Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 133


__ADS_3

"Ikut aku sekarang."


Suara Renaldi tiba-tiba terdengar ketika Sigit selesai membaca tempat yang baru saja diberitahukan Tania.


Semua mata tertuju pada Renaldi, mereka terlihat cemas. Sigit tertegun melihat Renaldi, matanya tajam menatap wajah laki-laki itu.


"Sebelum terlambat sebaiknya kita segera ke sana sekarang." jawab papi membuyarkan lamunan putranya. Ia tahu jika Sigit masih marah pada Renaldi.


Segera mereka berjalan mengikuti langkah Renaldi menuju parkiran.


"Git, sebaiknya kita membawa dua mobil saja." ucap Bram saat Sigit membuka pintu mobilnya. "Kita berempat pakai mobil kamu, sedangkan papi, mami dan mbok Lastri biar pakai mobil papi. Sofia, Selena dan Ningsih biar menjaga Faeyza di rumah." Bram membagi mereka dua bagian.


"Biar aku saja yang membawa mobilnya." Renaldi menyerobot kunci mobil ditangan Sigit, lalu masuk kedalam mobil, duduk dibelakang kemudi.


"Kamu segera masuk mobil." Bram menepuk pundak adiknya. Kemudian membuka pintu mobil belakang yang diikuti Revan.


Sigit masuk didalam mobil, tangannya memasang seatbelt bagiannya seraya memandang wajah Renaldi sekilas.


Terlihat wajah lebam dengan mengeluarkan darah dari bibirnya, laki-laki disampingnya itu serius mulai mengemudikan mobilnya dijalan raya yang diikuti mobil Riyan dibelakang mereka sedang membawa rombongan orang tuanya.


Suasana didalam mobil hening tidak ada obrolan sama sekali, Renaldi mengendarai mobil sangat cepat khawatir terlambat.


"Kenapa dia berada di UGD? apa yang terjadi dengan Winda?" batin Renaldi tidak mengerti, pikirannya kacau memikirkan Winda. "Klinik? bukankah tempat itu sangat jauh dari rumah Bu Iroh?" Renaldi masih penasaran tidak mengerti.


"Re, bagaimana kamu bisa mengetahui tempat itu?" pertanyaan Bram memecah keheningan didalam mobil.


Renaldi melihat sekilas wajah Bram dari kaca spion diatasnya.


"Panjang ceritanya Bram." jawab Renaldi.


Renaldi dan Bram sudah saling kenal sejak lama, mereka seumuran dan bersikap biasa, berbeda dengan Sigit yang entah mengapa karakter mereka berlawanan seratus delapan puluh derajat sejak dulu. Sigit yang lebih tegas dibanding dengan Bram, ia tidak segan mengatakan keputusannya sesuai dengan apa yang terjadi. Sehingga ketegasan sikap Sigit itulah yang membuat papi lebih memilihnya sebagai penerus perusahaannya dari pada Bram. Oleh karena itu Renaldi merasa Sigitlah orang yang sangat berbahaya dalam misinya untuk melakukan balas dendam terhadap keluarga Winata.


"Aku nemuin Winda ketika mobilku pecah ban di suatu daerah terpencil, tepatnya di pedalaman. Aku berjalan mencari bantuan, namun tidak ada seorang pun atau satu kendaraan pun yang melintas di jalan itu, hingga aku berteduh di bawah pohon dan tidak sengaja ada suara rintihan orang yang sedang kesakitan. Aku pun mencarinya dan mendapatkan tubuh yang tidak berdaya itu." Renaldi menceritakan sekilas kejadian yang ia alami selama di daerah pelosok bersama Winda, Sigit menahan rasa kesalnya mendengar cerita laki-laki di sampingnya. Ia berpikir keras siapa dalang dari penculikan istrinya itu.


"Tahukah kamu siapa dibalik peristiwa ini Re?" tanya Bram penasaran seakan tahu perasaan Sigit saat ini.


"Tidak." jawab Renaldi cepat kembali melihat sekilas wajah Bram dari spion, lalu fokus pada kemudinya. " Aku tidak tahu mereka, cuma aku pernah dengar namanya saat Winda menceritakan dimalam ia melarikan diri dari rumah tahanan mereka." Renaldi membelokkan mobilnya mengikuti Medan perjalanan yang sudah mulai meliuk-liuk.


"Nelson." lanjut Renaldi menyebut nama seseorang.

__ADS_1


Sigit terdiam, pandangannya tajam lurus ke depan melihat jalanan yang mereka lewati.


"Iya namanya Nelson, itu yang didengar Winda dari komplotan penculik itu saat mereka sedang mabuk." Renaldi menjelaskan, terlihat Bram sedang berpikir, mereka terdiam semuanya.


"Terus, bagaimana dengan gantungan kunci bintang itu kak?" tanya Revan tiba-tiba.


Hening.


Suasana jadi hening setelah Revan mengalihkan pembicaraan. Sigit sedikit melirik rivalnya.


"Apa peduliku dengan kisahnya." batin Sigit membuang muka, melihat pemandangan sekitar dari sisi yang lain


"Sebenarnya itu milik bidadari kecilku." terjeda sejenak seraya membuang nafasnya diudara, ia melihat spion diatasnya mencari bayangan adiknya.


"Bidadari adik dari sahabatku. Dia gadis kecil yang lucu dan menggemaskan." lanjutnya.


"Sekarang mereka dimana kak?" Revan masih penasaran.


"Itulah masalahnya, aku kehilangan mereka setelah Azam meninggalkan kami semua."


Deg.


"Mas Azam... jangan pergi... jangan tinggalkan aku sendirian..."


"Mas Azam..."


"Mas Azam... jangan pergi... Winda takut mas..."


"Mas Azam... Winda kangen gendongan mas Azam..."


Sigit teringat istrinya ketika mengigau didalam mobil bersamanya menuju hotel mutiara setelah kejadian surprise party saat itu. Igauan Winda terekam jelas dalam ingatannya. Ia melamun.


"Azam Alfian Idris. Itulah nama kakaknya yang sudah meninggal." lanjut Renaldi.


"Azam Alfian Idris. Itulah namanya... satu-satunya saudara kandung yang aku miliki. Kakak yang selalu menjagaku, selalu ada untukku. Dia selalu menenangkan tangisku, menghiburku saat aku bersedih sehingga membuat Winda kecil sangat kehilangan, terpukul dengan kepergiannya."


Perlahan Sigit memutar kepalanya melihat Renaldi yang masih bercerita tentang bidadari kecil yang sama dengan cerita masa kecil istrinya.


"Tidak, tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi, bagaimana mungkin kisah bidadari kecilnya sama dengan masa kecil Windaku?" Sigit tidak berkedip menatap wajah laki-laki dihadapannya sekarang. "Ini hanya kebetulan yang sama kan? tidak oh tidak." matanya beralih pada gantungan kunci bintang yang masih menyala dalam genggamannya. "Terus bagaimana hubungannya dengan gantungan kunci ini? kalau bidadari kecil itu adalah orang yang sama... itu berarti... Winda adalah... dia... dia... bidadari kecilku yang selama ini aku cari juga, gadis kecil yang bersamaku malam itu." matanya tidak berkedip melihat benda ditangannya. "Dia bidadariku... dia Windaku... dan dia adalah istriku... dia ternyata bersamaku selama ini... ya Allah ya Tuhanku... ternyata engkau sudah menyandingkan dirinya denganku selama ini... kenapa aku sangat bodoh tidak pernah menyadarinya..." kedua matanya mulai berkaca-kaca. Terdiam dalam bisu menyadari kebodohannya sendiri.

__ADS_1


Renaldi tidak menyadari tatapan Sigit, ia masih fokus dengan kemudinya sambil bercerita.


"Aku ingin sekali secepatnya bertemu denganmu sayang... Winda... bidadariku... istriku..." entahlah bagaimana perasaan Sigit saat ini.


Bahagia.


Menyesal.


Terharu.


Yang jelas dia ingin sekali bertemu dan segera memeluk tubuh istrinya saat ini.


"Ya Allah... lindungilah istri dan anakku... jangan sampai terjadi sesuatu pada mereka, aku tidak sanggup kehilangan mereka, aku takut kehilangan untuk kedua kalinya. Ya Allah lindungilah Winda ku dan anakku."


"Hentikan ocehanmu dan percepat laju mobilnya!" Suara Sigit terdengar lirih namun sangat menakutkan. Wajahnya berubah serius, matanya lurus memandang jalanan di depannya dengan rahang sudah mengeras.


Renaldi, Bram dan Revan heran melihat perubahan Sigit secara tiba-tiba.


"Git, ada apa? sabar Git." Bram menenangkan adiknya.


"Sabar bang, kak Renaldi sudah melajukan mobilnya cukup kencang ini bang." Revan menimpali perkataan Bram.


"Berapa lama lagi perjalanan ini sampai pada Windaku?" terlihat gurat sedih diwajahnya. Suaranya parau menahan sesak di dadanya.


Mereka bertiga melihat aneh pada Sigit yang tiba-tiba berubah-ubah. Yang tadinya terlihat menyeramkan kini berubah memilukan.


.


.


.


. Bersambung 🤗🤗


Entah seperti apa hatimu bang saat ini...😭😭


Yang jelas "ku menangis" membaca isi hatimu hiks hiks hiks...


Tidak akan berhenti ku ucapkan selalu padamu...

__ADS_1


Saranghe 💞💞💞


__ADS_2