Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 114


__ADS_3

"Abang, seru banget sambil mainan air." suara Winda nyaris tidak terdengar ditengah deru ombak yang saling berkejaran dibibir pantai. Sigit tersenyum melihat tingkah Winda.


Pagi menjelang matahari terbit Sigit dan Winda sudah berada di pantai Clara, Winda ingin menyambut hangatnya sinar mentari pagi dari pantai dengan menghirup udara segar bebas polusi.


Besar harapan Sigit agar Winda dapat mengingat kembali moments kebersamaannya saat mereka berada ditempat ini, ia mengajaknya ke beberapa tempat yang pernah mereka kunjungi saat masih kuliah bahkan saat mereka baru menikah.


Diantaranya hotel Mutiara yang merupakan tempat istimewa yang sudah ia rencanakan waktu itu, tepatnya dimalam sebelum menghadiri pertunangan Willy dengan Silvi. Malam itu mereka menginap di hotel Mutiara untuk yang kedua kalinya, Sigit melancarkan aksinya dengan menyematkan cincin berlian dijari manis Winda.


Mentari pagi semakin menampakkan dirinya, semburat jingga mulai memudar mengiringi kehadiran sang Surya. Angin berhembus menyibakkan jilbab dan baju Winda, rambut Sigit ikut melambai tersapu angin. Tangan mereka sibuk membenarkan penampilan mereka dari ributnya angin pantai di pagi hari.


Sigit berjalan dengan menggandeng tangan Winda menyusuri pinggiran pantai, kaki mereka memainkan air pantai yang pasang surut karena dorongan ombak yang saling berkejaran.


"Abang romantis banget dari kemarin? kenapa sih bang?" tanya Winda disela-sela tingkah mereka yang sedang asyik memainkan air dengan telapak kakinya, sehingga menimbulkan percikan disekitarnya.


Sigit melirik Winda sekilas, lalu mengalihkan pandangannya di sekitarnya.


"Perlu ya dijawab pertanyaannya?"


Winda terhenyak mendengar ucapan suaminya, bukannya menjawab pertanyaannya justru balik bertanya padanya.


Beberapa pasangan muda-mudi berjalan bersisipan dengan mereka dengan sikap yang sama saling bergandengan tangan.


"Ya... aneh aja gitu tiba-tiba Abang bersikap romantis begini sama Winda." jawab Winda heran.


Sigit diam membiarkan rasa penasaran Winda terhadap sikapnya sekarang. Kedua bola mata Winda menatapnya menunggu jawaban darinya.


"Tidak tahu apa, kalau ini pacaran yang normal? Sebentar lagi juga belum tentu kita bisa jalan berdua begini, paling-paling setelah melahirkan nanti kamu pasti banyak kesibukan dengan anak sebagai alasannya." batin Sigit menyembunyikan perasaannya.


"Udah, dinikmati aja liburan kali ini walaupun didaerah lokal, yang penting kita bisa merasakan liburan bersama dari pada tidak liburan sama sekali. Bener kan?" jawab Sigit dengan memasang tampang wajahnya yang datar.


Winda mengernyitkan dahinya mendengar jawaban suaminya. Terasa aneh sekali suaminya saat ini. Ia merasa jika suaminya ingin selalu bersamanya setelah satu bulan dinegeri orang.


Bilang aja kenapa bang jika tidak ingin diganggu siapapun kebersamaan kita saat ini, ingin berduaan aja dari kemarin. Gitu aja repot-repot kasih hukuman sama Winda sebagai alasan dari kesalahanku mencari mas Aldi, tapi kalau dipikir-pikir Abang bener juga sih hehehe..." Winda cengar-cengir tersenyum memikirkan suaminya.


Sigit melanjutkan langkahnya menyusuri deck dermaga yang terbuat dari kayu yang sangat kuat itu.


Winda mengikuti langkah suaminya yang berjalan menuju tempat yang sedikit menjorok kearah laut. Terdapat pagar besi di pinggir pantai, sehingga menyerupai kapal yang sedang berlayar. Kejaran ombak terdengar semakin bergemuruh dari tempat mereka.


"Naik yuk keatas." ajak Sigit menunjuk tempat yang diinginkannya.


Winda menggeleng sambil mengerutkan keningnya karena takut. Sigit melihat wajah Winda yang merasa ketakutan itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, asyik kok kalau kita naik, dan pastinya kamu sangat senang." bujuk Sigit dengan tersenyum meyakinkan istrinya.


Winda masih diam, memperhatikan uluran tangan Sigit didepannya.


"Percaya deh." Sigit memejamkan matanya dalam wajah tenangnya.


"Sepertinya Winda sedang mencium aroma..."


"Sudah ayo."


Tangan Sigit sudah lebih cepat menarik tangan Winda agar segera mengikuti ucapannya.


Mereka berjalan perlahan dengan Sigit menuntunnya, memegang tangan Winda hingga sampai ditempat yang sangat menakjubkan mata itu. Winda berbinar melihat tempat yang diinginkan suaminya. Ia memperhatikan tempat yang seakan dirinya berada diatas kapal yang sedang berlayar ditengah samudera.


Mereka berdiri dipinggir deck dermaga menonjol yang terdapat pagar besi sebagai batas pengamanannya.


Winda memegang erat besi itu mengedarkan pandangannya di lautan luas seakan tak ada ujungnya. Pulau-pulau kecil yang terlihat hijau ditengah laut tertutup kabut putih yang juga sudah mulai memudar menambah cantik panorama alam. Burung-burung dengan semangat beterbangan di udara bergerombol terlihat sangat kecil baru saja keluar dari peraduannya, seakan mengatakan selamat pagi pada alam sekitar.


Tempat sederhana yang memberikan pemandangan yang sangat ecxotic, sungguh tempat yang dapat memanjakan setiap mata yang memandangnya.


Terukir senyum manisnya dengan mata sedikit di sipitkan karena terpaan angin laut dan silaunya sinar Surya diwajahnya.


Sigit memeluk tubuh Winda dari belakang, lalu merentangkan tangan mereka di udara dengan kepala mendongak keatas menghadap laut.


Air laut yang biru sebiru hatinya saat ini dalam pelukan hangat suaminya terlihat menyejukkan mata.


Winda tersenyum mendapat perlakuan Sigit yang tidak dia sangka sama sekali akan berbuat seperti itu terhadap dirinya, sangat menyenangkan sekali. Hatinya terharu.


"Bagaimana? bener kan kata abang? menyenangkan bukan?" Sigit tersenyum seraya menundukkan kepalanya menempelkan wajah pada pipi kanan Winda.


Winda menganggukkan kepalanya tersenyum merekah menikmati pemandangan dan deburan ombak yang datang silih berganti didepannya.


"Hm, bener-bener seperti berada di atas kapal." serunya.


Sigit senang mendengar kalimat Winda barusan. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Winda yang masih telentang di udara.


"Woooooiiii... lihatlah betapa bahagianya istriku sekarang!!!!" seru Sigit mengumbar suaranya di pantai lepas.


"Abang apaan sih, malau tau didengar orang."


"Bodo amat yang penting aku senang bisa menikmati keindahan alam ini bersama istriku."

__ADS_1


Sigit tidak peduli jika berpasang-pasang mata memperhatikan dirinya saat itu, yang terpenting baginya adalah kenyamanan hatinya saat ini bersama Winda.


"Biarkan kita nikmati pagi ini tanpa memperdulikan orang lain sejenak. Abang ingin momen ini tidak akan pernah terhapus kan hingga suatu hari nanti." bisik Sigit ditelinga Winda.


"Biarkan mereka menjadi saksi jika kita sekarang sudah menjadi satu setelah apa yang pernah kita lakukan disini beberapa tahun lalu, sebagai seorang teman biasa dalam sebuah kerjasama dari salah satu perwakilan dari kampus."


Sigit menikmati keadaan beberapa saat yang tercipta begitu saja, lalu mengganti posisinya dengan mendekapkan kedua tangannya pada perut Winda, dagunya tersandar dipundak kanan Winda. Menghirup udara segar di alam bebas sebebas keinginannya.


"Berjanjilah selalu setia berada di sampingku untuk hari ini dan selamanya."


"Jangan pernah berniat sedikitpun meninggalkan Abang."


Winda terdiam mendengar kalimat Sigit.


"Berjanjilah pada Abang, berjanjilah bahwa hati kita saling terpaut dalam kesetiaan, tidak akan goyah sedikitpun menghadapi aral melintang di depan kita."


"Jika suatu hari nanti aku telah lupa dengan kondisiku, maka jangan lelah dan jangan berhenti kamu mengingatkan aku, mengingatkan janji setia yang sudah aku ucapkan. Abang hanya ingin kebahagiaan dalam setiap keadaan, entah susah, senang, atau duka sekalipun."


"Berjuanglah bersamaku untuk keluarga dan anak-anak kita."


Winda membisu mendengar bisikan suaminya yang seakan nasehat, harapan, sebuah keinginan yang sangat berat untuk ditanggung sendiri.


"Seperti inikah jika seorang laki-laki yang sudah berada dititik sangat mencintai seseorang? seorang suami yang sangat menyayangi dan mencintai istrinya? dia akan merasa lemah, dia akan merasa benar-benar terpuruk jika sesuatu terjadi pada seseorang yang disayanginya.


Suamiku... Sigit Andra Winata. Laki-laki yang dulu aku kenal hanyalah seorang laki-laki dingin, laki-laki cuek, ternyata hatimu jauh tidak searah dengan prasangka ku saat itu, kamu adalah laki-laki yang sangat hangat, laki-laki yang takut jika kehilangan dengan orang-orang yang kamu sayangi. Kamu seorang suami yang selalu menghawatirkan Aku sebagai istrimu, wanita biasa yang kau jadikan ibu dari anak-anakmu. Aku berjanji, aku Winda Zilfana Idris berjanji akan selalu setia berada disisi mu suamiku untuk hari ini atau selamanya."


tidak terasa setitik air mata Winda turun begitu saja mendengar kalimat-kalimat Sigit.


Matanya masih menerawang pada air laut yang menggulung mendekati bibir pantai, menjelma menjadi deburan ombak yang indah dipandang.


.


.


.


.


Bersambung 🤗🤗


Jangan lupa dukung cerita receh Abang ini dengan memberikan vote dan hadiah, like komentnya yang dahsyat ya...🥰🥰🥰

__ADS_1


Saranghe 💞💞💞


__ADS_2