Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 32


__ADS_3

Terimakasih untuk kalian semua yang selalu mendukung babang Sigit dan Winda dengan like, and koment,


dan syukur-syukur ditambah hadiah votenya...πŸ’–πŸ’–


❄❄❄


"Turun yuk, kita masuk keloby dulu." tangan Sigit melepas seatbeltnya dengan memandang Winda yang sedang merapikan jilbabnya kembali.


Winda menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan suaminya, Sigit keluar dari mobilnya lalu berjalan memutari mobil dari depan dan membukakan pintu untuk Winda.


Winda tersenyum tersipu malu diperlakukan seperti nyonya besar oleh Sigit ketika pintu disampingnya sudah terbuka, dengan disambut senyum termanisnya.


"Apaan sih Git."


"Abang honey... sayang..."


"Iya, iya abang." ucap Winda sambil berdiri membenarkan selempang tas dipundaknya.


"Sebentar honey tunggu! ada yang ketinggalan." tangan Sigit membuka pintu belakang, lalu memasukkan sebagian badannya kedalam mobil mengambil sesuatu yang ketinggalan dikursi belakang.


Winda berjalan dibelakangnya dan memperhatikan gerakan suaminya yang sedang sibuk, entah apa yang dilakukannya Winda tidak mengetahuinya.


"Sudah, yuk masuk!" ajak Sigit begitu selesai dengan kesibukannya mengambil sesuatu dari mobil lalu menutup pintu dengan kaki kanannya.


Winda memperhatikan tangan suaminya yang membawa dua paper bag yang berbeda dari belanjaannya dari mall barusan.


"Kenapa bengong? ayo masuk!" Sigit mengagetkan lamunan Winda yang masih memperhatikan bawaannya.


"Itu apa yang dibawa bang?" tanya Winda penasaran.


"Tidak apa-apa, nanti juga tau apa isinya. Yuk masuk!" Sigit berjalan memasuki gedung menuju ruang resepsionis dengan Winda berjalan mengikutinya dari belakang.


"Selamat malam mbak." ucap Sigit kepada resepsionis wanita yang menunggu diruang resepsionis begitu sampai diloby.


"Iya selamat malam pak, ada yang bisa kami bantu?" jawab ramah resepsionis cantik didepannya.


"Saya mau chek in kamar no 217 atas nama Andra Winata Pratama."


ucap Sigit sambil mengeluarkan sebuah kartu kepada resepsionis.


"Iya saya chek dulu ya pak..." kata wanita cantik itu dan mulai jari tangannya mengetik dikeyboard laptop yang berada didepannya.


"Iya pak, pesanan atas nama bapak Sigit Andra Winata kamar 2017 lantai lima, sudah siap ruangannya dan ini kuncinya. Silahkan bapak dan ibu Sigit menaiki lift menuju lantai lima, selamat malam dan selamat menikmati, semoga menjadi malam yang indah untuk bapak dan ibu Sigit selama menginap dihotel Mutiara." ucap resepsionis cantik itu ramah dan mengahiri penyambutannya dengan menelangkupkan kedua tangannya didepan dada.


Sigit menerima kartu kunci kamar dan kartunya yang disodorkan kepadanya.


"Terimakasih mbak."


"Sama-sama pak."


Sigit dan Winda bergegas memasuki lift menuju lantai lima. Winda terdiam begitu mereka berada didalam lift, Sigit memperhatikan wajah istrinya yang terlihat ketakutan, dia meletakkan paper bag disamping kakinya, kedua tangannya mendekap tubuh lalu mengecup ubun-ubun istrinya.


Cupp


"Jangan takut." bisik Sigit.

__ADS_1


Winda mengeratkan pelukannya hingga mereka sampai dilantai lima.


Ting.


Pintu lift terbuka, mereka segera menginjakkan kaki dan berjalan menuju kamarnya.


"Bang, abang sudah merencanakan ini sebelumnya?" tanya Winda ketika Sigit menempelkan kartu kunci depan pintu bernomor 2017.


Sigit hanya menoleh sekilas dengan wajah datar dan membuka pintunya.


"Merencanakan apa?" ucap Sigit meletakkan bawaannya diatas sofa putih setelah menutup pintu kembali.


"Ini? inikan kamarku waktu itu?" Winda meneliti setiap sudut ruangan yang sekarang banyak perubahan ketika dirinya study banding dulu, ruangannya terlihat lebih luas penataannya juga jauh berbeda, ada ruang tamu didepan dengan lemari pendingin, buffet dan tv yang menempel didinding.


Jika dulu ruangan ini bernuansa brown, cuma ada sebuah sofa panjang, kini sudah berubah warna gold dengan sofa putih yang lebih besar, suasana jadi lebih elegant, romantis.


"Abang mandi dulu." Sigit berlalu masuk kedalam ruangan lagi menuju kamar mandi yang berada disamping kamar ganti membiarkan Winda menikmati penelitiannya.


Winda duduk diatas sofa putih mengingat kenangannya bersama Sigit ketika pertama kali dirinya ditunggu Sigit dalam keadaan tidak sadarkan diri hingga dirinya siuman, dia teringat wajah suaminya terlihat cemas ketika dia baru tersadar dari pingsannya. Winda tersenyum mengingat semua kejadian bersama suaminya selama study banding di hotel Mutiara dulu.


"Shalat isya' yuk, cepatan wudhu, abang tunggu." kata Sigit tiba-tiba sudah berdiri didepannya mengagetkan lamunannya.


Winda melihat suaminya sudah mengganti bajunya dengan stelan piyama abu-abu, wajahnya masih basah air wudhu dan rambutnya juga basah terlihat jika selesai keramas sehingga ada beberapa helai rambut yang menempel didahinya menambah semakin tampan parasnya.


"Emang sudah isya' bang?"


"Udah, tuh jam setengah sembilan."


Winda melihat jam dinding yang tergantung diatas tv yang ditunjuk suaminya, dia segera beranjak dari duduknya dan masuk didalam ruangan, namun baru saja dia didepan ranjang bersepreikan serba putih matanya terbelalak melihat diatasnya terdapat dua buah handuk putih yang berbentuk sepasang angsa, ditengahnya bertaburan mawar merah membentuk lambang hati.


"Abaaaaaaang!!!" teriak Winda begitu melihat ranjang didepannya pikirannya jadi kacau.


"Ada apa honey, sayang..."


Sigit berjalan mendekati Winda dengan cemas yang dikiranya terjadi sesuatu ketika didalam kamar mandi, namun begitu mendapati istrinya masih berdiri dengan jilbab yang berada ditangannya membuat Sigit terkejut.


"Kenapa sayang?"


"Abang tidak sedang merencanakan sesuatu kan?" tanya Winda menyelidik.


"Sudah cepetan wudhu, abang sudah ngantuk, besok ada sidang yang harus abang tangani di pengadilan Negri."


"Tapi abang bener tidak sedang..."


"Sudah cepetan wudhu sayang..."


Winda bergegas mengambil air wudhu dan mengikuti perintah suaminya, dia memakai mukena dan melaksanakan shalat berjamaah.


Begitu selesai shalat, Winda mengangkat kedua tangannya, berdoa didalam hatinya memohon kepada Sang Pencipta.


"Ya Allah... sungguh indah rahasiamu, Engkau benar-benar mengetahui ketakutan hatiku saat itu, ketakutanku ketika hanya berduaan dengan laki-laki bukan muhrimku, terutama dengan seseorang yang selalu mengejeku, menggodaku, seseorang yang Winda sumpahi mendapatkan jodoh yang melebihi diriku, ternyata dialah orangnya yang menjadi bagian dari hidupku, bagian dari masa depanku. Ya Allah berikan kesehatan, keselamatan, kebaikan, kebahagiaan didunia, jadikanlah dia seorang imam yang mampu membimbing keluarganya menuju surga-Mu, menjadi imam yang selalu ingat Asmamu, dan hanya takut kepadamu. Aamiin."


"Panjang sekali doanya sayang... lagi doain abang ya?" seloroh Sigit setelah memperhatikan istrinya berdoa yang cukup lama ahirnya selesai juga.


"Sok tau abang!" jawab Winda melipat mukena dan sajadahnya untuk menyembunyikan perasaannya.

__ADS_1


"Atau... sedang mendoakan calon penerusku nanti..." Sigit mulai menggoda istrinya yang sudah mulai terlihat kikuk.


Sigit mendekatkan duduknya dengan Winda disisi ranjang.


"Sayang... " ucap Sigit lirih setelah mengambil kotak merah kecil dari laci disampingnya.


"Tadi pagi abang sengaja memesan ini semua untuk malam ini sebagai pengganti malam yang seharusnya kita lalui dimalam pertama, agar ikatan kita selalu terasa pengantin baru sampai ahir hidupku nanti, abang ingin Winda jangan pernah memendam rasa, perasaan apapun itu. Sedih, takut, sakit katakan saja, jangan ditahan sendirian. Aku ingin mendengar semuanya, aku tidak ingin menjadi suami yang tidak mengetahui apa-apa."


Sigit menatap wajah istrinya yang terdiam mendengar kata-katanya, lalu mengecup pucuk kepalanya.


"Izinkan abang memakaikan hadiah ini." Winda berkaca-kaca melihat isi kotak merah kecil ditangan suaminya yang berisi cincin dan kalung yang bertabur berlian.


"Abang...ini... ini mahal pastinya, dan tidaklah pantas jika terpasang dijari dan leherku."


Cuppp


Winda tertegun dengan sikap suaminya yang tiba-tiba mengecup puncak kepalanya penuh kehangatan.


"Tidak ada ketentuan hukum yang menentukan siapa-siapa yang berhak dan pantas memakainya, semua wanita pantas untuk memakainya, termasuk kamu sayang."


"Abang..." Winda memandang suaminya dengan berderai air matanya, dia baru menyadari perkataan mertuanya, mami Lia. Bahwa suaminya memang benar-benar mencintai dan menyayanginya sesuai dengan caranya sendiri.


Sigit mengusap air mata istrinya dengan penuh perhatian, lalu memasangkan cincin dijari manis, Winda memandang wajah Sigit dengan tersenyum bahagia. Sigit mencium punggung tangan Winda.


"Ini adalah hadiah pernikahan dari abang, tetaplah disisi abang apapun yang terjadi kedepannya, jadilah mutiara yang setiap ditempa dia akan semakin kuat, semakin unik, semakin terlihat berkilauan." ucap Sigit kepada istrinya, bola matanya tidak berkedip memandang paras cantik istrinya, tangannya mengambil kalung dari kotak yang sama, lalu memakaikannya dileher jenjang istrinya.


Winda menatap netra suaminya, tersungging senyum di kedua pipinya.


"Terimakasih bang, tetaplah ada untuk Winda." Winda memeluk tubuh hangat suaminya, mereka masih duduk diatas ranjang saling berpelukan memberikan kehangatan satu sama lain.


Sigit tidak menyiakan kesempatan itu, dia mengecup leher jenjang putih didepan hidungnya, tangannya memeluk tubuh istrinya, membuat Winda terlena dengan kehangatan setiap kecupan yang diberikan suaminya melalui sentuhan-sentuhan hasrat suaminya.


"Izinkan aku melaksanakan tanggung jawabku malam ini sayang..." ucap Sigit lirih ditelinga istrinya dengan tangan yang sudah berpetualang keseluruh tubuh bergelombang milik istrinya. Winda hanya mengangguk sebagai tanda setuju, tidak membutuhkan waktu yang lama, satu persatu baju mereka sudah berserakan dilantai, tubuh mereka sudah menyatu dalam balutan selimut putih. Taburan bunga berserakan kemana-mana.


Sigit memanjakan suasana romantis dengan penuh kelembutan, desahan, rintihan yang keluar dari bibir mereka menjadi alunan musik merdu ditelinganya, Windapun mulai mengimbangi permainan Sigit, dia terhanyut dengan manisnya malam mereka sampai ahir pelepasan sepasang sejoli yang sudah ketiga kalinya. Nafas mereka tersengal-sengal, peluh membanjiri tubuh mereka, benar-benar olahraga malam yang membakar lemak dalam tubuh mereka.


"Terimakasih sayang..." Sigit tersenyum mengembangkan bibirnya menatap manik istrinya.


"Abaaaang, Winda malu." Winda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Malu? kenapa?" tangan Sigit mengangkat kedua tangan istrinya.


"Abang lihatnya jangan seperti itu... Winda jadi malu."


Sigit mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya yang mampu menggugah gairahnya untuk kesekian kalinya, kedua tangannya mengunci pergerakan istrinya, bibirnya kembali mengecup dan mel*mat bibir tipis dibawahnya.


Cup cup cup cup cupppp


.


.


.


jangan lupa selalu dukung author ya...

__ADS_1


thanks you allπŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2