Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 25


__ADS_3

Tidak lupa selalu terucap terimakasih untuk semua yang sudah mendukung dengan like, komennya ya... syukur-syukur memberi hadiah votenya...😘


Terimakasih...💖💖


❄❄❄


Dua jam sudah Winda duduk dibangku besi putih yang terletak dibawah pohon cemara taman Anggrek, menata ketenangan hatinya yang yang kalut. Membiarkan kesedihannya tersapu angin sore, berharap ada kebahagiaan yang akan menyambutnya esok hari.


Winda melihat jam tangannya yang sudah menunjuk diangka setengah lima, lalu Winda mengalihkan pandangan ke gawainya, ada beberapa panggilan Sigit yang tidak terjawab olehnya.


Winda bergegas meninggalkan tempat itu ketika taksi online sudah datang untuk mengantarnya pergi dari Taman Anggrek Putih.


❄❄❄


Winda ahirnya sampai dirumah papi Winata setelah taksi online yang dia kendarai mengalami kemacetan dalam perjalan pulang.


"E... mbak Winda? kok baru pulang jam segini mbak? mbak Winda waj..." Ningsih tertagun melihat Winda yang baru datang dengan wajah sembab, kalimatnya terpotong karena Winda sudah berjalan menaiki tangga.


"Sebentar ya Sih, aku mau keatas dulu, mau cepat mandi dan shalat maghrib, waktunya keburu habis." sahut Winda memotong kalimat Ningsih dengan berlari menaiki tangga.


Winda pulang kerumah Sigit, setelah mempertimbangkan keraguannya antara pulang kerumah papi Winata atau ke rumah kontrakannya. Namun, Winda berfikir tidak akan menyelesaikan masalah jika dia pulang dikontrakannya untuk menghindari persoalan ini, dia ingin mencari penjelasan dari Sigit.


Ningsih masih tertegun melihat tingkah Winda menaiki tangga dengan tergesa-gesa, wajahnya terlihat habis menangis.


"Ada apa tho dengan mereka berdua? mas Sigit, seharian pulang dari kampus mondar-mandar kayak setrikaan panas, yang satunya baru dateng, wajahnya mendung kayak abis hujan badai, apa sedang terjadi sesuatu? " kata Ningsih lirih masih menerka dengan tingkah Sigit dan Winda yang mengherankanya.


Winda membuka pintu kamar dan memasuki kamar mereka, dia melihat Sigit masih melaksanakan shalat maghrib, dia letakkan tasnya diatas meja segera menuju kamar mandi.


Winda kembali meloloskan air matanya didalam kamar mandi setelah melihat Sigit, entah mengapa jiwa cengengnya sebagai wanita begitu mudah mengalir, dia tutup mulutnya agar tidak terdengar suara tangisnya dari luar.


"Serius girl. Telinga gue denger sendiri kalau Sigit bilang siapa saja diantara kita yang bisa ngajakin Winda kemana aja yang penting dia mau memakai celana jeans kita dapat lima belas juta. Cash ditempat! "


"Gila! bener-bener gila tu Sigit! masak iya Winda! Winda gitu loh dibuat taruhan dengan sepotong celana jins? "


"Bener-bener pelecehan! belum aja dia kena karmanya! "


Berkali-kali ucapan Willy, Silvi dan Tania terngiang ditelinganya, seakan hati yang sudah direfreshnya tak berbekas.


"Ini tidak bisa dibiarkan sampai berlarut-larut, aku harus tanyakan kepastiannya pada Sigit, benar tidaknya dia mengatakan hal itu. Setelah shalat maghrib nanti adalah waktu yang tepat untuk menanyakannya." pikir Winda.


"Win, Winda. Mandinya lama amat, keburu habis waktu shalatnya."


Suara Sigit terdengar dari balik pintu mengingatkan kewajibannya yang belum terlaksana.


"Win, lu denger kan? "


suara Sigit terdengar lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari Winda didalam kamar mandi.


"Iya." sahut Winda.


Sigit beranjak dari depan pintu setelah mendengar jawaban dari Winda, dia masuk menuju ruang ganti memakai setelan tuxedo hitam, bersiap melancarkan misi romance dinnernya bersama teman yang selalu dia ledek selama kuliyah, kini orang itu mampu merubah statusnya menjadi sang bidadari hatinya hanya dalam hitungan minggu.


Tidak tergambarkan perasaan Sigit saat ini. terlihat senyum menghias dikedua pipinya, seakan terlupakan niatannya untuk mengintrogasi istrinya kenapa sampai pulang petang.


"Sudah Git, mungkin Winda perlu suasana baru setelah ujian tadi siang."


pikirnya, lalu dia membalikkan badanya keluar dari ruang ganti.


Sigit melihat jam tangannya sudah pukul tujuh malam, dia ingin mengingatkan Winda akan janjinya tadi pagi, namun Winda masih melaksanakan shalat maghribnya.


"Biar gue tunggu didalam mobil saja." ucap Sigit lirih melirik kearah Winda dan berlalu keluar menuju pintu.

__ADS_1


Sigit melangkahkan kakinya menuruni tangga sambil tangannya mengirimkan pesan pada Winda.


Sigit melanjutkan langkahnya menuju halaman.


Ting


Winda segera membuka chat masuk


di gawainya.


Sigit.


"Aku tunggu dimobil ya Win."


"Segera turun."


"Tidak pakai lama"


Winda meletakkan ponselnya diatas ranjang setelah membaca chat Sigit.


"Iya, dia kan sudah janji ngajak dinner tadi pagi? kenapa bisa lupa. Kalau begitu biar nanti saja aku tanyakan padanya." lirih Winda, dia segera mengganti pakaiannya dan berhias natural sekedar menyamarkan wajahnya yang sembab.


"Ribet amat. seperti orang kencan saja, padahal bisa kan ngomong langsung sekarang." ucap Winda ketika sudah rapi.


Winda segera turun dan berjalan keparkiran menuju mobil Sigit, dia membuka pintu depan dan duduk disamping Sigit.


Sigit melajukan mobilnya keluar gerbang.


Suasana didalam mobil hanya hening.


Setelah beberapa waktu, mereka ahirnya sampai ditempat yang dituju.


Sigit menghentikan mobilnya diparkiran.


Mereka berjalan memasuki restaurant, tangan Sigit menarik lengan Winda, sehingga membuat langkah Winda terhenti.


"Kenapa? " tanya Windan heran.


"Kejutan untukmu." kata Sigit tersenyum, tangannya mengeluarkan sapu tangan dari sakunya.


"Sekarang tutup mata dulu, terus kamu buka kalau sudah aku suruh." kata Sigit, tangannya menutup mata Winda dengan sapu tangan dan mengikatnya.


"Apaan Git? kenapa harus berjalan dengan mata tertutup segala? "


"Kejutan apalagi yang akan kamu berikan padaku Git? " dalam hati Winda bertanya-tanya.


"Sudah kamu tinggal ikuti saja ya."


Winda berjalan dengan dituntun Sigit pelan, hingga sampai dimeja dinner mereka.


"Sudah sampai? " kata Winda begitu langkah Sigit terhenti.


Sigit membuka ikatan penutup mata Winda.


"Sekarang, bukalah matamu Win."


Winda membuka matanya, seakan tidak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya, matanya terbelalak melihat kejutan yang sudah dipersiapkan Sigit.


"Duduk Win."


Sigit menggeser kursi untuk duduk Winda.

__ADS_1


Winda pun mengikuti perkataan Sigit.


Mereka sudah duduk berhadapan, mata mereka saling menatap, Winda mencari manik kejujuran dari tatapan itu, saling diam.


"Kenapa Win? "


"Sebelumnya... ada yang mau aku tanyakan padamu Git." ucap Winda


"Tanyakanlah."


"Aku mohon jawablah dengan jujur Git."


"Hm. lihatlah mataku dalam-dalam, dan carilah kejujuran disetiap jawabanku dari pertanyaanmu. Apakah kejujuran atau kebohongan yang kamu lihat."


"Apa benar, kamu pernah... membuat sebuah taruhan dari suatu benda yang bernyawa dengan benda mati? " tanya Winda lirih.


"Apa maksud kamu Win? "


Sigit tidak mengerti maksud Winda.


"Baiklah aku perjelas sekali lagi. Apa benar kamu mempertaruhkan 15 juta hanya demi aku mengenakan celana jeans? "


Sigit terdiam, tersentak mendengar pertanyaan dari Winda.


"Git? kamu dengar kan pertanyaanku barusan? "


"Iya aku dengar." jawab Sigit.


"Terus apa jawaban kamu? " kata Winda pelan, air matanya mulai menganak sungai melihat Sigit masih terdiam belum menjawab pertanyaannya.


"Git? " suara Winda lirih nyaris tak terdengar, Sigit mengalihkan pandangannya dan terdiam.


"Jawab Git? aku cuma butuh jawaban. karena aku butuh kepastian, bukan kepalsuan."


Winda masih menatap manik hitam Sigit.


"Iya Win." Sigit kembali menatap Winda, air mata Winda mulai lolos dari pipinya.


"Tapi itu sudah lama Win, ketika kita masih semester tiga." suara Sigit terjeda tidak tega melihat tangis Winda mulai tidak terkendali.


"Kamu tau sendiri kan? seperti apa aku dulu? dan sekarang ini aku menyadari semuanya, kalau selama ini aku salah dan aku menyesal Win, aku bener-bener menyesal, jadi aku mohon maafin aku ya?" wajah Sigit terlihat menyesali perbuatannya dulu.


Masih dengan isakan tangisnya, Winda menggeleng-geleng kepalanya, tangan Sigit menggenggam kedua tangannya.


"Maafin aku Win. Aku benar-benar menyesalinya. Jadi aku mohon beri aku kesempatan untuk membuktikan itu Win." kata Sigit meyakinkan Winda.


"Baik Git. Aku tidak mau rumah tanggaku penuh kebohongan nantinya, sekarang jawab jujur. Apa kamu mencintaiku Git? " Winda kembali menatap manik hitam didepannya, air matanya masih saja membanjiri pipinya yang merona, berusaha menata hatinya lagi agar tetap tegar menerima hal terburuk sekalipun dari Sigit.


Sigit masih juga terdiam menatap wajah istrinya.


"Apa itu berarti diammu adalah sebuah jawaban Git? "


"Maafkan aku Win." lirih Sigit.


"Cukup Git. aku tidak mau melangkah terlalu jauh ditempat yang salah! " suara Winda terdengar seolah-olah hanya bisikan.


Winda berusaha melepaskan genggaman Sigit, dia beranjak dari kursinya. dan berlari keluar menuju parkiran dengan deraian air mata yang dia usap berkali-kali.


"Win! tunggu Win! aku belum selesai."


Sigit berlari mengejar Winda.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author ya...


Terimakasih 😍


__ADS_2