
"Mi...? mami kapan sampai?"
Sigit mendekati maminya, kemudian mencium punggung tangan maminya.
"Assalamualaikum." lanjut Sigit.
"Waalaikumsalam, mami sudah sekitar sepuluh menit yang lalu sampainya bang."
Mami duduk disamping Sigit bersama kelima sahabatnya.
Sigit memberi kabar maminya dan mertuanya begitu Winda dipindahkan diruang ICU.
"Bagaimana keadaan Winda bang? baik-baik saja kan?"
"Masih kritis mi."
Mami memejamkan mata mendengar ucapan putranya.
"Dokter baru saja memeriksa keadaan Winda lagi. Katanya... masih belum ada perkembangan sampai sekarang" lanjut Sigit.
"Abang yang sabar ya..." ucap mami Lia memegang pundak Sigit untuk menguatkan putranya.
"Iya mi, Igit takut jika Winda...."
"Bang... jangan berfikir yang macam-macam, selalu meminta kepada Tuhan yang terbaik untuk Winda. Insya Allah Winda baik-baik saja." mami menenangkan keresahan Sigit, agar putranya tegar menghadapi cobaannya.
Mami memperhatikan wajah putranya yang sembab, dia melihat tatapan mata Sigit begitu cemas.
"Mami tidak usah hawatir sama Igit, Igit akan baik-baik saja untuk menjaga Winda." ucap Sigit.
Sigit melihat jam tangannya sudah jam sembilan malam, dia menoleh kearah sahabatnya yang terlihat kelelahan.
"Will, dan kalian semua, kalian sudah capek seharian bersama gue mencari Winda sampai sekarang menunggunya disini, sebaiknya kalian istirahat saja dulu kevilla, besok kalian bisa kesini lagi sebelum pulang, gue tidak ingin terjadi sesuatu sama kalian jika terlalu capek nantinya." kata Sigit kepada sahabatnya.
Willy menoleh kearah Sigit, dia menutup kembali botol mineral yang baru saja dia tenggak airnya.
"Tenang Git, kami tidak apa-apa, justru lu itu yang harus istirahat dulu, lu tidak boleh ikut sakit, lu belum makan seharian sampai sekarang. badan lu juga perlu diperhatikan Git." jawab Willy menatap bola mata sahabatnya yang terlihat lelah.
Tania berjalan mendekati Sigit yang berada disamping maminya dengan membawa kotak putih untuknya.
"Yang dikatakan Willy benar Git, lu butuh makan, butuh minum, butuh sehat, butuh semangat untuk Winda. Jika lu kuat menghadapi ini semua lu akan memberikan energi positif untuk Winda ketika lu bersamanya didalam." ucap Tania, lalu menyerahkan kotak nasi kepada Sigit, dia merasa bersalah kepadanya, karena kecerobohannya membuat keadaan semakin rumit.
Tangan mami membelai lengan Sigit dengan menganggukkan kepalanya, seolah membenarkan perkataan Tania.
Sigit melihat maminya lalu beralih kearah Tania, dia berpikir bahwa perkataan Tania memang benar kalau seharian dia melupakan makannya.
"Terimakasih Tan." Sigit menerima kotak nasi pemberian Tania walaupun sebenarnya dia tidak merasa lapar.
Sigit kembali teringat Winda yang selalu melayaninya makan, mengambilkan nasi diatas piringnya lengkap dengan sayur dan lauknya, tidak lupa segelas air putih tersanding disamping piringnya.
"Git, buruan makan dulu, keburu telat nanti kekantornya."
"Git, ayo makan. kamu mau yang mana? ayam apa telur?"
"Enak?"
"Aku maunya nasi kebuli Git."
Sigit tersenyum kecut mengingat semua tingkah istrinya ketika melayaninya makan.
"Win... cepatlah sadar Win... dirimu sangatlah berarti untukku... hariku tiada warna tanpa dirimu..."
"Bang... dimakan dulu." mami membuyarkan lamunan Sigit.
Sigit tergagap mendengar ucapan maminya, dia segera membuka kotak nasinya.
__ADS_1
"Iya mi."
Sigit mulai menyendokkan nasi kemulutnya, terasa hambar tidak seperti biasanya, entah karena rasa masakannya atau memang karena dirinya yang tidak berselera makan, dia menyantapnya perlahan.
βββ
Waktu terus berputar, pagi berganti petang, petang berganti malam, pun begitu seterusnya hingga tidak terasa lima hari sudah Winda tergeletak diruang ICU, hasil dari diagnosa dokter setelah memeriksa dan mendengar keterangan dari Sigit, Winda mengalami koma sejenis traumatis, yaitu riwayat yang memiliki trauma terhadap peristiwa tertentu, sehingga tidak dapat diprediksi kepastian kapan akan tersadar dari komanya.
Papi Winata langsung pulang kejakarta begitu mendapat kabar dari mami Lia bahwa Winda masuk rumah sakit, semalam papi Winata dan Sigit membicarakan kondisi Winda dengan dokter yang menanganinya untuk segera memindahkan Winda kerumah sakit yang ada dijakarta, mengingat kondisi Winda belum juga ada perubahan.
Saat ini Sigit ditemani ibu Arini, mertuanya, untuk mempersiapkan keperluan Winda, karena pagi ini juga papi Winata menyuruhnya memindahkan Winda dirumah sakit yang ada dijakarta.
Selama perjalanan, Sigit merasa gelisah dengan kondisi istrinya yang belum juga menunjukkan perkembangan, dengan keputusan yang diambil papinya dia berharap hal itu merupakan langkah yang tepat.
Pandangan Sigit menerawang sepanjang perjalanan hingga mereka sampai dirumah sakit yang dituju, MMC.
Setelah proses pemindahan Winda selesai, ibu Arini dan mami Lia meminta Sigit pulang kerumah agar bisa istirahat sejenak, walaupun sudah menolak ahirnya Sigit menuruti perkataan mereka.
Begitu sampai dirumah Sigit segera membersihkan dirinya didalam kamar mandi, dia merasa lebih segar setelah membasahi sekujur tubuhnya, begitu keluar kamar mandi dia berbaring diatas ranjang, bola matanya memandang langit-langit kamarnya, lambat laun matanya menyipit dan terpejam, terlelap bertemu dengan alam mimpinya hingga sore hari.
Untuk malam hari mami dan ibu Arini tidak mengizinkan Sigit menunggu Winda dirumah sakit, sehingga membuat dirinya resah tidak bisa melihat wajah istrinya, tetapi apa yang dikatakan mami dan mertuanya memang benar jika dirinya harus banyak istirahat mengingat tubuhnya terasa sakit semua karena kelelahan dan kurang tidur selama menunggu Winda.
Tok tok tok
"Mas, mas Sigit."
Sigit beranjak dari sofa putihnya ketika mendengar suara pintu diketuk dan suara Ningsih memanggilnya, tangannya membuka pintu.
"Iya ada apa Sih?"
"Mas Sigit dipanggil bapak, disuruh menemui beliau di ruang kerjanya."
"Sekarang?"
"Iya mas." jawab Ningsih.
Ningsih mengikuti langkah Sigit dari belakang menuruni tangga, dia memperhatikan sosok Sigit memasuki ruangan papi Winata, sedangkan dirinya kembali membereskan meja makan.
"Papi panggil Igit?" tanya Sigit begitu duduk didepan meja papinya,
"Iya, ada yang mau papi bicarakan sama kamu."
"Mengenai apa pi?"
"Untuk sementara ini papi yang mengurus kantor pusat lagi, dan kamu yang memegang kantor cabang."
"Iya pi, Igit lebih senang mendengarnya."
"Mengenai Renaldi sudah papi urus kemarin, dia sudah mengundurkan diri dari perusahaan, urusan dengan pak Utama juga sudah aman, dan... papi minta maaf sudah masuk dikamarmu mengambil berkas yang sudah kamu siapkan ketika kamu menunggu Winda, papi acungi jempol untukmu, papi terimakasih sudah menggantikan papi selama papi tidak ada."
"Papi bisa aja, bukankah itu yang harus Igit lakukan jika papi tidak ada dirumah?"
Mereka berbincang-bincang hingga larut malam membicarakan banyak hal, hingga papi mengahiri perbincangannya dan menyuruh Sigit segera istirahat karena besok Sigit harus segera kerja di kantor cabang.
Papi Winata sudah membicarakan hal ini sebelumnya dengan mami lia, tujuannya supaya putranya tidak berlarut-larut dalam kesedihan melihat kondisi istrinya, mereka tahu betul jika Sigit sudah menyayangi seseorang maka dia akan melakukan apapun demi orang yang disayangi, dan itu sudah dilihat oleh orang tuanya jika Sigit sudah menyayangi istrinya.
Pagi hari setelah selesai sarapan Sigit segera mengemudikan mobilnya menuju kantor cabang, dia tidak kerumah sakit karena sudah ada mami dan ibu mertuanya serta Ningsih yang terkadang ikut menunggu Winda.
Seusai pulang kantor Sigit menjenguk istrinya dan menemaninya walau sejenak sebagai pelepas rasa rindunya, terkadang mengajak bicara dengan bisikan didekat telinga istrinya tentang masa-masa kuliyah mereka sampai harapannya mempunyai keluarga kecil dengan hadirnya sikecil dirumah mereka.
Hampir setiap hari kegiatan Sigit seperti itu, pagi kekantor, sore sepulang kantor mampir menjenguk istrinya dirumah sakit, malam harinya pulang kerumah.
Hari-hari Sigit lalui kehampaan tanpa seorang Winda yang mengisi ruang hatinya yang selama ini hanya dirinya sendiri yang merasakannya. Hampa, sepi, rindu, sendirian, hingga tidak terasa tepat satu bulan ini Winda tergolek dirumah sakit, membuat Sigit semakin merindukan kehadiran istrinya.
Sigit mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumah menuju kantornya, baru saja melewati dua rumah komplek dari rumahnya dia merasakan debaran jantungnya berdetak cepat untuk yang ketiga kalinya setelah shalat subuh tadi.
__ADS_1
"Kenapa jantungku berdebar kencang lagi? debaran ini? debaran yang sama ketika Winda terdampar waktu itu, semoga tidak terjadi sesuatu dengan Winda, ya Allah lindungilah Windaku, berilah dia kesembuhan..." kata Sigit lirih cemas mengingat debaran yang sama ketika Winda hanyut dipantai.
Suara panggilan masuk terdengar dari saku jas Sigit, dia segera mengambilnya dari saku jasnya.
Sigit melihat tulisan mami setelah melihat nama panggilan di layar gawainya.
"Assalamualaikum mi..."
"Waalaikumsalam bang."
'' Ada apa mi?''
''Abang sekarang dimana?''
''Ini masih dimobil baru mau berangkat kantor, gimana mi?''
''Abang bisa kerumah sakit sekarang bang?''
''Ada apa mi? apa terjadi sesuatu pada Winda mi?''
''Abang secepatnya kesini saja, sekarang ya?''
''Iya mi, Igit segra kesana, assalamualaikum.''
''Waalaikumsalam.''
klik.
Sigit meletakkan gawainya kembali, dia menambah laju mobilnya menuju rumah sakit, pikirannya saat ini kacau, ketakutan akan kehilangan.
Sigit membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak menghiraukan keadaan sekitarnya hingga sampailah dihalaman parkir rumah sakit.
Sigit segera turun dari mobil dan berlari menuju tempat Winda berada, begitu sampai didepan ruang ICU Sigit melihat papinya dan bapak mertuanya juga sudah berkumpul disana, ibu Arini menangis dalam pelukan mami Lia.
Sigit semakin kacau pikirannya melihat semua orang berkumpul dengan raut wajah penuh kesedihan.
"Ada apa ini sebenarnya mi? kenapa ibu menangis? apa yang terjadi pada Winda?" tanya Sigit penuh rasa cemas ketika melihat ibu mertuanya menangis semakin tersedu setelah melihat dirinya.
Semua orang terdiam tidak mampu menjawabnya, mereka memperhatikan dirinya, merasa tidak mendapatkan jawaban Sigit melangkahkan kakinya menuju pintu kaca ruang ICU yang tertutup kain hijau.
"Git, dokter sekarang sedang berusaha memperjuangkan Winda didalam." ucap papi Winata.
Langkah kaki Sigit terhenti tepat didepan pintu, kepalanya menoleh kearah papi Winata dengan tangan kanannya memegang pintu kaca.
Bagaikan tersengat listrik, tubuhnya kaku seketika tidak bergerak, mulutnya terdiam tidak mampu berkata-kata, matanya panas menahan air yang sudah tidak bisa ditahan.
Papi Winata mendekati Sigit yang mulai linglung, membimbing jalan putranya dengan memapahnya untuk duduk dikursi ruang tunggu.
"Winda... jangan tinggalin abang Win..." lirih Sigit, kembali teringat semua memori kebersamaannya dengan Winda mulai dari pertama kali mereka bertemu dikampus sampai kejadian menemukan tubuh istrinya yang terdampar lemah tidak berdaya.
"Banyaklah berdoa dan sedekah nak, mintalah kepada Allah yang terbaik untuk Winda." kata papi Winata menguatkan putranya yang terlihat rapuh, kedua tangannya memegang kedua pundak Sigit.
.
.
.
.
.Bersambung
ayo-ayo dukungannya mana...
like, komen n votenya ya...ππ
__ADS_1
Terimaksih yang sudah kasih hadiah votenya kemarin ππ mau dong ditambahin lagiππ
saranghe...π