Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 71


__ADS_3

Perjalanan mereka cukup jauh, membuat Winda sudah tidak tahan dengan kantuknya, ia sudah lama tertidur didalam mobil setelah berhenti dari masjid. Sigit melanjutkan perjalanannya ditemani alunan musik didalam mobilnya, mulutnya komat-kamit mengikuti lirik lagu dan tangannya sesekali memukul-mukul kemudi.


Pukul sebelas malam mereka baru sampai tujuannya di Bandung. Sigit menghentikan mobilnya diparkiran hotel dan mematikan mesin mobilnya. Ia menoleh kesamping kiri yang terlihat wajah Winda dari remang-remang lampu parkiran begitu terlelap dalam mimpi, Sigit memandangi wajah yang terlihat begitu lelah dengan kepala terkulai di sandaran kursi. Ada perasaan kasihan melihat wajah tak berdosa didepannya, menyesal telah membiarkannya dalam kebisuan selama perjalanan mereka, ia tersenyum seraya mengingat kekesalan yang telah dibuat Winda sebelumnya.


"Coba saja tadi siang, langsung kamu sampaikan pesan dari Firman Win, Abang tidak akan semarah ini, tapi... setelah dipikir-pikir bisa jadi sikap Anita yang menyebabkan kamu lupa untuk menyampaikannya." Sigit berkata dalam hatinya memperhatikan wajah Winda dalam-dalam, hanya terdengar hembusan nafas.


"Tapi bagaimana bisa kamu setenang itu, kamu sama sekali tidak terlihat cemburu setelah melihatku tadi siang, harusnya kamu cemburu, marah-marah pada Anita dan bisa juga padaku, tapi kenapa justru sebaliknya kamu terlihat begitu tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa." Sigit terhenyak setelah ingatannya menari-nari dalam pikirannya.


"Jangan-jangan kamu belum jatuh cinta padaku, iya benar, itu bisa jadi." Lanjut Sigit setelah mengingatnya, jika selama ini ia belum pernah mendengar secara langsung dari Winda. Sigit benar-benar terlihat bodoh saat itu.


"Masak iya seorang Sigit menanyakan hal ini pada Winda?" lirih Sigit.


"Kalau keadaannya tidak seperti ini, aku bisa mencari jawaban sekarang, tapi saat ini kan dalam masa puasa bicara, yang ada dia besar kepala nanti, hilang harga diriku... ah... sudahlah ini sudah larut malam."


Sigit berbicara sendiri seraya membuka seatbeltnya. Menggantungkan rasa penasaran.


"Mas Azam... jangan pergi... jangan tinggalkan aku sendirian..." Sigit terdiam menghentikan pergerakan tangannya yang sudah memegang gagang pintu, ia mengerutkan keningnya mendengar Winda menyebut nama seseorang yang baru pertama kalinya ia dengar dari mulut Winda, ia menoleh perlahan menatap Winda, terlihat kedua mata Winda masih terpejam, itu berarti Winda sedang mengigau, ia terdiam memperhatikan kalimat yang keluar dari mulut Winda yang lirih nyaris tidak terdengar.


"Mas Aldi... aku takut... aku takut mas... mas.... mas Aldi juga jangan tinggalkan aku... " sekali lagi, Sigit mendengar dengan jelas kalimat Winda menyebut nama laki-laki lain walaupun suaranya sangat lirih. Ia memperhatikan bibir tipis Winda. Cemburu. Jelas ada perasaan cemburu dan penasaran dengan nama laki-laki lain yang disebut Winda barusan.


"Azam? Aldi? siapa mereka? kenapa Winda menyebut nama mereka?" dalam benaknya Sigit bertanya-tanya siapa yang disebut Winda dalam mimpinya barusan.


Sigit beranjak dari kursinya keluar dari mobil, lalu menutup pintu kembali meninggalkan Winda didalam mobil sejenak, ia berjalan ke kebelakang bagasi mobil dan membukanya, menurunkan koper bawaannya yang sudah disiapkan Winda tadi pagi. Tidak lama setelah ia menurunkan koper datanglah seorang front office menghampirinya dan membawakan kopernya.


"Selamat malam pak Sigit Andra Winata." sapa laki-laki itu ramah dengan sedikit membungkukkan badan seraya mengambil alih koper Sigit.


"Malam, tolong bawa dikamar saya dulu, saya akan membangunkan istri saya didalam mobil."


"Baik pak, di kamar 206 ya pak."


"Terimakasih."


Sigit membalikkan badannya membuka pintu mobil setelah seorang front office itu meninggalkan dirinya, ia melihat posisi wajah Winda masih seperti sebelum ia turun, terkulai di sandaran kursi. Sigit menundukkan kepalanya, badannya sedikit merunduk, tangannya menggoyangkan lengan Winda pelan memperhatikan wajahnya.

__ADS_1


"Win... bangun, kita sudah sampai."


suara Sigit lirih menahan rasa cemburu.


"Win..." Sigit mengulang panggilannya seraya menoel pipi Winda dengan jari tangannya. Namun Sigit justru terkejut merasakan wajah Winda yang terasa hangat, ia memastikan suhu tubuh Winda dengan meletakkan tangannya didahi dan pipi Winda. Apa yang ia rasakan ternyata memang benar, tangannya merasa panas ketika memeriksanya.


"Winda, kamu sakit, hm?"


"Mas Azam..."


"Badan kamu demam?"


"Mas Azam... jangan pergi... Winda takut mas..."


Sigit tidak menghiraukan kalimat igauan Winda. Saat ini perasaannya berubah panik, ia mengangkat tubuh Winda yang lemah membawanya memasuki hotel.


"Winda... sayang... kamu sakit. Apa yang terjadi padamu? kenapa kamu seperti ini?" ucap Sigit sambil berjalan memasuki hotel menuju kamarnya.


perasaan Winda gelisah terbawa mimpi, ia merasa tertekan dengan kejadian seharian, menahan sendiri gejolak amarah sekaligus cemburu didalam hatinya. Ditambah lagi kemarahan Sigit berlarut hingga kebawa dalam perjalanan. Dalam gendongan Sigit, Winda benar-benar merasa dalam pelukan seorang laki-laki yang ia rindu selama ini sosoknya.


Kalimat Winda masih terus mengigau dalam gendongan Sigit, teringat kembali masa kecilnya, disaat ia dimarahi ibunya karena telah terjebur didalam sungai yang meluap ketika hujan waktu itu, sehingga membuatnya terseret arus karena keasyikan bermain bersama teman-temannya, masih beruntung ada warga yang mengetahuinya dan langsung menolongnya. Sama sekali tidak terpikirkan oleh Winda kecil saat itu akan bahaya mengancamnya di sungai. Seharian ia terisak-isak menangis terkena amarah sang ibu, hanya kakaknya Azamlah yang selalu melindunginya dari amarah sang ibu.


"Mas Azam, tolongin Winda... ibu sudah marahin Winda dari tadi... hiks hiks hiks..."


"Winda sudah janji sama ibu mas, Winda tidak akan mengulangi bermain di sungai lagi, tapi ibu masih marah sama Winda.... Winda takut ibu marah mas..."


"Winda tau kan kalau ibu marah itu sebenarnya ibu sayang sama Winda, ibu tidak mau kamu kenapa-napa Win... hanyut terseret arus, coba kalau tadi tidak ada orang yang tau seperti apa coba kamu tadi?"


"Sekarang, kamu berhentilah menangis dan tidurlah dikamarmu, mas Azam gendong ya?"


###


Sigit meletakkan tubuh Winda diatas ranjang, lalu membuka hijabnya. Ia segera membuka obat turun panas yang diberikan pelayan hotel padanya, kemudian mengangkat kepala Winda dan meminumkan obat dan air putih.

__ADS_1


"Win... minum obat dulu biar turun panasnya."


Sigit gugup bercampur bingung. Winda meminum obat pemberian Sigit, matanya sedikit terbuka melihat wajah suaminya, samar-samar ia melihat wajah itu adalah Azam, wajah yang sangat dirindukannya.


Winda terpejam kembali setelah meminum obat itu. Tangannya menggenggam tangan Sigit ketika Sigit hendak beranjak meletakkan gelas di atas nakas. Sigit menoleh melihat wajah Winda yang terlihat pucat.


"Mas Azam jangan tinggalin Winda sendirian, Winda tidak mau mas Azam marah sama Winda lama-lama..."


Sigit menggenggam tangan Winda sambil meletakkan gelas diatas nakas, ia memperhatikan bibir tipis itu berkata-kata sangat lirih.


"Mas Azam tau kan kalau Winda paling takut dimarahi? jangan tinggalkan Winda, tetap disini mas tungguin Winda."


Hati Sigit terasa teriris mendengar kata-kata Winda mengigau, ada rasa bersalah dirinya terhadap Winda yang sudah memarahinya dan mendiamkannya hingga terbawa perasaan bersalah atas tindakannya seharian.


Seharusnya saat ini dirinya marah setelah mendengar istrinya menyebut nama laki-laki lain didepannya, namun semua itu terkikis setelah melihat wajah didepannya tergolek tidak berdaya.


Sigit merebahkan tubuhnya disamping Winda dan memeluk tubuhnya setelah menutupinya dengan selimut. Ia mencium kening dan pipi Winda bergantian. Tangan kanannya menyibakkan rambut Winda yang menutupi sebagian wajahnya.


"Cupp."


"Mungkin Abang terlalu keras dengan mu hari ini sayang... dan itu Abang lakukan agar kamu tahu batasan pekerjaan Abang dengan masa lalu Abang. Tapi ternyata Abang salah cara memberikan pengertian ini, dan itu justru membuatmu tertekan. Maafkan Abang sayang... mungkin lain waktu Abang akan menanyakan perihal nama-nama yang barusan kamu sebut tadi." suara Sigit lirih seraya memperhatikan wajah sayu didepannya, dan semakin mengeratkan pelukannya.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


Saranghe...💞💞

__ADS_1


__ADS_2