"Udah telpon aja dulu Tania suruh kesini."


Winda mengikuti perintah Sigit, ia memencet nama Tania dilayar benda pipihnya.

__ADS_1


🎵🎵🎵


"Hallo Tan, kamu kesini aja gih, dari pada sendirian disitu."


"Emang dimana lu sekarang? kagak balik sini lagi. Apa lu langsung pulang sama suami lu?"


"Gak lah aku masih disini, coba kamu lihat tanganku yang aku angkat."


"Oh yang itu? sama siapa saja disono lu?"


"Yang jelas sama temen-temen lah, udah kamu cepetan gabung sini biar seru banyak temennya."


"Oke gue kesana sekarang yak."


"Iya."


Klik.


Winda meletakkan androidnya diatas meja setelah selesai menghubungi Tania, ia merasakan mual perutnya, lalu beranjak dari duduknya takut merusak suasana kebersamaan suaminya dengan sahabatnya.


Sigit dan kedua sahabatnya mengalihkan pandangannya pada Winda yang sudah menggeser kursinya.


"Kenapa?" tanya Sigit penasaran.


"Winda mau ketoilet sebentar." jawab Winda segera meninggalkan mereka menuju toilet.


Entah kenapa tiba-tiba perutnya seakan diaduk, terasa sangat mual. Sambil berjalan menuju toilet ia mengingat-ingat makanan apa yang sudah dia makan tadi, namun ia merasa tidak memakan apapun sebelumnya. Begitu memasuki toilet ia langsung memuntahkan semua isi perutnya diwastafel didepannya, ia tidak memperdulikan orang yang berada disampingnya yang sedang memperhatikan dirinya.


❄️❄️❄️


Di meja Sigit.


Tania sudah berada diantara mereka dan berbicara dengan diselingi tertawa renyah. Mereka terdiam ketika ada suara seseorang yang berada di samping Sigit.


"Hello, may i sit here?"


Kepala mereka teralihkan pada pemilik suara yang berhasil membuat ketiga teman Sigit terbengong dengan kecantikan paras wanita didepannya yang memperhatikan mereka bertiga dan berakhir pada Sigit. Sigit hanya melihatnya sekilas bersikap sewajarnya. Sedangkan Tania mengingat wanita didepannya sekarang adalah wanita yang sama ketika dia duduk bersama Winda tadi.


"Yes, silahkan duduk saja." jawab Topan tanpa meminta persetujuan dari yang lain, seketika kedua ekor mata Tania meliriknya.


"Terimakasih." jawab wanita itu menggunakan bahasa Indonesia khas orang asing seraya mendaratkan tubuhnya diatas kursi disamping Sigit.


"Nama saya Camelia, i am from Belanda."


"Wah... jauh bener..." jawab ketiga teman Sigit terkejut.


"Ya, saya sudah berteman dengan Willy and Sigit dari dulu."


"Ha? yang bener?" jawab Tania.


Mereka berbincang-bincang dengan Camelia, Sigit hanya terdiam, kedua matanya mencari sosok Winda ditempat dimana Winda pergi tadi.


Camelia memberikan ucapan selamat pada Sigit atas pernikahannya dengan Winda, setelah mendengar cerita dari ketiga teman Sigit. Sigit berusaha bersikap biasa, menutupi perasaan kacaunya.


Mengingat hubungan mereka dulu yang pernah saling mengisi dan melewati hari-hari bersama, sudah pasti perasaan itu masih tersisa walaupun seujung kuku. Namun Sigit sadar jika ia tidak boleh egois dengan ruangan yang sudah banyak terisi bersama Winda beberapa bulan ini terkalahkan begitu saja dengan perasaan yang hanya tinggal masa lalu.


❄️❄️❄️


Didalam toilet.


Winda merasa sekujur tubuhnya lemah seakan tak bertulang, keringat dingin sebesar biji jagung memenuhi tubuhnya setelah mengeluarkan semua isi dalam perutnya. Remang-remang ia melihat wajah Anita dari kaca yang berada diatas wastafel didepannya.


Jari lentik itu menggenggam pinggiran wastafel berusaha menahan tubuhnya. Anita melihat wajah Winda yang semakin pucat segera meraih handphonenya dan memencet nama seseorang.


.


.


.


.


Bersambung...🤗


Saranghe...💞💞

__ADS_1


__ADS_2